Tampilkan postingan dengan label Video. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Video. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 April 2016

KASIH ITU MURAH HATI

KASIH ITU MURAH HATI
(1 Korintus 13: 3-4)


Bapak, ibu, sdr.i yang terkasih
Ilustrasi:
Ada sepasang suami istri yang lagi berlibur ke Penang, Malaysia. Mereka sangat kagum melihat transportasi yang tertata rapi di sana. Tidak sulit sama sekali untuk pergi kemana-mana dengan menggunakan Bus yang biayanya sangat murah.
Singkat cerita pada suatu kali di malam hari Bus yang mereka naiki penuh sesak. Tapi sepasang suami istri ini masih sempat memperoleh tempat duduk sebelum Bus menjadi penuh dengan masuknya banyak penumpang lain.
Diantara penumpang itu terdapat seorang nenek tua yang jalannya tertatih-tatih. Ia tampaknya sendirian saja memasuki Bus. Karena penuh ia pun bersiap-siap untuk berpegangan saja. Kemudian sepasang suami istri ini berdiri dan mempersilahkan nenek tua ini duduk. Nenek tua ini sangat senang dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. “Jarang sekali ada yang peduli kepada orang tua seperti saya“
Saudara tahukah kalau perjalanan dari pasangan ini ternyata masih lumayan jauh. Apalagi mereka harus menenteng tas ransel berat dan banyak barang bawaan. Otomatis pasangan ini pastilah akan merasa kelelahan. Namun ternyata mereka tetap merasa sukacita bukan supaya dikatakan bahwa mereka seperti superhero alias sebagai pahlawan, atau sok baik, sok hebat. Tidak ada pikiran seperti itu terbersit dalam benak mereka.
Sebaliknya yang ada di benak mereka adalah bahwa apa yang mereka lakukan hanyalah sebagian kecil dari kewajiban yang sudah seharusnya dilakukan oleh anak-anak Tuhan.
Bapak, ibu, sdr.i yang terkasih
Hari ini, kita belajar satu aspek dalam kasih, yaitu murah hati. Untuk mengerti akan hal ini, mari kita terlebih dahulu mempelajari latar belakang penulisan Surat Paulus yang pertama kepada Jemaat di Korintus ini. Saudara, surat ini merupakan salah satu dari ketiga surat yaitu 1 & 2 korintus serta Roma yang menempati posisi sentral dalam bagian PB. Surat 1 Korintus 13 adalah salah satu perikop yang paling terkenal dari seluruh kitab suci, karena di dalamnya Rasul Paulus memberikan suatu penjelasan yang luar biasa mengenai karakter kasih Ilahi.
Paulus memulai dengan menunjukkan pentingnya kasih, dengan menuliskan bahwa “sekalipun kita memiliki semua jenis karunia, kemampuan, dan prestasi tetapi jika tidak memiliki kasih, kita sama sekali tidak berguna” (ay. 1-3).
Mengapa kasih? Karena kasih adalah hal yang mudah untuk dibicarakan, tetapi sulit untuk dipraktekkan. Kasih seringkali banyak digembar-gemborkan orang, namun dalam realitasnya begitu banyak manusia-manusia justru hidup dalam keegoisan.
Minggu-minggu sebelumnya, kita diajar, bagaimana aspek kasih itu harus mengandung unsur kesabaran. Dan hari ini sebagaimana tema kita, kasih itu harus juga mengandung unsur murah hati.
Mari kita perhatikan kembali ayat 4, yang mengatakan: “kasih itu sabar dan murah hati”, atau, dalam rumusan terjemahan yang lebih tradisional, “kasih itu panjang sabar dan bermurah hati”.    
Bapak, ibu, sdr. I yang terkasih
Murah hati dalam Bahasa Yunani yaitu Eleemon artinya “bermurah hati”, orang yang bertindak menyatakan keluar sikap murah hati, orang yang selalu aktif melakukan kebaikan kepada orang lain. Dari kata ini terkandung tiga pengertian:
(1) Simpati (sun = bersama; paskhein = mengalami, menderita), artinya kesediaan untuk berbagi rasa bersama orang lain yang tengah menanggung penderitaan dan kesusahan (bnd. Roma 12:15).
(2) Empati, kesediaan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain; sebelum bicara atau bertindak terhadap orang lain, tanyakan dulu pada diri sendiri kalau saya jadi orang lain itu, bagaimana (bnd. Lukas 6:31).
(3) Pengampunan, kesediaan untuk menerima dan memaafkan tindakan orang lain yang menyakiti dan memulai lagi dalam sebuah relasi yang baru tanpa dibayangi luka batin. Menutup lembaran lama, membuka lembaran baru.
Sedangkan menurut Kamus besar Bahasa Indonesia adalah suka (mudah) memberi, tidak pelit; penyayang dan pengasih: suka menolong; baik hati; sifat kasih dan sayang; kedermawanan.
Karena itu bapak/ Ibu yang kekasih
Murah hati selalu berkaitan dengan sikap memberi; memberi waktu, tenaga, materi, hati, dsb. Tapi tidak semua sikap memberi berangkat dari kemurahan hati. Karena dibalik sebuah pemberian bisa terkandung banyak motifasi.
Orang yang murah hati tidak kasar, tidak keras, tidak kejam. Melainkan mereka memiliki hati yang dermawan. Ia tidak pelit saudara, melainkan dengan rela hati ia akan menolong sesamanya. Dalam Galatia 6:2 Firman Tuhan mengajarkan kepada kita: “Bertolong-tolonglah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Dalam kaitannya dengan seorang yang murah hati Saudara, mereka akan peka dan lembut terhadap orang lain sehingga dengan tulus hati ia siap untuk menolong yang lain. Orang yang murah hati biasanya diwarnai dengan perilakunya yang penyayang dan pengasih.
Sifat itulah yang “menggerakan“ hatinya untuk memberi sebagai wujud kasihnya kepada sesama. Ketika seseorang menjadi murah hati, maka disadari atau tidak, sesungguhnya ada kesadaran dari dalam hatinya bahwa masih ada orang lain yang tidak seberuntung dirinya walaupun mungkin dirinya sendiri tidaklah penuh harta atau kekayaan. Sekaligus hal tersebut menjadi pertanda orang tersebut menghargai sesamanya sebagai pihak yang layak untuk menerima kemurahan hati darinya. Inilah wujud belas kasihan yang terpancar dari kemurahan hati.
Kata kemurahan hati juga menunjukkan bahwa kemurahan tidaklah pernah tergantung dari berapa jumlah harta yang kita miliki. Ketika kemurahan mewarnai sikap hati kita, kita akan rela memberi dengan sukacita tanpa peduli apapun keadaan kita saat ini.
Bapak, ibu, sdr.i yang terkasih
Yesus Kristus mengajarkan kepada kita bahwa hendaklah umat kristiani senantiasa bermurah hati karena Allah adalah murah hati (Lukas 6:36).
Bapak, ibu, sdr.i yang terkasih
Dalam Lukas 10:25-37 ketika ahli Taurat mencobai Yesus bertanya tentang siapakah sesamaku. Lalu Yesus mengambil perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati. Ada seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia lalu dirampok bahkan dipukul setelah itu mereka meninggalkannya setengah mati. Kemudian lewat seorang Imam tapi hanya melihat, kemudian datang seorang Lewi itupun hanya melihat tanpa melakukan pertolongan dan lewatlah seorang Samaria ketika dia melihat orang yang terluka itu dia bermurah hati menolong orang tersebut.
Singkat cerita dia membawa orang tersebut yang terluka itu ke tempat penginapan lalu keesokkan harinya karena dia ingin melanjutkan perjalanan dia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan dan berpesan bahwa jika ada yang kau belanjakan lebih dari itu aku akan mengembalikannya ketika aku kembali.
Pertanyaannya ada hubungan apakah orang yang terluka dan orang yang berbaik hati mau menolong sama sekali tidak ada hubungan keluarga, atau kenalan, sahabat atau kerabat tetapi karena orang itu mau menolong, peduli terhadap sesamanya sehingga diapun mau melakukan semua itu tampa terpaksa atau hitung-hitungan.
Bapak, ibu, sdr.i
Mungkin jaman sekarang sulit untuk kita mendapatkan orang yang mau bermurah hatinya kepada sesamanya. Yang ada orang itu bermurah hati dengan motifasi supaya dia dipuji.
Namun coba perhatikan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam ucapan bahagia (Matius 5:7) Tuhan Yesus berkata: “berbahagialah orang yang murah hatinya karena mereka akan beroleh kemurahan.” Ini merupakan implikasi dari seseorang yang punya kemurahan hati. Dimana ia akan selalu diberikan kebahagiaan karena ada janji berkat yang Allah sediakan bagi seseorang yang memiliki kemurahan hati, dimana Allah akan memberikan kemurahanNya pada saat penghakiman nanti.
Karena itu, apa yang telah kita terima sebagai pemberian dari Allah tak seharusnya membuat kita menjadi egois, anti sosial, ataupun menikmatinya untuk kepentingan diri sendiri. Yang Allah kehendaki adalah kita mau hidup berbagi secara sukarela bukan oleh karena “dipaksa“ akan tetapi melakukan dengan rela hati.  
Karena itu Bapak, ibu, sdr.i yang terkasih
Kemurahan hati merupakan salah satu sikap yang seharusnya memenuhi kehidupan orang-orang percaya tanpa terkecuali dan tanpa terkait dengan situasi atau kondisi apapun. Tetapi kemurahan hati tidak sama dengan bersikap murahan. Melainkan kemurahan hati adalah kualitas hidup anak-anak Tuhan.
Namun yang mesti kita ketahui adalah, kemurahan hati itu tidak selalu harus berbentuk materi atau benda, tapi kemurahan hati juga bisa diwujudkan dalam hal-hal kecil yang kita lakukan sebagai perwujudan kasih kepada orang lain. Satu misal, perhatian kita, kepedulian kita terhadap kebutuhan sesama kita, dll.
Disini jelas bahwa murah hati merupakan bagian dari perwujudan kasih yang bisa nyata dirasakan oleh orang lain, dan merupakan salah satu hal yang bisa menunjukkan sejauh mana kita mengaplikasikan kasih Surgawi dan memuliakan Bapa di dalam segala sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan kita.
Bapak, ibu, sdr.i yang terkasih
Ada sebuah cuplikan yang merupakan Kisah nyata dari penarik becak tua ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua. Keikhlasan hati membantu orang lain tidak hanya bisa didapat saat kita sudah bergelimang harta. Bahkan dalam keadaan miskin sekalipun, kita bisa berbagi dan  membantu orang yang lebih membutuhkan.
Nama pria tua ini adalah Bai Fang Li, dia adalah seorang tukang becak yang tinggal di Tianjin, China. Usianya tidak lagi muda, setiap hari dia menarik becak di kotanya. Pekerjaannya tidak menghasilkan banyak uang, bahkan Bai Fang Li termasuk dalam keluarga miskin yang tinggal di gubuk sederhana. Pakaian yang digunakan sangat lusuh, untuk makanpun, Bai Fang Li harus mencari makanan sisa di tempat sampah. Tapi tahukah Anda, penarik becak yang miskin ini telah menyumbang lebih dari $ 53.000 atau sekitar Rp 500 juta untuk anak-anak miskin.
Dengan demikian bapak, ibu
Mengapa kita mesti memiliki kemurahan hati? Karena pada dasarnya Allah kita adalah Allah yang murah hati. Kemurahan hati Allah tidak dipengaruhi oleh kondisi dan situasi. Maksudnya meskipun umatNya tidak setia namun Allah tetap setia. Kesetiaan Allah tidak dikondisikan pada umat yang setia atau tidak setia. Kesetiaan Allah yang murah hati lahir dari hakekat Allah yang memang setia. Tuhan Yesus memuji orang yang murah hati. “Berbahagialah orang yang murah hati karena mereka akan beroleh kemurahan” (Matius 5:7). Tuhan sendiri murah hati terhadap kita umatNya (Matius 20:15). Maka Tuhan Yesus berharap: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Lukas 6:36). Kasih dan kemurahan hati adalah satu.
Dengan demikian, kita yang telah menjadi anak-anakNya hendaknya kita pun mampu mencerminkan kemurahan hati kita dalam berbagai aspek kehidupan kita. Ini bukan satu pilihan dalam kehidupan kita. Akan tetapi ini menjadi bagian terpenting dalam unsur kasih yang telah kita terima dari Bapa. 
Pertanyaannya yang penting bagi kita, maukah kita dipakai Allah untuk selalu bermurah hati dalam kehidupan kita? jika iya, dimulailah dari sekarang. Mulailah kita nyatakan dalam kehidupan keluarga kita, mulailah dari gereja kita. Amin.

Sabtu, 14 Maret 2015

SALIB: PENGORBANAN TANPA PAMRIH

SALIB: PENGORBANAN TANPA PAMRIH
Yohanes 15:13; Filipi 2:6-8


Anak-anak yang dikasihi Tuhan
Berbicara tentang pengorbanan, siapa diantara kita yang pernah mengalaminya? Mungkin korban waktu, korban uang, korban tenaga? Tetapi pertanyaannya, seberapa banyak yang mau berkorban untuk orang lain? Terlebih lagi bagi mereka yang tidak ada hubungannya dengan kita.
Saudara, fakta membuktikan hanya sedikit saja orang yang mau berkorban untuk orang lain. Kalaupun ada, itupun ia lakukan karena ada factor lain yang mempengaruhinya.
Karenanya tidak heran saudara, kalau dalam kehidupan nyata sangat banyak kita temui dimana orangtua yang setengah hati dalam berkorban bagi anak-anaknya. Dan yang sangat menyedihkan, keadaan ini justru banyak kita temui disekitar kita, ada orang tua yang melepas tanggung-jawabnya dengan menyuruh anaknya menjadi peminta-minta di perempatan lampu merah sementara sang ayah duduk manis di warung kopi.
Atau ada suami yang membiarkan isteri mengurusi kebutuhan anaknya sendiri dengan alasan pergi merantau ditempat yang jauh.
Dari sini kita melihat saudara, bahwa hakekat pengorbanan yang sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari peranan kasih yang menyertainya. Kasihlah yang memungkinkan pengorbanan seseorang menjadi nyata dan seutuhnya.
Jika pengorbanan yang dilandasi tanpa kasih maka itu adalah sebuah keterpaksaan. Jika kasih tanpa dilandasi dengan sebuah pengorbanan maka itu namanya hanya “omong kosong”.
Di dalam kekristenan, berbicara tentang kasih dan pengorbanan, ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.
Jika kasih harus diungkapkan melalui pengorbanan, maka kita harus merelakan banyak kesenangan diri agar orang lain bisa berbahagia. Pernyataan ini terdengar memang sangat ironis saudara. Namun itulah hakikat sesungguhnya tentang mengasihi dengan tulus. Kita tidak bisa lagi bersenang-senang seorang diri dan membiarkan orang yang kita sayangi mengalami kesusahan. Ketika kasih itu menyelimuti hati kita, maka secara spontan kita hanya ingin melihatnya orang yang kita kasihi dapat tersenyum, entah itu sendirian ataupun saat bersama dengan kita.
Dalam hal ini, berkorban bukan hanya menyangkut soal perasaan tetapi juga menunjuk kepada sebuah keputusan dan komitmen dalam diri untuk berbagi kehidupan dengan orang lain. Adakalanya kita tidak ingin berkorban, namun mau tidak mau kita harus berkorban, disanalah arti pengorbanan yang sesungguhnya. Jadi, berkorban bukanlah sikap pasif, tetapi sebuah tindakan aktif yang didasarkan pada kasih.
Demikianlah yang diungkapkan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya ketika Ia menjelaskan makna kasih yang sejati.
Di dalam Yohanes 15:13 Tuhan Yesus berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
Saudara,
Dari sini kita melihat bahwa Tuhan Yesus tidak sedang berbasa-basi. Ia tidak hanya sedang mengajar dan Ia sendiri tidak melakukannya. Tidak saudara! Sebaliknya Ia sedang menanamkan satu prinsip penting bagaimana kasih dan pengorbanan itu harus dijalankan bersama-sama. Dan itu dimulai di dalam pribadi Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus adalah figure yang rela berkorban demi orang banyak karena kasihNya. Pernyataan ini digenapi sendiri oleh Tuhan Yesus beberapa jam setelah Dia menyatakannya.
Saudara, kejadian ini dimulai di ruang atas saat Tuhan Yesus meneguhkan murid-muridNya dan mengadakan perjamuan yang terakhir dengan mereka. Peristiwa ini kemudian berlanjut dengan pergumulanNya di taman Getsemani. Dan pada babak selanjutnya, kita melihat serangkaian pengadilan yang illegal/ tidak sah, hingga penyaliban-Nya di hadapan orang banyak yang mengejek-Nya.
Saudara,
Sebagai Anak Allah, Tuhan Yesus dapat saja menghindari segala penderitaan, penyiksaan, dan kekejaman yang seperti itu. Dia sama sekali tidak berdosa dan tidak layak untuk mati. Namun mengapa Ia rela melakukannya bagi kita? Hal itu semata-mata dilakukan karena kasihNya yang besar pada Bapa dan kepada orang-orang yang ada dalam anugerah Bapa, sehingga mendorong Tuhan Yesus untuk menyatakan pengorbanan yang sejati hingga Ia naik ke atas kayu salib.
Anak-anak yang kekasih,
Di dalam Injil dicatat bahwa Tuhan Yesus bukan sekedar bergerak menuju kematian yang tidak terhindarkan, tetapi melaksanakannya dengan sikap yang sukarela. Di dalamnya tidak ada kesan ada takdir buta, tetapi Tuhan Yesus jelas yang memegang kendali atas nasibNya sendiri, yang sejalan dengan kehendak BapaNya. Dalam hal inilah Yohanes 10:18 mencatat: “Tidak seorang pun mengambilnya dari padaKu (yaitu nyawa Yesus), melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Itulah tugas yang Kuterima dari BapaKu”
Dan sebagai hasilnya saudara, kita dapat diampuni jika mau menerima pengorbanan dan kebangkitan-Nya dengan iman.
Anak-anakku yang kekasih dalam Tuhan.
Alkitab mencatat bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan di atas segala tuhan. Tetapi ketika manusia jatuh ke dalam dosa, upah dosa adalah maut. Pada saat yang sama, Tuhan Yesus juga tidak tega melihat manusia binasa dan mati karena dosa-dosanya.
Yesus yang adalah Tuhan lebih memilih untuk datang ke dalam dunia ini, untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang telah terputus akibat dosa.
Pengorbanan-Nya yang dibangun atas dasar kasihNya yang besar itu, yang dalam bahasa Yunani diungkapkan sebagai kasih "Agape" yaitu kasih kasih yang tulus, tanpa pamrih, tanpa syarat, tidak ada motivasi yang terselubung, tidak ada udang di balik batu. KasihNya murni untuk menjangkau manusia yang sedang menuju kebinasaan, supaya melalui pengorbananNya mereka mendapatkan anugerah keselamatan dari Allah. Inilah bukti ketulusan dari pengorbanan Tuhan Yesus saudara.
Karena itu saudara, dalam Filipi 2:6-8 diungkapkan kepada kita: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Dari sini kita melihat bahwa Anak Allah yang Maha Tinggi itu, kini hanya terfokus pada nasib manusia yang sedang binasa. Karena manusia telah berdosa. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Maka tidak ada jalan lain bagi manusia untuk selamat dari murka Allah selain Allah sendiri yang mencari pengganti korban untuk menyelesaikan masalah manusia.
Namun, karena tidak ada jalan lain, tidak ada seorangpun yang layak untuk menjadi korban. Maka Allah mengutus Putra TunggalNya untuk turun ke dalam dunia, menjadi sama dengan manusia, hanya saja Ia tidak berdosa. Tuhan Yesus menjalani rencana Bapa dengan jalan harus mati di kayu salib. Kasih yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus ini adalah kasih yang tidak egois, tetapi kasih yang disertai dengan pengorbanan. Pengorbanan untuk menerima hukuman salib yang diterimaNya di bukit Golgota.
Anak-anakku yang kekasih,
Apa artinya salib bagi kita? Jika Kekristenan adalah Kristus, maka salib-Nya adalah kunci untuk mengerti tentang Dia. Salib menyatakan telah rusaknya akhlak manusia hingga manusia tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Salib merupakan lambang penghukuman. Salib juga menyatakan kasih Allah yang sangat besar kepada manusia.
Jika dilihat dari Pihak Allah maka:
- Salib adalah Jalan pembenaran. Maksudnya adalah Allah menggantikan kita dengan memberikan Yesus untuk menanggung hukuman akibat dosa (2 Korintus 5:21). Alkitab mencatat bahwa Yesus: dihina, dicemooh, dinista, direndahkan, dihujat, dijadikan terkutuk, dibuat jadi dosa kita harus melihat diri kita disitu.
- Salib adalah tanda pengampunan dan Penebusan. Kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib, menandakan penebusanNya telah sempurna hingga Allah berkenan untuk kembali mengampuni kita (Efesus 1:7; Kolose 1:14).
-  Salib adalah tanda pembenaran kita. Kita patut mengerti bahwa Allah membenarkan kita bukan karena kesalehan kita, Allah membenarkan kita bukan karena kecakapan kita, tetapi pembenaran itu dilakukan Allah karena penebusan yang dilakukan Tuhan Yesus bagi kita (Roma 3:24). Sehingga tidak ada andil sedikit dari usaha manusia untuk mengusahakan keselama-tannya.
-  Salib adalah bentuk kesetiaan. Kita melihat, Tuhan Yesus sendiri setia pada kehendak BapaNya sampai mati. Dia dikirim oleh Allah Bapa untuk menebus kita semua, Dia mengalami penderitaan yang luar biasa, dan sampai disalib sebagai korban bagi kita semua sampai titik darah penghabisan. Dia menyerahkan nyawa-Nya karena dia setia kepada Bapa.
Dengan kata lain, salib merupakan jalan satu-satunya bagi kita untuk menerima anugerah keselamatan dari Allah. Dan itu hanya dimungkinkan karena pengorbanan Tuhan Yesus yang tanpa pamrih bagi kita.
Yang berikutnya saudara arti salib jika dilihat dari pihak manusia maka:
-  Salib adalah persekutuan dengan Kristus dalam penderitaan dan kematiaanNya (Filipi 3:10-11). Ini merupakan tujuan hidup daripada Rasul Paulus, yaitu supaya ia dapat menjadi serupa dengan Kristus.
Saya rasa tujuan yang sama pula yang seharusnya kita miliki ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, yaitu bahwa kita ingin menjadi serupa dengan Dia.
Jika demikian, apa yang harus kita lakukan saat kita melihat pengorbanan Tuhan Yesus yang tanpa pamrih itu? Apa yang harus kita kerjakan dalam mengisi waktu yang telah Tuhan berikan bagi kita?
Dalam hal ini ada dua sikap yang mesti kita lakukan sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus, yaitu:

1.   Kita harus berani menyangkal diri bagi Kristus:
Anak-anakku,
Menyangkal diri dimulai dari kesadaran bahwa “hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Galatia 2:20). Dari sinilah kita harus aktif mengendalikan keinginan “si aku” kita. Kita mesti belajar memadamkan segala ambisi pribadi, iri hati kita, perasaan dengki terhadap orang lain, serta hal-hal yang negative yang seharusnya tidak lagi kita lakukan dalam hidup. Dengan kata lain, kita harus mematikan segala bentuk keduniawian kita, mematikan segala keinginan daging, mematikan cara hidup yang sia-sia (Kolose 3:5-10, Galatia 5:19-21).
Sebaliknya kita menggunakan sifat-sifat baru, sifat-sifat yang mencerminkan kehidupan yang dikehendaki Allah. Jadi intinya adalah kita diminta untuk bersikap seperti Yesus, yaitu: Hidup tidak lagi hanya sekedar yang penting aku senang, tetapi juga belajar memberi tempat dalam hati kita untuk sesama. Dengan demikian, kita akan mempunyai kepedulian untuk menolong sesama.
Saudaraku, Agustinus (seorang tokoh dalam kekristenan) pernah berkata: “kita akan kehilangan jati diri bila kita mengasihi diri sendiri, tetapi kita akan menemukan jati diri sejati bila kita mengasihi orang lain. Dengan kata lain, rahasia kebahagiaan bukanlah dengan memuaskan diri sendiri, melainkan dengan memberikan hati kita, hidup kita, dan diri kita dalam kasih kepada sesama.”
Dari sini, seharusnya kita terdorong untuk melakukan dan berikan pertolongan dengan tulus dan tanpa pamrih kepada sesama kita. Menunjukkan perbuatan yang baik kepada orangtua, saudara, teman, sahabat, dan sebagainya.
Berbuat baik kepada sesama berarti kita telah menunjukkan bahwa kita mengasihi Tuhan Yesus. Bukankah kasih kita kepada Tuhan Yesus baru terlihat buktinya jika kita mampu mengasihi sesama bukan?
Hal inilah yang juga ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan Matius 25:40, “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Hanya yang terpenting untuk kita mengerti adalah semua perbuatan baik yang kita lakukan tidaklah dengan mengharapkan pamrih dari orang yang kita kasihi.

2.     Kita harus belajar memikul Salib
Anak-anak yang kekasih
Salib memang bukanlah tujuan dari hidup kita. Tetapi Tuhan memberikan salib kepada kita dengan satu maksud supaya dapat kita pikul. Salib adalah menanggung penderitaan bukan karena kesalahan sendiri, tetapi menanggung penderitaan karena nama Tuhan.
Salib adalah jalan kematian, jadi tidak ada jalan balik. Artinya ketika Tuhan memanggil kita dan kita mau mengikut Dia, sejak saat itu kita sedang berada di jalan kematianNya.
Dengan memahami Salib Kristus, maka kita dapat semakin menghargai pengorbanan-nya yang tanpa pamrih itu. Dan kita dapat menjalani segala bentuk kehidupan kita dengan benar dihadapan Tuhan.
Dengan demikian, kekristenan bagi kita bukanlah soal hidup diberkati, bukan pula soal hidup sukses dan bebas dari masalah. Tetapi kekristenan adalah bagaimana kita dengan sukarela masuk dalam penderitaan dan kematian bersama Kristus, agar kehidupan kita semakin indah dimata Tuhan.
Apa yang kita renungkan kali ini, kiranya dapat memberikan satu pemahaman yang lebih baik tentang pengorbanan Tuhan Yesus bagi kita, khususnya saat kita memasuki minggu-minggu sengsara, Tuhan kita Yesus Kristus. Dengan demikian kita tidak memandang enteng pengorbanan Tuhan Yesus bagi kita, tetapi justru semakin mendorong kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan kepada Tuhan dan sesama kita dengan tanpa pamrih.
Untuk menutup khotbah ini saya ingin menampilkan klip berikut kiranya dapat memberikan kita inspirasi. Amin