Tampilkan postingan dengan label 1 Samuel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 1 Samuel. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Juni 2015

KEGAGALAN YANG MERUSAK KREDIBILITAS

KEGAGALAN YANG MERUSAK KREDIBILITAS
1 Samuel 2:11-36

 
 
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Kehadiran seorang anak dalam rumah tangga kita adalah sebuah karunia Tuhan yang membahagiakan. Saat kita lelah seharian bekerja, kelucuan dan keluguan dari anak kita yang masih kecil seakan-akan melenyapkan rasa capek dan lelah itu. Saudara, itu adalah bagian dari hal-hal yang menyenangkan dari memiliki anak.
Tetapi kalau kita lebih jauh lagi menatap ke masa depan anak tersebut, kita bisa bayangkan pastinya akan lebih banyak lagi kengerian yang muncul dari anak-anak kita jika kita salah dalam mendidik.
Saya sendiri saudara, saat menatap wajah anak-anak saya yang masih kecil itu, terkadang terlintas dalam pikiran saya, kira-kira jika anak-anak saya sudah menjadi besar, bakal jadi seperti apa anak-anak saya? Saudara saya tidak sedang berbicara tentang cita-cita mereka. Sebagai orang tua, kita juga tidak bisa menjamin, anak-anak kita bakal menjadi seperti apa. Tetapi paling tidak saudara, kita harus memulai mengajarkan sesuatu yang bermanfaat, sesuatu yang “yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Roma 12:2).
Karena itu saudara, yang ingin saya katakan adalah apa yang kita tabur hari ini terhadap pendidikan anak-anak kita saudara, pastinya akan membawa dampak pada kehidupan mereka di masa depan. Karena itu jika kita mendapati sebuah kegagalan dalam pembentukan anak-anak, pastinya tidak dapat lepas dari apa yang ditaburnya terdahulu.
Nyatanya saudara, kegagalan dalam mendidik anak-anak, bukan hanya menjadikan mereka  seorang pemberontak terhadap orangtua, terlebih lagi mereka bakal menjadi seorang yang tidak takut akan Tuhan.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Saya percaya tidak ada diantara kita yang menghendaki anak-anak kita menjadi seorang pemberontak apalagi seorang yang tidak takut Tuhan. Sebab jika anak-anak itu besar menjadi seorang yang suka memberontak, sebenarnya kita sedang mencetak anak yang kelak akan membuat malu nama baik kita sendiri, dan terlebih lagi mempermalukan nama Tuhan. Karena itu perlu ada disiplin yang baik dalam setiap keluarga.
Saudara, mendidik berhubungan dengan disiplin. Mendidik berarti ”mengajar atau mengatakan, menunjukkan atau memperlihatkan, menuntun seseorang melalui suatu proses dimana di dalamnya orang itu dilatih.”
Firman Tuhan dalam Amsal 13:24 berkata, "Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya"
Mengapa perlu adanya disiplin? Sebab disiplin membuktikan kasih kita terhadap anak-anak kita. Anak-anak yang memahami karakter dan sifat ayah mereka, tidak akan membenci disiplin yang ditegakkan oleh ayah mereka. Justru Ayah yang memilih untuk tidak menegakkan disiplin, dan membiarkan anaknya membuat pilihannya sendiri, hanya menunjukkan ketidakpedulianya terhadap kesejahteraan dan masa depan anaknya. Jadi saudara, tidak mendisiplin anak-anak berarti Anda membenci mereka. Sebaliknya jika Anda mencintai mereka, Anda akan segera mendisiplin mereka.
Pertanyaannya, berapa lama kita harus menggunakan tongkat untuk mendisiplin anak-anak? Jawabannya adalah selama mungkin mereka memerlukannya. Karena itu saudara, dibutuhkan hikmat Tuhan dalam mendisplin anak. Dibutuhkan kepekaan untuk mengerti apa yang Tuhan mau kita kerjakan bagi anak-anak kita.
Saudara, pernahkah kita bertanya, mengapa Tuhan ingin agar kita sebagai orang tua mempersiapkan anak-anak kita secara mental dan spiritual? Karena sejatinya Tuhan menghendaki kita untuk mengasihi mereka sungguh-sungguh. Anak adalah anugerah Tuhan dalam kehidupan keluarga. Karenanya Tuhan mengharapkan anak-anak dapat berkembang sebagai orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, meski pun mereka berada di dunia yang jahat.
Saudara,
Charles Williams, seorang pakar di bidang anak, mengatakan bahwa, "Anak kecil yang berusia 2 tahun adalah majikan Anda, pada usia 10 tahun adalah budak Anda, pada usia 15 tahun adalah kembaran Anda, dan setelah itu kawan Anda atau musuh Anda, tergantung bagaimana Anda membesarkannya." Oleh karena itu, jangan segan-segan untuk menggunakan rotan/ tongkat jika memang diperlukan, yang terpenting adalah mintalah hikmat kepada Tuhan kapan kita harus menggunakannya.
Kenyataannya saudara, jika orang tua tidak pernah menegakkan disiplin dan mengharapkan anak-anak kita mereka-reka menurut kemampuan mereka sendiri, itu sama saja dengan akan menghancurkan jiwa mereka.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Perhatikan apa yang terjadi pada kehidupan keluarga imam Eli. Dijelaskan dalam nats kita bahwa Imam Eli adalah pemimpin rohani bangsa Israel. Ia adalah seorang yang berasal dari keturunan Itamar, adik Eleazar, anak-anak Harun. Ia adalah seorang imam besar, sebuah jabatan yang ia dapatkan secara otomatis, karena diberikan secara turun temurun.
Saudara, sebagai Imam besar Israel pastinya kata-kata yang diucapkannya akan didengar dan hidupnya diperhatikan banyak orang. Ia dapat dianggap sebagai representasi umat Israel di hadapan Tuhan dan memanjatkan doa serta mempersembahkan korban bakaran bagi orang Israel. Nah, dengan posisi dan jabatan yang demikian, maka dapat dipastikan bahwa ia bersama anggota keluarganya adalah orang-orang yang terhormat dan bisa menjadi teladan bagi umat.
Namun masalahnya adalah, ada suatu hal yang sangat mengejutkan kita, ternyata kedua anak dari Imam Eli ini, yakni Hofni dan Pinehas justru melakukan hal-hal yang menghina Allah. Inilah kejujuran Allah yang kita lihat dalam Alkitab, saudara. Allah tidak hanya menuliskan hal-hal yang baik sebagai sarana membentuk umatNya. Tetapi kegagalan-kegagalan orang-orang yang hidup di dalam Alkitab pun, tetap dibukakan Allah sebagai bentuk peringatan yang berlaku bagi kehidupan pembaca di masa depan.
Saudara kita melihat, bagaimana kehidupan Imam Eli dalam mendidik anak-anaknya. Umumnya orang menduga, imam Eli pastinya mampu membentuk anak-anaknya untuk dapat bertumbuh dalam iman dengan baik. Terlebih lagi, kedua anak-anaknya turut terpanggil sebagai pelayan Tuhan. Kedua anak-anak iman Eli juga menjadi imam. Tetapi Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa walaupun demikian, kehidupan anak-anak imam Eli tidak mencerminkan kehidupan seorang pelayan Tuhan.
Sebab anak-anak imam Eli tidak memiliki pengalaman persekutuan dengan Allah secara pribadi. Mereka tidak pernah dengan serius memikirkan Allah. Karena itu saudara, jangan pernah menyangka jika anak-anak kita yang rajin datang ke gereja lalu secara otomatis dapat memiliki kerohanian yang baik, Tidak saudara! Selama kerajinannya tidak disertai dengan pertobatan! Mustahil anak itu bertumbuh secara baik dalam kerohaniannya.
Saudara satu contoh bisa kita lihat dalam kehidupan pelayanan Tuhan Yesus. Sepanjang pelayanan Tuhan Yesus, ada begitu banyak orang-orang yang turut hadir untuk mendengarkan pengajaranNya. Tetapi tidak semua mengalami pertumbuhan rohani. Sebab tidak semua mencari pribadi Tuhan. Tidak semua juga mengalami pertobatan. Misalnya kehadiran orang-orang Farisi dalam setiap pelayanan Tuhan Yesus menjadi bukti bahwa intensitas mereka untuk hadir tidak menjamin besarnya kerohanian mereka. Sebab orang-orang Farisi hadir bukan untuk belajar mengenal Tuhan Yesus. Tetapi mereka hadir untuk mencari-cari kesalahan Tuhan Yesus.
Kembali kita pada kehidupan imam Eli, kita melihat imam Eli tidak mampu mempersiapkan kerohanian anak-anaknya untuk hidup sungguh-sungguh di dalam Tuhan. Sehingga dikatakan dalam nats bahwa anak-anak Eli ini hidup sebagai seorang dursila, yang berarti: jahat atau buruk kelakuannya. Mereka tidak mengenal Tuhan dengan baik. Tidak ada ruang untuk Allah dalam pikiran mereka. Mereka memang tinggal di Kemah Suci. Ayah mereka mengenal Tuhan. Namun dua anak ini adalah orang-orang terhilang, orang-orang yang belum diselamatkan, karenanya disamakan dengan “orang-orang dursila yang tidak mengindahkan Tuhan.” Saudara, mereka adalah manusia duniawi yang hanya berpikir tentang apa yang menguntungkan bagi mereka.
Kejahatan mereka nyata terdaftar dalam ayat-ayat berikut:
-        Mereka tidak mengindahkan Tuhan dengan tidak menghormati kurban persembahan bagi Tuhan (ayat 12),
-        Mereka tidak mengindahkan batas-batas hak seorang imam (ay. 13). Sebab mereka tidak hanya meminta bagian yang seharusnya menjadi milik si pemberi persembahan, tetapi dalam beberapa kasus mereka justru mengambil bagian yang seharusnya diberikan kepada Tuhan (ayat 15).
-        Mereka serakah dan curang dalam menjalankan tugasnya. Hal ini terbukti dari sikap mereka yang suka melakukan kekerasan untuk memperoleh kehendak mereka (ayat 16).
-        Dan yang sangat memilukan hati adalah, mereka tidak lagi menghormati kekudusan Tuhan dan kekudusan tempat ibadah (ayat 22). Mereka melakukan suatu dosa perzinahan dengan jalan tidur dengan perempuan yang melayani di depan pintu Kemah Pertemuan.
Ini jelas adalah dosa yang disengaja, karena sebagai imam tidak mungkin mereka tidak mengetahui hukum Tuhan tentang hal itu. Mereka sudah tidak mempunyai rasa malu sedikitpun dalam berbuat dosa. Kondisi yang demikian sangat meresahkan bangsa Israel terlebih kejahatan mereka ternyata sampai juga ke telinga Imam Eli.
Saudara! Tindakan dan perbuatan anak-anak Eli ini sangat memalukan dan merusak kredibilitas orang tua mereka yang selaku imam besar dan mereka sendiri yang sebagai asisten imam. Satu perbuatan yang sangat tidak pantas untuk dilakukan.
Bukankah seharusnya mereka menjadi teladan yang baik bagi umat yang dipimpinnya, tetapi kehidupan mereka justru menjadi batu sandungan bagi umat. Dosa imam Eli ini sangat fatal. Maka pantaslah jika Allah marah terhadap mereka.
Saudara, walaupun imam Eli berkali-kali menasihati mereka agar mereka menghentikan dosa tersebut, namun sayangnya anak-anak Imam Eli tidak menghiraukan nasihatnya. Sungguh kegagalan yang sangat menyedihkan bukan. Apalagi yang membuat suatu keluarga hancur, selain tidak diperkenankan Tuhan melayaniNya.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Sebab imam Eli sendiri tidak memiliki ketegasan dalam mendidik anak-anaknya. Ini terlihat dari sikapnya yang hanya memberi nasihat, tanpa adanya tindakan untuk mendisiplinkan mereka, sehingga tingkah laku mereka yang jahat semakin menjadi-jadi (ayat 29). Imam Eli hanya mempertanyakan tindakan anak-anaknya, "Mengapa kamu melakukan hal-hal yang begitu, sehingga kudengar dari segenap bangsa ini tentang perbuatan-perbuatanmu yang jahat itu? Janganlah begitu, anak-anakku…" (ay. 23-24).
Kita melihat saudara, sebagai orang tua, imam Eli tidak tegas, imam Eli begitu lembek di dalam mendidik anak-anaknya. Jika kita bandingkan teguran-teguran imam Eli yang terdahulu terhadap Hana (1:14), teguran imam Eli terhadap moralitas anak-anaknya saya rasakan terlalu lemah.
Sebab imam Eli bertindak kompromi dengan kejahatan mereka. Ia memandang kejahatan anak-anaknya sebagai sesuatu yang biasa. Karenanya tidak heran jika tidak ada hukuman yang harus diterapkan, tidak ada didikan yang mengajar untuk membuat anak-anaknya menyadari bahwa tindakan mereka adalah suatu dosa dimata Allah.
Lebih parah lagi, imam Eli terkesan cuci tangan terhadap kesalahan anak-anaknya. Perhatikan ayat 25: ”Jika seseorang berdosa terhadap seorang yang lain, maka Allah yang akan mengadili; tetapi jika seorang berdosa terhadap Tuhan, siapakah yang menjadi perantara baginya?”
Aneh bukan saudara! Jelas-jelas ia adalah seorang imam, jelas-jelas ia tahu hukum-hukum Allah. Seharusnya tugas dia adalah menegur dosa, menyatakan kesalahan anak-anaknya. Dan membawa kembali ke jalan Tuhan. Tetapi itu ternyata tidak dilakukan imam Eli terhadap anak-anaknya, karena imam Eli menganggapnya sikap mereka sebagai suatu hal yang sepele.
Bapak/ ibu yang kekasih, bagaimana sikap saudara pada saat melihat/ mendengar anak saudara berdusta, mengeluarkan kata-kata kotor, bersikap kurang ajar, nyontek di sekolah, dsb?
Apakah saudara membiarkannya/ tidak memarahinya? Atau, lebih jelek lagi, apakah saudara lalu tertawa, seolah-olah dosa anak itu merupakan sesuatu yang lucu? Kita bersikap membiarkannya. Dan berpura-pura tidak tahu. Ingatlah saudara, bahwa sikap seperti ini pastinya akan membangkitkan kemarahan Tuhan! Tidak adanya ketegasan dalam mendidik anak, merupakan kesalahan yang dipandang oleh oleh Tuhan.
Saudaraku, ada alasan lain yang juga tidak bisa ditolelir oleh Tuhan dari kehidupan imam Eli, dimana Imam Eli secara sengaja turut dalam dosa anak-anaknya dengan memakan daging persembahan yang berlemak, yang diambil dari kedua anaknya dengan paksa (ay 29c). Ia dianggap berkomplot dengan anak-anaknya dalam dosa mereka. Hal ini nampak dari teguran Tuhan yang mengatakan: ”kamu menggemukan dirimu dengan bagian yan terbaik dari setiap korban sajian umatKu Israel?” (1 Samuel 2:29c).
Disini kita melihat walaupun nampaknya Imam Eli memang menegur mereka, namun ia sendiri tidak menunjukkan keteladan akan hal tersebut. Karenanya tidak heran jika kedua anak-anaknya tidak menghiraukan perkataan ayahnya.
Saudaraku, ada seorang ayah yang sedang menasihati anaknya. Dia mengatakan: ”nak kamu harus ingat, kamu tidak boleh merokok, karena itu tidak baik bagi kamu” Ayah ini menasihati anaknya sambil ia sendiri tidak henti-hentinya menghisap rokok. Pertanyaannya, apakah ia sedang menasihati? Tidak saudara! Sebenarnya ia sedang memberikan satu teladan yang buruk terhadap anaknya.
Dalam 2 Timotius 2:24-25 memang dijelaskan bahwa “Seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan.” Jika kita bandingkan dengan kejadian yang dikisahkan dalam kitab Samuel ini jelas menunjukkan bahwa ada saat dimana seorang hamba Tuhan pun harus marah dan bertindak tegas, terlebih ketika melihat ada dosa!
Demikian pula kita sebagai orang tua, kita pun adalah imam atas anak-anak kita, jika kita sebagai orang tua selalu memanjakan anak-anak dan tidak bisa/ tidak tega mendisiplin anak-anak pada waktu mereka berbuat salah, maka seharusnya kita bercermin dari bagian ini dan melihat kesudahan dari anak-anak iman Eli (2:34 3:13-14 4:11). Kegagalan imam Eli dalam mendidik anak-anaknya dianggap sebagai satu tindakan yang tidak menghormati Tuhan, karena itu Tuhan membatalkan janjiNya terhadap imam Eli.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan
Apabila kita melihat realitas zaman sekarang, anak-anak sekarang pun cukup memprihatinkan, kejadian ini mirip dengan kondisi anak-anak imam Eli. Hal tersebut dapat di lihat dari kondisi mereka saat ini yang cenderung lebih bebas, mereka tidak lagi peduli dengan nilai-nilai moral yang baik. Kelakuan mereka justru cenderung lebih agresif, emosi tidak stabil, dan tidak bisa menahan dorongan nafsu.
Rusaknya moralitas anak-anak muda saat ini, disamping karena factor lingkungan dimana mereka berada dalam masyarakat. Kehidupan mereka juga sebagian lagi dipengaruhi oleh factor pendidikan orang tua yang gagal.
Banyak orang tua menganggap diri bijaksana dengan memberikan “kebebasan” pada anak mereka, yang akhirnya disalahgunakan sehingga penuh kekhawatiran mereka harus menunggu anaknya yang pulang sampai dini hari. Yang akhirnya berujung pada percekcokan dalam keluarga.
Saudara, kita harus mengerti bahwa anak-anak zaman sekarang lebih pintar dan pandai menjawab. Dulu saat orang tua kita menasihati anak-anaknya untuk tidak pulang terlambat, sebagai anak-anak kita pastinya merasa takut dan segera pulang sebelumnya. Tetapi sekarang kondisinya berbeda. Saat kita mengatakan jangan pulang terlambat, yang terjadi adalah anak-anak justru pulang pada jam dini hari.
Karenanya tidak heran saudara, jika anak-anak muda sekarang lebih suka memberontak, karena mereka kehilangan teladan dalam keluarga. mereka lebih suka memilih pergaulan bebas, karena lingkungan mereka menawarkan kebebasan yang mereka butuhkan.
Sex bebas, mengkonsumsi obat-obatan terlarang, minum-minuman keras, perkelahian antar pelajar, pelecehan seksual, pencurian, geng motor dan lain sebagainya. Yang sangat memprihatinkan, kejadian ini bukan hanya menimpa anak-anak yang tidak mengenal Tuhan, tetapi juga sebagian lagi dilakukan oleh anak-anak dari keluarga Kristen.
Melihat kenyataan ini saudara, kita harus menyadari bahwa mendidik anak-anak di masa modern ini pastinya lebih sulit jika dibandingkan pada masa kita kecil. Dulu waktu kita kecil, ketika orang tua kita berkata: “nak dulu bapakmu ini diajar orangtua begini… begini… begini…, papamu harus nurut, papa harus taat makanya papa bisa menjadi seperti ini.” Tetapi saudara, pernyataan ini tidak bisa langsung diterapkan bagi anak-anak zaman sekarang. Mereka lebih kritis, dalam mencerna informasi. Jika informasi yang mereka dengar tidak sejalan dengan apa yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri, yang ada adalah sikap memberontak terhadap orang tua.
Masalahnya adalah kadang kita bersikap tegas tetapi tidak pada tempatnya. Alhasil bukan disiplin yang terbentuk melainkan pemberontakan. Apa artinya bersikap tegas kepada anak? Bersikap tegas adalah tidak menuruti kehendak atau permintaan anak.
Saudara, kita harus ingat, bahwa anak-anak memang selalu meminta sesuatu pada kita; Tugas kita adalah menentukan kapan menuruti keinginannya dan kapan tidak menuruti keinginannya.
Karena itu saudara, ini adalah tanggung jawab yang berat dalam menyelamatkan generasi anak-anak kita, peran orang tua harus lebih aktif dalam mengajar dan mendisiplinkan anak-anak. Artinya, anak-anak harus kita disiplin dengan jalan yang benar.
Sebagai orang tua, kita harus berani menyatakan bahwa ini salah kalau memang itu salah, dan itu benar kalau memang itu adalah kebenaran. Sambil terus-menerus memberikan teladan yang hidup dalam keluarga kita.
Kemudian, ketika orang tua dikatakan imam dalam keluarga, maka tugas fungsi keimaman dalam keluarga adalah membawa seisi rumah tangga mengalami kehadiran Tuhan, intim dengan Tuhan dan hidup didalam naungan kasih Tuhan. Hal itu dapat dilakukan melalui doa bersama, pujian penyembahan bersama atau membaca firman Tuhan dan merenungkannya bersama.
Jika seorang bapa telah tumpul secara rohani, bagaimana dengan anak-anaknya? Demikianlah yang terjadi dengan anak-anak Imam Eli. Kegagalan atau kesalahan seorang anak kita tidak dapat dilepaskan dari kegagalan kita sebagai orangtua. Kesalahan/ kegagalan Hofni dan Pinehas adalah kegagalan Eli sebagai seorang ayah.
Karena itu, baik dalam gereja maupun keluarga, kalau memang dibutuhkan, kita harus berani bertindak keras terhadap orang yang jelas-jelas berdosa dan tidak mau bertobat!
Apakah imam Eli adalah Imam yang jahat? Menurut saya tidak. Imam Eli adalah Imam yang cukup bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya. Tuhan juga mendengarkan ucapan imam Eli. Sehingga apa yang dikatakannya terjadi pada keluarga Elkana dan Hana. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa imam Eli sebenarnya tidak sembarangan dalam menjalankan tugasnya sebagai Imam. Dia memperhatikan umat, mau mendengar permasalahan umat. Lalu apa yang menyebabkan anak-anaknya menjadi dursila?
Kemungkinannya adalah imam Eli jarang sekali atau tidak pernah berdoa bagi anak-anaknya. Bandingkan dengan Samuel yang juga tinggal di tempat yang sama. Dia tidak seperti anak-anak imam Eli. Alkitab mencatat dalam 1 Samuel 2:26, bahwa Samuel semakin disukai baik oleh Tuhan dan oleh jemaat. Kenapa bisa begitu? Kita lihat perhatian dari orangtuanya sangat besar terhadap Samuel. Saya yakin setiap hari nama Samuel pasti disebut dalam doa orangtuanya. Dukungan doa yang tidak putus dari Elkana dan Hana membuat Samuel tetap berada di jalan yang benar walaupun berada di dekat anak-anak Eli.
Bagi kita yang sudah dikaruniai anak, marilah kita menyebut nama anak-anak kita satu-persatu di dalam doa pribadi kita setiap hari. Ingat bahwa di sekitar anak-anak kita lebih banyak pengaruh buruk dibandingkan pengaruh baik. Bagaimana kita membentengi anak kita dari pengaruh buruk? Jawabannya adalah dengan DOA.
Dengan demikian saudara, ingat-ingatlah apa yang akan kita perbuat. Jangan hanya lihat jangka pendeknya saja tapi juga pertimbangkanlah akibatnya untuk jangka panjang. Sebelum nasi menjadi bubur, marilah kita kembali mengingat apa yang Tuhan kehendaki bagi anak-anak kita.
Artinya kita tidak boleh meremehkan tugas mendidik anak-anak dan memperhatikan pertumbuhan kerohanian mereka. Tugas kita sebagai orang tua sangatlah penting dalam menentukan masa depan anak-anak kita. Kita mungkin dapat dikenal baik dan memiliki reputasi tinggi di masyarakat, tetapi apa jadinya jika anak-anak kita hidup tidak takut akan Tuhan. Karena Tuhan lebih memperhatikan apakah kita memimpin keluarga kita pada takut akan Tuhan, dibandingkan reputasi kita. Amin

Rabu, 03 Juni 2015

ABIGAIL WANITA PENGANTARA

ABIGAIL - WANITA PENGANTARA
1 Samuel 25 1-35


Ibu-ibu yang kekasih dalam Tuhan,

Memiliki pasangan yang idel, yang dapat mendukung dan mengasihi pasangannya pastinya menjadi impian banyak orang. Siapa yang tidak bangga jika memiliki pasangan yang mampu mengasihi dan mendukung segala aktifitas kita dengan baik? Siapa yang tidak bahagia jika memiliki suami yang penuh pengertian dan siap untuk diandalkan kapan saja? Terlebih lagi, jika ia seorang yang sangat kaya, lahir dari keluarga yang terhormat. Maka lengkaplah sudah kesempurnaan itu.

Namun apa jadinya jika orang yang kita pilih menjadi pasangan hidup kita, ternyata adalah seorang yang jauh dari standart ideal. Apalagi ia adalah seorang yang kasar, sikapnya selalu arogan, dan tiap-tiap hari tidak ada kata-kata yang baik yang keluar dari mulutnya selain hujatan dan makian.

Apa yang harus kita lakukan dengan pasangan kita yang demikian? Apakah kita harus menjauhinya? Memintanya untuk bercerai dari kehidupan kita?
Kaum ibu yang kekasih,
Perikop kita sore hari ini, juga menceritakan satu pengalaman yang sama yang dialami oleh orang-orang yang memiliki pasangan yang tidak idel. Namanya adalah Abigail, ia hidup pada masanya Daud.
Semenjak berita kematian Samuel, abdi Allah itu. Seluruh bangsa Israel berkabung hingga akhir pemakaman Samuel di Rama. Sementara Daud dan seluruh tentaranya menjadi pelarian di Padang Gurun Paran, oleh karena pengejaran Raja Saul (25:1).
Di saat yang sama, dikisahkan ada seorang yang sangat kaya dari kota Maon, dari keturunan Kaleb, yang memiliki perusahaan di Karmel. Ia mempuyai tiga ribu ekor domba dan seribu ekor kambing (25:2).
Nama orang itu adalah Nabal, yang dalam Bahasa Ibrani berarti “orang bodoh”. Nyatanya saudara, disepanjang kehidupanya, Nabal memang dikenal sebagai seorang yang kasar dan jahat. Kelakuannya yang kasar dan jahat menyebabkan ia tidak dapat tidak untuk memaki orang lain. Disisi yang lain, Nabal hanya memiliki kehidupan yang berputar pada dirinya sendiri. Artinya ia tidak peduli dengan orang lain, terutama juga kepada Daud.
Saudara,
Nabal memiliki seorang isteri yang cantik dan bijaksana yang bernama Abigail. Isteri Nabal, memiliki kepribadian yang sangat baik. Hal ini bertolak belakang dengan kepribadian suaminya. Dalam kasus Abigail ini, kita melihat ada satu perkara ajaib yang dikerjakan oleh Allah, baik terhadap Daud, ataupun terhadap Abigail.
Ibu-ibu yang kekasih,
Bagi Abigail tentunya tinggal seatap dengan pria yang kasar dan jahat, seperti hidup di dasar neraka. Kehidupannya penuh dengan tangisan dan usapan dada. Hari-hari yang dilaluinya pastilah hari-hari yang penuh tekanan. Terlebih saat melihat prilaku suaminya yang begitu arogan terhadap siapa saja.
Namun perhatikan saudara, walaupun Abigail mengalami hal yang demikian, Abigail tidak pernah membalasnya dengan kejahatan, Ia juga tidak melarikan diri dari tekanan suaminya yang kasar. Sebaliknya dengan setia ia tetap melayani suaminya dengan sangat baik. Ia menunjukkan sikapnya yang bijaksana walaupun ia diperlakukan kasar.
Ibu-ibu yang kekasih,
Kalau saudara merasa senasib dengan Abigail, maka janganlah berpikir untuk menggunakan cara Anda. Tetapi serahkanlah pergumulan Anda kepada Allah supaya Dia bertindak. Namun, bukan berarti Anda lantas mendoakan suami supaya Tuhan lebih cepat memanggilnya. Sebaliknya berdoalah di dalam kesabaran dan dalam kasih.
Kaum ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Pada sisi yang lain, hidup dalam pelarian pastinya membuat karakter seseorang menjadi keras. Itulah yang dialami oleh Daud dan pasukannya. Daud berperan layaknya seperti Robinhood yang berada di Hutan. Dijelaskan bahwa Daud memiliki enam ratus pasukan yang setia mengikutinya. Guna menghidupi kelompok yang besar ini, Daud mengarahkan keenam ratus pengikutnya untuk melindungi lahan peternakan dan pertanian dari tuan-tuan tanah yang ada di sekeliling mereka, dengan imbalan: mereka mendapatkan makanan dan minuman.
Dalam melakukan pekerjaannya ini, Daud sangat menjaga benar anak buahnya untuk tetap bersikap jujur. Karenanya mereka tidak mencuri atau bertindak kasar, apalagi mengganggu dan merugikan tanah pertanian atau peternakan tersebut.
Hal ini terlihat dari kesaksian para pekerja Nabal, yang menceritakan bagaimana perbuatan mereka. Dikatakan bahwa kelompok Daud sangat baik menjaga mereka dari tangan para penjahat. “Mereka seperti pagar tempok sekeliling kami siang malam, selama kami menggembalakan domba-domba di dekat mereka.” (1 Samuel 25:16).
Dalam hal ini Saudara, Daud dan Nabal mendiami suatu wilayah dengan keharmonisan seperti dua ekor banteng yang hidup di peternakan yang sama. Keduanya sama-sama kuat dan keras kepala. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum mereka akhirnya bertarung.
Saudara,
Masalah muncul saat Nabal sedang menggunting bulu domba-dombanya. Menurut tradisi, masa mencukur bulu domba adalah masa “ceria untuk menyambut tamu”. Karenanya saat kabar pesta tersebut menggema hingga ke telinga Daud dan ia merasa bahwa anak buahnya patut diundang. Lagipula pikir Daud, anak buahnya telah melindungi ladang dan ternak mereka dengan baik, berpatroli di wilayah perbukitan dan mengamankan daerah lembah.
Namun seperti pepatah mengatakan: “air susu dibalas dengan air tuba.” Demikianlah yang dirasakan oleh Daud saat para utusannya menemui Nabal.
Ketika Daud mengutus 10 orang anak buahnya menjumpai Nabal dengan permintaan agar Nabal melayani anak buahnya itu pada hari raya, sebagai imbalan jasa Daud melindungi kawanan ternaknya dari penyamun.
Nabal yang dikenal sebagai seorang yang bebal justru menghinanya. Nabal pura-pura tidak mengenal Daud, ia menganggapnya seperti budak yang lari dari tuanya.
Saudara, sikap yang merendahkan itu membuat para pembawa pesan menjadi marah; karenanya mereka bergegas menemui Daud dan melaporkan apa yang telah terjadi, di perkebunan Nabal.
Mendengar kesaksian yang disampaikan para utusannya, Daud menjadi geram. Ia menggerutu karena kebaikan hatinya tidak dibalas dengan satu kebaikan. Dalam amarahnya Daud berkata: “Sia-sialah aku melindungi segala kepunyaan orang ini di padang gurun, sehingga tidak ada sesuatu pun yang hilang dari segala kepunyaannya; ia membalas kebaikanku dengan kejahatan” (1 Sam 25:21).
Terprovokasi dengan sikap yang kasar tersebut, Daud memerintahkan untuk “masing-masing menyandang-kan pedang!” Mereka berangkat menemui Nabal yang tengah berpesta pora. Empat ratus orang prajurit dikerahkan Daud untuk pergi menyerang Nabal, sementara dua ratus orang yang lain ditinggalkannya untuk menjaga barang-barang (Ayat 13)
Tindakan emosional tersebut tentu saja tidak bisa dibenarkan. Akan tetapi, itulah kenyataan yang sedang terjadi. Kalau sampai terjadi, bukan hanya peternakan Nabal yang tertimpa musibah, kelompok Daud pun akan tercemar sebagai tidak ada bedanya dengan para perampok dan pembunuh.
Di sinilah kita melihat perlindungan Allah bagi Daud. Allah tahu apa yang ada dalam hati Daud. Karenanya Allah tidak membiarkan Daud untuk berbuat dosa karena Nabal. Dalam hal ini, Allah memakai Abigail isteri Nabal untuk menjadi pengantara, dan mencegah tindakan anarkis, yang sia-sia.
Saat para pekerja Nabal memberitahukan rencana kedatangan Daud, Abigail yang berparas cantik ini rupanya juga memiliki kecerdasan yang tinggi. Ia menyusun suatu rencana yang bijaksana. Ia tahu sikap kasar suaminya, pastinya bisa mendatangkan malapetaka yang besar. Karenanya ia segera mengambil berbagai hadiah dan segera pergi untuk menghentikan Daud. Tanpa harus memberitahu niatnya pada suaminya.
Ketika Daud dan anak buahnya menuruni sebuah lembah, wanita itu mengambil posisinya, dengan berbekal “dua ratus roti, dua buyung anggur, lima dmba yang telah diolah, lima sukat bertih gandum, serratus buah kue kismis dan dua ratus kue ara, dimuatnyalah semuanya ke atas keledai” (25:18), Abigail datang menemui Daud.
Kita melihat saudara,
Abigail tidak bodoh. Ia tahu arti pentingnya waktu. Karenanya ia berdiri sebagai seorang penengah antara keluarganya dan kematian yang pasti. Ia sadar jika ia tidak bertindak dengan cepat, pastinya pertumpahan darah pun tidak akan terelakkan. Karenanya Allah memakai Abigail untuk mencegah Daud melakukan suatu ketidakadilan besar kepada semua orang Nabal.
Dikatakan: “Ketika Abigail melihat Daud, segeralah ia turun dari atas keledainya, lalu sujud menyembah di depan Daud dengan mukanya sampai ke tanah” (1 Samuel 25:23).
Saudara, kehadiran si cantik Abigail di depan Daud, serasa air yang menyejukkan di gurun pasir. Sambil berlutut di hadapan kaki Daud, ia menyatakan permohonan yang berharga untuk dimasukkan ke dalam Alkitab, “Aku sajalah, ya tuanku, yang menanggung kesalahan itu. Izinkanlah hambamu ini berbicara kepadamu, dan dengarkanlah perkataan hambamu ini. Janganlah kiranya tuanku mengin-dahkan Nabal, orang yang dursila itu, sebab seperti namanya demikian ia: Nabal namanya dan bebal orangnya” (25:24-25).
Perhatikan saudara apa yang dilakukan Abigail. Disini Abigail tidak datang untuk membela Nabal, sebab ia tahu suaminya memang seorang yang brengsek. Abigail juga tidak memohon keadilan, tetapi yang ia minta adalah sebuah pengampunan. Ia rela menerima kesalahan yang tidak layak diterimannya. “Ampunilah kiranya kecerobohan hambamu ini” (25:28).
Dari sini kita melihat, kebijaksanaan Abigail, kecantikannya dan keanggun-annya tidak disalahgunakan Abigail untuk satu perbuatan yang konyol. Sebaliknya semua karakter yang dimilikinya dipakainya untuk memberi kesan yang begitu mendalam bagi Daud.
Perkataan Abigail ini seperti matahari dimusim panas yang melelehkan es. Bagitulah yang dirasakan Daud saat itu. Daud menyadari betapa salahnya dia dalam merencanakan pembalasan sekejam itu. Hal ini dapat kita lihat dari perkataan Daud, “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, yang mengutus engkau menemui aku pada hari ini; terpujilah kebijakanmu dan terpujilah engkau sendiri…jika engkau tadinya tidak segera datang menemui aku, pastinya tidak aka nada seorang laki-laki pun tinggal hidup pada nabal sampai fajar menyingsing… aku mendengar perkataanmu dan menerima permintaanmu dengan baik. (25:33-35).
Daud pun sangat mensyukuri tindakan Abigail yang mencegahnya dari perbuatan brutal menumpahkan darah orang lain.
Usai mengadakan perundingan yang melegakan itu, Abigail menawarkan hadiah yang ia bawa dari rumah dan memohon kepada Daud agar membiarkan Allah saja yang menghakimi Nabal dan memohon Daud menghindari pertumpahan darah.
Ibu-ibu yang kekasih,
Tuhan tahu, tantangan hidup anak-anak Tuhan di dunia ini tidaklah mudah. Saat ingin menjalankan hidup kudus, terkadang ada saja hal yang bisa memprovokasi atau menggoda kita untuk jatuh dalam dosa. Saat kita merindukan untuk bisa memaafkan orang lain, ada saja godaan bagi kita untuk kembali mengingat kesalahan orang lain.
Tetapi janganlah kita putus asa saudara. Tetap percayalah kepada Allah. Sebab Allah pastinya selalu siap menolong kita, bahkan lewat orang-orang yang tidak pernah kita sangka. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu mendekat pada Tuhan sehingga tidak mudah tergoda atau terprovokasi situasi sekeliling kita.
Usai mengadakan perundingan antara Daud dengan Abigail, akhirnya Daud kembali ke kediamannya. Dan Abigail kembali kepada Nabal. Namun karena ia mendapati suaminya terlalu mabuk untuk diajak bicara sehingga ia harus menunggu pagi berikutnya. Dan pada pagi harinya, saat Abigail melihat kondisi suaminya sudah mulai sadar, ia menceritakan bahwa betapa dekatnya Daud dengan kediaman mereka dengan empat ratus pasukannya.
Saudara, mendengar perkataan Abigail yang mengagetkan ini, juga karena ketakutannya yang begitu hebat yang dialami Nabal, menyebabkan Nabal terkena serangan jantung. Dikatakan: “Lalu terhentilah jantungnya dalam dada dan ia membatu. Dan kira-kira sepuluh hari sesudah itu Tuhan memukul Nabal, sehingga ia mati (25:37-38).
Ibu-ibu yang kekasih di dalam Tuhan,
Kerendahan hati selalu membawa keselamatan. Sikap baik Abigail mengubah gelombang kemarahan menjadi reda. Sikap rendah hati memiliki kekuatan sebesar itu. Permohonan maaf dapat menghilangkan perdebatan. Penyesalan dapat memadamkan amarah. Sikap suka damai jauh lebih baik ketimbang mengumbar amarah. Dalam hal inilah Amsal 25:15 berkata: “Lidah lembut dapat mematahkan tulang”
Kisah Abigail mengajarkan banyak hal kepada kita. Bahwa kuasa kebaikan itu sifatnya menular. Perbuatan kasih yang dinyatakan pastinya dapat menutupi banyak sekali dosa. Demikianlah firman Tuhan yang dinyatakan dalam I Petrus 4:8 “Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa.”
Kita melihat saudara,
Abigail berhasil menempatkan dirinya diantara Daud dan Nabal. Hal yang sama juga dilakukan oleh Tuhan Yesus yang menempatkan diriNya di antara Allah dan kita. Abigail bersedia secara sukarela untuk dihukum atas kesalahan Nabal. Demikian pula Tuhan Yesus membiarkan surga menghukum diriNya atas kesalahan Anda dan saya. Abigail menjauhkan amarah Daud yang saat itu membara oleh karena dendam. Bukankah Tuhan Yesus juga melindungi kita dari murka Allah?
Tuhan Yesus adalah “…pengantara antara Allah dan manusia; yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diriNya sebagai tebusan bagi semua manusia” (1 Timotius 2:5-6). Siapakah seorang pengantara jika bukan seseorang yang berdiri diantara dua pihak? Apakah yang dilakukan Kristus selain hanya diantara kemurkaan Allah dan penghukuman kita? Kristus menahan kemurkaan Allah.
Kristus hidup dalam kehidupan yang tidak dapat kita jalani dan mengambil alih hukuman yang tidak akan mungkin sanggup kita tanggung. Pengorbanannya mendorong kita untuk menanyakan hal ini: Apabila Dia begitu mengasihi, tidak dapatkah kita mengasihi? Setelah diampuni, tidak dapatkah kita mengampuni? Setelah berpesta di meja kasih, tidak dapatkah kita membagikan beberapa remah-remah? “saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi” (1 Yohanes 4:11).
Apakah Anda melihat dunia Nabal begitu sulit untuk diterima? Jika demikian, lakukanlah apa yang dilakukan oleh Daud: berhentilah memandang Nabal. Sebaliknya alihkanlah pandangan Anda kepada Kristus. Teruslah memandang sang Pengantara kita dan jangan lagi memandang pada si pembuat onar. Dengan demikian, maka kita akan mendapati satu kehidupan yang jauh lebih berharga ketimbang apa yang bergejolak dalam hati kita. Amin
 

Rabu, 29 April 2015

HANA, WANITA YANG TEGAR HATI

HANA, WANITA
YANG TEGAR HATI
1 Samuel 1:1-28

Kaum ibu yang kekasih,
Hari ini kita akan belajar dari seorang wanita yang sangat luar biasa dalam menghadapi ujian hidup. Berbicara mengenai ujian hidup, pastinya ini merupakan hal yang diijinkan Tuhan terjadi di dalam kehidupan seseorang. Dan hal ini berbeda dengan apa yang dimaksudkan oleh Yakobus 1:13 yang mengatakan: “Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: "Pencobaan ini datang dari Allah!" Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapa pun.”
Benar saudara, Allah tidak pernah mencobai seseorang. Sebab kata “pencobaan” seringkali dikonotasikan dengan hal-hal yang negative. Jadi kebenarannya adalah Allah tidak pernah merencanakan hal yang negative terhadap anak-anakNya.
Namun adakalanya Allah meng-injinkan anak-anak Tuhan berada dalam keadaan yang menderita. Tetapi itu bukanlah dimaksudkan sebagai suatu pencobaan, melainkan sebagai sebuah ujian untuk semakin bertumbuh dalam iman (Band. Yakobus 1:3-4).
Kaum wanita yang saya kasihi.
Kembali kepada topik kita hari ini, Kita melihat satu pribadi yang bernama Hana. Ia adalah isteri dari Elkana, bin Yeroham bin Elihu bin Tohu bin Zuf, seorang Efraim (ayat 1).
Di katakan saudara bahwa Elkana ini memiliki dua orang isteri, yang satu namanya Hana dan yang satu adalah Penina. Penina memiliki anak, tetapi Hana tidak. Kondisi ini dirasakan sebagai satu hal yang sangat menyedihkan Hana. Terlebih Penina selalu menyakiti hati Hana (Ayat 6). Mungkin setiap hari Penina selalu mengolok-olok Hana karena keadaannya yang mandul. Sehingga Penina merasa diatas angin karena ia memiliki anak-anak dari pernikahannya dengan Elkana.
Kita bisa bayangkan saudara, bagaimana kehidupan keluarga ini. Elkana dengan terang-terangan telah membagi cintanya, kasih sayangnya, perhatiannya, waktunya, tenaganya untuk kedua istrinya. Sekalipun ia berusaha untuk adil, namun sejatinya bisakah ia benar-benar bersikap adil? Pastinya tidak bukan! Saudara, sungguh satu kehidupan yang sulit dan runyam yang dialami oleh keluarga Elkana ini.
Namun demikian Hana tetap belajar untuk sabar, ia berusaha kuat, berusaha tegar menghadapi semuanya itu. Sebagaimana namanya yang berarti “Keanggunan“ atau “Kemurahan hati“. Hana belajar untuk menerima kenyataan.
Namun, masalahnya adalah, Penina yang adalah isteri muda dari Elkana, ia selalu menyusahkan hati Hana. Sikapnya yang seringkali menggoda dan menghina Hana merupakan hal yang merendahkan martabatnya sebagai seorang wanita. Dan itu terjadi bukan hanya satu kali, tetapi dari tahun ke tahun.
Saudara, wanita mana yang mau dimadu seperti ini bukan? Saya rasa setiap kita pastinya menginginkan keutuhan cinta dari pasangan kita. Perhatian yang seratus persen ditujukan bagi pasangannya. Hanya sekarang bagi Hana, nasi sudah menjadi bubur. Lagi pula, ia pun tidak mau melarikan diri dari masalah yang telah diambilnya. Jadi biar bagaimana pun ia harus menelan pil pahit itu setiap hari.
Saudara dikatakan suatu kali, sebagaimana menjadi kebiasaan bagi keluarga ini untuk setiap tahun pergi ke Silo untuk beribadah di Bait Allah. Elkana beserta seluruh keluarganya pergi mempersembahkan korban bagi Tuhan. Jarak antara Rama dan Silo sebenarnya hanya 24 kilometer, namun karena kondisinya yang tidak mengenakkan bagi Hana, dirasakannya perjalanan ke Silo semakin lama semakin jauh dan berat.
Di rumah mungkin Hana bisa saja menemukan cara-cara untuk meng-hindari istri kedua suaminya, tetapi lain halnya ketika di Silo. Di Silo, dimana banyak orang berkumpul untuk mempersembahkan korban, Hana sepertinya tidak menemukan cara untuk mengelak dari cemoohan wanita itu.
Sekalipun Elkana berusaha untuk menghiburnya, ia meyakinkan bahwa dirinya lebih berharga dari sepuluh anaknya laki-laki, namun hal itu tidak membuat Hana menjadi tenang.
Saudara, sepertinya Elkana tidak peka terhadap perasaan isterinya. Mungkin, pikirnya dengan menjalani kehidupan dua isteri dalam satu rumah tidak akan membawa masalah yang begitu rumit? Tetapi itulah laki-laki, terkadang karena terlalu mengandalkan logika dibandingkan dengan perasaan, menyebabkan dia tidak memahami apa yang dirasakan pasangannya.
Kaum ibu yang kekasih,
Dikatakan Hana berdiri diruang Bait Suci, hatinya sedih karena keadaan yang dialaminya. Dalam kesedihannya ia berdoa sambil menangis tersedu-sedu. Sementara imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu Bait Suci Tuhan, matanya tidak berhenti memperhatikan apa yang dilakukan oleh Hana. (ayat 9).
Saudara, memang tidak ada ajaran yang menyalahkan kita untuk berdoa sambil menangis, jika itu muncul dari hati nurani kita yang terdalam. Hal yang demikian memang sah-sah saja di mata Tuhan. Namun tidak berarti juga bahwa setiap doa harus disampaikan dengan cara menangis.
Dalam kasus yang dialami leh Hana, kita melihat saudara, kenyataannya Hana berdoa sambil menangis karena ia sedang membawa kepedihan hatinya kepada Tuhan. Bibirnya bergerak-gerak tanpa mengeluarkan suara apapun saat hatinya menumpahkan dukacitanya kepada Allah. Sekalipun kita tahu doanya tetap di catat dalam Alkitab. Dalam ayat 11 kita mengetahui apa yang Hana doakan kepada Tuhan. Dikatakan: “Tuhan semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memper-hatikan sengsara hamba-mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada Tuhan untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepadalanya” (ay. 11).
Saudara, apa yang diutarakan oleh Hana sebagai pengaduannya kepada Tuhan, menyiratkan suatu pergumulan yang sangat berat yang dialami oleh Hana yang mandul ini. Sekalipun dalam ayat 5 kita melihat bahwa kemandulannya, karena diijinkan Tuhan terjadi. Kemandulan Hana disebutkan sebagai tindakan langsung dari Allah. Tuhan tidak memberi memberi anak-anak kepada Hana supaya mempersiapkan dia bagi kelahiran puteranya, Samuel.
Dengan cara yang sama, Allah kadang-kadang membuat kita mengalami kekecewaan atau menuntun kita ke dalam situasi dimana kita merasa tidak mampu atau rendah diri supaya dapat melaksanakan kehendakNya dalam kehidupan kita.
Saudara,
Bagaimana dengan kita, apakah kita akan tetap sabar dalam menghadapi pergumulan hidup seperti Hana? Hari ini kita akan belajar 2 hal penting bagaimana rahasia Hana bisa tegar dalam menghadapi persoalan hidupnya:

1.  Hana Bertekun dalam doa (Ayat 10-12)
Ibu-ibu yang kekasih,
Ketekunan dalam hal berdoa memampukan kita menjadi seorang yang kuat dan sabar dalam menghadapi persoalan hidup. Seringkali seseorang menjadi tidak sabaran dalam menghadapi persalan hidup karena salah satunya kita kurang bertekun dalam doa.
Sebagaimana Hana saudara, kita pun harus bertindak membawa kepedihan kita langsung kepada Tuhan dan bertekun menantikan Allah bekerja. Sebab sebagaimana firman Tuhan berkata “kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).
Saudara, Hana sadar bahwa tidak ada hal yang salah dari penyataan Tuhan atas dirinya. Artinya rancangan Tuhan atas dirinya bukanlah suatu kesalahan. Karena itu kehidupan berpoligami yang dilakukan suaminya, tidak dilihatnya sebagai biang masalah yang menyudutkannya.
Memang ia belum dikarunia anak dan ini menjadi persoalan baginya. Sebagai seorang perempuan, pastinya ia membutuhkan penerimaan secara utuh dari suami dan juga masyarakat. Namun ia ingin belajar menerima kenyataan.
Kesulitan-kesulitan yang dihadapi Hana karena ulah Penina, justru membuat Hana sadar bahwa ia membutuhkan pertolongan Tuhan. Ia tidak putus asa karena kondisinya yang semakin sulit. Justru kesulitan yang dihadapi Hana, memacu dia untuk terus bertumbuh menjadi seorang wanita yang lebih matang, dewasa, dan beriman di dalam Tuhan. Karenanya ia semakin tekun dalam doa, bahkan doa yang keluar dari hati yang paling dalam. (ay.10). Luar biasa bukan?
Saudara, bagaimana dengan kita?
Mungkin kita tidak mengalami kasus yang sama seperti Hana tapi mungkin ada pergumulan yang terus-menerus kita hadapi dalam hidup kita, Mari kita bawa pergumulan kita itu kepada Tuhan, dan percaya bahwa Tuhan sanggup menolong kita.
Ibu-ibu yang kekasih,

2. Kesabaran Hana Membuka Jalan Tuhan.
Kaum ibu yang kekasih,
Dalam doa-doanya, Hana terus belajar tetap sabar. Bukan saja sabar dalam menghadapi badai hidup, tetapi juga Hana sabar dalam menantikan jawaban doa-doanya. Hingga pada akhirnya Tuhan membuat semuanya indah pada waktunya. Apa yang Hana telah lakukan dalam kehidupannya akhirnya semuanya membuahkan hasil yang luar biasa. Pada saat di Silo banyak orang yang datang untuk memperingati hari raya, mereka makan dan minum bersama.
Disaat yang bersamaan Imam Eli melihat bahwa ada seorang wanita berdiri menghadap Allah. Tidak ada kata-kata yang bisa didengarnya, hanya gerakan bibir yang turun naik yang dilihat imam Eli.
Saudara, melihat kejadian ini, imam Eli pun menjadi heran mengapa bibir wanita itu sepertinya bergerak-gerak namun, tidak ada satu kata pun yang terdengar. Jangan-jangan ia sedang mabuk, pikir Imam Eli.
Dengan keberanian yang dimilikinya kemudian imam Eli mendekati Hana dan menegurnya: “Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah dirimu dari pada mabukmu. Tetapi  Hana menjawab, “Bukan tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur atapun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan Tuhan. Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama.” (ayat 14-16).
Saudara, puas dengan penjelasan Hana kemudian Imam Eli pun memberkatinya dan berkata “Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari padaNya” (ay. 17).
Kaum ibu yang kekasih.
Kita lihat, apa yang dialami Hana, pada akhirnya membuahkan hasil. Allah bekerja menyatakan mujizatNya. Hal ini mengajarkan satu hal kepada kita bahwa, “apa yang ditutup Tuhan pada akhirnya bisa dibukaNya.” Kita tahu, Allah memang menyatakan rencanaNya untuk menutup buah kandungan Hana, namun, Allah pun menyaksikan kesabaran dan ketekunan Hana hingga pada akhirnya mendorong Tuhan untuk membuka kembali buah kandungan Hana.
Hingga tepat setahun kemudian, Tuhan menyatakan janjiNya. Kini Hana mengandung seorang anak laki-laki dan diberinya nama Samuel. Sebab “Aku telah memintanya daripada Tuhan” kata Hana (ayat 20).
Saudara,
Bisa kita bayangkan jika Hana tidak sabaran dan mengambil jalan pintas. Mungkin dia tidak akan melihat masa depan yang telah direncanakan Tuhan baginya. Mungkin dia pun tidak akan menyaksikan anaknya menjadi alat Tuhan yang luar biasa.
Tetapi syukur, Hana tidak mengambil jalan pintas. Dia lebih memilih menyerahkan segala pergumulannya kepada Tuhan. Dan dia pun bisa melihat campur tangan Tuhan yang luas biasa ini. Sungguh kemenangan yang luar biasa bukan?
Kita melihat saudara bahwa Janji Tuhan memang Ya dan Amin, Janji Tuhan selalu datang tepat pada waktunya. Tepat waktu bukan berdasarkan perkiraan diri kita, tetapi tepat waktu dilihat dari waktu Tuhan. Dan waktu Tuhan itu harus dilihat sebagai sebuah waktu yang membawa kemenangan.
Hana begitu sayang sama anaknya dan setiap tahun kalau dia ke Silo Hana membuatkan Samuel jubah kecil. Dan bukan hanya itu saja, sukacita Hana semakin bertambah, takala Hana mengandung lagi dan melahirkan 3 anak laki-laki dan 2 anak perempuan.
Kita melihat saudara, buah kesabaran Hana di dalam berdoa memperlihatkan kepada kita bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Apa yang tidak mungkin bagi manusia tetapi bagi Allah segalanya adalah mungkin, jika hal itu bisa mendatangkan kemuliaan Tuhan.
Bagaimana dengan ibu-ibu, adakah ibu-ibu mau belajar untuk bertekun dalam doa dan sabar dalam menantikan jawaban Tuhan.
Ingatlah hukum tabur tuai. Bagi saya hukum ini juga berlaku dalam doa. Artinya jika kita menabur doa yang tekun maka kita pun akan menuai hasil dari doa-doa yang kita panjatkan. Tetapi jika kita menabur kemasalan untuk berdoa, maka kita pun akan menuai hasil dari kemalasan kita.
Karena itu bawalah dalam doa setiap pergumulan yang kita hadapi kepada Tuhan. Sampaikanlah dengan tidak putus-putusnya setiap doa kita kepadaNya, maka Allah pasti akan menolong kehidupan kita.
Sebab firman Tuhan berkata dalam Yesaya  59:1 “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;” Hanya masalahnya sudahkah kita belajar untuk menyerahkan segala pergumulan kita kepadaNya atau belum. Kiranya firman Tuhan ini dapat menjadi berkat bagi kita. Amin.