Tampilkan postingan dengan label Filipi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filipi. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Oktober 2016

KETAATAN KRISTUS

KETAATAN KRISTUS
Filipi 2:1-11


Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan,
Minggu yang lalu kita belajar tentang Keilahian Kristus. Salah satu doktrin yang sangat penting dalam kekristenan, yaitu tentang pengakuan Yesus adalah Tuhan. Saudara, Yesus adalah Allah yang sejati dan hakikat Yesus Kristus sebagai Allah, menunjukkan kesetaraan-Nya dengan Bapa baik sebelum, selama dan sesudah masa hidup-Nya di bumi (Yohanes 1:1; 8:58; 17:24; Kolose 1:15-17). Di dalam kekekalan-Nya Yesus Kristus adalah Allah. Oleh karena Yesus Kristus adalah Allah, maka Kristus mempunyai hak atas semua sifat-sifat Allah.
Nah, pada minggu ini, kita akan belajar sisi lain dari Kristologi, yaitu tentang Ketaatan Kristus. Saudara, berbicara tentang ketaatan Kristus, timbul beberapa pertanyaan yang mesti kita jawab untuk mendapatkan pemahaman yang lebih tepat: Apa yang dimaksud dengan ketaatan? Ketaatan yang seperti apa yang dilakukan dan diajarkan Tuhan Yesus? Dan seberapa pentingkah ketaatan Kristus ini berlaku dalam kehidupan kekristenan kita?
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, saya mengajak kita untuk melihat terlebih dahulu terminologi sebuah ketaatan, bahwa ketaatan berasal dari kata taat. Dalam KBBI kata “Taat” artinya “senantiasa tunduk, patuh, tidak berlaku curang, setia, saleh dan kuat beribadah.” Sedangkan “ketaatan” lebih diartikan sebagai “kepatuhan, kesetiaan, kesalehan.” Dalam dunia hukum, ketaatan lebih diartikan sebagai fungsi untuk tidak membahayakan atau mengganggu kedamaian atau keadilan.
Dalam kekristenan sendiri, ketaatan tidak dapat dilepaskan dari iman. Ketaatan adalah bagian atau bukti dari iman. Dalam kehidupan keseharian seseorang, dapat saja ketaatan lahir dari motivasi-motivasi tertentu, tetapi tidak ada cara lain untuk mewujudkan imannya kecuali dengan menunjukkan ketaatannya dalam menghidupi apa yang diimaninya. Jadi dari sini kita pahami saudara bahwa orang yang hidup dalam ketaatan merupakan perwujudan dari iman mereka kepada Allah.
Sekarang kita melihat, apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus berkaitan dengan ketaataan-Nya? Mari kita simak ayat 6 dari Filipi pasal 2 ini: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,” (Filipi 2:6).
Dalam ayat ini ada frasa “dalam rupa Allah”. Dalam bahasa Yunani, ada dua kata yang menggambarkan kata rupa, yaitu kata “Morfe dan Skhema.” Kedua kata ini memiliki kesamaan dalam hal terjemahaan, yakni sama-sama merujuk kepada kata “rupa”. Namun secara makna, kata “Morfe” berbeda dengan kata “Skhema.” “Morfe” adalah rupa hakiki yang tidak pernah berubah; seperti “kemanusiaan, keilahian.” sedangkan “Skhema” adalah rupa lahiriah yang mengalami perubahan dari waktu ke waktu.
Ketika Paulus menjelaskan tentang Yesus dalam kalimat ini, Paulus menuliskannya dengan menggunakan kata “Morfe.” Jadi kalimat “dalam rupa Allah” lebih tepat diterjemahkan sebagai “keberadaan-Nya yang tidak dapat berubah atau bersifat Ilahi.” Yang sekalipun “Skhema” luar-Nya berubah karena sekarang menjelma menjadi Yesus namun dalam hakikat Ia adalah Ilahi.
Sudah tentu sebagai Allah, Yesus Kristus tidak memerlukan apa pun! Ia telah memiliki semua kemuliaan dan pujian dari surga. Bersama-sama dengan Allah Bapa dan Roh Kudus, Ia memerintah seluruh alam semesta ini. Tetapi ayat 6 mengemukakan suatu fakta yang mengejutkan: bahwa Ia tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai “milik yang harus dipertahankan.”
Dengan demikian, yang ingin dijelaskan Paulus dalam kalimat ini adalah sekalipun Yesus adalah Allah, namun Ia tidak mempertahankan hak-Nya, tetapi menanggalkan kedudukan itu demi kepentingan manusia. Kristus tetap adalah Allah, dan keilahianNya tidak berkurang, tetapi demi kepentingan manusia maka hakikat keilahian itu disembunyikan. Dari sini kita melihat bahwa Yesus tidak memikirkan diri-Nya sendiri; Ia memikirkan orang lain. Pandangan-nya/ sikap-Nya ialah memperhatikan orang lain tanpa mementingkan diri sendiri. Saudara inilah bentuk kerendahan hati yang mutlak yang lahir dari kasih-Nya yang besar. Inilah ketaatan Yesus yang berperan sebagai Anak Tunggal Allah.
Perhatikan ayat 7 “melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:7).
Kata “rupa” tetap menggunakan kata “Morfe” yang menunjukkan kesungguhan dari kedudukan-Nya sebagai hamba dan menjadi sama dengan manusia. Kekeristenan percaya bahwa Yesus Kristus adalah manusia yang sejati. Ia seratus persen manusia seutuhnya. Ia bukan manusia jadi-jadian. Ia juga bukan manusia setengah dewa. Tetapi Ia sungguh-sungguh menusia seutuhnya. Namun ada sesuatu yang lebih di sini, yaitu Kristus “menjadi sama dengan manusia.” Maksudnya adalah dalam Keilahian-Nya, Kristus kini mengambil rupa manusia, menjadi sama dengan manusia dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia sungguh dan sepenuhnya manusia. Mendapat bagian dalam darah dan daging kita. Tampil dalam kodrat dan kebiasaan manusia dan Dia mengambil kodrat manusia dengan sukarela. Itu merupakan tindakan-Nya sendiri dan dilakukan dengan persetujuan-Nya sendiri.
Saudara, Kita tidak dapat berkata demikian mengenai bagian kita dalam kodrat manusia. Di sini Ia mengosongkan diri-Nya sendiri, melepaskan diri dari kehormatan dan kemuliaan dunia atas serta dari keadaan-Nya yang sebelumnya untuk mengenakan pada diri-Nya sendiri kain kotor berupa kodrat manusia.
Jadi saudara, walaupun Ia tetap benar-benar Ilahi, namun sekarang Kristus mengambil sifat manusia dengan segala pencobaan, kehinaan dan kelemahannya, hanya bedanya adalah Ia tanpa dosa. Berbeda dengan Adam pertama, yang melakukan tindakan sia-sia untuk mencapai kesetaraan dengan Allah (Kejadian 3:5), Yesus sebagai Adam yang terakhir (1 Korintus 15:47), Ia merendahkan diri-Nya dan di dalam ketaatan-Nya Ia menerima peran sebagai hamba yang Menderita. Sehingga Ia mempersembahkan ketaatan yang tak bercacat dan sempurna kepada Bapa di pihak orang-orang yang terkait dengan-Nya oleh iman.
Kita melihat saudara, Adam gagal dalam ketaatannya, tetapi Kristus berhasil secara sempurna. Adam adalah adalah sumber dosa dan kematian, tetapi Kristus adalah sumber ketaatan dan kehidupan. Sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).
Namun demikian, kemanusia Yesus tidaklah permanen; kemanusiaan itu memang sungguh-sungguh nyata namun itu sudah berlalu, sebab sejak kenaikan-Nya ke surga, Ia telah kembali ke dalam tubuh-Nya yang baru.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
 Pada ayat 8 dijelaskan: ”Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:8).
Dalam hal ini Paulus berbicara tentang Yesus yang telah merendahkan diri-Nya sendiri dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Dari sini kita melihat bahwa ciri khas utama hidup Yesus adalah kerendahan hati, ketaatan dan pengangkalan diri. Ia tidak ingin menguasai manusia, tetapi hanya melayani mereka; Ia tidak menginginkan kehendak-Nya sendiri, tetapi kehendak Allah; Ia tidak ingin meninggikan diri, tetapi menyangkal seluruh kemuliaan-Nya demi manusia. Apabila kerendahan hati, ketaatan dan penyangkalan diri merupakan ciri khas paling agung bagi hidup Yesus, maka itu juga harus merupakan ciri dari setiap orang Kristen yang mengaku sebagai anak-anak-Nya.
Kita melihat saudara, Yesus sendiri rela melepaskan identitas dengan segala hak-Nya walaupun Ia adalah Allah. Inilah yang disebutkan sebagai mengosongkan diri-Nya. Maksudnya adalah Ia rela mengosongkan diri-Nya, menyembunyikan keutamaan-Nya supaya orang berdosa dapat diselamatkan. “Pengosongan diri-Nya ini tidak sekedar berarti secara sukarela menahan diri untuk menggunakan kemampuan dan hak istimewa ilahi-Nya, tetapi juga menerima penderitaan, kesalahpahaman, perlakuan buruk, kebencian, dan kematian yang terkutuk di salib.” Yesus mengabaikan kemuliaan diri-Nya dengan membiarkan diri dihina, direndahkan, disiksa, bahkan dibunuh. Jadi Kristus tidak hanya menjadi manusia sejati, tetapi seorang manusia “sama dengan yang lain” yang mengambil bagian dalam seluruh kelemahan manusia kecuali dalam dosa.
Kalau kita bercermin dari apa yang dilakukan Yesus, merendahkan diri memang bukan perkara mudah, sebab kita perlu melatih diri untuk bersikap demikian dalam relasi kita dengan sesama, khususnya di antara orang percaya. Itu bisa ditunjukkan dengan kesediaan mengalah saat berbeda pendapat untuk hal-hal yang tidak prinsipil. Dalam kehidupan berjemaat pun kiranya kita belajar untuk tidak menonjolkan diri sendiri saja, tetapi juga memberi kesempatan kepada orang lain untuk maju.
Saudara, Ketaatan Yesus pada kehendak Allah Bapa adalah ketaatan yang mutlak, karena ketaatan-Nya berorientasi pada kehendak Bapa. Ketaatan-Nya bukan hanya taat dalam melaksanakan tugas-Nya tetapi kesempurnaan dalam menyerahkan diri sesuai dengan kehendak Bapa, yakni Dia harus mati demi penebusan orang yang berdosa. Ketaatan Yesus untuk mati di kayu salib menjadi jembatan yang mengatasi jarak antara manusia berdosa dengan Allah yang suci. Yesus Kristus telah memberitahukan kepada kita bahwa perjalanan-Nya dari sorga untuk mencari orang berdosa, telah sampai pada titik paling bawah, paling hina, dan paling dalam yang tidak akan bisa dilakukan oleh siapapun juga. Karenanya tidak heran saudara, jika ketaatan Kristus adalah ketaatan yang mutlak.
Dalam hal ini, maka ketaatan yang berorientasi pada Allah sejatinya akan menghasilkan ketaatan mutlak, sebaliknya ketaatan yang hanya untuk menyenangkan hati manusia akan menimbulkan ketidaktaatan yang tersembunyi. Karena itu, ketaatan Tuhan Yesus kepada kehendak Allah Bapa, ditunjukkan-Nya pada penyerahan diri-Nya sampai mati, merupakan sebuah teladan bagi kita.
Seringkali berbagai pergumulan hidup di dunia membuat kita merasa terdesak dan sulit untuk taat kepada Allah. Kita diingatkan bahwa walaupun sulit dan menuntut pengorbanan, kita harus belajar taat kepada kehendak Allah. Siapakah kita, yang jauh lebih rendah daripada Dia, tetapi memberontak kepada Bapa di surga? Kita hanyalah ciptaan yang lemah dan kecil ini berani melawan Allah. Tetapi Yesus taat sampai mati di atas kayu salib. Hanya dengan ketaatan kepada Allah, barulah rencana Allah yang sempurna dan baik dapat terlaksana. Demi kebaikan hidup kita semua, mari belajar menaati Allah secara mutlak. Saudara, kunci agar kita bisa terus terarah kepada ketaatan seperti Kristus adalah selalu berdoa. Sama seperti Yesus taat kepada kehendak Allah, kita pun harus belajar taat kepada kehendak Allah dalam kehidupan kita. Doa akan menolong kita agar kita tetap terarah untuk taat kepada Allah.
Kita lanjut ke ayat 9-10 “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,” (Filipi 2:9-10).
Saudara inilah bagian yang paling agung dimana Yesus menerima pemuliaan dari Bapa. Cepat atau lambat, setiap makhluk hidup di seluruh jagat raya, di surga, di bumi dan bahkan di neraka, akan menyembah-Nya. Dalam tatapan Yesus yang telah meninggalkan kemuliaan-Nya demi manusia dan mengasihi manusia sampai mati di atas salib, hati manusia menjadi luluh dan penolakkan mereka hancur. Ketika orang menyembah Yesus Kristus, mereka jatuh pada kaki-Nya dalam kasih yang ajaib. Kita melihat saudara, sebagai bagian dari konsekuensi dari kasih yang penuh pengurbanan, Allah memberikan Yesus nama di atas segala nama. Ini merupakan gagasan yang umum di pakai dalam Alkitab yaitu memberi suatu nama baru untuk menandai suatu tahapan baru dalam hidup manusia. Abram menjadi Abraham ketika menerima janji Allah (Kejadian 17:5). Yakub menjadi Israel ketika Allah masuk ke dalam hubungan baru dengannya (Kejadian 32:28).
Lalu nama baru apa yang disandangkan kepada Kristus. Tidak lain jawabannya adalah “nama di atas segala nama” inilah gelar yang merujuk pada “Tuhan.” Mula-mula gelar ini berarti tuan atau pemilik. Lalu istilah ini menjadi gelar resmi kaisar-kaisar Romawi. Istilah ini juga dipakai sebagai gelar dewa-dewa kafir. Saat penerjemahan Alkitab menerjemahkan kata Yehovah dalam Alkitab PL versi bahasa Yunani, mereka menerjemahkan kata “Yehovah” menjadi “Kurios” yang berarti “Tuhan.” “supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi.” Pembagian jagat raya atas tiga wilayah itu mau menekankan keseluruhan jagat raya itu. Maka pemahaman kita adalah Dialah Tuan dan pemilik segala kehidupan. Dialah Raja dari segala raja; Dialah Tuhan yang tidak dapat disamakan oleh dewa-dewa kafir dan patung-patung bisu.
Tujuan ini nampak jelas dalam ayat 11 “dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Filipi 2:11).
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan, pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan adalah pengakuan yang sangat penting dalam dalam kekristenan. Menjadi orang Kristen berarti mengaku Yesus sebagai Tuhan (Roma 10:9). Pengakuan ini amat sederhana, namun mencakup keseluruhan. Mungkin kita akan mengerti lebih baik tentang arti sebuah kekristenan jika kita kembali kepada pengakuan ini, yakni bahwa kita harus menaklukan diri dan taat kepada-Nya, sujud menyembah kepada-Nya, mengakui dan menghormati-Nya sebagai Tuhan yang empunya kuasa dan kemuliaan. Sebab merupakan kehendak-Nyalah supaya semua orang menghormati Anak sama seperti mereka menghormati Bapa (Yohanes 5:23).
Sekalipun demikian, seluruh tujuan Yesus bukan kemuliaan diri-Nya sendiri, tetapi kemuliaan Allah. Dari sini kita melihat bahwa keyakinan Paulus sangat jelas bahwa Allah adalah satu-satunya yang paling agung. Tuhan adalah “nama di atas segala nama” yang dikaruniakan kepada Yesus. Dia Raja dan Pemerintah yang diangkat oleh Allah untuk memegang kekuasaan atas segala sesuatu. Jadi penghormatan apa pun yang diberikan kepada Kristus tertuju juga kepada Bapa. Dalam hal inilah Matius 10:40 berkata: “Barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.”
Kita perlu tahu saudara, bahwa Sebetulnya, gereja Filipi adalah gereja yang bagus/ baik. Ini terlihat dari banyaknya pujian yang Paulus berikan kepada mereka (Filipi 1:5 4:10, 14-18). Tetapi, bagaimanapun juga, ini bukan gereja yang sempurna. Dalam gereja Filipi ada orang-orang yang bertujuan mengarahkan perhatian orang pada diri mereka sendiri, dan tujuan Yesus adalah mengarahkan pandangan manusia kepada Allah. Jadi, pengikut Kristus harus selalu berpikir bukan mengenai dirinya, melainkan orang lain, bukan demi kemuliaannya sendiri, melainkan kemuliaan Allah. Dari sini maka kita akan dapat memahami bagian dari ayat 1-4 seperti yang dikatakan oleh Paulus.
Bahwa tujuan utama hidup kekristenan adalah menjadi seperti Kristus. Demikianlah Rasul Yohanes berkata "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup" (1 Yohanes 2:6). Setiap orang Kristen harus meneladani Kristus dalam hidupnya dan mengikuti jejak hidup-Nya sehingga kita menjadi serupa dengan Dia. 
Banyak orang Kristen bertanya, "Mana mungkin sama seperti Kristus?" Memang, dalam keilahian-Nya tentu kita tidak akan pernah bisa dan tidak akan mungkin dapat menjadi seperti Kristus. Tetapi dalam aspek kemanusiaan-Nya tentu kita bisa seperti Dia, karena ada Roh Kudus di dalam kita; Roh itulah yang akan memampukan kita untuk hidup sama seperti Kristus. Hidup sesuai dengan kehendak Kristus.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Yesus Kristus adalah pribadi yang rendah hati.  Dia datang ke dunia bukan untuk dilayani, tetapi untuk melayani. Ketika Saudara membaca keempat Injil, pernahkan Saudara memperhatikan bahwa Yesuslah yang melayani orang lain, bukan orang lain yang melayani Yesus? Ia selalu siap sedia menolong siapa saja, kaum nelayan, pelacur, pemungut cukai, orang-orang sakit, orang-orang yang menderita dan lain sebagainya. Semuanya dilakukan-Nya dengan penuh kasih. Kita pun seharusnya demikian, kita dapat mulai menanamkan rasa peduli kita terhadap orang lain. Orang yang rendah hati adalah orang yang tidak semata-mata memikirkan dirinya sendiri atau mencari pujian bagi diri sendiri, tetapi "...menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri;" (Filipi 2:3b). Orang yang rendah hati adalah orang yang rela melayani karena menyadari bahwa dirinya adalah hamba. Orang yang memiliki kerendahan hati dan hidup bagi orang lain, dari dirinya dituntut pengorbanan dan pelayanan, tetapi pada akhirnya hal itu mendatangkan kemuliaan. Inilah pernyataan Paulus, "Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah." (1 Korintus 4:1).
Jadi sukacita dari kerendahan hati bukan hanya diperoleh dengan menolong orang lain dan ikut serta dalam persekutuan dalam penderitaan Kristus (Filipi 3:10), tetapi terutama dari pengetahuan bahwa kita sedang memuliakan Allah.
Banyak orang Kristen tidak menyadari akan hal ini. Karena kaya, kita menjadi tinggi hati dan menganggap rendah orang lain yang di bawah kita; ketika pelayanannya sudah berhasil dan menjadi hamba Tuhan 'besar', tidak sedikit yang menjadi lupa diri.  Sikap kita pun mulai berubah, pilih-pilih ladang pelayanan, mau melayani asal fasilitasnya memadai dan lain-lain. Siapa kita ini? Kristus saja rela membasuh kaki murid-murid-Nya (baca Yohanes 13:1-20) dengan tujuan supaya kita meneladani Dia. Karena itu biarlah ketaatan yang telah diteladankan Kristus bagi kita, mendorong kita untuk mau mengikuti teladannya dalam hal taat kepada Allah, melakukan setiap firman-Nya dan hidup menyenangkan hati Allah. Kitanya Tuhan memberkati kita sekalian. Amin.

Senin, 02 Mei 2016

MENGERJAKAN KESELAMATAN KITA

MENGERJAKAN KESELAMATAN KITA
Filipi 2:12-18


Kaum muda yang Tuhan Yesus kasihi
Ketika Allah mengaruniakan keselamatan kepada kita, keselamatan itu belumlah utuh. Mungkin secara prinsip kita memang telah mendapatkan hak keselamatan itu. Secara hukum pun demikian. Namun dalam pelaksanaannya, keselamatan yang telah kita terima memerlukan pembuktian dari diri kita untuk tetap menjaganya sampai akhir.
Sebagai orang percaya yang telah diselamatkan oleh kasih karunia, kita harus mengerjakan keselamatan kita sampai pada akhir, jikalau kita lalai melakukan hal ini, kita akan kehilangan kasih karunia yang telah diberikan kepada kita.
Seperti halnya seseorang yang menerima sebuah mutiara dari seorang Raja. Ketika itu raja berkata: “hai hambaku, aku akan melakukan perjalanan jauh, jagalah mutiara ini sampai aku kembali, barulah setelah itu kamu berhak atas mutiara itu.”
Secara hukum, hamba itu memiliki hak atas mutiara yang diberikan seorang Raja, akan tetapi secara praktis, hak itu akan berlaku jika telah tiba waktunya, ketika Raja itu kembali.
Sebenarnya demikian pula dengan kehidupan kekristenan kita. Kita memang diberikan hak untuk memperoleh keselamatan Allah, namun Allah menuntut kita untuk mengerjakan keselamatan itu sampai sempurna.
Sebagaimana tema kita hari ini, saya mengajak kita untuk melihat 3 rahasia penting bagaimana kita mengerjakan keselamatan yang telah Tuhan beri bagi kita masing-masing:

1. MENJAGA KEKUDUSAN HIDUP (2:12; 14-15).
 “Tetaplah kerjakan keselamatanmu” (ayat 12). Kata kerja ini adalah istilah matematika yang digunakan untuk masalah yang dibawa kepada kesimpulan. Kata ini tidak berarti “tetaplah bekerja untuk memperoleh keselamatan.” Jadi kata ini mengandung pengertian mengerjakan sampai semuanya selesai. Sasaran yang diinginkan Allah bagi kita jelas, yaitu menjadi serupa dengan Kristus (Roma 8:29).
Ungkapan ini awalnya memang ditujukan kepada persoalan khusus yang ada di Gereja Filipi, dimana mereka memiliki ketaatan yang kuat terhadap hukum Allah.  Itulah yang menjadi sukacita Paulus atas mereka. Dan untuk itu pula Paulus terus mendorong jemaat Filipi untuk tetap berpegang pada pengharapan yang telah mereka terima.
Kasih karunia Allahlah yang memulai dan tanggapan iman yang diperlukan dari manusia yang bertobat jelas terlihat dalam Efesus 2:8-9. Karena itu orang percaya tidak bekerja untuk memperoleh keselamatan mereka, tetapi setelah mereka diselamatkan, mereka bekerjasama dengan Roh kudus untuk hidup dalam kedewasaan yang serupa dengan Kristus (Efesus 2:10, 14-17). Keselamatan semua berasal dari Allah dan sepenuhnya gratis diberikan, tetapi aspek keselamatan membutuhkan tanggapan iman yang aktif, dalam sebuah pertobatan yang bekelanjutan (Band. Matius 13:44-46).
Karena itu, Paulus sadar akan bahaya yang akan dihadapi oleh jemaat Filipi. Dimana mereka ada indikasi untuk taat hanya karena kewajiban lahiriah. Untuk itu Paulus memastikan bahwa ketaatan mereka bukanlah ketaatan yang sifatnya lahiriah, yaitu ketika para rohaniwan ada di dekat mereka. Akan tetapi Paulus menghendaki ketaatan itu muncul oleh karena kesadaran penuh mereka terhadap Allah yang hidup.
Kaitannya dengan kehidupan kita adalah, kita pun harus tetap menjalankan tugas pangilan kita untuk tetap mengerjakan keselamatan itu. Intinya dengan jalan menjaga kekudusan hidup di hadapan Tuhan. Ayat 14-15 kita lihat, Paulus berusaha membandingkan perbedaan antara kehidupan orang percaya dengan kehidupan orang-orang di dunia. Orang yang belum diselamatkan, senantiasa hidup dengan mengeluh dan selalu menyalahkan satu dengan yang lain. Akan tetapi sebagai orang Kristen, seharusnya tidaklah demikian, dalam menjalani iman kita, kita tetap menjaga kekudusan hidup, termasuk terhadap dosa bersungut-sungut terhadap Allah.
Bukan berarti kita harus menipu diri, dari kesulitan hidup yang kita alami. Akan tetapi Firman Tuhan mengajarkan kepada kita untuk tidak kuatir akan hidup ini, akan apa yang akan kita minum, akan apa yang kita pakai. Akan hidup kita.
Paulus tidak mengajarkan kepada kita agar kita menarik diri dari dunia ini dan pergi kesuatu tempat pengasingan yang rohani. Kita tetap dapat hidup sebagaimana biasa kita hidup. Tetapi dalam menjalani kehidupan itu, kita tetap memiliki perhatian penuh kepada apa yang Firman Allah katakana dalam diri kita.
Inilah jalan pertama untuk kita dapat mengerjakan keselamatan kita, yaitu kita berusaha tampil beda ditengah-tengah kehidupan orang yang belum percaya. Ada banyak persoalan dalam kehidupan ini, tetapi Allah akan menolong kita untuk “menyelesaikannya”. Kehidupan kita mempunyai potesi yang luar biasa, seperti sebuah pertambangan atau sebuah lading, dan Ia ingin menolong kita untuk memanfaatkan potensi itu.
Demikianlah seharusnya pernyataan kita di hadapan Tuhan, ketika orang-orang dunia, sibuk dengan urusan perut, banyak trik yang dipakai untuk memperoleh segala hal, tetapi anak-anak Tuhan tetap hidup sejalan dengan kehendak Tuhan. Menjaga kesucian hidup di hadapan Tuhan. Yang terpenting mengerjakannya dengan perasaan takut dan gentar. Ini merupakan sebuah ungkapan PL untuk rasa hormat dan kagum terhadap Allah (Band. Mazmur 2:11; 119:120). Dan ungkapan ini pun digunakan Paulus beberapa kali dalam tulisannya (mis. 1 Korintus 2:3; II Korintus 7:15; Efesus 6:5). Karena itu orang percaya perlu mengingat akan kekudusan Allah ini dalam sikap takut dan gentar terhadap Allah.

2. SADAR AKAN KARYA TUHAN DALAM DIRI KITA (2:13).
Prinsip kedua yang pakai Allah dalam kehidupan orang percaya adalah, Karya Allah yang dirancang demi kebaikan kita. “Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya.”
Artinya adalah Allah tidak pernah memaksakan karyaNya bekerja dalam diri manusia, akan tetapi selalu bergantung dari kesetiaan dan kerjasama kita. Sehingga yang ditekankan Paulus adalah Allah harus bekerja di dalam kita lebih dahulu sebelum Ia dapat bekerja melalui kita. Dari sini kita melihat bahwa Allah terus-menerus bekerja mulai dari menyelamatkan orang, sampai kepada memimpin orang yang telah diselamatkan itu agar sesuai dengan kehendakNya.
Namun jika kita melihat kehidupan disekitar kita, banyak sekali orang Kristen yang taat kepada Allah hanya karena tekanan dari luar, bukan karena kuasa yang ada di dalam dirinya. Karena itu Paulus memperingatkan orang-orang Filipi bahwa bukan kehadirannya di tengah-tengah mereka yang penting, melainkan keinginan mereka untuk taat kepada Allah dan berkenan kepadaNya (1:27; 2:2).
Saudaraku, kita harus sadar bahwa kuasa yang bekerja dalam diri kita untuk taat kepada Allah adalah kuasa dari Roh Kudus. Karena Allahlah yang mengerjakan semua itu di dalam kita. Dan Roh Kudus yang sama pula yang memberi kuasa kepada Kristus ketika Ia melayani di dunia ini juga memberikan kuasa kepada kita sekarang.
Rekan-rekan pemuda
Paulus memberikan 3 contoh bagaimana kita dapat mengerjakan keselamatan kita dengan kuasa Allah: Firman Allah, doa dan penderitaan.
Kuasa Ilahi dicurahkan dalam kehidupan kita melalui firmanNya yang diilhamkan. Tetapi kita memiliki tanggung jawab untuk menghargai dan menerima firman itu. Hal ini berarti lebih daripada hanya sekedar mendengarkan atau bahkan membaca dan mempelajarinya. Akan tetapi kita harus menerapkan firman itu, agar kuasa Allah dapat dicurahkan dan bekerja dalam kehidupan kita.
Hal yang kedua sebagai alat untuk dapat mengerjakan keselamatan kita adalah doa. Kunci untuk kita dapat menerima kuasa Allah yang bekerja di dalam kita, selain mempelajari Firman Allah adalah kita harus berdoa. Sebab doa adalah alat kedua yang dipakai Allah untuk bekerja dalam kehidupan anak-anakNya.
Efesus 3:20 mengatakan: “Bagi Dialah yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita.”
Artinya Paulus sadar bahwa Allah bertindak terkadang jauh melebihi dari apa yang kita minta dalam doa. Di dalam doa-doa kita inilah, Allah menyatakan kehendakNya atas kita. Dan apa yang Paulus tegaskan ini merupakan suatu kebenaran bahwa kehidupan perkembangan sejarah gereja pun membuktikan, bahwa peranan doa dalam kehidupan mereka sangat berarti dirasakan bagi mereka.
Hal yang ketiga yang dipakai Allah untuk mengerjakan keselamatan kita adalah penderitaan. Banyak orang salah dalam menilai penderitaan. Bagi orang yang tidak mengenal Tuhan, penderitaan bagaikan sebuah kutuk, yang diberikan Allah untuk menghancurkan. Sehingga banyak orang takut menghadapi penderitaan. Tetapi bagi orang percaya penderitaan justru dilihatnya sebagai bagian dalam melatih iman kita kepada Allah. Sebab itu firman Tuhan berkata dalam 2 Timotius 3:12, 14: “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya…Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini.”
Karena itu justru di dalam penderitaan Roh Kudus bekerja dengan cara yang khusus di dalam kehidupan kita. Sehingga semua yang kita alami pada akhirnya akan membawa satu kemuliaan bagi Kristus.
Lagi pula saudara, firman Tuhan dalam Roma 8:28 mengingatkan kepada kita bahwa: “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggl sesuai dengan rencana Allah.”
Kita melihat saudara, bagaimana Paulus sendiri telah mengalami kuasa Allah di dalam penjara Filipi ketika ia dipukuli dan dipasung di dalam penjara bawah tanah, ia dapat bernyanyi dan memuji Allah dalam penderitaannya. Dan pada akhirnya Tuhan melepaskannya dengan caraNya yang ajaib (Kisah Para Rasul 16:19-33).
Sama halnya dengan kejadian 23 misionaris dari Korea yang diculik oleh kaum Taliban dari Afganistan. Mungkin saat itu mereka mengalami penganiayaan yang tidak pernah mereka pikirkan, mungkin keluarga mereka juga tidak pernah memimpikan kejadian ini. Tetapi itulah harga yang harus dibayar bagi setiap anak-anak Tuhan. Akan tetapi penderitaan yang mereka alami adalah penderitaan yang mulia. Mereka mengalami penderitaan oleh karena Kristus. Sehingga sekalipun dalam kondisi yang demikian, penderitaan mereka tidak pernah melunturkan iman yang Tuhan anugerahkan atas mereka. Sekalipun harus ditanggung dengan kematian mereka.
Filipi 1:29 berkata: “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.”
Firman Allah, doa dan penderitaan adalah 3 alat yang dipakai Allah dalam kehidupan kita, sebagai kuasa yang hidup di dalam diri kita. Untuk itu, ketika kita semakin mencintai Allah, kita akan membuktikannya dengan menyenangi FirmanNya, ketika kita merindukan hadiratNya kita akan membuktikan beapa kuatnya doa kita. Dan ketika kita mengatakan untuk tetap setia, kita membuktikannya dengan ikut menderita dengan Dia. Disinilah kita dinyatakan menjadi serupa dengan Kristus.

3. BERPEGANG TEGUH KEPADA ALLAH (2:16)
Kaum muda yang saya kasihi
Dikatakan dalam ayat 16 “Sambil berpegang teguh pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus, bahwa aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah payah.”
Berpegang teguh berkaitan dengan orang percaya yang terus-menerus kepada Allah. Paulus berharap agar jemaat di Filipi dapat menunjukkan kesalehannya sampai akhir, itulah yang membuatnya dapat bermegah. Tetapi kemegahan Paulus, bukan didasari oleh kemampuannya dalam membawa jemaat Filipi untuk bertumbuh, sebab itu adalah kemegahan Tuhan. Tetapi kemegahan Paulus adalah bahwa yang dilakukannya di dalam Tuhan tidaklah menjadi sia-sia. Karena itu dikatakan: “aku tidak percuma berlomba dan tidak percuma bersusah payah.” 
Kaum muda yang saya kasihi,
Keteguhan iman kita kepada Allah senantiasa dibarengi dengan pahalaNya. Allah memberikan pahala kepada mereka yang telah setia kepadaNya. Dan sukacita Tuhan adalah janji yang akan menjadi bagian dari pahala itu. Untuk itu orang Kristen yang setia akan mendapati bahwa penderitaannya di dunia ini telah diubah menjadi kemuliaan di surga. Ia akan melihat bahwa pekerjaannya tidak sia-sia.
Sukacita ini adalah suatu kenyataan yang sudah ada pada saat ini. Dan sukacita yang kita alami ini dapat kita rasakan melalui pengorbanan dan pelayanan kita. Namun perlu kita sadari untuk mendapatkan rahasia besar ini, kita dituntut memiliki iman yang teguh. Iman yang menuntut kepercayaan bahwa janji-janji Allah itu benar dan akan digenapi dalam kehidupan kita sebagaimana janji-janji itu telah digenapi dalam kehidupan Paulus.
Saudara
Kehidupan kekristenan bukanlah satu hubungan yang bersifat kabur. Bukan pula hubunga yang tidak jelas. Seperti nyanyian yang berjudul “Teman Tapi Mesra”, sebenarnya kekristenan bukanlah demikian.
Kekristenan adalah hubungan yang bersifat pasti dan dalam antara Kristus dengan jemaatNya. Hubungan yang dijalin berdasarkan kesetiaan jemaat terhadap Tuhannya. Dan jemaat di Filipi membuktikannya dalam kehidupan mereka. 
Sekarang bagaimana dengan kita, bagaimana hubungan kita dengan Allah? Jikalau kita ingin agar kita memiliki hubungan yang tetap terjalin indah dengan Tuhan, rahasianya adalah tetap kerjakan keselamatan kita. Sebab di dalam semua yang telah Allah berikan kepada kita, Allah memberikan jaminan pengharapan yang tidak ternilai harganya. Pengharapan yang nantinya akan segera di genapi, yaitu ketika kita bertemu dengan Tuhan, muka dengan muka, di dalam KerajaanNya yang kekal. Amin.

Sabtu, 14 Maret 2015

SALIB: PENGORBANAN TANPA PAMRIH

SALIB: PENGORBANAN TANPA PAMRIH
Yohanes 15:13; Filipi 2:6-8


Anak-anak yang dikasihi Tuhan
Berbicara tentang pengorbanan, siapa diantara kita yang pernah mengalaminya? Mungkin korban waktu, korban uang, korban tenaga? Tetapi pertanyaannya, seberapa banyak yang mau berkorban untuk orang lain? Terlebih lagi bagi mereka yang tidak ada hubungannya dengan kita.
Saudara, fakta membuktikan hanya sedikit saja orang yang mau berkorban untuk orang lain. Kalaupun ada, itupun ia lakukan karena ada factor lain yang mempengaruhinya.
Karenanya tidak heran saudara, kalau dalam kehidupan nyata sangat banyak kita temui dimana orangtua yang setengah hati dalam berkorban bagi anak-anaknya. Dan yang sangat menyedihkan, keadaan ini justru banyak kita temui disekitar kita, ada orang tua yang melepas tanggung-jawabnya dengan menyuruh anaknya menjadi peminta-minta di perempatan lampu merah sementara sang ayah duduk manis di warung kopi.
Atau ada suami yang membiarkan isteri mengurusi kebutuhan anaknya sendiri dengan alasan pergi merantau ditempat yang jauh.
Dari sini kita melihat saudara, bahwa hakekat pengorbanan yang sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari peranan kasih yang menyertainya. Kasihlah yang memungkinkan pengorbanan seseorang menjadi nyata dan seutuhnya.
Jika pengorbanan yang dilandasi tanpa kasih maka itu adalah sebuah keterpaksaan. Jika kasih tanpa dilandasi dengan sebuah pengorbanan maka itu namanya hanya “omong kosong”.
Di dalam kekristenan, berbicara tentang kasih dan pengorbanan, ini merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain.
Jika kasih harus diungkapkan melalui pengorbanan, maka kita harus merelakan banyak kesenangan diri agar orang lain bisa berbahagia. Pernyataan ini terdengar memang sangat ironis saudara. Namun itulah hakikat sesungguhnya tentang mengasihi dengan tulus. Kita tidak bisa lagi bersenang-senang seorang diri dan membiarkan orang yang kita sayangi mengalami kesusahan. Ketika kasih itu menyelimuti hati kita, maka secara spontan kita hanya ingin melihatnya orang yang kita kasihi dapat tersenyum, entah itu sendirian ataupun saat bersama dengan kita.
Dalam hal ini, berkorban bukan hanya menyangkut soal perasaan tetapi juga menunjuk kepada sebuah keputusan dan komitmen dalam diri untuk berbagi kehidupan dengan orang lain. Adakalanya kita tidak ingin berkorban, namun mau tidak mau kita harus berkorban, disanalah arti pengorbanan yang sesungguhnya. Jadi, berkorban bukanlah sikap pasif, tetapi sebuah tindakan aktif yang didasarkan pada kasih.
Demikianlah yang diungkapkan Tuhan Yesus kepada murid-muridNya ketika Ia menjelaskan makna kasih yang sejati.
Di dalam Yohanes 15:13 Tuhan Yesus berkata: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”
Saudara,
Dari sini kita melihat bahwa Tuhan Yesus tidak sedang berbasa-basi. Ia tidak hanya sedang mengajar dan Ia sendiri tidak melakukannya. Tidak saudara! Sebaliknya Ia sedang menanamkan satu prinsip penting bagaimana kasih dan pengorbanan itu harus dijalankan bersama-sama. Dan itu dimulai di dalam pribadi Tuhan Yesus sendiri. Tuhan Yesus adalah figure yang rela berkorban demi orang banyak karena kasihNya. Pernyataan ini digenapi sendiri oleh Tuhan Yesus beberapa jam setelah Dia menyatakannya.
Saudara, kejadian ini dimulai di ruang atas saat Tuhan Yesus meneguhkan murid-muridNya dan mengadakan perjamuan yang terakhir dengan mereka. Peristiwa ini kemudian berlanjut dengan pergumulanNya di taman Getsemani. Dan pada babak selanjutnya, kita melihat serangkaian pengadilan yang illegal/ tidak sah, hingga penyaliban-Nya di hadapan orang banyak yang mengejek-Nya.
Saudara,
Sebagai Anak Allah, Tuhan Yesus dapat saja menghindari segala penderitaan, penyiksaan, dan kekejaman yang seperti itu. Dia sama sekali tidak berdosa dan tidak layak untuk mati. Namun mengapa Ia rela melakukannya bagi kita? Hal itu semata-mata dilakukan karena kasihNya yang besar pada Bapa dan kepada orang-orang yang ada dalam anugerah Bapa, sehingga mendorong Tuhan Yesus untuk menyatakan pengorbanan yang sejati hingga Ia naik ke atas kayu salib.
Anak-anak yang kekasih,
Di dalam Injil dicatat bahwa Tuhan Yesus bukan sekedar bergerak menuju kematian yang tidak terhindarkan, tetapi melaksanakannya dengan sikap yang sukarela. Di dalamnya tidak ada kesan ada takdir buta, tetapi Tuhan Yesus jelas yang memegang kendali atas nasibNya sendiri, yang sejalan dengan kehendak BapaNya. Dalam hal inilah Yohanes 10:18 mencatat: “Tidak seorang pun mengambilnya dari padaKu (yaitu nyawa Yesus), melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Itulah tugas yang Kuterima dari BapaKu”
Dan sebagai hasilnya saudara, kita dapat diampuni jika mau menerima pengorbanan dan kebangkitan-Nya dengan iman.
Anak-anakku yang kekasih dalam Tuhan.
Alkitab mencatat bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan di atas segala tuhan. Tetapi ketika manusia jatuh ke dalam dosa, upah dosa adalah maut. Pada saat yang sama, Tuhan Yesus juga tidak tega melihat manusia binasa dan mati karena dosa-dosanya.
Yesus yang adalah Tuhan lebih memilih untuk datang ke dalam dunia ini, untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang telah terputus akibat dosa.
Pengorbanan-Nya yang dibangun atas dasar kasihNya yang besar itu, yang dalam bahasa Yunani diungkapkan sebagai kasih "Agape" yaitu kasih kasih yang tulus, tanpa pamrih, tanpa syarat, tidak ada motivasi yang terselubung, tidak ada udang di balik batu. KasihNya murni untuk menjangkau manusia yang sedang menuju kebinasaan, supaya melalui pengorbananNya mereka mendapatkan anugerah keselamatan dari Allah. Inilah bukti ketulusan dari pengorbanan Tuhan Yesus saudara.
Karena itu saudara, dalam Filipi 2:6-8 diungkapkan kepada kita: “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Dari sini kita melihat bahwa Anak Allah yang Maha Tinggi itu, kini hanya terfokus pada nasib manusia yang sedang binasa. Karena manusia telah berdosa. Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Maka tidak ada jalan lain bagi manusia untuk selamat dari murka Allah selain Allah sendiri yang mencari pengganti korban untuk menyelesaikan masalah manusia.
Namun, karena tidak ada jalan lain, tidak ada seorangpun yang layak untuk menjadi korban. Maka Allah mengutus Putra TunggalNya untuk turun ke dalam dunia, menjadi sama dengan manusia, hanya saja Ia tidak berdosa. Tuhan Yesus menjalani rencana Bapa dengan jalan harus mati di kayu salib. Kasih yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus ini adalah kasih yang tidak egois, tetapi kasih yang disertai dengan pengorbanan. Pengorbanan untuk menerima hukuman salib yang diterimaNya di bukit Golgota.
Anak-anakku yang kekasih,
Apa artinya salib bagi kita? Jika Kekristenan adalah Kristus, maka salib-Nya adalah kunci untuk mengerti tentang Dia. Salib menyatakan telah rusaknya akhlak manusia hingga manusia tidak dapat menyelamatkan diri sendiri. Salib merupakan lambang penghukuman. Salib juga menyatakan kasih Allah yang sangat besar kepada manusia.
Jika dilihat dari Pihak Allah maka:
- Salib adalah Jalan pembenaran. Maksudnya adalah Allah menggantikan kita dengan memberikan Yesus untuk menanggung hukuman akibat dosa (2 Korintus 5:21). Alkitab mencatat bahwa Yesus: dihina, dicemooh, dinista, direndahkan, dihujat, dijadikan terkutuk, dibuat jadi dosa kita harus melihat diri kita disitu.
- Salib adalah tanda pengampunan dan Penebusan. Kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib, menandakan penebusanNya telah sempurna hingga Allah berkenan untuk kembali mengampuni kita (Efesus 1:7; Kolose 1:14).
-  Salib adalah tanda pembenaran kita. Kita patut mengerti bahwa Allah membenarkan kita bukan karena kesalehan kita, Allah membenarkan kita bukan karena kecakapan kita, tetapi pembenaran itu dilakukan Allah karena penebusan yang dilakukan Tuhan Yesus bagi kita (Roma 3:24). Sehingga tidak ada andil sedikit dari usaha manusia untuk mengusahakan keselama-tannya.
-  Salib adalah bentuk kesetiaan. Kita melihat, Tuhan Yesus sendiri setia pada kehendak BapaNya sampai mati. Dia dikirim oleh Allah Bapa untuk menebus kita semua, Dia mengalami penderitaan yang luar biasa, dan sampai disalib sebagai korban bagi kita semua sampai titik darah penghabisan. Dia menyerahkan nyawa-Nya karena dia setia kepada Bapa.
Dengan kata lain, salib merupakan jalan satu-satunya bagi kita untuk menerima anugerah keselamatan dari Allah. Dan itu hanya dimungkinkan karena pengorbanan Tuhan Yesus yang tanpa pamrih bagi kita.
Yang berikutnya saudara arti salib jika dilihat dari pihak manusia maka:
-  Salib adalah persekutuan dengan Kristus dalam penderitaan dan kematiaanNya (Filipi 3:10-11). Ini merupakan tujuan hidup daripada Rasul Paulus, yaitu supaya ia dapat menjadi serupa dengan Kristus.
Saya rasa tujuan yang sama pula yang seharusnya kita miliki ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus Kristus, yaitu bahwa kita ingin menjadi serupa dengan Dia.
Jika demikian, apa yang harus kita lakukan saat kita melihat pengorbanan Tuhan Yesus yang tanpa pamrih itu? Apa yang harus kita kerjakan dalam mengisi waktu yang telah Tuhan berikan bagi kita?
Dalam hal ini ada dua sikap yang mesti kita lakukan sebagaimana yang dikehendaki oleh Tuhan Yesus, yaitu:

1.   Kita harus berani menyangkal diri bagi Kristus:
Anak-anakku,
Menyangkal diri dimulai dari kesadaran bahwa “hidupku bukannya aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Galatia 2:20). Dari sinilah kita harus aktif mengendalikan keinginan “si aku” kita. Kita mesti belajar memadamkan segala ambisi pribadi, iri hati kita, perasaan dengki terhadap orang lain, serta hal-hal yang negative yang seharusnya tidak lagi kita lakukan dalam hidup. Dengan kata lain, kita harus mematikan segala bentuk keduniawian kita, mematikan segala keinginan daging, mematikan cara hidup yang sia-sia (Kolose 3:5-10, Galatia 5:19-21).
Sebaliknya kita menggunakan sifat-sifat baru, sifat-sifat yang mencerminkan kehidupan yang dikehendaki Allah. Jadi intinya adalah kita diminta untuk bersikap seperti Yesus, yaitu: Hidup tidak lagi hanya sekedar yang penting aku senang, tetapi juga belajar memberi tempat dalam hati kita untuk sesama. Dengan demikian, kita akan mempunyai kepedulian untuk menolong sesama.
Saudaraku, Agustinus (seorang tokoh dalam kekristenan) pernah berkata: “kita akan kehilangan jati diri bila kita mengasihi diri sendiri, tetapi kita akan menemukan jati diri sejati bila kita mengasihi orang lain. Dengan kata lain, rahasia kebahagiaan bukanlah dengan memuaskan diri sendiri, melainkan dengan memberikan hati kita, hidup kita, dan diri kita dalam kasih kepada sesama.”
Dari sini, seharusnya kita terdorong untuk melakukan dan berikan pertolongan dengan tulus dan tanpa pamrih kepada sesama kita. Menunjukkan perbuatan yang baik kepada orangtua, saudara, teman, sahabat, dan sebagainya.
Berbuat baik kepada sesama berarti kita telah menunjukkan bahwa kita mengasihi Tuhan Yesus. Bukankah kasih kita kepada Tuhan Yesus baru terlihat buktinya jika kita mampu mengasihi sesama bukan?
Hal inilah yang juga ditegaskan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan Matius 25:40, “Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
Hanya yang terpenting untuk kita mengerti adalah semua perbuatan baik yang kita lakukan tidaklah dengan mengharapkan pamrih dari orang yang kita kasihi.

2.     Kita harus belajar memikul Salib
Anak-anak yang kekasih
Salib memang bukanlah tujuan dari hidup kita. Tetapi Tuhan memberikan salib kepada kita dengan satu maksud supaya dapat kita pikul. Salib adalah menanggung penderitaan bukan karena kesalahan sendiri, tetapi menanggung penderitaan karena nama Tuhan.
Salib adalah jalan kematian, jadi tidak ada jalan balik. Artinya ketika Tuhan memanggil kita dan kita mau mengikut Dia, sejak saat itu kita sedang berada di jalan kematianNya.
Dengan memahami Salib Kristus, maka kita dapat semakin menghargai pengorbanan-nya yang tanpa pamrih itu. Dan kita dapat menjalani segala bentuk kehidupan kita dengan benar dihadapan Tuhan.
Dengan demikian, kekristenan bagi kita bukanlah soal hidup diberkati, bukan pula soal hidup sukses dan bebas dari masalah. Tetapi kekristenan adalah bagaimana kita dengan sukarela masuk dalam penderitaan dan kematian bersama Kristus, agar kehidupan kita semakin indah dimata Tuhan.
Apa yang kita renungkan kali ini, kiranya dapat memberikan satu pemahaman yang lebih baik tentang pengorbanan Tuhan Yesus bagi kita, khususnya saat kita memasuki minggu-minggu sengsara, Tuhan kita Yesus Kristus. Dengan demikian kita tidak memandang enteng pengorbanan Tuhan Yesus bagi kita, tetapi justru semakin mendorong kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan kepada Tuhan dan sesama kita dengan tanpa pamrih.
Untuk menutup khotbah ini saya ingin menampilkan klip berikut kiranya dapat memberikan kita inspirasi. Amin