Tampilkan postingan dengan label Yohanes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yohanes. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 November 2016

PEMBAPTISAN KRISTUS

PEMBAPTISAN KRISTUS
Matius 3:16-17
(Markus 1:9-11; Lukas 3:21-22; Yohanes 1:32-34)


Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan,
Hari ini kita akan membahas satu topik tentang pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes dicatat oleh ketiga Injil Sinoptik, yaitu dalam Matius 3:1-17; Markus 1:9-11 dan Lukas 3:21-22. Sementara dalam Injil Yohanes sendiri, rasul Yohanes memasukkan kesaksian Yohanes Pembaptis secara pribadi dan tentang pengakuannya bahwa Yesus adalah Anak Allah (Yohanes 1:29-34). Lagi pula kedatangan Yesus untuk dibaptis oleh Yohanes disajikan secara cukup kontras dengan kedatangan yang orang-orang yang munafik dari golongan Farisi dan Saduki. Kedatangannya bukan disertai pujian karena pertobatan yang mereka alami, sebaliknya  Yohanes menyebut mereka sebagai keturunan ular beludak (Matius 3:7).
Saudara, terkait dengan baptisan Yohanes yang diterima oleh Yesus, banyak menimbulkan pertanyaan: Apakah maksud dari baptisan yang diterima oleh Tuhan Yesus sama dengan baptisan yang diterima manusia pada umumnya? Apakah Yesus berdosa sehingga perlu di baptis? Jika Yesus adalah manusia yang tanpa dosa mengapa Tuhan Yesus masih perlu menerima pembaptisan Yohanes? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, ada baiknya kita terlebih dahulu melihat latar belakang tentang tugas Yohanes pembaptis.
Semenjak peristiwa kelahiran Yohanes dan Yesus diceritakan dalam pasal-pasal terdepan. Tidak ada kisah yang dapat kita temukan selain dari kisah saat Yesus berumur 12 tahun. Karenanya kemunculan Yesus dalam peristiwa pembaptisan-Nya adalah awal dari pelayanan-Nya sebagai Mesias. Selama tiga puluh tahun lamanya baik Yohanes maupun Yesus belum melaksanakan rencana Allah. Yohanes berada di Yudea membantu imam Zakharia ayahnya. Sedangkan Yesus Kristus berada di Galilea membantu Yusuf sebagai tukang kayu. Sebagai anak dari seorang tukang kayu, dengan setia Yesus telah melakukan pekerjaan-nya sehari-hari dan menunaikan kewajiban-Nya terhadap keluarga-Nya. Namun setelah sekian lama, Yesus pastinya menyadari bahwa waktunya sudah tiba bagi-Nya untuk keluar.
Karenanya sesudah melewati masa tenang itu, “Pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia di padang Gurun” (Lukas 3:2). Di sana Allah memberinya perintah tentang apa yang harus dikerjakannya. Sebab waktunya untuk mengerjakan perintah Allah sudah tiba. Saudara, Yohanes tampil menjadi pembuka jalan untuk memberitakan pertobatan bagi orang-orang di Yudea. Inilah ungkapan yang sama seperti yang digunakan untuk nabi-nabi Perjanjian Lama. Dikatakan: “Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: ‘Bertobatlah dan berilah dirimu di baptis dan Allah akan mengampuni dosamu,’” (Lukas 3:3). Tindakan ini sekaligus menjadi penggenapan akan nubuat nabi Yesaya, tentang orang yang berseru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan (Matius 3:3 band. Yesaya 40:3).
Dalam hal ini terjadi kebangkitan rohani yang besar-besaran di daerah Yudea. Dimana kebangunan rohani ini terjadi secara terus menerus dan tiap-tiap hari Yohanes berkhotbah dan setiap hari pula banyak orang yang bertobat dan menyerahkan diri untuk dibaptis. Dengan cara inilah mereka diberi kepastian akan pengampunan dosa, sebagai hasil dari pertobatan mereka. Baptisan dilakukan Yohanes Pembaptis melepaskan mereka dari kuasa dosa, dan memeteraikan mereka dengan anugerah kebebasan atas kesalaan karena dosa (Band. Yehezkiel 18:30).
Pada suatu hari Yesus berada di Yudea. Ia menyaksikan kebangkitan Rohani umat Allah yang begitu luar biasa. Dan Yesus tahu bahwa Yohanes sudah menyiapkan umat Allah untuk menyambut Mesias. Jalan sudah diluruskan. Jalan itu adalah hati umat Allah yang diubahkan dalam pertobatan.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Setelah menyaksikan semua yang terjadi di Yudea, Yesus memutuskan untuk memulai mengerjakan misi yang dipertanggungjawabkan Bapa kepada-Nya. Dan langkah pertama yang dibuat-Nya adalah meminta Yohanes untuk membaptis-Nya.
Perhatikan saudara, dikatakan bahwa Yesus menempuh jarak yang lumayan jauh, yakni dari kota Nazaret, Galiliea ke daerah Sungai Yordan untuk dibaptis. Karena itu kepergian Yesus secara khusus ke sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes menunjukkan tekad dan kesungguhan-Nya menuruti kehendak Allah sejak semula, yaitu menjadi sama dengan manusia tanpa keculi. Sebab ketika Yohanes mengatakan bahwa dialah yang membutuhkan baptisan, Yesus menjawabnya bahwa pembaptisan atas diri-Nya bukan masalah kebutuhan tetapi masalah ketaatan-Nya untuk menggenapi kehendak-Nya.
Pembaptisan Yesus merupakan tanda awal Allah akan bekerja kembali dan masa anugerah telah dimulai. Sebab sudah lebih dari 400 tahun Allah berdiam sejak akhir dari masa Perjanjian Lama. Dalam masa itu, Allah  “berhenti berfirman,” tidak ada nabi yang berbicara atau menulis atas nama Tuhan. Kehidupan manusia dijalankan berdasarkan kesukaan hatinya. Karenanya dengan tampilnya Yohanes pembaptis menjadikan dia sebagai nabi Perjanjian Lama yang hidup di masa Perjanjian Baru.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Sekalipun umumnya baptisan Yohanes merupakan tanda sebuah pertobatan (Matius 3:11). Namun fakta menjelaskan kepada kita bahwa Yesuslah yang datang menemui Yohanes untuk dibaptis (Matius 3:13). Kalau kita membaca secara sepintas ayat ini, pastilah menimbulkan pertanyaan besar mengenai apakah Yesus berdosa sehingga Dia minta untuk dibaptis? Kalau Yesus tidak berdosa, bukankah Ia tidak memerlukan pertobatan? Kalau tadi dijelaskan bahwa baptisan Yohanes adalah baptisan untuk pertobatan!  Jadi untuk apa Yesus harus memberi diri untuk dibaptis oleh Yohanes?
Bapak/ ibu yang kekasih,
Sebenarnya jawabannya ada dalam ayat selanjutnya. Dikatakan: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Matius 3:15). Saudara perhatikan kalimat ini, tadi Yohanes pembaptis menjalankan tugasnya sebagai penggenapan dari nubuatan, itu artinya sama dengan menggenapi kehendak Allah. Sekarang dalam Yesus sendiri juga menyatakan bahwa keinginan-Nya untuk dibaptis juga untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah. Jadi dalam hal ini, baik Yohanes maupun Yesus sebenarnya tidak ada yang bertolak belakang satu sama yang lain. Sebab dua-duanya sama-sama menggenapkan kehendak Allah. Kedatangan Yesus kepada Yohanes dan memberi diri untuk dibaptis adalah sebagai tanda bahwa Dia tunduk pada kehendak Allah. Dia dibaptis adalah untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah (Matius 3:15).
Sekarang yang menjadi pertanyaan kita bapak/ ibu yang kekasih,
Baptisan yang seperti apa yang diterima Yesus? Saudara, baptisan Yesus bukanlah baptisan tentang pertobatan, sekalipun saat itu Yohanes pembaptis melakukan baptisan untuk pertobatan. Baptisan Yesus berbeda dengan baptisan yang diterima manusia pada Perjanjian Baru, karena kedatangan-Nya adalah untuk menggenapkan kehendak Allah.
Di sini kita melihat, Yesus yang adalah Anak Allah, Ia tidak lahir dari dosa sehingga tidak ada satu dosa pun yang darinya menuntut Yesus harus bertobat. Dia jelas tidak berdosa, tetapi mengambil bagian dalam hal yang seharusnya dijalani dan dilakukan orang-orang berdosa. Jadi kedatangan Yesus kepada Yohanes bukan sebagai orang berdosa yang perlu bertobat. Akan tetapi pembaptisan-Nya lebih merupakan permulaan resmi dari pelayanan-Nya (Kisah 1:21-22; 10:37-38). Lagi pula ketaatan Yesus untuk menerima baptisan Yohanes  adalah suatu tindakan yang dikehendaki Allah.
Dalam Lukas 7:29-30, dijelaskan: “Seluruh orang banyak yang mendengar perkataan-Nya, termasuk para pemungut cukai, mengakui kebenaran Allah, karena mereka telah memberi diri dibaptis oleh Yohanes. Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes.” Kita melihat saudara, orang yang dibaptis Yohanes adalah orang yang mengerti kebenaran Allah, dalam hal ini Yesus juga dibaptis Yohanes, karena itu Dia pasti mengenal kebenaran Allah.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Dalam bagian lain, Lukas juga mencatat bahwa pembaptisan Tuhan Yesus dilakukan-Nya saat Ia berumur “tiga puluh tahun” (Lukas 3:23). Hal ini mengingatkan kita pada kaum Lewi Yahudi yang selalu memulai tugasnya pada usia tiga puluh tahun (Bilangan 4:3, 35).
Dengan demikian bapak/ ibu yang kekasih, baptisan yang dijelaskan dalam Perjanjian Baru selalunya dilakukan sebagai bentuk penggambaran dari kematian, penguburan dan kebangkitan dengan Yesus. Sedangkan Pembaptisan Tuhan Yesus dalam air adalah sebuah gambaran dari karya penebusan-Nya di atas kayu salib (Lukas 12:50; Matius 20:22). Justru melalui baptisan, penderitaan-Nya di kayu salib, Allah telah “memenuhi semua kebenaran.”
Dengan demikian, tindakan-Nya ini konsisten dan serasi dengan inkarnasi Yesus yang menjadi manusia. Dia menjadi serupa dengan manusia dalam segala hal, walaupun Dia tetap adalah pribadi Yang Suci tanpa dosa. Yesus tidak berdosa tetapi Ia datang untuk menjadi Juruselamat orang berdosa. Untuk itu Ia perlu menempatkan diri-Nya di posisi orang berdosa. Demikian pula Yesus dibaptis sebagai symbol dimulainya pelayanan pengabaran Kerajaan Surga yang dilakukannya dalam periode selama sekitar tiga setengah tahun hingga Yesus mati disalibkan.
Alkitab menuliskan bahwa sebelum Yesus dibaptis, Yohanes sudah merasa tidak pantas untuk membaptis Yesus, karena pikirnya seharusnya Yesuslah yang membaptis dirinya. Yohanes menyadari bahwa dirinya tidak layak membaptis Yesus, sebab ia tahu baptisan yang sejati adalah baptisan Roh Kudus yang dicurahkan hanya oleh Yesus Kristus ke dalam hati orang-orang yang dipilih-Nya. Karena itu ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia, Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (Yohanes 1:29-30). Kita melihat saudara, bahwa Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus kepada orang banyak sebagai Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia. Yang kalau kita kaitkan dengan konteks Perjanjian Lama, Yesus digambarkan sebagai anak domba yang akan dikurbankan maka darahnya menjadi kurban penghapus dosa. Demikianlah Yesus berperan bagi penebusan manusia, bahwa Ia menjadi Anak domba Allah. Meskipun Yesus akan datang setelah Yohanes, namun keberadaan-Nya adalah kekal. Kesadaran Yohanes inilah yang pada akhirnya tidak menuntut hormat karena dia muncul sebelum Yesus Kristus. Justru kerendahan hati Yohanes mengisyaratkan kepada kita dua hal penting. Pertama, Yesus, Putera Allah lebih berkuasa bagi manusia. Ia berkuasa untuk menyelamatkan manusia, Yohanes hanya menyiapkan orang supaya bertobat dan layak menerima keselamatan dari Yesus Kristus. Yesus membaptis dengan Roh Kudus, sedangkan Yohanes membaptis dengan air sebagai tanda pertobatan. Kedua, Yohanes adalah pribadi yang rendah hati. Ia mengerti tugasnya yaitu mengantar orang kepada Yesus. Orang yang rendah hati bisa mengenal kelebihan dan kekurangannya di hadirat Tuhan.
Pembaptisan Yesus oleh Yohanes kemudian mengundang penyataan Allah Bapa dari langit yang terbuka. Dituturkan, pada waktu Yesus sudah dibaptis dan keluar dari air, langit terbuka dan dia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atasnya, lalu terdengar suara dari langit yang mengatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17 band. Markus 1:11; Lukas 3:22). Dalam Injil Yohanes dijelaskan bahwa Yohanes sendiri menjadi saksi hidup yang menyaksikan bahwa Roh Tuhan turun ke atas Yesus seperti burung merpati (Yohanes 1:32). Itulah tanda bahwa Yesuslah Anak Allah yang akan membaptis manusia dengan Roh Kudus.
Saudara, ini adalah hal yang pertama dari ketiga peristiwa yang tercatat ketika Bapa berbicara dari surga. Peristiwa yang kedua ialah ketika Yesus dimuliakan di atas Gunung (Lukas 9:28-36) dan peristiwa yang ketiga ialah pada minggu terakhir sebelum penyaliban-Nya (Yohanes 12:28).
Ketika Allah berkata kepada-Nya “Engkau Anak-Ku yang Kukasihi; kepada-Mulah Aku berkenan” (Lukas 3:22). Ucapan ini disusun dari dua teks. “Engkau Anak yang Kukasihi” berasal dari teks Mazmur 2:7 dan biasanya diterima sebagai gambaran Raja Mesias. “Kepada-Mulah Aku berkenan” adalah bagian dari teks Yesaya 42:1, yaitu dari gambaran mengenai hamba Allah yang menderita sebagaimana dijelaskan dalam Yesaya 53.
Di sini nampak bahwa Allah Bapa ingin menyatakan secara terbuka kepada semua orang bahwa pembaptisan Yesus tidaklah sama dengan pembaptisan manusia lain. Apa kehendak Allah bagi Yesus di dunia ini? Yaitu tidak lain adalah untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Matius 18:11; Lukas 19:10). Dengan memberi diri dibaptis, Tuhan Yesus menempatkan diri-Nya pada posisi orang berdosa. Di sisi lain, tampilnya Yesus pertama kali di depan public pada saat itu menandai awal dari masa pelayanan-Nya.
Hanya Lukas yang menyebutkan bahwa Yesus sedang berdoa ketika diri-Nya menerima baptisan (Lukas 3:21). Hal ini menunjukkan sebagai Anak Manusia yang sempurna, Yesus bergantung pada Bapa-Nya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan-Nya dan itulah sebabnya Ia berdoa.
Saudara ini menjadi perenungan yang baik bagi kita, Yesus yang adalah Anak Allah, Ia selalu mengisi kehidupan-Nya dengan doa. Kita banyak menemukan bukti-bukti dalam kehidupan Yesus, bahwa Ia senantiasa menjalin relasinya dengan Bapa. Masakah kita yang katanya adalah murid-murid Yesus, tetapi kehidupan kita tidak meneladani apa yang telah diperbuat-Nya bagi kita. Justru seharusnya, doa menjadi sebuah kebutuhan rohani bagi kita dalam menjalankan roda kehidupan kita, baik dalam rumah tangga, dalam pekerjaan ataupun dalam kehidupan pelayanan.
Yang berikut bapak/ ibu yang kekasih,
Turunnya Roh Allah menggenapi tanda yang dinubuatkan bagi Yohanes bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (Yohanes 1:33-34 band. Yesaya 11:2; 42:1; 59:21; 61:1). Sebagaimana Roh turun atas para nabi Perjanjian Lama pada awal pelayanan mereka untuk menuntun mereka, demikianlah Roh turun atas Yesus secara luar biasa. Tentu saja ini berkaitan dengan kemanusiaan Kristus.
Lagi pula turunnya Roh Kudus ke atas Yesus bukan saja menandakan bahwa dia diurapi oleh Roh Allah, menjadi sang Mesias, tetapi juga suatu peristiwa pelantikan Yesus sebagai Anak Allah, sebagai sang Mesias pilihan Allah yang Allah kasihi dan yang kepadanya Allah berkenan, yang ditugaskan untuk “menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa” (Yesaya 42:1; bdk. Mazmur 2:1), yakni Taurat yang baru, yaitu seluruh ajaran dan amanat Yesus yang ditulis dalam Injil Matius, dan disarikan sebagai Hukum Kasih (Matius 22:37-39).
Dengan demikian, pembaptisan Yesus bukan merupakan sebuah tanda pertobatan, melainkan sebuah tindakan identifikasi diri dengan para pendosa, yang didorong oleh kasih dan keinginan untuk menyenangkan hati Bapa. Maka ketika Allah Bapa berbicara dari surga, setiap orang akan tahu bahwa Yesus berbeda dengan manusia lain, karena Dia adalah Anak yang diperkenan Bapa!
Hal yang tidak kalah penting untuk kita pahami adalah, Baptisan Yesus merupakan perwujudan yang sangat baik untuk menunjukkan kebenaran tentang Trinitas. 1) Yesus Kristus, yang dinyatakan setara denan Allah (Yohanes 10:30), dibaptis di sungai Yordan. 2) Roh Kudus, yang juga setara dengan Bapa (Kisah 5:3-4) turun ke atas Yesus sebagai burung merpati. 3) Bapa menyatakan bahwa Ia sangat berkenan kepada Yesus. Jadi kita mempunyai tiga oknum Ilahi yang setara. Karenanya adalah hal yang sangat bertentangan dengan seluruh Alkitab bila kita menafsirkan peristiwa ini dengan cara yang lain.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Pembaptisan Kristus oleh Yohanes sejatinya tidak sama hakekatnya dengan pembaptisan manusia pada Perjanjian Baru. Baptisan Yesus lebih menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa dan demi menjalankan kehendak Allah. Melalui baptisan yang diterima Yesus, kita beroleh jaminan sekaligus teladan. Jaminan bahwa Yesus sungguh-sungguh datang dari Allah dan telah menyetarakan diri dengan manusia agar dapat menjadi Juruselamat yang sejati. Teladan bahwa kita memiliki Tuhan yang taat kepada kehendak Bapa dan karena itu kita pun harus taat kepada-Nya.
Ketaatan kepada Tuhan akan memampukan kita untuk mengerti dan melihat rencana Tuhan dalam hidup. Kita kembali mengingat bagaimana respon Yohanes saat ia bertemu dengan Yesus di sungai Yordan. Mula-mula Yohanes menolak membaptis Yesus, karena ia merasa bahwa Yesus jauh lebih besar darinya. Tetapi setelah Yesus menjelaskan apa yang harus diperbuat Yohanes, Yohanes pun tunduk dan melakukannya.
Dalam kehidupan kita, terkadang kita pun menunjukkan keberatan-keberatan atau bersikeras untuk tidak mentaati Tuhan karena kekurang pengertian kita kepada rencana Allah. Kita lebih memakai pikiran kita yang terbatas, sehingga kita tidak mengerti maksud Allah dalam kehidupan kita. Padahal banyak sekali perbuatan-Nya yang ajaib. Namun saudara, ketika kita belajar untuk taat, Allah akan membukakan rencana-Nya yang indah sehingga setiap orang yang yang mau belajar rendah hati dan taat kepadanyalah Allah selalu menjanjikan berkat yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Ketaatan membutuhkan pengorbanan, Ketika Yesus menganggap baptisan itu penting untuk persiapan-Nya menerima pelayanan yang lebih besar, Ia rela berjalan jauh dari Galilea ke Yordan untuk dibabtis oleh Yohanes. Dengan demikian, Yesus menaati Bapa-Nya dalam segala hal. Penyerahan diri-Nya membawa-Nya dari puncak popularitas menuju keadaan dimana Dia akan ditinggalkan, dari keadaan di elu-elukan orang banyak menuju pada penderitaan dan kesendirian.
Oleh karena itu marilah dengan kerelaan hati kita taat kepada Tuhan dalam segala hal, karena kita tahu bahwa terlalu besar jumlah berkat-Nya kepada kita untuk untuk dihitung (Mazmur 40:6). Percayalah kepada Tuhan, sebab Dialah yang memegang kendali. Dengan demikian kita bisa berserah, tidak khawatir atau menjadi stress. Jangan pernah merasa kecewa, marah, atau kecil hati ketika rencana kita tidak seperti yang kita harapkan. Sebaliknya percayalah kepada Tuhan maka Ia akan menyediakan yang lebih baik bagi kita.
Kiranya melalui peristiwa pembaptisan Kristus ini, meneguhkan keyakinan kita akan Ke-ilahian Yesus sehingga setiap aspek kehidupan kita hanya berpusat kepada Dia. sekaligus menyadarkan kita bahwa Kristus benar-benar Anak Allah yang menguasai hidup kita sepenuhnya. Melalui pembaptisan-Nya kiranya juga menyadarkan kita bahwa Dialah Mesias, Raja yang diurapi Allah dan bahwa dalam hal ini bukan hanya mencakup kuasa dan kemuliaan-Nya, melainkan penderitaan dan penyalibannya. Sebab salib yang menimpa Yesus bukannya tanpa disadari sebelumnya; sejak semula Ia telah menyadarinya, dan untuk itulah Ia memenuhi seluruh tuntutan Allah. Baptisan memperlihatkan kepada kita bagaimana Yesus meminta pengesahan Allah dan menerima salib yang ditentukan bagi-Nya.  Dan terbukanya surga merupakan pengakuan Ilahi terhadap kedudukan Yesus sebagai Anak Allah. Dialah Mesias yang sejati.
Bapak/ ibu, saudara yang kekasih, 
Bagi kita yang hadir dan belum menyerahkan diri untuk dibaptis, kiranya firman ini juga semakin meyakinkan kita akan kasih Allah yang telah dinyatakan-Nya dalam Kristus Yesus. Sehingga dengan iman yang teguh kita dapat menyatakan diri untuk menerima baptisan. Amin.

Senin, 17 Oktober 2016

PERCAYALAH KEPADAKU

PERCAYALAH KEPADAKU
Yohanes 14:1, 11


Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Malam ini kita akan merenungkan satu bagian penting yang berbicara tentang iman dan percaya. Kata "iman" yang dipakai dalam Perjanjian Baru me­ru­pakan terjemahan dari kata Yunani πίστις (pistis), sedangkan kata kerja­nya "percaya" adalah terjemahan dari kata πιστεύω (pisteuo). Perjanjian Baru memberi tempat yang utama kepada iman, atau kepada tindakan percaya. Dalam Injil Sinoptik, kata iman muncul sebanyak 20 kali. Iman seringkali dihubungkan dengan penyembuhan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Akan tetapi yang terlebih penting dari semua ini adalah tuntutan Tuhan Yesus akan iman yang tertuju kepada diri-Nya. Tuntutan khas kekristenan bahwa orang harus beriman kepada Tuhan Yesus secara gamblang didasarkan pada tuntutan-Nya sendiri. Saudara, iman sering dianggap sebagai soal hubungan, bukan semata soal pengakuan. Buktinya adalah fakta bahwa, dibandingkan dengan bagian-bagian lain dalam Perjanjian Baru. Dalam Injil Yohanes pemakaian kata kerja ini jauh lebih sering diikuti dengan kata depan “eis” yang berarti “mempercayakan diri kepada.” Dari sini kita melihat bahwa dalam Injil Yohanes, iman menduduki tempat yang sangat mencolok, hal ini terlihat dari munculnya kata kerja “pisteuo”  sampai 98 kali. Jadi hal yang terpenting adalah hubungan orang percaya dengan Kristus. Justru Yohanes berulang-ulang berbicara tentang percaya kepada-Nya atau percaya dalam nama Kristus (Yohanes 3:18).
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Apakah artinya percaya kepada-Nya? Mengapa Tuhan Yesus menuntut supaya setiap orang percaya kepada-Nya?
Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya kita memulai dengan satu fakta bahwa sesungguhnya semua manusia sedang berada pada kondisi yang menyedihkan. Mengapa? Karena, “semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Dosa selalunya menyeret manusia kepada maut, tetapi kasih karunia Allah memungkinkan manusia yang berdosa dapat mengenal Allah (Roma 6:23). Fakta bahwa tidak ada seorang pun dapat membenarkan dirinya di hadapan Tuhan. “Sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (Roma 3:20). Yang berikutnya fakta bahwa tidak ada seorang pun yang mampu memperoleh keselamatannya sendiri (Efesus 2:28). Fakta bahwa hanya ada satu cara yang paling ampuh untuk manusia memperoleh pembenaran Allah dan keselamatan-Nya, yaitu kita harus menerimanya dengan cara yang ditentukan sendiri oleh Allah. Fakta bahwa cara Allah untuk menyelamatkan manusia adalah dengan mengirim putra tunggal-Nya sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16). Fakta bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan yang dapat menyelamatkan manusia yang sementara hidup dalam dosa (Kisah 10:43). Justru ketika manusia masih menjadi seteru Allah, Tuhan Yesus memperdamaikan kita dengan Allah, melalui kematian-Nya (Roma 5:10).
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Kembali kepada topik kita tentang iman, kita tahu bahwa definisi iman sendiri sudah dijelaskan oleh Alkitab dalam Ibrani 11:1 yang berkata, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Dari definisi itu, kita pelajari beberapa karakter iman. yaitu bahwa orang beriman mendapatkan jaminan atau kepercayaan diri. Iman berbeda dengan pengharapan, karena iman adalah “dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan.” Pengharapan selalu memberi peluang kepada keraguan.
Masalahnya, kadang-kadang iman hanya dikaitkan soal mempercayai bahwa apa yang dikatakan seseorang adalah benar, atau mempercayai seseorang sebagai yang layak dipercayai. Sehingga iman berkaitan dengan percaya dihubungkan dengan pengakuan bahwa suatu fakta historis tertentu adalah benar.
Kita melihat saudara, ketika Tuhan Yesus bangkit dari kematian, Ia menampakkan diri kepada murid-murid-Nya. Dan ketika salah seorang murid Tuhan Yesus yang bernama Tomas meragukan kehadiran Tuhan Yesus, Tuhan Yesus datang kepadanya dan berkata: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkan tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah” (Yohanes 20:27). Perkataan Tuhan Yesus ini dapat kita terjemahkan secara harfiah, “Berhentilah dari ketidakpercayaan dan jadilah orang percaya.”
Saudara, percaya bukanlah sebuah iman yang buta yang mengajarkan kepada kita untuk melompat dalam kegelapan. Percaya mempunyai dasar dan isi. Percaya mempunyai dasar atas apa yang sesungguhnya telah terjadi dalam sejarah. Sebagai orang percaya, iman kita dibangun di atas fondasi keberadaaan Allah, dan perlakuan-Nya terhadap orang yang mencari-Nya berbeda dengan perlakuan-Nya terhadap orang yang tidak mencariNya. Sehingga setelah benar-benar mempercayai kedua hal itu, kita mulai menyenangkan Allah, karena kita segera mencariNya.
Bagi orang zaman itu, nama mengungkapkan seluruh keberadaan seseorang. Keberadaan orang itu seutuhnya. Maka percaya dalam nama Yesus berarti mutlak percaya kepada diri Yesus seutuhnya. Yohanes 3:18 berkata: “Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah”. Ajaran khas Yohanes ialah, bahwa perihal kekekalan ditentukan oleh kekinian dan disini. Iman tidak melulu menjamin hidup yang kekal pada suatu masa depan yang tidak diterangkan, tetapi juga memberi hidup yang kekal sekarang ini. Barangsiapa percaya kepada Anak, sekarang ini ia telah beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:36).
Karena itu saudara, percaya kepada Yesus seharusnya lebih dari sekedar mengetahui hal yang benar tentang Yesus. Kekristenan tidak hanya mengajarkan tentang pengakuan siapa Yesus dan apa yang dilakukakan-Nya dalam dunia sebatas ilmu pengetahuan. Ketika seseorang berkata: "Saya percaya Yesus adalah pengajar yang benar, seorang nabi yang agung, dan seorang yang baik. Tetapi untuk menjadikan Yesus sebagai Tuhan saya, tunggu dulu.” Pertanyaan saya, betulkan orang itu sungguh-sungguh percaya? Percaya dalam hal apa?
Saudara, saya mengajak kita untuk menelaah lebih dalam tentang kasus ini. Rasanya, sangat tidak masuk di akal kalau seseorang percaya bahwa Yesus adalah pengajar yang benar, tapi menolak ajaran-Nya. Tuhan Yesus sangat jelas mengajarkan bahwa Ia adalah satu-satunya Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yohanes 14:6).  Jadi jika saudara percaya bahwa Yesus adalah seorang pengajar yang benar tetapi saudara tidak mengakui ajaran-Nya, itu artinya saudara adalah orang yang gegabah.
Saudara juga tidak bisa mengatakan bahwa saya percaya bahwa Yesus adalah nabi agung, tapi menolak nubuat-Nya yang berkata Ia akan mati dan dibangkitkan dalam tiga hari (Lukas 18:31-33). Berarti saudara seorang yang mabuk.
Saudara juga tidak bisa mengatakan bahwa saudara mengakui bahwa Yesus adalah orang yang baik, tapi tidak mempercayai klaim-Nya sebagai Anak Allah (Lukas 22:70; Yohanes 5:18-47). Itu artinya saudara adalah orang gila.
Jadi saudara, kekristenan secara garis besar adalah: pengakuan tentang Yesus yang telah mengusung dosa Saudara ke kayu salib dan memberikan keselamatan yang kekal oleh karena nama-Nya. Dalam hal ini Yohanes 3:36 berkata: "Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi barangsiapa tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap ada di atasnya."
Karena itu percaya bukan hanya sekedar mengakui bahwa sesuatu adalah benar. Tetapi juga mengandalkan, menyerahkan diri kepada-Nya, setia kepada-Nya dan taat pada apa yang diajarkan atau diperintahkan-Nya. Percaya berarti percaya kepada-Nya sebagai pribadi yang hidup sebagaimana sesungguhnya Yesus itu. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menuntut kita supaya kita dapat percaya kepada-Nya. “Percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yohanes 14:1; band Matius 18:6). Saudara, dalam ayat ini Tuhan Yesus ingin menegaskan satu hal bahwa Ia sejajar dengan Allah. Kesejajaran ini adalah sesuatu yang wajar, karena keilahian Yesus Kristus sudah dinyatakan berulang-ulang dalam Injil Yohanes. Jadi dengan kata lain, Tuhan Yesus ingin berkata: “jika kamu percaya kepada Allah, kamu pun harus percaya kepada Yesus.” Dalam hal ini saudara, obyek iman mereka adalah Allah dan Tuhan Yesus. Jika Tuhan Yesus memang mewakili Allah Bapa, seperti apa yang dikatakan dalam pasal 5:19, Dia layak dipercayai sama seperti Allah sendiri. Tidak cukup bahwa mereka percaya kepada Allah yang diceritakan dalam Perjanjian Lama, tetapi mereka menolak pribadi yang didalamNya sedang menggenapi firmanNya. Sebaliknya mereka juga harus percaya kepada Tuhan Yesus yang sebentar lagi akan dikhianati, dihukum dan disalibkan.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Perintah ini bukanlah kata-kata yang hampa. Sebab sebentar lagi para murid akan menghadapi suatu krisis iman yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Dia yang mereka kagumi dan kasihi akan disalibkan sebagai penjahat yang dihukum. Mereka perlu mengem-bangkan iman mereka supaya mereka tidak hancur. Tuhan Yesus mau menolong mereka supaya mereka dapat bertahan sampai Dia bangkit kembali. Kematian dan kebangkitan Yesus Kristus memang sudah dinubuatkan dan digambarkan dalam Perjanjian Lama, tetapi sampai saat itu manusia belum pernah mengalami atau menyaksikan sesuatu yang begitu dasyat dan mulia. Tanpa iman, mereka akan hancur dan tidak mungkin menjadi rasul-Nya.
Percaya kepada Yesus lebih dari percaya tentang Yesus. Kita tidak dituntut untuk beriman untuk memenuhi logika kita, sebab iman sesungguhnya melampui logika manusia. Kita mesti percaya kepada pribadi Yesus dan bersandar kepada-Nya karena Ia hidup dalam kehidupan kita. Melalui Kristus, kita dibawa masuk ke dalam kovenan dengan Allah, dan mendapat bagian dalam berkat dan janji-Nya. Tanpa Dia, orang-orang berdosa seperti kita ini pastilah sudah kehilangan segala harapan untuk mengalami semuanya ini. Namun, dengan percaya kepada Kristus sebagai Pengantara antara Allah dan manusia, kepercayaan kita kepada Allah akan mendatangkan penghiburan bagi kita. sebab orang-orang yang percaya kepada Allah dengan benar, akan percaya kepada Yesus Kristus, yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka. Sehingga bagi Yesus, iman harus mempengaruhi perbuatannya.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Berbicara tentang tuntutan Tuhan Yesus untuk kita dapat percaya kepada-Nya, harus dilihat dengan latar belakang karya penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus. Sehingga yang menjadi inti Perjanjian Baru ialah gagasan Allah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Yesus Kristus melakukan karya penyelamatan manusia dengan melalui kematian yang mendamaikan manusia dengan Allah di salib-Nya. “… sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu” (Yohanes 8:24). Jadi, keselamatan pasti merupakan buah dari iman. Yohanes berkata dalam pendahuluan kitabnya, “Tetapi semua orang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya (Yohanes 1:12). Jadi iman adalah sarana yang olehnya orang diterima ke dalam suatu persekutuan baru, yang terlihat sebagai satu keluarga, yang hanya dimungkinkan melalui Tuhan Yesus. Hanya melalui Tuhan Yesuslah manusia benar-benar dapat menjadi anak-anak Allah.
Sebagai Allah, Tuhan Yesus lebih tahu apa yang kita butuhkan lebih daripada diri kita sendiri. Bahwa kita perlu penyelamatan dari murka Allah, dan kita perlu relasi yang memuaskan jiwa dengan Allah. Untuk itulah Yesus datang ke dalam dunia. Jadi agar iman kita mengarah menuju keselamatan, itu harus berpusat kepada Tuhan Yesus Kristus. Imanlah yang menjamin kehidupan kekal (Yohanes 3:16) dan ketiadaan imanlah yang membawa seseorang pada penghukuman (Yohanes 3:18). Untuk memiliki iman kepada Yesus Kristus berarti kita harus memercayai-Nya dan mematuhi perintah-perintah-Nya. Sehingga iman lebih dari sekadar kepercayaan yang pasif. Sebaliknya kita mengungkapkan iman kita melalui tindakan-tindakan aktif dalam kehidupan kita. Penolakkan menerima hidup menurut syarat-syarat yang Ia tentukan jelas merupakan penolakan atas seluruh misi-Nya.
Jadi jika kita menerima Dia, menaati Dia, melihat Dia, mengenal Dia, maka tanggapan kita bersifat positif. Jika kita tidak menyambut Dia dengan cara-cara ini, maka kita tidak mempunyai iman yang sungguh-sungguh kepada-Nya. Kiranya perenungan ini dapat membawa kita untuk lebih menyadari tentang makna iman dan percaya dalam kehidupan kekristenan kita, sehingga kita dapat semakin mengasihi Tuhan Yesus dengan lebih sungguh. Amin.

Minggu, 15 Mei 2016

PERANAN ROH KUDUS DALAM KEHIDUPAN ORANG PERCAYA

PERANAN ROH KUDUS DALAM KEHIDUPAN ORANG PERCAYA
Yohanes 16:4-15


Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan
Hari ini seluruh gereja memperingati satu peristiwa besar dalam sejarah gereja, yaitu tentang hari TurunNya Roh Kudus. Saudara, hari turunNya Roh Kudus atau yang lebih dikenal dengan sebutan hari Pentakosta, adalah hari ke-50 sesudah paskah. Pertanyaannya, mengapa turunNya Roh Kudus dikaitkan dengan peristiwa paskah? Untuk dapat menjawab pertanyaan ini, pastinya kita perlu mengetahui latar belakangnya terlebih dahulu.
Bapak/ Ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Peristiwa Pencurahan Roh Kudus di hari Pentakosta bukanlah peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba, atau pun sebuah kebetulan. Peristiwa ini adalah peristiwa yang memang direncanakan Allah, jauh sebelumnya. Perjanjian Lama sudah menubuatkannya pada tahun 400 sM tepatnya dalam Yoel 2:28-32, yang berkata: “Kemudian dari pada itu akan terjadi bahwa Aku akan mencurahkan Rohku ke atas semua manusia, maka akan-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan.”
Dan dalam akhir pelayananNya di dunia sebelum Ia disalibkan, Tuhan Yesus menjanjikan akan datangNya Roh Kudus bagi murid-muridNya (Yohanes 16:4-15). Karena itu, apa yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus pada waktu hidupNya itu telah dipenuhi pada hari Pentakosta. Saudara, nubuatan ini digenapi tepat pada peristiwa pencurahan Roh Kudus yakni pada hari Pentakosta, dimana saat semua orang percaya berkumpul di suatu tempat, Tuhan mencurahkan Roh Kudus (Kisah 2:17-21). Dalam hal ini saudara, perayaan Pentakosta diberi makna baru Oleh Tuhan, dengan pencurahan Roh Kudus. Maka Pentakosta dalam Perjanjian Baru merupakan hari permulaan zaman baru. Dan ini terjadi hanya satu kali dalam sejarah. Maka mulai itulah perayaan Pentakosta bagi Gereja, merupakan hari raya gerejawi, yang dihitung sebagai hari ke-50 sesudah Paskah.
Melalui ayat-ayat dalam Yohanes inilah saudara, kita akan merenungkan bagaimana peranan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Pada saat Tuhan Yesus hendak disalibkan, Tuhan menyampaikan berita yang sangat mengejutkan bagi para murid, bahwa tidak lama lagi diriNya akan segera mati untuk menyelesaikan tugas penebusan yang diterimaNya dari Bapa. Tuhan Yesus yang bermula datang dari Sorga, akan kembali ke sorga (Yohanes 8:23 band. 16:5). Fakta yang disampaikan Tuhan Yesus menjadikan para murid kecewa dan tawar hati. Untuk sesaat mereka diliputi oleh hati yang berdukacita. Hati yang berdukacita dalam konteks ini mengacu pada pikiran, perasaan, dan kehendak dari seluruh pribadi yang sedang berdukacita.
Memang saudara, perpisahan sejatinya membawa kita kepada kondisi yang berdukacita. Begitupula yang terjadi dengan murid-murid Tuhan Yesus. Selama ini, Tuhan Yesus telah bersama-sama dengan para murid-muridNya. Mereka berjalan bersama-sama, bekerja, dan bercakap-cakap dengan Yesus. Mereka percaya kepadaNya dan mengasihiNya. Tiga setengah tahun, bukanlah waktu yang panjang untuk belajar saling mengenal, tetapi bukan pula waktu yang singkat untuk tidak merasakan kehilangan.
Tetapi masalahnya saudara, saat itu mereka berasumsi, bahwa selama masih bersama dengan guru, mereka tidak akan merasa takut, sebab pembela mereka ada didekat mereka. Tetapi kalau kepergian Tuhan Yesus itu terjadi, siapa yang akan membela mereka lagi? Karena itulah, mereka semua menjadi takut mati dan menderita. Mereka semua terkejut, mereka tertekan dan bingung. Guru mereka, Tuhan mereka, motivator mereka, keajaiban pekerjaan Anak Allah akan meninggalkan mereka dan tidak lagi bersama-sama dengan mereka. Yang mereka tahu bahwa mereka akan kehilangan Guru Agungnya yaitu Yesus Kristus. Dia akan pergi dan kembali ke sorga. Tetapi dalam hal ini tidak ada seorang pun yang berani bertanya, kemana Ia akan pergi! Yang jelas, ini sama sekali tidak masuk akal mereka. Mereka berkumpul seperti domba yang ketakutan ditengah-tengah gembala mereka pada malam itu. Mereka takut ditinggalkan, mereka tidak siap untuk ditinggalkan.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Ditengah-tengah kebingungan dan ketakutan para murid, Tuhan Yesus berkata “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu” (Ayat 7).
Melalui pernyataan ini saudara, seakan-akan Tuhan Yesus ingin mengatakan kepada murid-muridNya: ingatlah semua hal yang sudah Aku ajarkan kepadamu, dan kamu tahu kebenarannya. Dalam hal ini pun adalah kebenaran bahwa lebih baik bagi kamu jikalau Aku pergi ke sorga, sebab jika Aku tidak pergi, maka orang yang percaya tidak akan pernah menerima segala janji Allah, yaitu seorang penghibur yang akan tinggal diam di hatimu. Tetapi jika Aku pergi maka Aku akan mengutusNya kepada kamu (Yohanes 16:7). Dari sini Tuhan menegaskan bahwa semua yang dilakukanNya pada akhirnya akan menjadi sebuah kebaikan bagi mereka yang percaya kepadaNya.
Lagi pula jika Tuhan Yesus tetap dalam tubuh jasmani, maka tubuh itu akan terbatas di satu tempat dan dalam suatu waktu tertentu, sehingga ini akan membatasi kemampuanNya baik untuk mengajar dan melayani kepada semua murid-muridNya. Waktu Dia masih dalam tubuh, Ia tidak bisa bersama mereka dimana saja. Waktu Ia masih dalam tubuh jasmani, Ia tidak bisa mencapai pikiran, hati manusia dimana-mana, sebab Ia dibatasi oleh tempat dan waktu. Karena itu saudara, selama kehidupan pelayananNya di dunia yang hanya 3 ½ tahun, Tuhan Yesus memang lebih berfokus hanya pada orang-orang Israel saja.
Tetapi dengan kedatangan Roh Kudus maka Ia akan membuka suatu jaman baru yang akan menerbitkan suatu pelayanan yang lebih luas (Efesus 2:11-3:13). Tidak ada keterbatasan dalam Roh Kudus. Kemana orang pergi, Roh itu ada dalam orang itu. Karena itu kedatangan Roh Kudus akan menjadi penggenapan janji Tuhan Yesus bahwa Ia akan menyertai sampai selama-lamanya sampai akhir zaman (Matius 28:20).
Sebagai manusia, kita pun sering berpikir adalah lebih baik jika kita hidup bersama-sama dengan Tuhan Yesus yang kasat mata, kita bisa melihatNya, merabaNya, dan mendengarkanNya secara langsung. Tidak ada yang dapat menghalangi kepeduliaan Tuhan Yesus bagi setiap orang yang membutuh-kanNya. Tetapi saudara, sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas bahwa fisik memiliki keterbatasan pada waktu dan tempat. Karenanya kepergian Tuhan Yesus adalah lebih berguna bagi kita, ketimbang Ia tetap bersama-sama dalam keterbatasan fisik.
Karena itu bapak/ ibu yang kekasih, maka genaplah apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus. Bahwa Ia datang bukan saja melakukan tugas penebusan dimana akan menyucikan kita dari dosa, tetapi Dia juga memberikan “penghibur” bagi kita, yang mana penghibur itu adalah “Roh Kudus” dan setiap orang yang memiliki Roh Kristus adalah milik Yesus (Roma 8:9). Dia akan berdiam di dalam diri setiap orang percaya. Sehingga hari ini adalah hari yang terbaik agar Roh Kudus masuk dan tinggal di dalam setiap diri orang percaya, dimana Roh Kudus sendiri adalah Allah sendiri. Roh Kudus akan membawa manusia pada persekutuan yang tidak terputus-putus untuk selama-lamanya; dan membawa kepada pengkhotbah Kristen kuasa dan keefektifan di mana pun ia berkhotbah.
Karena itu bapak/ ibu yang kekasih, ketika Roh Kudus datang untuk membantu kita, sebaiknya kita benar-benar meminta bantuan untuk membantu/ menolong diri kita sendiri. Seperti dalam kehidupan sehari-hari, kita meminta bantuan orang lain untuk membantu kita dalam segala aspek kehidupan kita. Karena jika ingin berhasil, kita membutuhkan bantuan orang lain. Karena kita tidak bisa berhasil tanpa ada dorongan dan bantuan dari pihak lain karena ketidak sempurnaan kemampuan kita.
Demikian juga halnya mengenai iman. Kita sangat membutuhkan pertolongan agar iman kita selalu kuat dalam menghadapi godaan dan penganiayaan iman dari dunia ini, terutama kenikmatan yang ditawarkan dunia ini. Kita membutuhkan Roh Kudus yang meneguhkan dan menghibur kita dalam iman kita kepada Yesus. Allah ingin melakukan pekerjaanNya di dalam diri kita.
Sekarang mari kita melihat bagaimana pekerjaan Roh Kudus ini berlaku dalam kehidupan manusia. Saudara melalui bagian ini, ada dua peranan Roh Kudus yang dijabarkan Tuhan Yesus atas manusia:

1.  Ia Menginsafkan Dunia. Atau lebih tepatnya, Roh kudus bekerja kepada orang-orang yang terhilang secara rohani (8-11).
Ayat 8 Yesus berkata “Dan kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan Dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman”. Ketika orang-orang Yahudi menyalibkan Tuhan Yesus, mereka tidak percaya bahwa mereka sedang berdosa; mereka percaya bahwa mereka sedang melayani Allah.  Akan tetapi ketika cerita mengenai penyaliban itu kemudian dikhotbahkan, hati mereka sangat terharu (Kisah 2:37). Mereka sekonyong-konyong menjadi sangat yakin, (insyaf) bahwa penyaliban itu adalah kejahatan yang terbesar dalam sejarah dan bahwa dosa merekalah yang menyebabkannya. Apakah yang memberi manusia kesadaran tentang dosa? Apakah yang merendahkan dia di hadapan Salib? Itulah pekerjaan Roh Kudus. Hal ini menarik saudara, dimana Roh Kudus melakukan pekerjaan untuk menginsyafkan dunia akan dosa.
Saudara, Kata insyaf merupakan istilah hukum yang berarti menerangi, mengungkapkan, membuktikan kesalahan, menyadarkan dan meyakinkan. Kata ini juga dapat diartikan sebagai “menjatuhkan keputusan.” Kalau dikatakan bahwa “Roh Kudus akan menginsyaf dunia akan dosa…” ayat ini memberikan satu pemahaman bahwa menginsyafkan dosa adalah sebagai hasil dari karya Roh Kudus dalam mengerjakan sebuah pertobatan sejati pada seseorang. Namun yang patut kita mengerti adalah Roh Kudus datang kepada gereja, Ia bekerja di dalam dan melalui gereja. Roh Kudus tidak “melayang-layang” naik turun secara gaib di deretan bangku-bangku gereja, dan berusaha memenangkan orang yang terhilang. Sebaliknya Roh Kudus bekerja melalui orang-orang yang menjadi tempat tinggalNya. Ketika Roh Kudus turun pada hari Pentakosta, Ia memampukan Petrus untuk berkhotbah; dan pemberitaan firman itu menginsyafkan mereka yang mendengar.
Masalahnya dalam kehidupan manusia, ada pertobatan yang bukan merupakan karya Roh Kudus. Contohnya, Firaun. Sesudah tulah ketujuh yakni hujan es, kelihatannya Firaun sungguh-sungguh menyesal. Kepada Musa dia berkata: ”aku telah berdosa kali ini, TUHAN itu yang benar, tetapi aku dan rakyatkulah yang bersalah. Berdoalah kepada TUHAN, guruh yang sangat dahsyat dan hujan es itu sudah cukup. maka aku akan membiarkan kamu pergi, tidak usah kamu tinggal lebih lama lagi” (Keluaran 9:27-28). Tetapi apa yang terjadi saudara, setelah hujan es itu berhenti, ia kembali lagi ia berbuat dosa, dengan tetap mengeraskan hatinya (Keluaran 9:34). Ia justru menolak untuk mengizinkan bangsa Israel meninggalkan Mesir. Firaun bukannya insaf bahwa dirinya sudah berbuat kesalahan karena menentang Tuhan. Dia hanya ingin supaya tulah-tulah itu berlalu makanya, dia seolah-olah insaf. Namun setelah tulah berlalu, Firaun kembali menentang Tuhan dengan melarang bangsa Israel keluar dari Mesir. Dari sini kita melihat bahwa penyesalan karena dosa, ternyata juga dapat dipalsukan. Karenanya terbukti bahwa tidak semua manusia di dunia bertobat.
Jadi bagaimana kita bisa membedakannya? Bapak/ ibu yang kekasih, sekarang mari kita lihat, bahwa Roh Kudus hanya datang pada orang-orang yang sudah dipilih sejak masa kekekalan, kepada orang-orang yang terhilang secara rohani untuk membuat mereka menjadi insyaf. Insyaf dari sikap tidak percaya kepada pekerjaan Tuhan Yesus dan Isyaf bahwa apa yang dilakukan Tuhan Yesus adalah sebuah kebenaran (Yohanes 16:9-10). Karenanya saudara, kita seharusnya bersyukur jika dari milyaran manusia di bumi ini, Tuhan Allah menurunkan anugerahNya sehingga kita dapat isyaf dari kesalahan kita dan kita menjadi sadar bahwa kita tidak dapat hidup tanpa campur tangan Tuhan. Karena itu jangan pernah mempermainkan anugerah Tuhan yang sudah kita terima. Kalau Roh Kudus sudah turun atas kita maka kita harus bertanggung jawab atas hidup kita.
       Pertobatan yang sejati adalah pertobatan yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Penyesalan ini bukanlah penyesalan seperti Firaun. Penyesalan ini akan membuat seseorang berbalik sepenuhnya kepada Allah dan tidak lagi berhubungan dengan perbuatan-perbuatan buruknya. Ketika orang berdosa terhilang benar-benar diinsyafkan, ia akan melihat kebodohan dna kejahatan dari ketidak-percayaannya; ia akan mengakui bahwa ia tidak hidup sesuai dengan kebenaran Kristus; dan ia akan menyadari bahwa ia berada di bawah hukuman karena ia milik dunia dan Iblis (Efesus 2:1-3). Jadi pertobatan sejati terjadi di dalam, tidak sekedar di luar atau di permukaan. Pertobatan sejati yang dikerjakan oleh Roh Kudus akan menghasilkan bukti-bukti eksternal, yakni sebuah perubahan hidup (1 Raja 21:27; Yesaya 58:5; Nehemia 9:1; Hosea 7:14; Yunus 3:8). Jadi disinilah bedanya, bahwa seseorang yang sudah diinsyafkan, ia akan menunjukkan kehidupan Kristianinya dengan baik sebagai bentuk perubahan hidup yang sudah diterimanya.
Bagaimana dengan kita saudara, sudahkah kita merasakan pertobatan yang sejati dalam kehidupan kita? Ataukah kita bertobat karena kita terancam oleh perasaan takut yang pada akhirnya ketika ancaman itu tidak lagi dirasakan kita kembali menjadi bebal?
Mari kita bertobat setiap hari dan memohon belas kasihan Tuhan agar Roh Kudus menginsafkan kita akan dosa-dosa kita. Celakalah kalau kita tidak bisa melihat lagi akan dosa-dosa kita. Celakalah kalau mata rohani kita sudah tertutup dan tidak melihat akan kejahatan-kejahatan kita. kita harus dengan sungguh-sungguh memohon agar Roh Kudus menginsafkan kita akan dosa-dosa kita.
Bapak/ ibu/ saudara yang kekasih,
Seorang religius bertanya kepada orang berdosa yang baru bertobat: “Bagaimana caranya kamu bisa bertobat, padahal aku sering mengalami kesulitan untuk bertobat?” Jawab orang berdosa tersebut adalah: “Karena aku seorang yang berdosa, maka aku seperti seorang pengemis yang tidak memiliki baju baru. Begitu Tuhan menawarkan aku sebuah baju baru, maka aku segera menerimaNya dengan sukacita. Sebaliknya karena kamu merasa diri sangat rohaniah, maka kamu merasa memiliki banyak baju baru. Itu sebabnya ketika Tuhan menawarkan kamu sebuah baju baru, kamu menolak pemberian Tuhan tersebut karena kamu merasa telah memiliki banyak baju baru.”
Pekerjaan Roh Kudus yang menginsafkan akan dosa ini bukan hanya bagi mereka yang belum percaya kepada kristus, tetapi ini merupakan pekerjaan Roh Kudus yang akan terus dikerjakannya dalam diri kita sebagai pelayan-pelayan Tuhan. Maka rendahkanlah diri kita untuk menerima karya Roh Kudus ini yang menginsafkan kita akan dosa
Hal ini perlu dikatakan oleh Kristus supaya para murid dapat melihat betapa hebatnya karunia Roh Kudus yang akan diberikan kepada mereka. Juga, supaya mereka melihat bahwa sekalipun dunia membenci dan menganiaya mereka, tetapi melalui pekerjaan Roh Kudus mereka bisa mempertobatkan dunia. Pada waktu dunia membenci dan memusuhi kita, maka secara alamiah kita juga ingin membalas. Tetapi jelas bukan itu sikap yang Tuhan kehendaki dari kita. Kita harus mengampuni, mengasihi mereka, dan tetap berusaha memberitakan Injil kepada mereka, supaya mereka bisa diselamatkan. Dan Roh Kudus membantu kita dalam hal ini.
Satu-satunya pribadi yang dapat menyelamatkan dari situasi mengerikan itu adalah Yesus Kristus, Anak Allah. Tidak ada pertobatan tanpa keinsyafan, dan tidak ada keinsyafan tanpa pekerjaan Roh Kudus melalui firman Allah yang diberitakan oleh kesaksian orang-orang percaya yang setia. Dengan demikian, Injil mulai dengan suatu pengakuan akan keberdosaan umat manusia dan kebutuhan akan kebenaran Allah (lih. Roma 3:9-18,23). Sebelum ada kesadaran dalam diri seseorang bahwa dia adalah orang berdosa, maka seseorang tersebut akan tetap merasa tidak membutuhkan seorang Juruselamat. Berarti fokusnya bukanlah dosa pribadi. Karena Yesus telah lunas membayarnya. Fokusnya adalah “apakah saudara menerima atau menolak Yesus?” dan “Apakah yang sudah saudara lakukan untuk Yesus?”. Roh Kudus akan membimbing dan membalut mereka untuk percaya kepada kebenaran Yesus dan bukan kebenaran diri sendiri seperti kain yang sudah kotor oleh dosa.
Yang berikutnya adalah Roh Kudus akan menginsafkan dunia akan “Realita Penghakiman”. Dalam Ayat 11 dikatakan: “akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.” Tuhan Yesus mengatakan bahwa Roh Kudus akan menghukum dunia ini karena realitas penghakiman, sebab penguasa dunia ini telah dihukum. Dan hal ini menjadi referensi untuk penghakiman masa depan.
Kata menghukum berasal dari drama dalam ruang persidangan. Ini merujuk kepada pekerjaan jaksa dan kasusnya, dimana tersangka akan berada di kursinya, dan bukit-bukti yang dipegang oleh jaksa sebagai berkasnya. Fakta pada fakta, bukti pada bukti, saksi pada saksi, kebenaran pada kebenaran, dan berlahan apabila punya bukti yang cukup kuat, dengan tidak terelakkan maka hakim akan berkata: “tanpa diragukan lagi, aku memutuskan kamu bersalah”, dan juga dengan tidak dapat mengelak terdakwa juga akan berkata “Saya mengakui bahwa saya bersalah”.
Dengan demikian kita melihat saudara, bahwa ke semua bidang dari kesaksian Roh berhubungan dengan keperluan manusia dan karya penebusan dari Yesus Kristus.
Setan mungkin adalah penguasa dan mempunyai kekuatan yang sangat besar di dunia ini. Tapi pada hakekatnya setan/iblis telah dikalahkan dan telah dihukum melalui kematian Yesus. Ini sepenuhnya akan disadari ketika manusia berdosa, malaikat yang jatuh, setan sendiri diperhadapkan kepada Allah yang benar (Filipi 2:6-11).
Roh Kudus akan memenuhi tugasNya untuk menghukum dunia. Tetapi Dia juga mengharapkan dan memerintahkan kita untuk memenuhi tugas panggilan kita dan melayani orang-orang yang belum percaya (15:26-27). Ketika kita ingin memenangkan jiwa-jiwa yang belum percaya, kita harus juga melakukan: dalam hidup kita berdoa bagi mereka orang-orang yang belum percaya kepada Yesus, Menyatakan kepada diri sendiri dan orang lain bahwa Yesus adalah jalan satu-satunya untuk menuju kepada Allah, Informasikan keburukan yang terjadi sebelum mendengarkan kebesaran Allah.
Yesus ingin memberikan dan berbagi banyak informasi/ kabar baik kepada kita dan kepada murid-muridNya saat itu. Tetapi terkadang kematangan spiritual kita tidak sanggup dan belum dewasa untuk menerima kabar ari Yesus karena kita hanya mementigkan diri kita sendiri. Ketika kita mendengar dan mematuhinya, maka Yesus juga akan berbagi dan memberikan banyak kemampuan kepada kita. Maka sangatlah diperlukan kita mematangkan spiritual kita.
Ini jelas menunjukkan Yesus sebagai satu-satunya jalan ke surga. Karena itu janganlah menolak Dia, dan kalau saudara sudah menerimaNya, rajinlah memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum percaya kepadaNya.

2. Ia berkomunikasi dengan orang percaya (12-15). Ini lebih berkaitan dengan tugasnya diantara orang-orang percaya.
Ayat 13 berkata: “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran, sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.”
Yesus berjanji bahwa Roh Kudus akan membimbing kita kedalam kebenaran Yesus Kristus. Ini tidak menunjuk pada kebenaran absolut di tiap bidang, namun di bidang kebenaran rohani dan pengajaran Yesus. Jadi maksudnya adalah Dia akan membimbing kita dalam membuat keputusan-keputusn yang praktis yang diperlukan dalam hidup kita. Yang penting kita mendengar dan mematuhiNya sehingga kita akan diberikan kebenaran yang dari atas. Sekarang Roh Kuduslah Guru kita, dan Ia menerapkan prinsip yang sama: Ia mengajar kita kebenaran yang perlu kita ketahui, pada waktu kita membutuhkannya dan pada waktu kita siap untuk menerimanya. Jadi ketika oleh Roh kita diminta untuk berpaling dari perbuatan dan sikap kita yang salah, walaupun dari segi duniawi itu sangat menguntungkan, maka kita harus mematuhinya apabila memang kita telah memiliki kematangan spiritual. Kita harus merespon, bergerak dalam perubahan yang positif terutama dalam memenangkan jiwa-jiwa yang masih dalam dunia kegelapan.
Dalam 16:14 “Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimaNya daripadaKu.” Dari sini kita pahami bahwa pekerjaan utama dari Roh Kudus adalah meninggikan dan menerangkan Yesus Sang Mesias. Ia akan memuliakan Tuhan Yesus. Pekerjaan Roh Kudus sejatinya tidak akan pernah bertentangan dengan apa yang diajarkan Tuhan Yesus kepada kita. Jadi kita harus tahu bahwa pekerjaan Roh Kudus tidak akan pernah terpisah dari Yesus Kristus atau firman Allah. Nyatanya Roh tidak pernah menyinarkan lampu sorot kepada DiriNya sendiri, namun selalu pada Yesus (Yohanes 14:26).
Roh itu ternyata akan berkomunikan (berhubungan) dengan kita sebagaimana Tuhan Yesus sendiri yang berhubungan dengan kita. Pekerjaan Roh Kudus bersifat Kristosentris artinya berpusatkan pada Kristus. Ia akan menarik perhatian bukan kepada diriNya sendiri, tetapi kepada Kristus. Ia akan memuliakan Kristus. Dan Rohlah yang menjadi teman kita berbagi dalam mengarungi kehidupan ini. Dan satu hal yang perlu kita ingat. Pekerjaan dari roh Kudus adalah untuk memuliakan Yesus.
Jadi jika segala pekerjaan yang dilakukan adalah untuk kemuliaan roh itu sendiri, sebenarnya itu bukanlah Roh Kudus tetapi pekerjaan roh busuk yang berusaha mencuri kemuliaan Yesus. Dan ini berlaku juga bagi kita dalam melayani dan berbuat baik. Bahwa semuanya itu bukanlah untuk diri kita sendiri tetapi untuk kemuliaan Tuhan. Dan hal ini juga ditekankan dalam ayat 15. Bapa sama dengan Anak.
Kemuliaan dari Anak adalah untuk kemuliaan Bapa. Dengan demikian, Tuhan Yesus tidak berjanji mengenai apa dan bagaimana langkah kita sampai jauh kedepan. Tapi Dia berjanji akan menuntun kita apa langkah yang akan kita ambil hari ini dan saat ini. Itulah makanya Mazmur 119:105 berkata: “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku”. Ini bukan berbicara soal lampu sorot, tetapi sebuah pelita kecil yang sangat berguna untuk menerangi jalan kita 2 atau 3 langkah kedepan. Ini dilakukan agar kita tetap berjuang dan berpengharapan teguh. Kita harus berjalan bersama Allah langkah demi langkah dalam kehidupan ini.
Orang yang mengatakan bahwa dirinya dipenuhi Roh Kudus tetapi tidak pernah memberitakan Injil/ berusaha membawa orang kepada Kristus, jelas bahwa segala yang ia bicarakan adalah omong kosong. Demikian juga kalau ia terus menerus meninggikan Roh Kudusnya dan bukan Kristusnya. Meninggikan Roh Kudus sebetulnya tidak salah, karena Ia juga adalah Allah sendiri. Tetapi kalau seseorang hanya meninggikan Roh Kudus tetapi tidak meninggikan Kristus, orang itu pasti tidak dipenuhi oleh Roh Kudus, dan mungkin bahkan sama sekali tidak memiliki Roh Kudus. Sekarang Kristus mengingatkan mereka bahwa Roh Kudus tidak akan datang untuk mendirikan kerajaan yang baru, tetapi sebaliknya meneguhkan kemuliaan yang telah diberikan kepadaNya oleh Bapa.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan
Hari ini, kita mengerti bahwa Penolong itu sudah datang, yaitu Roh Kudus. Dia tinggal dan berdiam dalam hati setiap pengikutNya. Hebatnya, Roh Kudus tinggal bersama mereka selama-lamanya dan ditawarkan kepada setiap pribadi. Roh Kudus datang untuk bersaksi tentang Kristus, menginsafkan akan dosa, menuntun pada segala kebenaran, memberikan keberanian, dan hikmat. Melalui kuasa Roh Kudus, kehidupan Kristus, sifat-sifat-Nya, kuasaNya, dan kekuatan-Nya nyata melalui kehidupan seseorang. Setiap orang yang dikuasai Roh Kudus tak akan menjalankan tugasnya dengan kekuatan sendiri atau meniru-niru sifat Kristus. Hidupnya akan selalu dipimpin oleh Roh Kudus. Dengan kata lain, Kristus sendiri menyatakan kehidupanNya melalui kehidupan orang itu. Sehingga kehidupan kita mencerminkan kemuliaan Tuhan Yesus. Selamat merayakan Pentakosta. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Selasa, 22 Maret 2016

KETIKA HARAPAN PUPUS

KETIKA HARAPAN PUPUS
Markus 15:42-47
(Matius 27:57-61; Lukas 23:50-56; Yohanes 19:38-42)


Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan,
Mengakhiri doa sepekan kita kali ini, saya mengajak kita untuk merenungkan satu nats firman Tuhan mengenai penguburan Tuhan Yesus, dibawah satu tema: “Ketika Harapan Pupus.”
Bapak/ ibu yang kekasih,
Kematian Kristus adalah berita fakta yang sangat penting sekali dalam iman Kekristenan kita. KematianNya bukanlah kematian biasa. Mengapa saudara? Karena kematianNya disebabkan oleh dosa manusia. Bayangkan saudara, Yesus Kristus yang tidak berdosa dijadikannya dosa karena kita. Terlebih lagi Tuhan Yesus sendiri pernah menanyakan langsung kepada orang banyak, “Siapakah diantaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa?” (Yohanes 8:46).
Saudara, mengapa Yesus Kristus dikatakan tidak berdosa? Karena Tuhan Yesus dilahirkan dari Roh Kudus, maka dari itu Ia tidak mewarisi tabiat dosa dari Adam, seperti halnya kita. Dengan demikian maut tidak memiliki hak apapun atas diriNya.
Bapak/ Ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Kitab Suci juga menyatakan bahwa orang-orang yang telah percaya kepada Kristus, sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, adalah orang-orang yang pastinya akan diterima di Surga. Saat seseorang menyatakan percaya dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan Yesus Kristus, seketika itu dia sudah menjadi warga negara Surga. Dia menjadi anggota dari Kerajaan Allah, dan dia disebut sebagai anak-anak Allah.
Inilah yang terjadi di dalam pribadi seseorang yang bernama Yusuf dari Arimatea. Ditengah-tengah tindakan arogansi ahli-ahli Taurat, orang-orang Farisi dan imam-imam kepala yang menyalibkan Tuhan Yesus, rupanya ada seseorang yang secara diam-diam menyimak apa yang terjadi di dalam pribadi Tuhan Yesus. Seluruh proses pengadilan Tuhan Yesus diikutinya dengan seksama, yang walaupun hal itu bertentangan dengan hati nuraninya. (Lukas 23:51).
Saudara, sebagai anggota majelis, Yusuf Arimatea tidak setuju dengan keputusan untuk menghukum Yesus, namun ia sadar bahwa secara sendirian tidak mungkin dapat mengubah keputusan yang telah diambil atas Yesus. Karena itu secara diam-diam pula ia mengagumi akan karakter dan pengajaranNya.
Saudara, siapakah Yusuf orang Arimatea ini? Ia adalah pribadi yang sangat terhormat. Dikatakan bahwa ia seorang anggota Majelis Besar yang terkemuka, itu berarti ia adalah anggota Sanhedrin-pengadilan tertinggi orang Yahudi, yang juga menanti-nantikan Kerajaan Allah (Ayat 43).
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Kira-kira pada pukul tiga di hari Jumat itulah, Tuhan Yesus mati. Kematiannya didahului dengan adanya kegelapan yang meliputi seluruh daerah itu dan itu berlangsung selama tiga jam (15:33). Jadi selama tiga jam itulah Tuhan Yesus tergantung di atas kayu salib. Dan sekitar pukul 3 sore itu, Ia menyerahkan nyawaNya.
Saudara, perhitungan pergantian hari bagi bangsa Yahudi selalunya dimulai pada sore hari, yaitu pada pukul 6 sore. Karena itu ketika Tuhan Yesus dinyatakan telah mati pada jam 3 sore, itu berarti suatu waktu yang sangat terbatas jika Tuhan Yesus harus dikuburkan hari itu juga.
Terlebih lagi sesudah pukul 6 sore, hukum Sabat mulai berlaku dan segala pekerjaan apapun akan dilarang. Karena itu ketika Yusuf dari Arimatea ini mendengar kabar kematian Kristus, tanpa pikir panjang lagi ia segera pergi secara diam-diam mendatangi Pilatus dan meminta mayat Yesus (Ayat 43).
Saudara mungkin bertanya mengapa Yusuf yang harus tampil? Mengapa bukan ke-12 murid Yesus Kristus? Saudara, setuju atau tidak inilah kebijaksanaan Tuhan yang luar biasa dalam mengatur kejadian ini. Kalau seandainya ke-12 rasul yang diminta Tuhan menghadap Pilatus dan meminta mayat Yesus, kira-kira yang terjadi apa?
Mereka adalah orang-orang rendahan, mereka orang-orang yang tidak berpendidikan, terlebih lagi mereka bukan orang-orang yang memiliki akses kepada orang-orang kelas atas, yang ada justru mereka akan dianggap sebagai pemberontak yang berkomplot dengan Yesus Kristus. Baru menghadap prajuritnya saja di pintu gerbang itu mungkin mereka sudah di tangkap dan dipenjarakan atau mungkin dibunuh.
Tapi berbeda dengan Yusuf dari Arimatea ini, Yusuf adalah seorang yang dikatakan memiliki posisi yang tinggi dalam masyarakat Yahudi, seorang yang memiliki kredibilitas. Integritas hidupnya begitu baik. Dia bukan hanya orang yang berposisi tinggi, bukan hanya orang yang baik dan benar, tetapi dia juga adalah orang yang kaya yang murah hati. Darimana kita tahu bahwa dia orang kaya? Dari kuburannya!
Bapak/ ibu yang kekasih,
Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Yusuf bukan berasal dari Yerusalem, tetapi pastinya ia sudah menetap lama di Yerusalem dan karena dia sendiri mempunyai kuburan di Yerusalem. Dalam Matius 27:60 kita mendapatkan mencatat bahwa kuburan itu adalah kuburan baru milik Yusuf, yang digalinya dalam bukit batu.
Juga kalau kita melihat catatan Lukas 23:51 ayat ini memberikan satu penjelasan bahwa Arimatea merupakan sebuah kota Yahudi, yang sebagian besar penafsir menyimpulkan bahwa itu adalah Yudea.
Dengan demikian saudara, karena ia berkedudukan yang tinggi di Mahkamah Agung, Yusuf dapat berbicara dengan Pilatus. Namun begitu, permohonan Yusuf adalah permohonan yang sangat berbahaya, Sebab jika ia pada akhirnya menyatakan diri sebagai seorang yang memiliki simpatik terhadap Yesus yang disalibkan, hal itu akan mengundang kegaduhan di Istana Pilatus. Lagi pula ia tahu bahwa Tuhan Yesus dihukum sebagai pemberontak, dan karena anggota-anggota Mahkamah Agung yang lain pasti tidak setuju dengan tindakan Yusuf. Karena itu ia mendatangi Pilatus secara diam-diam. Yohanes menceritakannya dengan lebih jelas, bahwa semua itu dilakukannya dengan cara sembunyi-sembunyi karena ia takut kepada orang-orang Yahudi (Yohanes 19:38).
Saudara perhatikan dengan seksama, pada ayat ke-43 disana ada kalimat yang bagi saya itu sangat penting sekali untuk kita perhatikan. Dikatakan bahwa untuk bisa menghadap Pilatus, Yusuf harus “memberanikan diri” karena ia tahu konsekuensi yang bakal ia terima. Sikap Yusuf yang memberanikan diri meminta mayat Yesus memperlihatkan kepada kita bagaimana kerasnya tindakan-tindakan orang-orang Yahudi itu terhadap Yesus.
Karena itu kedatangannya sebagai salah seorang daripada anggota Majelis Besar sama artinya dia sedang menyangkali semua keputusan imam-imam Kepala, anggota Majelis Besar itu yang telah meminta Yesus untuk dihukum mati dengan cara disalibkan.
Yang lain adalah, ketika Yusuf memberanikan diri untuk meminta mayat Yesus, itu berarti bahwa dia sudah siap di dalam menanggung semua konsekuensi yang harus dia alami. Mungkin dia akan dikucilkan, mungkin dia akan diusir daripada masyarakat Yahudi, dan dianggapnya sebagai seorang pembelot. Mungkin dia akan dibuang daripada perkumpulan Sanhendrin tersebut yang merupakan kumpulan yang sangat terkemuka, Ia akan kehilangan prestise di dalam masyarakat Yahudi. Mungkin dia juga akan diasingkan oleh keluarganya. Mungkin dia akan dibuang daripada kedudukan itu, yang tinggi dan terhormat itu, dan mungkin juga ia akan diasingkan dari pekerjaannya sebagai anggota Majelis Besar, Mungkin dia tidak bisa berbagian lagi dalam pelayanan kepada umat Allah, sebab namanya akan dicoret dari daftar Majelis Besar.
Tetapi semua itu tidak dihiraukannya! Ia tidak peduli dengan semua kemungkinan-kemungkinan itu, dia tidak peduli bagaimana nasibnya kelak, dan apa yang akan dilakukan oleh imam-imam Besar itu kepada diri dia kelak. Karenanya dengan tekad yang bulat ia “ia memberanikan diri” untuk datang kepada Pilatus dan meminta mayat Yesus.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Bisa jadi Yusuf dari Arimatea sempat merenungkan bagaimana perjalanan hidup yang dialami Yesus saat ia diperhadapkan dengan pengadilan yang penuh intrik, kebengisan wajah-wajah orang Yahudi yang penuh dengki, sampai memaksa Tuhan Yesus untuk disalibkan, dan pada akhirnya Yesus harus mati di atas kayu salib. Dalam bayang-bayang penantiannya akan Kerajaan Allah, ia mungkin menoleh kebelakang, bahwa selama ini, ia hanya terpaku melihat Yesus diperlakukan dengan cara yang tidak manusiawi, tetapi ia tetap diam, Yusuf tidak banyak berbuat apa-apa, karenanya semuanya dilaluinya tanpa tindakan yang berarti.
Karenanya ketika ia menyadari apa yang dinanti-nantikannya tentang Kerajaan Allah, semua itu digenapi di dalam pribadi Yesus, membawa Yusuf untuk memberanikan diri mendatangi Pilatus untuk meminta mayat Yesus Kristus.
Ini berarti apa Saudara? Ketika Yusuf membandingkan antara jabatannya dengan Yesus Kristus. Dia melihat Yesus Kristus lebih bernilai daripada jabatan tinggi yang didudukinya. Terlebih lagi ketika dia membandingkan antara ancaman, kesalahpahaman yang harus dia alami, kemudian mungkin sanksi sosial yang bakal dia terima dari masyarakat Yahudi, dengan ia melihat betapa bernilainya jika ia melakukan sesuatu bagi Yesus yang walaupun saat itu sudah mati.
Saudara, taruhannya adalah nyawanya sendiri, tetapi ia tidak peduli dengan semua itu. Dia tidak peduli apakah dia harus kemudian ketika menghadap Pilatus, dia akan ditangkap sebagai salah satu pemberontak yang berpihak kepada Yesus Kristus, tetapi dia tetap datang dan meminta Yesus punya mayat untuk dikuburkan secara layak.
Bapak/ Ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Kematian Kristus adalah fakta yang paling penting di dalam iman Kristen, kematian Kristus itu adalah sesuatu yang tidak boleh dihilangkan dari Kitab Suci. Itu sebabnya ketika Saudara membaca Alkitab maka Saudara akan menemukan bahwa keempat Injil semuanya memberitakan tentang kematianNya, semuanya memberikan bukti-bukti dari kematian Yesus di atas kayu salib.
Saudara,
Pada masa kini, yang berhak mengatakan bahwa seseorang telah meninggal adalah dokter. Akan tetapi, pada masa itu, para prajuritlah yang menetapkan bahwa seseorang sudah mati atau belum.
Karenanya saat Tuhan Yesus masih disalibkan, untuk meyakinkan bahwa Tuhan Yesus benar-benar sudah mati, maka seorang prajurit menikam lambung Tuhan Yesus dengan tombak. Hingga keluarlah darah bercampur dengan air (Yohanes 19:34).
Saudara, biasanya orang yang disalibkan tidak akan mati secepat itu. Penyaliban adalah kematian yang sangat lambat dan menyakitkan. Seringkali diperlukan waktu beberapa hari sampai seseorang yang disalibkan benar-benar telah mati. Tetapi kematian Yesus dinyatakan lebih cepat dari biasanya. Karena itu berita tentang kematian Yesus membuat Pilatus menjadi terheran-heran sampai ia harus kembali memastikannya melalui Kepala pasukan (ayat 44) dan setelah mendapat jaminan barulah ia menyerahkan mayat Yesus kepada Yusuf dari Arimatea (ayat 45).
Bapak/ ibu yang kekasih,
Yusuf yang telah memiliki tekad yang baik, ia berusaha memberikan perlakuan yang spesial bagi Yesus. Sebab baginya, walaupun Tuhan Yesus telah mati, tetapi paling tidak ia masih mempunyai rasa peduli untuk menguburkanNya secara layak. Karena itu hal yang pertama kali ia buat adalah:
Pertama, Yusuf “membeli kain lenan.” Ini bukan lenan biasa, melainkan lenan baru yang terbaik untuk Sang Raja. Hal ini membuktikan bahwa Yusuf dari Arimatea memang mengusahakan semuanya itu dengan baik.
Kedua, Yusuf “menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengapaninya dengan kain lenan itu.” Disini menjelaskan bahwa apa yang dilakukan oleh Yusuf menunjukkan kasihnya yang tanpa pamrih.
Ketiga, Yusuf “membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu.” Maksudnya adalah Yusuf memberikan penghormatan tertinggi setelah Yesus menerima penghinaan yang terendah di atas kayu salib. Peristiwa ini juga menggenapi nubuatan yang spesifik dari Yesaya 53:9a.
Saudara dijelaskan bahwa mayat Tuhan Yesus disiapkan untuk dikuburkan secara layak sebagaimana kebiasaan bangsa Yahudi. Mayat Tuhan Yesus ditempatkan di dalam kuburan yang digali di dalam bukit batu. Sebuah makam baru dekat dengan bukit Golgota. Taman itu adalah milik Yusuf dari Arimatea sendiri. Tampaknya penting bahwa di kubur itu belum pernah dimakamkan seseorang, tetapi tidak dijelaskan soal kepentingan itu. Selanjutnya, makam itu ditutup dengan sebuah batu besar (Bandingkan dengan Markus 16:3-4).
Batu penutup makam itu sangat besar sehingga diperlukan beberapa pria bertenaga besar untuk menutup batu tersebut. Dengan demikian, seandainya Tuhan Yesus ternyata hanya pingsan dan belum benar-benar mati, dia tidak akan memiliki cukup tenaga untuk membuka batu tersebut. Oleh karena itu, penyebutan bahwa Tuhan Yesus telah "mati dan dikuburkan" dalam Pengakuan Iman Rasuli dimaksudkan untuk menyatakan bahwa Tuhan Yesus benar-benar telah mati. Namun kematian Yesus tidak menghalangi Yusuf untuk melakukan yang terbaik bagiNya.
Saudara kita lihat bagaimana Yusuf dengan tuntas menyelasaikan tugas yang diembannya. Sebagai seorang yang menanti-nantikan Kerajaan Allah, dengan rela hati ia menyerahkan kubur itu kepada Yesus. Sekali pun tidak pernah disangkanya bahwa kubur itu hanya diperlukan Yesus untuk tiga hari saja.
Keempat, Yusuf “[mengguling-kan] sebuah batu ke pintu kubur itu.” Tindakan itu sebenarnya sangat umum dilakukan pada masa itu di kalangan orang Yahudi. Yang menjadi tidak umum adalah tindakan penggulingan batu melibatkan dirinya yang adalah orang terkemuka. Ia bisa saja menyuruh orang lain yang melakukannya tanpa harus bersusah payah. Namun, nyata bahwa Yusuf ingin memberikan penghormatan yang tertinggi bagi Yesus dengan tangannya sendiri. Ia tidak mau bertindak setengah-setengah.
Dalam sebuah pelayanan, berapa banyak “anggota Majelis Besar yang terkemuka” yang rindu untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada Yesus dengan “tangannya sendiri”? Bukankah kebanyakan dari mereka selalu merasa sudah cukup apabila uang mereka sendiri yang terlibat dalam memenuhi kebutuhan pelayanan, jadi tidak perlu lagi turun tangan secara tenaga. Saudara ini adalah konsep yang salah! Sebab Tuhan Yesus sendiri berkata: “kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:37). Maksudnya adalah kasihilah Tuhan Allahmu dengan seluruh kehidupan kita, jangan setengah-setengah.
Lagi pula saudara,
Tindakan Yusuf menyiratkan sebuah cerita penutup dari seorang yang memiliki kerendahan hati dan yang terlibat dalam peristiwa sengsara Yesus, di mana peristiwa pembukanya diperankan oleh perempuan yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak wangi dan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya.
Mungkin Yusuf mewakili setiap orang yang lambat percaya kepada Tuhan Yesus. Mereka kehilangan kesempatan untuk bersekutu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus, namun akhirnya mereka berkesempatan melayani Dia.
Hal yang menyedihkan yang paling umum terjadi dalam kehidupan kita adalah bahwa kita seringkali menunda memberikan pujian kita kepada seseorang yang kita kasihi sampai orang tersebut pada akhirnya sudah mati. Pastinya akan lebih baik bila kita memberikan sebagian dari bunga itu atau sebagian dari puji-pujian kita kepada seseorang selama ia masih hidup.
Dalam hal ini, bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Sebagai orang yang telah mengalami kasih dan penebusan dari Yesus Kristus, adakah seperti Yusuf dari Arimatea ini? Yang dengan gigih tetap memberikan penghormatan kepada Yesus, disaat-saat pengharapannya akan Mesias menjadi pupus karena kematian Yesus.
Kiranya kita pun demikian, tetap memiliki komitmen yang teguh untuk tetap setia kepada Allah, ditengah-tengah kondisi dunia yang tidak menentu ini. Kiranya Tuhan memberkati. Amin.