Tampilkan postingan dengan label Mazmur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mazmur. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Mei 2016

KEBAIKAN TUHAN NYATA DALAM KEHIDUPAN ORANG YANG TAKUT AKAN DIA

KEBAIKAN TUHAN NYATA DALAM KEHIDUPAN ORANG YANG TAKUT AKAN DIA
Mazmur 31:20-25


Sidang jemaat yang kekasih,
Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak kita untuk merenungkan kebaikan Tuhan yang nyata dalam kehidupan orang yang takut akan Tuhan, melalui pembacaan dalam Mazmur 31:20-25. Saudara, Mazmur ini adalah seruan Daud untuk senantiasa mengucap syukur dan mengasihi Tuhan. Namun pengucapan syukur ini bukan lahir tanpa didahului suatu pergumulan, sebab kalau kita perhatikan pada bagian awal dari Mazmur 31:1-19, Mazmur ini dilatar-belakangi oleh kondisi pemazmur yang pada waktu itu berada di dalam masa-masa yang sangat sulit dan tidak nyaman. Masih banyak orang yang mengejarnya dan menginginkan sesuatu darinya. Bahkan ada orang yang memasang jaring ingin menjebak dan menjatuhkannya.
Namun saudara, apa yang Daud lakukan? Bagaimana Daud bereaksi terhadap semua situasi yang sulit dan tidak nyaman itu? Kita melihat saudara, bagaimana Daud menyikapi persoalan hidupnya dengan sangat baik. Dimana Daud senantiasa mengucap syukur dan tetap melayani Tuhan. Sebab pemazmur yakin bahwa kehidupan yang sedang dijalani hanya ditentukan oleh Tuhan. Hidupnya bukan ditentukan oleh musuh-musuhnya. Hidupnya bukan ditentukan oleh masalahnya. Bukan pula ditentukan oleh penyakitnya. Tetapi Daud meyakini bahwa kehidupan yang sementara ia jalani itu ada di dalam tangan Tuhan. Tangan Tuhanlah yang menentukan kehidupannya. Karena itu sekalipun Daud berada dalam pergumulan dan kesusahan yang begitu hebat dalam hatinya, dia tetap bisa merasakan damai sejahtera, yang menguasai hidupnya.
Indikasi damai sejahtera yang ada di dalam hatinya adalah ketika dia bisa menunjukkan kepada kita suatu ajakan kepada setiap orang percaya untuk dapat hidup tetap mengasihi Tuhan. Karenanya tidak heran saudara, setelah Daud mengalami pengalaman hidup yang demikian ekstrim, ia benar-benar menyadari akan kuasa dan kasih setia Allah yang begitu melimpah. Hal inilah yang membawa dia untuk senantiasa percaya akan pertolongan Allah dalam kehidupannya.
Jadi rahasianya ada pada sikap takut akan Tuhan. karena itu pemazmur menyadari bahwa kebaikan Tuhan hanya disediakan bagi mereka yang takut akan Dia. Bahkan kebaikan itu tersimpannya secara melimpah. Dikatakan: “Alangkah limpahnya kebaikanMu yang telah Kau simpan bagi orang yang takut akan Engkau” (Ayat 20a)
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Takut akan Tuhan adalah unsur yang sangat penting dalam kehidupan orang percaya. Masalahnya takut yang bagaimana yang patut dimiliki oleh orang percaya? Faktanya, ada banyak di antara kita yang takut akan banyak hal, seperti takut akan hantu, takut akan ketinggian, takut kegelapan bahkan ada yang takut akan keramaian. Bagi orang yang tidak percaya, takut akan Tuhan adalah lebih mengarah kepada hal negative dimana mereka takut kepada penghakiman Allah dan kematian kekal, yang merupakan pemisahan untuk selama-lamanya dari Allah. Takut akan Tuhan bukanlah seperti itu.  Pengertian takut akan Tuhan menjadi jelas jika kita mengerti siapa dan seperti apa Tuhan yang kita sembah itu.
Secara Alkitabiah takut akan Tuhan berbicara tentang kekuatan, kebesaran, otoritas dan kekudusan Tuhan. Takut akan Tuhan di sini adalah wujud rasa takut dalam arti yang positif. Artinya kita menghormati Dia karena kebesaranNya, kekudusanNya, keadilanNya dan juga kebenaranNya. Tanpa rasa takut akan Tuhan yang seperti ini orang Kristen cenderung berpikir, berkata, dan berbuat sesuka hatinya sendiri. Rasa takut akan Tuhan yang seperti ini juga tidak didasari oleh karena takut mengalami hukuman atau takut masuk neraka, karena jika ini yang terjadi maka rasa takut semacam ini tidak didasarkan pada kasih kepada Tuhan.
Takut akan Tuhan adalah ketetapan hati dan pikiran orang percaya yang tidak mau mengecewakan Tuhan melalui pikiran, ucapan dan tindakannya sebagai ekspresi kasih kepadaNya. Dengan kata lain, takut akan Tuhan adalah dasar bagi kita untuk mengikuti jalanNya, melayani Dia dan terus mengasihi Dia. Jadi orang yang takut akan Tuhan akan berusaha untuk hidup seturut firmanNya, menjauhkan diri dari segala bentuk kejahatan (dosa) dengan kerelaan hatinya sendiri, bukan karena terpaksa atau karena dorongan dari orang lain.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Dalam Pengkotbah 12:13 dikatakan:  "Akhir kata dari segala yang didengar ialah:  takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintahNya, karena ini adalah kewajiban setiap orang." Dengan kata lain saudara, sikap takut akan Allah merupakan hal yang dikehendaki Tuhan dan kewajiban dari setiap orang yang percaya kepada Tuhan.
Masalahnya, dalam kehidupan kita sebagai orang yang percaya kepada Allah, sejatinya tidak akan pernah lepas dari yang namanya pergumulan hidup. Hidup kita kadangkala seperti hidup seorang janda tinggal di Sarfat (band. 1 Raja 17:7-24). Hidup mereka sepertinya dalam masa paceklik, mereka hanya punya segenggam tepung dan sedikit minyak. Jadi dengan hal itu bisa dipastikan bahwa tepung itu hanya cukup sekali saja untuk dimasaknya hari itu. Setelahnya tidak ada lagi persediaan apa pun untuk dibuatnya esok hari. Karenanya ia menyadari kondisi ini dan ia pun berkata kepada Elia: “…setelah memakannya, maka kami akan mati” (Ayat 12).
Namun saudara, dalam situasi yang demikian Tuhan mengatakan sesuatu yang berbeda melalui Elia. Tuhan ingin mengajar janda ini untuk tidak bergantung pada apa yang dia miliki. Sebaliknya Tuhan mau menunjukkan bahwa cara Tuhan adalah cara yang terbaik dan tidak pernah terpikirkan oleh manusia. Elia berkata kepada perempuan ini untuk memberinya makan lebih dahulu. Dan kita pun tahu apa yang kemudian terjadi, janda ini mungkin sempat berpikir, apakah ia harus lari meninggalkan nabi Tuhan yang tidak tahu diri ini atau melakukan apa yang dia minta, mengolah tepung dan minyak itu untuk menjadi roti dan memakannya?
Saya percaya dalam situasi yang sulit pastinya akan membuat kita harus memilih apakah tetap setia, dan melayani Tuhan, atau lari dari kenyataan? Banyak orang percaya yang tidak menjadi sabaran dan akhirnya memilih untuk lari dari kenyataan, ia meninggalkan tekanan hidupnya dengan memilih sesuatu diluar kehendak Tuhan. Tetapi lihatlah apa yang terjadi ketika janda ini memilih untuk melayani Tuhan, memberikan makan kepada nabi Tuhan, apa yang kemudian Tuhan lakukan? Mereka bisa melewati masa paceklik dengan tepung dan minyak yang tidak pernah habis. Karena apa saudara? Karena Tuhan memelihara hidupnya dan ia mempercayakan hidupnya pada janji Tuhan. Mereka lebih memilih untuk takut akan Tuhan.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Bersyukur dan melayani adalah dua sikap yang tidak terpisahkan. Bersyukur adalah pernyataan dari iman kita, sedangkan melayani adalah buktinya. Hanya dengan bersyukur dan tetap melayani Tuhan maka hati kita akan terpelihara. Dengan apakah kita bisa tetap memiliki hati seorang hamba jika kita tidak hidup di dalam melayani? Banyak orang Kristen yang berpikir bahwa masalahnya terlalu banyak, sehingga dia mau selesaikan persoalannya dulu, dia mau selesaikan pekerjaannya dulu, dan akhirnya meninggalkan pelayanan sementara. Dia pikir dengan sikap yang seperti itu masalahnya akan selesai. Saya justru melihat, banyak orang yang bersikap demikian, masalahnya semakin rumit saja. Jadi saudara, lari dari Tuhan itu bukan jalan keluar, tetapi dekat dengan Tuhan, bersyukur dan tetap melayani dengan apa saja yang bisa kita lakukan walaupun dalam situasi yang sangat sulit dengan hidup kita. Itulah cara yang Tuhan mau supaya kita dapat tetap tinggal di dalamnya. Jangan lari dari Tuhan.
Yang berikutnya dikatakan: “Alangkah limpahnya kebaikanMu …yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung padaMu, dihadapan manusia!” (Ayat 20b). Ayat ini memberi pengertian bahwa berlindung kepada Tuhan seumpama seseorang mau berada di bawah pohon yang besar di saat ada sinar matahari yang menusuk. Berada di bawah pohon pada matahari panas sangat menyenangkan. Maunya kita, tidur terus di bawah pohon itu karena membuatnya menjadi adem – tenteram. Juga seumpama ada musuh yang mengejar-ngejar, lalu masuk dalam rumah besar dan kokoh sehingga musuh tidak lagi menyerang. Ibarat seorang yang mau dibunuh oleh seseorang dan seorang yang gagah perkasa meminta bantu kepadanya.
Hidup kita ini kadangkala juga seperti seorang wanita yang mengandung. Ada masa yang sangat sulit dimana sembilan bulan dia harus bertahan. Kalau dia putus asa dengan apa yang dialami, apa yang terjadi? Dia tidak bisa melihat anak itu. Karena itu dia harus bertahan tetap tinggal diam dalam masa sulitnya. Meyakini bahwa Tuhan sedang membentuk anak yang ada di dalam kandungannya. Hari demi hari, hingga bulan berganti bulan. Dia percaya bahwa apa yang dikerjakan oleh Tuhan merupakan sebuah rencana yang indah buatnya. Sampai dia melihat tanda-tanda pertumbuhan yang baik dari anak yang di dalam rahimnya, dan sampai tiba saatnya nanti, anak itu bisa lahir dan disambutnya dengan rasa yang bahagia.
Saya percaya saat ibu Renita menjalani masa kehamilan dan menantikan proses kelahiran putranya, pasti juga disertai dengan pergumulannya. Yang walaupun tiap-tiap anak memiliki ciri pergumulan yang berbeda. Namun kita bisa melihat, kalau saat ini anak itu kini telah lahir dan dalam kondisi yang sehat. Bukankah itu karya Tuhan yang luar biasa.
Bapak/ Ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Apa yang kita pikirkan sekarang dengan keadaan kita? Kalau sekarang kita sedang berada di dalam keadaan yang sulit, apa yang kita lakukan? Masihkah kita bisa bersyukur dan tetap melayani Tuhan? Asal kita ikhlas maka yang baik akan tiba untuk kita. Sebab Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita selalu ada di dalam kesulitan dan penderitaan.
Mazmur 55:23 berkata: “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkanNya orang benar itu goyah” Dari sini kita melihat bahwa Tuhan menjanjikan tidak untuk selama-lamanya kita berada dalam pergumulan. Ada waktunya Tuhan memberikan kelepasan dalam hidup kita. Tinggal bagaimanakah kita belajar untuk sabar menantikan tangan Tuhan bekerja dalam kehidupan kita.
Penguin adalah binatang yang sangat unik. Dia hanya bertelur hanya pada musim dingin. Telurnya hanya satu, tidak lebih daripada itu. Ketika sang betina sudah bertelur apa yang dia lakukan? Dia memberikan telurnya kepada si jantan yang lalu meletakkan telur itu di atas telapak kakinya dan kemudian menutupinya dengan bulunya. Lalu kemana sang betina?
Selama dua bulan lamanya sang betina bersama betina-betina lainnya pergi mencari dan mengumpulkan makanan untuk bayinya. Itu bukan waktu yang pendek, itu waktu yang sangat panjang. Selama itu si jantan berpuasa, mengerami telur itu dan dia terus mempertahankan telur itu tetap ada di atas telapak kakinya. Kalau kakinya bergerak sedikit, telur itu bisa menggelinding keluar. Dia bertahan dengan semua jantan yang lain meskipun ada angin badai yang begitu dingin. Mereka saling berdekatan, saling melindungi, dan luar biasa, tepat dua bulan kemudian telur itu menetas.
Tepat pada saat yang sama betina itu kembali dan bisa memberikan makanan kepada anaknya. Penguin jantan butuh dua bulan bertahan untuk menjaga telurnya, sementara sang betina pergi mencari makan. Situasi yang tidak mudah dan sulit. Sang betina pergi mencari makan ancamannya maut, ada singa laut dan hiu yang bisa memangsanya. Tetapi mereka bertahan demi sesuatu yang jelas mereka melakukan itu.
Terkadang hidup kita sudah sampai di ujung, tinggal selangkah lagi, namun karena kita kelelahan dan putus asa pada akhirnya kita pun berhenti, padahal yang Tuhan mau adalah, kita bertahan. Bertahan di dalam kehendak Tuhan, sambal kita hidupi kehidupan kita dengan kepercayaan penuh kepada Tuhan. Percayalah sebagaimana yang dirasakan oleh Pemazmur, kasih karunia Tuhan selalu cukup bagi kita.
Dialah tempat perlindungan kita. Suatu tempat yang aman dan nyaman. Tempat yang aman dan nyaman itu adalah tempat yang membuat kita merasa dikasihi dan disayangi. Tempat yang aman itu adalah tempat kita diperlakukan dengan baik dan dianggap berharga dan penting. Kita bisa saja merasa aman karena tidak ada yang melukai tubuh kita, tidak ada penyakit yang menggerogoti tubuh kita. Tidak ada orang yang mencuri harta milik kita. Namun demikian, jika ada yang melukai hati kita, menghina dan menginjak-injak harga diri kita pastilah kita merasa tidak aman dan nyaman. Jadi tubuh mungkin bisa aman tapi hati dan jiwa kita tidak aman. Apakah itu yang dinamakan Aman yang sejati?
Keamanan yang sejati seharusnya terpenuhinya kebutuhan lahir dan batin, jasmani dan rohani, material dan sosial. Jadi jika Tuhan adalah tempat perlindungan kita, maka kita dapat mempercayai Tuhan yang memberi jaminan akan terpenuhinya kebutuhan kita lahir dan batin, jasmani dan rohani, material dan sosial. Cara berlindung kepada Tuhan adalah mempercayai dan mengandalkan Tuhan dalam setiap keadaan.
Di dunia yang penuh bahaya ini, kita perlu menyadari bahwa keamanan dan perlindungan kita yang utama berada di tangan Allah. Daud teringat bagaimana ia suatu kali merasa seolah-olah terpisah dari pertolongan Tuhan. Namun ia belajar bahwa dalam situasi yang mengecewakan sekalipun, Allah akan melindungi mereka yang takut kepada-Nya "dalam naungan wajah-Nya;...Dia akan melindungi mereka dalam pondok" (Mazmur 31:21). Dari sini kita melihat bahwa meskipun pemazmur merasa terisolasi, namun ia percaya bahwa Tuhan mendengar dan akan bertindak atas namanya. ia tidak takut sebab dalam iman kepada Allah ia percaya bahwa Allah mampu melindunginya (22)
Kasih setia berarti adalah kasih yang tidak terputus, kasih yang selalu ada. Itulah kasih Allah kepada umatNya. Dalam keadaan yang sesak sekalipun Allah tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan Yesus punya berbagai macam cara & memakai siapa saja untuk menolong kita, dan kita harus menyadari bahwa semua itu berasal dari Tuhan. Berusahalah tetap mengucap syukur dalam segala kondisi hidup.
 Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Allah selalu mengetahui di mana kita berada. Tak ada tempat di mana Dia tidak dapat melihat kebutuhan dan mendengar jeritan kita. Awalnya Daud pernah berpikir bahwa Allah sempat tidak menghiraukan keberadaannya. Dia seperti terbuang dari hadapan Tuhan. Namun ternyata prasangkanya keliru. Allah yang disembahnya tidak pernah meninggalkan dia. Karena itu dia berkata: "Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepadaMu minta tolong" (ayat 23).
Dari sini kita belajar, bahwa iman tidak hanya yakin akan masa depannya namun juga mengingat apa yang Allah pernah lakukan di masa lampau bagi kita. Terkadang dalam kehidupan kita, kita merasa Tuhan absen dari kehidupan kita. Seolah-olah Tuhan membiarkan umatNya mengalami penderitaan tanpa mengulurkan tanganNya untuk bertindak menolong. Namun prasangka dan praduga yang demikian adalah salah. Faktanya Tuhan tidak pernah absen dalam kehidupan kita, karena Ia Allah yang Mahahadir. Tetapi pertanyaannya mengapa sepertinya Tuhan absen? Karena Tuhan sedang menantikan kita berteriak minta tolong dalam kesesakan kita. Mengakui keterbatasan kita dan membutuhkan tangan Tuhan yang kuat. Saudara, Tuhan meminta supaya kita dapat memercayai kuasaNya yang bekerja di dalam kehidupan kita.
Kenyataannya, kita hidup dalam situasi yang diwarnai oleh berbagai ancaman yang mencemaskan dan menakutkan. Tetapi kita bisa tetap merasa aman dan nyaman, jika kita mempercayai dan mengandalkan Tuhan sebagai tempat berlindung.
Dengan demikian, orang yang dikasihiNya merujuk kepada umat Tuhan yang setia mencari pertolonganNya. Bukan yang hanya sekedar mencari. Atau mencari kalau ia sedang butuh saja. Sebaliknya Tuhan mengasihi orang-orang yang dengan tekun mencari wajahNya setiap waktu. Sama seperti seorang janda yang tidak putus-putusnya mendatangi hakim yang lalim dan mendapatkan haknya, demikianlah Tuhan menghendaki agar setiap orang yang dikasihiNya dapat dengan setia mencari wajahNya.
Sehingga melalui kejadian inilah pada akhirnya Daud dapat merasakan sukacita, merasakan kebahagian dan ucapan syukur, karena apa? Karena apa yang dipegangnya selama ini tidak pernah sia-sia. Itulah kehidupan yang takut akan Tuhan.
Sekarang pemazmur menutup ucapa syukurnya dengan suatu udangan kepada setiap orang yang mengalami kasih setia Tuhan untuk mengasihi Tuhan (Ayat 24-25).
"Kasihilah Tuhan, hai semua orang yang dikasihiNya! Tuhan menjaga orang-orang yang setiawan, tetapi orang-orang yang berbuat congkak diganjarya dengan tidak tangung-tanggung. Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada Tuhan." Saudara, kebenaran inilah kiranya juga menjadi peringatan untuk semua orang percaya, bagi saya dan bagi kita semua yang hadir disini. Dan biarlah kita dapat meresponi peringatan ini dengan serius. Kenapa harus ditanggapi atau diresponi dengan serius? Karena hidup sebagai orang percaya adalah hidup yang seharusnya hanya memiliki satu fokus yaitu berharap kepada Tuhan. Berharap kepada Tuhan itu bukan berarti perjalanan hidup kita sebagai orang bercaya akan berjalan mulus tanpa hambatan apapun, sebab dalam kebenaran ini kita juga sudah diingatkan pada kalimat sebelumnya bahwa,
Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, artinya hambatan masih tetap ada, persoalan masih tetap ada tetapi kita tahu benar kepada siapa kita berharap dan kita percaya. Di dalam berharap kepada Tuhan Fokus hidup orang percaya harus benar yaitu memiliki fokus hidup yang hanya ditujukan kepada Tuhan.
Orang percaya yang berharap kepada Tuhan dengan fokus hidup yang hanya ditujukan hanya kepada Tuhan, bukan berarti semata-mata hanya mengharapkan mujizat Tuhan dan berkat-berkat Tuhan yang bisa memenuhi setiap kebutuhan jasmani yang diperlukan, dalam hal ini makan minum dan segala kesenangan hidup. Tetapi fokus hidup sebagai orang percaya yang ditujukan kepada Tuhan adalah bagaimana kita bisa hidup hanya untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Jadi arah hidup setiap orang percaya seharusnya sudah tidak lagi tertuju kepada hal-hal yang menyangkut kepentingan diri sendiri, tetapi yang harus di dipikirkan oleh setiap orang percaya atau orang kristen adalah setiap langkah hidup kita, baik itu tindakan, perbuatan, perkataan, sikap hati, pikiran dan perasaan kita, semuanya itu hanya untuk menyukakan Tuhan atau dengan kata lain hidup kita harus sesuai dengan selera Tuhan.
Ketika pengharapan setiap anak-anak Tuhan hanya diarahkan kepada Tuhan, maka apapun yang Tuhan mau, apapun yang Tuhan kehendaki, apapun yang menjadi selera Tuhan, haruslah kita turuti, dan hal ini tidak mudah, itulah sebabnya Firman Tuhan katakan kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu hai semua orang yang berharap kepada Tuhan. 
Saat ini, Tuhan tahu apa yang menjadi pergumulan kehidupan kita, namun belajar memercayai jalan Tuhan. dan bersyukurlah senantiasa. Karena itulah yang dikehendaki Tuhan bagi kita semua. Hari ini, keluarga Bapak Ridwan mengucap syukur kepada Tuhan. Bukan karena keluarga ini tidak pernah diperhadapkan dengan pergumulan. Justru dengan ungkapan syukur inilah, keluarga mau menyaksikan bahwa tangan Tuhan tidak pernah meninggalkan mereka. Kasih setia Tuhan adalah untuk selama-lamanya. Amin.

Sabtu, 23 April 2016

TUHAN ALLAH PEMILIK ALAM SEMESTA

TUHAN ALLAH PEMILIK ALAM SEMESTA
MAZMUR 24:1-10

Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan,
Pada minggu yang terakhir ini kita masih membahas tentang hukum yang pertama. Kita mungkin masih mengingat pada khotbah minggu lalu, dimana dari sekian banyak oknum yang dianggap sebagai allah, yang pasti hanya ada satu Allah yang sejati, yang benar dan yang hidup. Dari sini mengantar kita untuk mengenal dan mengakui Tuhan Allah sebagai satu-satunya Allah.
Jika Allah hanyalah hasil dari imajinasi manusia, maka semua “allah” pastinya akan “diciptakan setara.” Dengan demikian, tidak ada “allah” yang dapat mengklaim bahwa ia lebih tinggi daripada yang lain. Inilah yang terjadi pada semua “allah” yang dibuat oleh manusia.
Pada zaman dahulu, manusia menciptakan “allah” bagi kepentingan mereka sendiri. Mereka membuat “allah-allah” ini dari kayu, batu, perak, emas dan lain sebagainya. Sekarang ini, dizaman yang serba modern, rupanya keberadaan allah lain pun mengalami banyak pergeseran.
Manusia modern berusaha menciptakan “allah-allah” yang tidak memiliki bentuk materi, seperti pada hobby, kepentingan diri, pada jabatan, kekuasaan dll. Ataupun wujud “allah lain” bisa saja muncul dari sesuatu yang ada disekitar manusia modern, seperti HP, tablet, Laptop dll.
Ingat saudara, bahwa Tuhan Allah pernah memperkenalkan diri kepada bangsa Israel melalui Musa dengan mengatakan: “Aku adalah Aku… beginilah kaukatakan kepada orang Israel: Tuhan, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub telah mengutus aku kepadamu: itulah namaKu untuk selama-lamanya dan itulah sebutanKu turun-temurun (Keluaran 3:14-15).
Lagi pula Allah menegaskan bahwa tidak ada allah lain dihadapanNya. Perintah ini penting untuk kita pahami di dalam keseluruhan hidup kita. Dengan kata lain hanya Tuhan Allahlah satu-satunya yang harus menjadi yang terutama di dalam segala hal. Dalam pemahaman inilah saya mengajak kita untuk merenungkan kebenaran penting yang dinyatakan Alkitab dalam mazmur 24.
Bapak/ ibu/ Sdr yang kekasih,
Sebelum kita mengupas lebih dalam akan Mazmur 24 ini.  Saya ingin memberikan sedikit latar belakang tentang keberadaan mazmur 24. Saudara, Mazmur ini seringkali dibacakan setiap hari Sabat di awal ibadah. Secara tradisi, mazmur ini dibagi menjadi 3 bagian yaitu ayat 1-2 berisi Pujian kepada Tuhan sebagai pencipta, ayat 3-6, lebih merupakan liturgy penerimaan peserta ibadah (hal ini sejajar dengan Mazmur 15). Kemudian pada ayat 7-10 berisi tanya jawab di pintu gerbang yang akan dilewati oleh Tuhan sebagai Raja Kemuliaan.
Cara pembacaannya adalah ayat 1-2 dibaca oleh umat, ayat 3 oleh liturgis, ayat 4-6 dibaca oleh umat, kemudian 7-10 dibaca bersama-sama (umat dan liturgis). Topik utama Mazmur 24 ini terlihat pada ayat 3. Dengan demikian, orang Yahudi mengangkat pujian ini sebagai pengantar ibadah. Mazmur ini merupakan pengingat apakah kehadiran kita di rumah ibadah layak atau tidak.
Namun saudara, walaupun Mazmur 24 ini tidak dibuat khusus untuk ibadah, tetapi merupakan refleksi khusus dari Daud terhadap peristiwa pemindahan tabut perjanjian dari Obed Edom ke Yerusalem.
Sidang jemaat yang kekaih,
Sekarang mari kita fokuskan perhatian kita pada ayat 1, dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah adalah penguasa dan pemilik langit dan bumi. Oleh karena itulah dikatakan “Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya dan dunia serta yang diam di dalamnya.” Dari yang paling kecil hingga yang paling besar. Dari semua yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata, seperti amuba sampai yang bisa dilihat oleh mata kita. Baik benda mati ataupun yang bernyawa. Baik binatang maupun manusia. Semuanya adalah milik Tuhan. Termasuk juga semua bahasa yang ada di bumi adalah milik Tuhan. Sekalipun secara kultural/ social-budaya bahasa adalah milik bangsa yang menggunakannya. Dibentuk sebagai hasil karya budaya. Namun secara teologi, semua bahasa adalah milik Tuhan. Semua bentuk keajaiban dan keunikan yang ada di dalamnya ada dalam kontrol Tuhan.
Bapak/ ibu/ sdr yang kekasih,
Allah tidak pernah menyatakan diriNya dengan segala kemegahanNya, sebaliknya Allah menyatakan diriNya kepada umat kesayanganNya sebagai Allah yang berkarya. Allah juga tidak meninggalkan ciptaanNya tetapi memelihara ciptaanNya. Ia tidak seperti tukang arloji yang setelah membuat sebuah arloji kemudian arloji itu akan berputar dengan sendirinya. Allah tidak demikian adanya! Sebaliknya Allah tetap ada melingkupi segala yang telah diciptakanNya. Namun, meskipun dosa sudah masuk dan merusak tatanan kehidupan ciptaan, tetapi Allah tetap menunjukkan pemeliharaanNya.
Ayat 1 dibaca oleh jemaat yang datang dan hadir dalam ibadah dengan kesadaran bahwa dunia ini dimiliki, dikuasai, dipelihara dan dijaga oleh Tuhan. Jika ada hamba Tuhan yang mengatakan bahwa dunia ini sudah dikuasai oleh setan hal tersebut tidak benar karena bertentangan dengan Alkitab.
Dunia ini masih milik Tuhan dan dijagai oleh Tuhan. Allah yang kita datangi untuk kita sembah dalam ibadah dalam ruang yang spesifik (ruang ibadah) sebenarnya kekuasaanNya lebih besar daripada sebatas ruangan ini. Kekuasaan Tuhan ada di seluruh jagat raya ini. Hal inilah yang harus dipahami oleh kita yang mau datang beribadah kepada Tuhan. Dia tidak bergantung pada ciptaan mana pun juga, melainkan secara mutlak bebas dari segalanya dan berdaulat atas segalanya. Pemahaman akan Allah bukanlah eksklusif, berada dalam kumpulan orang beriman saja, tetapi juga atas orang-orang tidak beriman, Allah berotoritas penuh.
Disisi yang lain penyataan ini juga merupakan peringatan berharga untuk tidak membatasi Allah, pada satu kota atau satu rumah, atau pada satu budaya dan satu tempat ibadah saja.
Dalam ayat 2 diungkapkan “Sebab Dialah yang mendasarkannya di atas lautan dan menegakkannya di atas sungai-sungai.” Ada dua kata penting dalam ayat ini, yaitu kata “mendasarkan” dan kata “menegakkan”. Kedua kata ini ditulis secara pararel yang menegaskan bahwa Yahweh adalah Tuhan sang pencipta. Dari sinilah kita melihat bahwa ada hubungan yang khusus antara Tuhan sejati dengan dunia yang kita tempati ini.
Hubungan itu tidak pernah kita pelajari dari ilmu pengetahuan tentang terjadinya dunia. Hubungan ini pun tidak kita kenali dengan melihat kepada alam ataupun kepada cakrawala. Sebaliknya kita hanya dapat melihatnya pada Alkitab, karena disanalah kita menemukan hubungan yang secara khusus dinyatakan Allah kepada manusia sebagai umat kepunyaanNya.
Bangsa Israel telah mengenali Allah, sebab Ia telah bertindak dan menyatakan Diri dengan membebaskan bangsa Israel dari Mesir dan mengadakan PerjanjianNya dengan Israel di Sinai. Berdasarkan hubungan yang khusus inilah maka penulis-penulis Alkitab berbicara tentang hubungan antara Allah dengan dunia pada umumnya. Dalam hal ini dikatakan bahwa Allah adalah pencipta alam semesta.
Bapak/ ibu/ Sdr yang kekasih dalam Tuhan.
Hakekat Allah itulah namaNya. Nama adalah hakekat diri, seperti apa kita menyapa dan menyebut Dia. Kalau kita menyebut Dia adalah Tuhan yang suci itulah hakekat Dia yang suci. Nama diri Allah berdiri sendiri. Karena itu Alkitab menjelaskan namaNya adalah Yahweh, Elohim atau Adonai. Tidak pernah dijelaskan dalam bentuk sambung kecuali pada istilah: “Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.” Karena itu saudara, jangan pernah kurung Tuhan menurut selera kita. Jangan kurung Tuhan dalam alam pikiran kita. Sebab itulah namaNya, nama yang sudah diperkenalkan sendiri oleh Allah kepada umat kesayanganNya untuk dikenalnya turun-temurun.
Dari sini kita pahami akan kebenaran teologis mengenai riwayat penciptaan itu yakni lebih berbicara mengenai hubungan antara Allah dan dengan dunia dan manusia secara khusus. Dengan kata lain, Ia mau memberitahukan di depan umum bahwa Dialah Tuhan yang sejati, dan bukan allah bangsa-bangsa lainnya. Dengan demikian pengertian tentang Tuhan diperluas, tetapi sekaligus dimulai suatu pergumulan yang hebat tentang kedudukan Tuhan diantara allah-allah lain. Hanya berkat kegigihan perjuangan para nabi sampailah Israel pada kesadaran bahwa Tuhan adalah yang Esa. Dialah pemilik langit dan bumi.
Sekarang dalam rangka menunjukkan jati diri orang-orang yang beribadah, pemazmur mengungkap-kannya dalam bentuk pertanyaan. “Siapakah yang boleh naik keatas gunung TUHAN? Siapakah boleh berdiri ditempat-Nya yang kudus?” Ayat 3.
Dengan kata lain siapakah yang layak berdiri di hadapan Allah yang begitu berkuasa? Pertanyaan ini dijawab di ayat 4, “Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan dirinya kepada penipuan, dan yang tidak bersumpah palsu.”
Perhatikan kata “Tangan yang bersih” ini mengacu kepada tangan yang bersih dari tindakan dosa yang lahiriah (Yesaya 1:15; 33:15; 1 Timotius 2:8). Sedangkan “Hati yang murni” mengacu kepada kekudusan batin, motivasi dan sasaran yang benar. Jadi saudara, hanya orang yang murni hatinya akan melihat Allah (Matius 5:8). Daud menekankan bahwa orang yang ingin menyembah dan melayani Allah dan menerima berkatNya harus mengusahakan hati yang murni dan kehidupan yang benar. Itu makanya di dalam susunan liturgy kita ada doa syukur dan pengakuan dosa. Kita bersyukur karena Tuhan sudah memelihara hidup kita dan kitapun pastinya tidak pernah luput dari kesalahan dalam kehidupan kita sehari-hari. Sehingga kita perlu mohon ampun kepada Tuhan sehingga kita dapat layak di hadapannya. Karena kita di hadapan Allah adalah manusia yang berdosa dan hina di hadapan Tuhan sehingga untuk kita bisa datang kepada Tuhan dengan mohon pengampunan dari Tuhan. Karena sangat jelas firman Tuhan berkata hanya orang yang bersih hatinya,murni hatinya dan tidak bersumpah palsu yang layak datang kepada Tuhan.   
Kaitannya dengan kita saudara,
Kita datang ke ibadah bukan sekedar untuk dibersihkan dosanya saja meskipun hal ini merupakan bagian dari liturgi juga. Kita memang perlu datang dengan menyadari dosa dan minta pengampunan atas dosa yang telah kita lakukan. Orang Yahudi datang beribadah dengan pengertian apa yang telah dijalani sebelum hari sabat ini menjadi bekal untuk bertemu dengan Tuhan.
Demikian pun dengan orang Kristen. Orang Kristen harus menjadi orang yang murni hatinya, tidak munafik, dan apa adanya. Meskipun hal ini terkesan mustahil bagi orang yang sudah ditebus dosanya oleh Kristus hal ini menjadi mungkin. Orang yang sudah ditebus hidupnya sudah dilayakkan dan dibersihkan oleh Tuhan. Pembersihan yang dilakukan oleh Tuhan ini harus terus dijaga dan dirawat dalam kesibukan sehari-hari.
Sebab bagi orang yang seperti itulah berkat Tuhan disedikan. Perhatikan ayat 5 saudara, “Dialah yang akan menerima berkat dari Tuhan dan keadilan dari Allah yang menyelamatkan dia.” Artinya saudara, yang menerima berkat dari Tuhan adalah orang yang mencari Dia (ayat 6) dengan “tangan yang bersih dan hati yang murni” (ayat 4). Kita harus ingat akan hal ini setiap kita berseru kepada Allah dalam doa, menyembah Dia di dalam Perjamuan Kudus.
 Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan.
Allah yang sudah menyelamatkan kita akan terus menuntun kita dengan keadilan dan berkat. Umat Allah yang diselamatkan adalah umat Allah yang menghargai keselamatan yang telah diberikan dan tercermin dalam kehidupan sehari-harinya. Hatinya tetap lurus dan tidak ada penipuan.
Kalau kita mau mempelajari bentuk ibadah orang Yahudi. Ibadah bagi orang Yahudi bukanlah sekedar variasi dalam kehidupan, tetapi merupakan keseluruhan hidup itu sendiri, seperti yang nyata dalam Roma 12:1 “karena itu saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Jadi ibadah bukan bagian yang terpisah yang boleh ada atau tidak. Atau soal sempat atau tidak! Tetapi ibadah adalah soal hidup kita. Karena itu ibadah harus ada dan menjadi bobot hidup orang percaya. Dalam hal ini, apakah kita layak bertemu dengan Tuhan dalam ibadah atau tidak?
Ibadah bukanlah penyucian diri. Artinya setelah kita berdosa kemudian kita datang beribadah untuk menyucikan diri. Tetapi ibadah adalah apa yang dikerjakan Allah dalam hidup kita harus dijaga dalam hidup yang nyata, yaitu kehidupan sehari-hari kita. Hal ini tidak mudah karena kita harus melawan arus dunia. Akan tetapi orang yang berjuang melawan arus dunia adalah orang yang layak bertemu Tuhan. Jadi seharusnya jika kita mengerti akan hal ini, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak datang beribadah kepada Tuhan.
Di akhir ayat 6 ada sela. Sela bagi orang Yahudi adalah berhenti sejenak dan sebagai waktu perenungan atau mencamkan dirinya apakah mereka orang yang layak di hadapan Tuhan atau tidak. Biasanya selama waktu sela ini, pemain musik memainkan peranan memainkan kecapi.
Sekarang kita masuk dalam babak ketiga dari mazmur 24 ini, yaitu ayat 7-10. Ayat-ayat ini menunjuk kepada Mesias karena Raja Kemuliaan itu adalah Tuhan Yesus (Yohanes 1:14). Siapakah raja kemuliaan? Bagi orang Yahudi, raja kemuliaan yang sudah memimpin mereka adalah ketika orang Yahudi keluar dari Mesir. Mesir saat itu adalah negara superpower dan tidak ada yang lebih hebat daripadanya, tetapi Allah mampu membebaskan bangsa Israel dan membawanya menuju tanah Kanaan. Bagi Daud musuh utama yang paling ditakuti oleh orang Yahudi adalah orang Filistin, akan tetapi bangsa Filistin pun bisa ditaklukkan dengan pimpinan Allah.
Bagi kita, raja kemuliaan adalah Yesus Kristus yang sudah menjelma menjadi manusia. Dalam diri-Nya ada kasih dan kebenaran yang hanya bisa ditemukan dalam diri-Nya. Tuhan juga menopang alam semesta ini (Ibrani 1:3). Bagi orang Israel raja kemuliaan adalah Allah yang menciptakan, menjaga, dan memelihara. Bagi kita raja kemuliaan adalah Yesus Kristus yang mampu mengalahkan kuasa dosa. Yesus datang mengalahkan kuasa dosa yang memperbudak kita. Karena dosa, kita tidak bisa melakukan perbuatan yang benar, tetapi karena kebangkitan Kristus kita bisa bebas dari kunkungan dosa.
Siapakah yang boleh beribadah kepada Tuhan? Mereka yang mampu memperlihatkan kuasa Kristus yang telah menyelamatkan dan terus memimpin hidupnya untuk menang dan berdiri tegak dalam kebenaran dan kemurnian.
Bagi orang Yahudi pintu gerbang adalah pintu gerbang Yerusalem yang dilalui umat Tuhan untuk menghadap tahta Allah. Tetapi bagi kita ketika Kristus sudah berkuasa atas hidup kita hati dan akal dibukakan oleh Yesus supaya kita bisa mendapatkan kebenaran yang lebih lagi bagi jiwa kita.
Bekal bagi kita untuk menjiwai ibadah kita hari demi hari adalah: pertama, kekuasaan Allah bukan hanya di antara orang-orang percaya saja, Tuhan berkuasa di seluruh dunia ini. Dunia ini masih berada dalam kekuasaan Allah. Ada campur tangan Allah dalam dunia ini. Semangat ibadah kita bukan hanya berada dalam ruangan ibadah saja tetapi juga di luar ruangan ini.
Relasi kita dengan Tuhan adalah relasi dari hati ke hati, relasi yang rohaniah. Relasi fisik juga penting tetapi bukan itu yang ditonjolkan. Kita tetap memerlukan fisik kita untuk memuji Tuhan, akan tetapi kerohanian kita memegang peranan penting.
Kedua, ibadah kita merupakan rangkaian kehidupan yang tidak pernah terputus. Perjalanan hidup kita adalah ibadah terhadap Tuhan. Hari-hari sebelum hari sabat juga bernilai berharga dan layak kita bawa ke hadapan Allah sebagai ucapan syukur, bahwa Allah yang kita puji merupakan Allah yang berkuasa dalam setiap waktu di hidup kita. Ada firman Tuhan yang hidup dan menyertai kita dalam setiap pergumulan hidup. Kemudian kita dengan kepala yang terbuka dan hati yang lapang menerima kebenaran firman lagi. Ibadah adalah garis lurus yang membentuk sejarah kehidupan kita.
Ketiga, orang yang beribadah kepada Tuhan adalah mereka yang berfokus mengandalkan Tuhan dalam setiap perjalanan hidupnya. Membawa firman Tuhan dalam kehidupan nyata bukan permasalahan yang sederhana. Kita harus bersandar penuh dalam kuasa Tuhan.
Keempat, Allah dimuliakan dalam kesempatan kita bersekutu bukan terbatas pada puji-pujian atau liturgi ibadah saja tetapi juga di luar liturgi kebaktian kita, di luar ibadah, dalam hidup sehari-hari. Allah yang kita sembah kita perkenalkan kepada mereka yang belum mengenal-Nya supaya mereka juga boleh mengenal Allah yang hidup melalui kita
Kekudusan adalah yang di minta Allah untuk dilakukan oleh umatNya. Kekudusan adalah hal yang mutlak dalam diri Allah, sehingga tidak mungkin Ia dihampiri oleh orang yang terus-menerus dengan sengaja mencemarkan diriNya dengan dosa. Pemazmur menggambarkan, orang yang boleh naik ke atas gunung Tuhan (hadirat Tuhan), haruslah seorang yang bersih tangannya dan murni hatinya. Istilah 'tangan' menunjuk pada perbuatan manusia dan istilah 'hati' menunjuk pada pusat seluruh pikiran manusia. Jadi kekudusan itu menyentuh dua aspek penting yang tidak dapat berdiri sendiri, yaitu perbuatan dan seluruh pikiran manusia.
Kekudusan diperoleh dari hubungan yang akrab dengan Tuhan, yang digambarkan oleh pemazmur sebagai orang yang senantiasa menanyakan dan mencari wajah Allah. "Itulah angkatan orang-orang yang menanyakan DIA, yang mencari wajahMU, ya Allah Yakub." (Mazmur 24:6). Saudara, kekudusan hidup, adalah hal yang sangat sulit dilakukan dalam proses pertumbuhan rohani seseorang, padahal kekudusan adalah unsur penting yang membuat seseorang bertumbuh secara progresif.
Kita masih sangat sering merasa tergoda melakukan hal-hal yang sebenarnya kita tahu persis itu salah. Tetapi karena tidak tahan, maka kita melakukannya juga. Memang diperlukan perjuangan dan kepekaan untuk bisa menang atas semua tipu daya iblis yang menginginkan kita untuk terus menerus berbuat dosa dan jatuh dalam dosa. Karena itu, langkah awal yang harus kita lakukan untuk menjaga kekudusan diri adalah dengan memenuhi pikiran kita dengan Firman Allah, sehingga semua yang kita lakukan dalam hidup ini hanya berlandaskan pada kebenaran FirmanNya, yaitu pikiran Kristus yang tercermin dalam pikiran kita. Oleh karena itu kita harus memiliki waktu untuk bersaat teduh atau mengadakan persekutuan pribadi dengan Tuhan sehingga firman yang kita renungkan itu menjadi rema dalam hidup kita dan memimpin kita di dalam terang firman Tuhan.
Iman kita memanggil kita untuk secara terus-menerus melepaskan apa yang menyita ruang dalam hati dan pikiran kita serta memperkenankan diri kita diisi oleh kebenaran firman Allah. Inilah yang harus kita pahami. Sebagai penguasa maka Dia memiliki semuanya. Semua bangsa memuji Tuhan dengan semua bahasa yang dimilikinya. Termasuk kita yang hadir pada saat ini. Kita memuji Allah, kita beribadah kepadaNya melalui bahasa yang kita bisa pahami. Itulah perspektif teologis kita.
Jangan pernah mengurung kebesaran Allah dalam otak kita yang sempit. Teologi adalah satu cara untuk mengenal Allah. Tetapi tidak boleh kita mengurung Allah dalam tembok pemahaman kita. Karena Allah jauh lebih besar dari itu. Tetapi mari kita memahami Dia sebatas apa yang Alkitab ajarkan kepada kita. Jangan pernah mengambil satu bagian dan mengabaikan yang lainnya. Kita harus melihatnya secara komprehensif. Termasuk tentang pengakuan kita kepada Tuhan yang adalah pemilik alam semesta. Yang secara khusus juga adalah pemilik hidup kita. Marilah kita menundukkan diri kita dibawah kehendakNya yang mulia. Amin.

Selasa, 05 Januari 2016

BERHARGA DI MATA TUHAN

BERHARGA DI MATA TUHAN
Mazmur 116:15


Sidang perkabungan yang kekasih,
Kebanyakan orang memiliki gambaran yang menakutkan tentang kematian. Sedapat mungkin orang berusaha menghidari kematian, karena kematian berarti perpisahan, kehilangan dan kedukaan.
Tetapi bagi orang yang percaya, kematian bukanlah akhir dari segala-galanya. Kematian bagi orang yang percaya justru merupakan awal dari kehidupan kekalnya.
Karena itu apa yang dikatakan oleh pemazmur dalam Mazmur 116:15, bahwa "Berharga dimata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya". Memberikan satu pemahaman yang baru bagi kita tentang kematian dari sudut pandang Tuhan. Di saat kematian datang, orang jarang merenungkan hal ini karena mereka mungkin larut dalam kesedihan.
Namun sebagai orang yang percaya, kita justru mendapatkan satu pemahaman yang lebih jelas, bahwa orang yang dikasihi Allah kematiannya sangat berharga di mata Tuhan. Disisi yang lain, hal ini juga menegaskan kepada kita bahwa berharganya manusia dimata Tuhan bukan saja saat manusia itu masih hidup di dunia ini, tetapi kematian manusiapun begitu berharga di mata Tuhan.
Kematian orang kudus atau kekasih Allah menjadi sesuatu hal yang bernilai, dihormati dan bahkan sangat mulia dalam pemandangan Allah.
Sidang perkabungan yang saya kasihi,
Sesuatu yang “berharga” pastilah bernilai tinggi. Meskipun demikian, ada makna yang lebih besar di sini. Ada sesuatu yang istimewa dalam kematian orang yang dikasihi Tuhan yang melampaui rasa dukacita kita atas kepergian mereka. Yaitu Allah menghormati ini sebagai sesuatu yang berharga.
Dalam hal inilah sidang perkabungan yang kekasih, melalui pembacaan ayat dirman Tuhan siang ini, setidaknya ada empat alasan mengapa kematian orang percaya itu menjadi berharga.

1. Kematian menunjukkan akhir dari pertandingan iman
Rasul Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus bahwa hidup ini merupakan pertandingan iman. Kita bagaikan seorang atlet yang bertanding. Seperti seorang petinju yang siap untuk bertanding, bagaikan seorang pelari yang siap berlari sampai finish.
Untuk dapat memenangkan pertandingan itu seorang atlet perlu untuk melatih dirinya dan menguasai dirinya. Seorang atlet harus berjuang agar dia dapat memenangkan pertandingan itu. Karena hidup ini merupakan perjuangan iman/ pertandingan iman sampai akhir hidup kita.
Oleh karena itu tidak salah apa yang dikatakan oleh pemazmur bahwa berharga kematian orang yang dikasihi Allah/ orang kudusnya. Allah menghargai perjuangan iman yang telah dilakukan orang kudusnya, Allah menghargai perjuangan iman/ pertandingan iman yang dilakukan orang yang dikasihinya sampai akhir hidupnya. 
Oleh karena itu, Allah menghargai dan memandang berharga kematian orang kudusnya karena hidup ini merupakan pertandingan/ perjuangan iman sampai akhir hidup manusia. Dan orang kudus Allah/ orang-orang yang dikasihi Allah memenangkan pertandingan iman itu.

2. Kematian mengakhiri penderitaan umatNya.
Disatu sisi penderitaan memang perlu bagi umat Tuhan, karena melalui penderitaan itu, umat Tuhan akan menjadi lebih dewasa dan lebih bergantung kepada Tuhan. Tetapi seperti yang dikatakan di dalam Ratapan 3:33, sebenarnya "...tidak dengan rela hati Ia menindas dan merisaukan anak-anak manusia." Tuhan sangat perduli terhadap penderitaan umatNya (Yesaya 63:9). Itu sebabnya kematian umatNya menjadi kematian yang berharga, karena penderitaan mereka berakhir.

3. Kematian membuka peluang bagi Tuhan untuk menyatakan kasih karuniaNya.
Sidang perkabungan yang kekasih,
Meskipun seseorang mengatakan bahwa ia berharap kepada tuhan, tetapi paling tidak masih ada sisi kemanusiaanya yang ia andalkan. Ketika seseorang sakit keras, keluarganya akan berpikir bahwa dokter adalah yang terbaik untuk menyembuhkannya, apalagi kalau keluarga itu termasuk keluarga yang kaya dan memiliki uang yang banyak, bahkan bisa membawa berobat keluar negeri. Tetapi kematian membawa manusia pada satu kesadaran, bahwa kemampuan manusia terbatas adanya. Dan disaat seperti itulah manusia belajar untuk bersandar kepada Tuhan dan mencari penghiburan dariNya, disitulah baru Tuhan nyatakan kuasaNya.
Allah menghargai perjuangan hidup manusia dalam menghadapi pertandingan iman sampai akhir hidupnya. Dan Allah menjanjikan mahkota yang abadi kepada mereka yang memenangkan pertandingan iman itu.

4. Kematian adalah pintu masuk untuk hidup bersama dengan Tuhan.
Sidang perkabungan yang saya kasihi dalam Tuhan
Hidup manusia hanya sementara, akan tetapi yang menjadi persoalan adalah bagaimana melalui kehidupan kita yang sementara ini kita mencari dan mendapatkan kehidupan yang kekal bersama dengan Allah. Bagaimana kita menebus waktu kita yang sementara ini untuk mendapatkan kehidupan yang kekal bersama dengan Allah.
Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Timotius, anak rohani dari Rasul Paulus bahwa latihan badani terbatas gunanya tetapi ibadah berguna dalam segala hal karena mengandung janji baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. Orang-orang yang dikasihi Allah melakukan hal ini, mereka menggunakan waktu hidup mereka yang sementara untuk mencari dan mendapatkan kehidupan yang kekal bersama Kristus yang adalah Juruselamat mereka.
Selama berada didunia, kemana pun pergi, Yesus hampir selalu bersama-sama dengan murid-muridNya. Tuhan senang hidup bersama umatNya. Ketika hendak naik ke sorga, Tuhan berkata, "...supaya ditempat dimana Aku berada, kamu pun berada" (Yohanes 14:3). Bahkan Tuhan Yesus sendiri pun pernah berdoa kepada Bapa, "Ya Bapa, Aku mau dimana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepadaKu, agar mereka memandang KemuliaanKu." (Yohanes 17:24).
Allah menghargai kehidupan manusia yang sementara dan akan menggantikannya dengan kehidupan yang kekal bagi orang yang dikasihi-Nya.
Kematian akan membawa kita kepadaNya. Marilah kita memandang kematian dari sudut pandang Tuhan, sehingga kita akan tabah dan tidak kehilangan sukacita ketika orang yang kita kasihi dipanggil Tuhan. Tuhan kiranya memberkati. Amin

Kamis, 27 Agustus 2015

ORANG BENAR DALAM PEMELIHARAAN TUHAN

ORANG BENAR DALAM PEMELIHARAAN TUHAN
Mazmur 73:1-28

Bapak/ Ibu yang kekasih,
Kita sering mendengar orang berkata: “Rumput tetangga selalu kelihatan lebih hijau.” Saudara, peribahasa ini kelihatannya singkat tetapi memiliki makna yang dalam. Peribahasa ini selalu dilontarkan saat kita mulai merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki. Saat kita mulai merasa iri hati melihat kondisi orang lain yang lebih mujur. Juga sebagai ungkapan saat kita mulai tidak lagi nyaman dengan segala sesuatu yang melekat dalam diri kita.
Pertanyaannya, mengapa perasaan iri hati, tidak puas, tidak nyaman seringkali muncul dari dalam diri kita? Mungkin jawabannya adalah karena sifat alami manusia yang selalu ingin lebih dibandingkan orang lain. Tetapi jawaban yang sesungguhnya adalah karena kuasa dosa yang sudah merasuk dalam kehidupan manausia, sehingga manusia tidak pernah merasa puas diri dengan apa yang telah Tuhan karuniakan kepadanya.
Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan
Hal yang sama pun sempat dirasakan oleh Pemazmur Asaf ketika ia melihat kehidupan orang-orang Fasik yang ada disekitarnya. Dia mengatakan bahwa hampir saja dia mengakui peribahasa diatas ada benarnya! Dimana memang rumput tetangga selalu lebih subur dibandingkan dengan rumput di rumahnya sendiri!. Dikatakan dalam ayat 2: “Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.”  Dalam terjemahan lain dikatakan: “Tetapi aku sudah bimbang, kepercayaanku hampir saja hilang,”
Saudara, kita melihat suatu pergumulan hidup yang cukup berat yang dirasakan oleh pemazmur. Bukan saja ketika ia melihat kenyataan hidup yang dia rasakan sulit untuk dimengerti. Tetapi juga saat ia melihat kehidupan orang Fasik yang jauh lebih makmur dari dirinya. Bahkan sempat terbersit dalam pikirannya bahwa Tuhan rasanya sedang bertindak tidak adil terhadapnya.
Bagaimana tidak! Dalam ayat 3-5 kita melihat bagaimana pemazmur menjelaskan kehidupan yang dirasakan orang-orang Fasik jauh lebih beruntung:
-        Kehidupan orang Fasik nampak lebih mujur dari kehidupan orang benar (ayat 3).
-        Mereka nampak senantiasa dalam kesehatan yang prima (ayat 4).
-        Rasanya tidak ada kamus kesusahan dalam kehidupan orang Fasik, apalagi terkena tulah (ayat 5).
Dengan kata lain saudara, orang yang notabene tidak taat melakukan firmanNya, yang berbuat dosa semaunya, yang tidak pernah takut melakukan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan, bahkan mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan justru nasibnya sangat baik.
Mereka bisa makan enak di rumah makan manapun dengan uang yang mereka dapat dengan cara yang tidak halal. Mereka bisa beli pakaian baru, mobil mewah, maupun rumah yang kokoh karena mereka punya uang yang didapat dengan hasil korupsi. Mereka kerja sedikit, dengan tidak mencucurkan keringat, namun hasil yang didapat sangat banyak. Justru nampaknya hidup mereka tidak pernah susah.
Sebab itu pemazmur cemburu! Ini jelas-jelas kehidupan yang tidak adil baginya. Saudara bisa kita bayangkan, kita yang mati-matian kerja secara jujur, kita berusaha menghemat sedemikian rupa agar apa yang kita dapat cukup untuk memenuhi kehidupan kita. Kita berusaha hidup benar sesuai dengan firman Tuhan. Mungkin teman-teman kita juga hanya sedikit dibandingkan mereka yang tidak beriman, toh kita masih disalah mengerti dan dianggap sok suci.
Kita berusaha selalu berani mengatakan kebenaran dan menegor saat teman kita berbuat dosa, eh kita malah dibenci dan dikucilkan. Kita berusaha mendapatkan harta dengan cara yang jujur, nyatanya untuk menikmati hasilnya pun sangat lama kita dapatkan. Ibaratnya kita mati-matian hidup untuk Tuhan, justru malah lebih susah! Bagaimana Pemazmur tidak akan menjadi putus asa jika melihat kenyataan yang demikian? Bahkan dia mengatakan hampir saja terpeleset dan tergelincir dalam dosa, ketika ia melihat kenyataan dari sudut pandangnya.
Belum lagi saat melihat kemakmuran mereka yang tidak takut Tuhan, justru menjadikan mereka lebih sombong. Mereka menyindir kehidupan anak-anak Tuhan, mengata-ngatainya dengan jahat, bahkan mereka berani menantang Tuhan yang menjadi pemelihara orang pilihanNya, dengan berkata: “Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?” (Ayat 11).
Kalau kita melihat saudara, bisa dipastikan bahwa pemazmur sedang dalam kondisi depresi rohani berat sehingga kenyataan hidup yang demikian membuatnya jadi tawar hati dan cemburu kepada orang-orang fasik yang makmur kaya, gemuk dan sehat-sehat padahal mereka menghujat Allah. Sedangkan dia yang menjaga hidupnya dalam kekudusan dan takut akan Allah malah menderita dan sengsara.
Saudara bukankah hal yang wajar jika pemazmur cemburu dengan kenyataan yang memilukan seperti itu. Tidakkah salah jika ia mengatakan “sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah” (ayat 13). Karena kenyataannya sepanjang hari dia selalu yang lebih menderita. Sepertinya dunia ini sudah terbalik.
Namun saudara, disatu sisi, untuk mengakui hal diatas, pemazmur masih punya rasa malu terhadap anak cucunya. Mungkin ia akan dianggap sebagai seorang pengkhianat yang telah menghujat Tuhan. Tetapi disisi yang lain, ia sendiri tidak mengerti mengapa Tuhan mengijinkan nasib anak-anakNya lebih sulit untuk dijalani. Mengapa? Mengapa saudara?
Bapak/ ibu yang kekasih,
Memang tidak mudah menjalani hidup seperti yang Tuhan mau. Terlebih ketika kita hidup ditengah-tengah orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Rasa-rasanya kita ingin berontak kepada Tuhan, dan berkata kepada Tuhan, bukan itu yang saya mau!
Bukankah pergumulan semacam ini juga seringkali dialami oleh banyak orang percaya? Namun tahukah saudara, bahwa Allah menjanjikan suatu berkat kepada mereka yang mampu bertahan dalam penderitaan, seperti yang dijanjikanNya dalam Yakobus 1:12: "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia."
Nyatanya saudara, Tuhan tidak pernah membiarkan kita bergumul sendirian. Kenyataannya, tidak ada yang sia-sia jika kita hidup benar di hadapan Tuhan, karena "Mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar" (Mazmur 34:16a). Sebab pada saatnya nanti, orang-orang fasik akan menuai apa yang telah mereka perbuat. Dan orang-orang benar akan melihat kesudahan orang-orang fasik yang akan menerima penghukuman (ayat 18-20).
Saudara, Tuhan memang sengaja mengijinkan kita masuk dalam penderitaan dan bersusah payah untuk mendapatkan sedikit rejeki dan kesenangan, karena Dia ingin supaya kita dapat semakin kuat baik secara iman maupun pengenalan kita akan Dia.
Menjadi orang Kristen adalah berani pikul salib, dan salah satu aplikasi tindakannya adalah kita siap hidup jujur namun menderita untuk meneladani Tuhan. Tuhan mengasihi saudara dan saya. Oleh karena itu Dia mendewasakan kita dengan tekanan hidup dan keadaan yang tidak menyenangkan. Tuhan ingin kita menjadi orang Kristen yang kokoh, bukan orang Kristen yang manja dan rapuh. Karena itu saudara, apapun masalah dan tekanan hidup yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita saat ini, jangan pernah menjadikan kita kehilangan iman dan pengharapan kepadaNya.
Karena itu,
Pemazmur pun terperanjat ketika Tuhan membentangkan jawaban atas kegalauan hatinya. Dalam ayat 18-20 kita dapat menyimpulkan bahwa masalah hidup yang sesungguhnya bukan hanya soal kesenangan di dunia, tetapi kesenangan di akhirat.
Jadi untuk apa kita banyak memiliki segala sesuatu di dunia ini jika semua yang kita miliki tidak diberkati Tuhan? Bukankah lebih baik, kita tetap bersyukur dengan segala kondisi yang Tuhan ijinkan kita alami, tetapi kita tetap dijamin sampai kehidupan di akhirat nanti.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Kemujuran orang fasik dan penderitaan orang saleh memang selalu menjadi persoalan bagi orang-orang beriman. Dengan dalih kita ini masih hidup di dunia, seharusnya kita setidaknya dapat mengejar apa yang bisa kita nikmati sekarang. Masalah akhirat nanti kita bicarakan kalo sudah mati?
Permisi tanya saudara? Bisakah kalo seseorang yang sudah mati memikirkan sesuatu? Saya rasa, jangankan memikirkan akhirat, memikirkan mau beli peti yang mana saja tidak mungkin ia bisa memilih, betul?
Untuk itu mari kita berpikir yang panjang, karena pikiran yang panjang adalah pikiran yang bijaksana. Dalam hal inilah, Pemazmur dibukakan mata rohaninya untuk kembali melihat kasih Allah dalam hidupnya.
-        Ia sadar atas kebodohan yang dilakukannya (ayat 21-22).
-        Ia sadar bahwa dalam segala keadaan Tuhan tetap bersama dengan dia, walaupun kelihatannya tidak masuk akal (ayat 23a).
-        Ia yakin sepenuhnya bahwa Tuhan akan mengangkat dia dan memberikan kemuliaan bagi dirinya (ayat 23b).
-        Ia sadar bahwa dia terbatas dalam memahami kedaulatan Allah tetapi dia mau tetap taat beribadah kepada Allah (ayat 21-24).
-        Ia sadar bahwa tujuan hidupnya adalah merindukan Allah, baik di bumi dan di surga bukan soal materialisme atau hedonisme (ayat 25).
-        Ia sadar bahwa kesakitan dan kematian tidak bisa memisahkan diri-Nya dengan Allah selama dia tetap setia dan taat (ayat 26).
-        Ia sadar bahwa dekat kepada Allah adalah kesukaannya dan perlindungannya adalah Allah supaya dia dapat menjadi saksi Allah (Ayat 28).
Sidang jemaat kekasih,
Tuhan diakui baik oleh Pemazmur bukan karena dia telah dibebaskan dari penderitaannya, bukan pula karena telah dianugerahi harta dunia, melainkan karena anugerah keakraban hidup dengan Allah dan perlindungan yang dapat dialaminya. Pengalaman dekat dengan Allah inilah yang memungkinkan pemazmur mengakui keadilan Allah yang sesungguhnya (ayat 27-28). Karena itu ia berani menyimpulkan satu hal bahwa: “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya” (ayat 1).
Dengan demikian Bapak/ ibu yang kekasih,
Biarlah Mazmur ini menjadi peringatan buat kita untuk tidak bertindak buru-buru mengambil kesimpulan bahwa Tuhan tidak baik atau tidak adil. Tetapi biarlah kita semakin bijak dalam menilai kehidupan ini dan tetap memegang janji Tuhan. Bahwasanya Orang benar selalu ada dalam pemeliharaan Tuhan.
Sebab semua yang ada dalam dunia ini adalah milik Tuhan. Semua yang terjadi dalam kehidupan ini pun terjadi atas seijin Tuhan. Untuk itu jangan ragu akan janji Tuhan dan jangan keliru dalam memahami Allah.
Apa pun keadaannya, biarlah kita senantiasa menjaga hubungan kita dengan Tuhan. Saat kita makin melekat pada Tuhan bukan berarti keadaan kita langsung berubah seketika, tetapi justru kita sendiri yang akan diubahkan oleh Tuhan. Kita akan diangkat masuk ke dalam kemuliaanNya. Oleh karena itu jangan pernah iri hati kepada keberhasilan orang-orang di luar Tuhan. Amin.