Tampilkan postingan dengan label Ulangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 31 Juli 2016

MENERAPKAN HUKUM KEENAM DALAM KEHIDUPAN PRAKTIS

MENERAPKAN HUKUM KEENAM DALAM KEHIDUPAN PRAKTIS
Keluaran 20:13; Ulangan 5:17


Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan,
Pada minggu ini kita masih membahas tentang hukum keenam, yaitu mengenai hukum “Jangan Membunuh”. Kalimat tentang Hukum ini sangat singat, hanya dua kata. Namun Hukum ini memiliki makna yang sangat luas dalam penerapannya. Pada minggu lalu Ev. Ozi sudah menjelaskan begitu panjang lebar mengenai hakekat dari hukum keenam ini. Bukan hanya sebuah tindakan nyata tentang menghilangkan nyawa seseorang, tetapi hal lain yang sama hakekatnya dengan membunuh diantaranya: kemarahan, mengatai orang lain kafir, dan tindakan jahil (Matius 5:21-22). Karena itu Hukum keenam ini bukan hanya berbicara soal tindakan fisik mengenai larangan pembunuhan. Tetapi juga berkaitan dengan niatan, perkataan, yang mematikan mental dan spiritual seseorang.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Perintah Allah “Jangan membunuh” ini menyadarkan kita, betapa berharganya hidup atau nyawa manusia di hadapan Tuhan. Saudara, Hidup itu kudus, itu adalah anugerah Allah. Pada saat Allah menciptakan manusia, Allah menciptakannya menurut peta gambar-Nya (Kejadian 1:27). Saat permukaan bumi diselimuti kabut, Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan Ia menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kejadian 2:7). Dengan demikian, Allah adalah sumber dan pemberi hidup manusia. Maka hak atas hidup manusia adalah milik Allah sendiri. Hanya Allahlah yang berhak mengizinkan, menunjuk, atau menetapkan untuk mengakhiri hidup seseorang. Mengapa? Apa yang membuat Allah berhak melakukan itu? Karena Dialah sang Pencipta dan Pemberi kehidupan. Tanpa pribadi Allah sudah tentu tidak ada yang namanya kehidupan. Oleh sebab itu, hanya Dialah yang memiliki hak atau otoritas untuk mengambil nyawa dan melakukan apa pun sesuai dengan kehedak-Nya. Jadi saudara, hak untuk menentukan hidup dan mati seseorang bukan berada di tangan manusia, tetapi berada di tangan Tuhan. Tuhan sendirilah yang berdaulat atas kehidupan dan kematian manusia. Oleh karena itu manusia, tidak memiliki hak untuk menentukan hidup atau mati baik bagi dirinya sendiri maupun bagi sesamanya.
Namun kalau kita melihat dalam kehidupan sehari-hari, mengapa banyak sekali terjadi kasus pembunuhan. Baik itu pembunuhan yang tidak terencana sampai pembunuhan terencana. Mulai dari yang biasa, sampai pada tingkat yang paling sadis. Bukan hanya melibatkan anak-anak akan tetapi lebih kepada orang dewasa. Bukan hanya diperkotaan besar, tetapi juga di pedesaan terpencil pun kasus ini ada. Mengapa saudara? Jawabannya adalah, karena kejatuhan manusia dalam dosalah sehingga manusia pada akhirnya salah dalam menilai soal kehidupannya. Dipikirnya dia berhak menentukan kehidupannya sendiri dan orang lain. Padahal hakekatnya tidaklah demikian.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Secara umum kita melihat, bahwa semua kasus pembunuhan terjadi karena merasa dirinya lebih pantas hidup di dunia sementara orang lain tidak pantas hidup di dunia; atau kehadiran orang lain telah mengganggu keberadaan dirinya sehingga ia meniadakan orang itu. Pembunuhan biasanya dipicu oleh pikiran yang dipenuhi amarah. Kemarahan bertumbuh menjadi sikap benci yang berakhir dengan tindakan membunuh. Itulah dosa! Yakobus 1:15 berkata: “Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Jadi saudara, perbuatan dosa yang dipupuk terus-menerus, bukan saja melahirkan maut bagi dirinya, tetapi juga bisa berakibat kematian bagi orang lain. Itulah pembunuhan. Lagi pula “setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya” (1 Yohanes 3:15).
Itu sebabnya, setelah Allah memberikan perintah untuk menghormati orang tua, segera disusul dengan perintah jangan membunuh. Dimana manusia tidak boleh membunuh sesamanya karena yang menetapkan nilai setiap manusia bukanlah manusia, melainkan Allah sendiri. Hidup seharusnya patut dipelihara dan jangan dihancurkan. Sebab hidup itu berasal dari Allah, dan apa yang telah dikaruniakan Allah pada manusia haruslah dipeliharanya dengan baik. Jadi pada prinsipnya, melalui perintah jangan membunuh ini, Allah memerintahkan kita supaya kita menghargai kehidupan yang Allah berikan.
Bapak ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Pembunuhan banyak dimengerti adalah sebuah tindakan meniadakan nyawa dan kehidupan seseorang. Di dunia ini, bagi pembunuh akan ada hukum yang menghakiminya. Sebab inilah buah dari dosa! Kita melihat efek dari kejatuhan manusia ke dalam dosa secara langsung adalah tindakan pembunuhan, yaitu saat Kain membunuh Habel (Kejadian 4:8).  Dosa bukan hanya merusak kehidupan Adam dan Hawa, tetapi dosa juga merusak keluarga dan seluruh keturunannya. Inilah yang disadari Kain, dimana saat ia sadar telah jatuh dalam dosa, ia diliputi suatu ketakutan besar. Bayang-bayang dosa terus-menerus mengejar dan menuntutnya sehingga menghilangkan damai sejahtera hatinya. Hal ini menyebabkan Kain hidup dalam ketakutan, kalau-kalau orang lain pun akan membunuhnya ketika mereka bertemu dengannya. Karena itu saat ia dihukum oleh Allah, ia memohon belas kasihan Tuhan agar Tuhan melindungi nyawanya (Kejadian 4:14-15). Dengan demikian saudara, bukan kitalah pencipta hidup kita, pencipta kita adalah Tuhan Allah. Jadi hidup kita bukanlah milik kita tetapi milik Allah (Kisah Para Rasul 17:24-25). Lagi pula Ayub mengatakan, ”Tuhan memberi, Tuhan yang mengambil” (Ayub. 1:21), Dia sajalah yang berhak mengambilnya dan kemudian menghakiminya (Ibrani 9:27).
Alkitab melalui Hukum Taurat mengajarkan bahwa Tuhan dapat memakai manusia sebagai alat untuk menghukum ciptaan-Nya, termasuk menghukum mati sesamanya. Hukum Taurat mengatur hukuman mati bagi para pezinah, pembunuh sesamanya dan pembunuhan dalam peperangan. Semua peraturan ini jelas sehingga tidak bisa ditafsirkan dengan sembarangan.
Allah memberikan hak otoritas terhadap pemerintah untuk mengatur sebuah negara. Izin untuk menghukum diberikan kepada para pemimpin umat berdasarkan keterangan para saksi yang dapat dipercayai. Karena itu Perjanjian Baru menegaskan bahwa tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada di tetapkan oleh Allah. Dalam Roma 13:1-7 dijelaskan jika ada bangsa lain yang mencoba untuk memasuki wilayah kekuasan negara kita untuk mencelakakan dan menghancurkan, maka tugas dari para pemimpin bangsa kita adalah mengambil tindakan militer untuk melawan mereka. Jadi membunuh berbeda esensinya dengan memberikan hukuman mati.
Terkadang orang Kristen berpikir, bahwa membunuh untuk membela negara merupakan perbuatan yang salah. Karena itu, sangat jarang dalam keluarga Kristen, khususnya di Indonesia, yang menganjurkan anak-anaknya masuk dalam sekolah Militer. Terlebih lagi, negara kita sendiri tidak mengharuskan setiap warga negaranya untuk wajib militer. Tetapi ketika seorang Kristen dipanggil untuk melayani negaranya dalam angkatan darat atau laut atau udara, untuk sebuah alasan yang benar, dan negara menugaskannya untuk membela dari ketidak-benaran hingga harus membunuh, maka hal itu sama sekali tidak melanggar perintah keenam. Sebab ia sedang mengemban tugas negara yang menjadi wakil Allah. Dengan demikian, Tuhan memberikan izin untuk membunuh para penjahat bukan sebagai bentuk tindakan pembunuhan, melainkan sebuah penghukuman.
Hal yang lain saudara dalam kehidupan keseharian kita, kita menemukan ada banyak kasus-kasus yang berkaitan dengan hukum keenam ini. Yang walaupun ada banyak pro kontra di dalamnya mengenai penggunaan etika Kristen. Tetapi bagi kita yang tunduk terhadap firman Allah, kita harus kembali kepada apa yang dikatakan oleh Alkitab. Sebab Alkitablah dasar pijakan kita untuk beretika. Sehingga masalahnya bukan lagi boleh atau tidak, masalahnya harus dilihat apakah tindakan itu benar atau tidak menurut firman Tuhan.
Kasus Selfi. Rasa-rasanya di zaman ini, tidak ada orang yang tidak pernah selfi. Terlebih lagi sekarang marak HP Smartphone yang canggih dengan resolusi kamera yang bagus, membuat orang tergila-gila dengan selfi. Berfoto selfi memang baru ngetrend tahun 2014 yang lalu. Bukan hanya dengan menggunakan tangan lalu memotret diri, sekarang ini juga marak penggunaan “Tongsis” = tongkat narsis. Bagi ibu-ibu yang sudah lanjut, mungkin berkata: “Itu kan hanya dilakukan anak-anak muda, kita tidak mengerti menggunakan HP.” Pertayaannya betulkah mereka tidak pernah selfi? Saya rasa tidak! Saat mereka berdandan, mereka menata diri mereka di depan cermin, pasti satu atau dua kali, mereka senyum-senyum sendiri dan mengambil gaya untuk memastikan apakah dandanan mereka sudah rapi atau belum. Itu juga selfi. Terlebih lagi, kalau kita kaitkan dengan kehidupan kita saat ini, rasanya hampir semua orang pernah narsis. Mengambil gambar diri dengan pose atau gaya tertentu lalu kita upload ke media social melalui gadget kita, itulah narsis. Nampang gaya walaupun duit lagi krisis, itu juga “Narsis”. Tapi masalahnya, apakah tindakan yang demikian dibenarkan?
Dalam 2 Timotius 3:1-2 dijelaskan, “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama….” Apa yang saya mau katakan, inilah kondisi zaman sekarang. Dan kondisi zaman sekarang sudah dinubuatkan akan terjadi demikian. Termasuk juga selfi, dimana orang yang hidup di zaman akhir akan lebih mencintai dirinya sendiri. Orang yang selfi biasanya ia lebih menyukai penampilan diri sendiri. Egosentris sangat nampak dari tindakan selfi atau narsis. Terlebih ketika ia mengunggahnya di media social. Secara umum mereka mau berkata: “Ini aku, aku lebih cantik…, lebih ganteng…, lebih keren…, lebih berani...” Sehingga tidak jarang orang bukan saja selfi dalam kadar yang biasa-biasa saja. Tetapi terkadang mereka berani menantang maut, dengan harapan ia bisa menjadi orang paling berani. Makanya tidak heran, jika ada orang yang berselfi di Menara-menara tinggi, bibir-bibir tebing dengan memperlihatkan pemandangan belakang sebuah jurang. Untuk apa? Selain dalam hati kecilnya berkata bahwa saya ini sedang sombong.
Bapak/ ibu yang kekasih, kapan pun orang Kristen berpikir tentang “bermain-main dengan kematian” atau tentang tindakan-tindakan “berani mati” untuk sesuatu yang konyol jelas merupakan pelanggaran terhadap hukum ini. Terlebih lagi jika motivasinya untuk menunjukkan “keakuannya” lebih hebat. Sebab secara tidak langsung ia bermain-main dengan kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Jadi, haruskah kita takjub dengan berselfie ria yang populer di zaman sekarang? Saya rasa tidak perlu! Hal ini justru seharusnya semakin mengingatkan kita kembali bahwa kita sudah-sungguh-sungguh berada di zaman akhir. Bukan hanya photo selfie yang populer, tetapi juga tindakan acuh tak acuh untuk hal-hal rohani (agama), membual, menyombongkan diri, berontak terhadap orang tua dan sebagainya. Maka dari itu, pertanyaannya bukanlah “apakah selfi diperbolehkan atau tidak?” Tetapi pertanyaannya adalah: Berfoto selfi untuk apa? Orang yang sudah lahir baru, yaitu yang sudah sungguh-sungguh bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya tentunya tidak akan mengundang bahaya terhadap dirinya.
Kasus bunuh diri. Kita tidak hanya dilarang membunuh orang lain, perintah ini juga melarang kita untuk bunuh diri. Bunuh diri sama salahnya dengan membunuh orang lain. Biasanya seseorang berencana untuk bunuh diri karena kehidupan yang dijalaninya seakan sangat berat baginya. Sesuatu yang sangat menyedihkan telah menimpanya atau ia harus hidup tanpa seseorang atau sesuatu yang rasanya harus ia miliki.  Sehingga ia lebih memilih untuk berhenti hidup daripada hidup didalam keadaan yang sedang ia jalani. Saudara, dimedia massa kita banyak melihat kasus-kasus seperti ini, karena keinginannya tidak dipenuhi orangtua, seorang anak menggantung dirinya. Karena diputuskan oleh pacarnya, seorang pemuda nekad terjun dari Tower BTS. Karena suaminya tidak peduli dengan kehidupan keluarga, seorang isteri mengakhiri hidupnya dan anak-anaknya dengan menenggak racun. Dan masih banyak kasus-kasus yang lain. Mengapa ini terjadi? Karena hakekatnya mereka tidak mengerti esensi sebuah kehidupan yang dianugerahkan Tuhan.
Ketahuilah saudara, ketika seseorang memilih untuk bunuh diri, berarti ia memilih untuk tidak menerima apa yang Allah tetapkan bagi dirinya.  Jadi membunuh, baik membunuh diri maupun membunuh orang lain, terjadi karena salah menilai hidup.
Paulus berkata: “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan Hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20). Dari sini kita mengerti bahwa kehidupan kekristenan yang kita jalani bukan lagi soal ini hidupku. Tetapi soal pemahaman bahwa hidup yang kita jalani bukanlah milikku sendiri, sebab Tuhan Yesus telah mati bagi diriku, untuk menyelamatkanku. Itu sebabnya, bagaimanapun susahnya hidupmu, begitu banyak hal yang tidak dapat engkau capai, begitu banyak kesulitan yang engkau hadapi, engkau tetap harus hidup. Jangan pernah mempunyai pikiran untuk bunuh diri. Niat bunuh diri itu datang dari Iblis yang selalu mau melecehkan manusia, ciptaan Tuhan yang diciptakan menurut peta gambar-Nya. Di sini kita melihat bahwa konsep dan pengertian orang Kristen sangat berbeda dari semua ajaran agama dan pikiran orang sekuler yang belum mengenal firman Tuhan. Karena itu jika kita sungguh-sungguh mengerti bahwa kita adalah anak-anak Allah, jauhkanlah segala pikiran konyol yang berniat untuk mengakhiri hidup.
Kasus Aborsi. Kasus aborsi merupakan dilema besar yang tentunya tidak mudah untuk dipecahkan. Karena mencakup bermacam-macam aspek: legal, teologis, etis, sosial dan personal. Di dalamnya ada yang pro dan kontra dalam penilaian etis terhadap kasus aborsi ini. Membunuh bayi belum lahir sama saja dengan Child Abuse. Membunuh bayi cacat atau kaum dewasa yang menderita bukan menghindarkan dari kesengsaraan manusia, melainkan menyebabkan penderitaan kematian. Karena itu Alkitab dengan tegas melarang umat-Nya melakukan pembunuhan sebab hal yang demikian adalah kejahatan di mata Tuhan (Keluaran 20:13).
Aborsi yang dilakukan biasanya atas pertimbangan tidak mau menerima anak karena aib, tidak siap menerima anak, atau karena hanya cacat, jika hal ini dilakukan maka bertentangan dengan kebenaran. Karena baik Alkitab maupun gereja memberikan nilai sama antara bayi yang masih ada di dalam kandungan dengan manusia yang sudah dewasa atau manusia yang sudah hidup di dunia. Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa kehidupan sudah dimulai pada saat konsepsi (pembuahan benih dalam kandungan), dalam Matius 1:20 dituliskan bahwa Yesus dikandung oleh Roh Kudus, dengan demikian Yesus sungguh-sungguh menjadi manusia yang seutuhnya pada saat konsepsi. Aborsi merupakan dosa yang mengerikan. Bahwa merupakan suatu keberanian kita sebagai manusia yang fana ingin berperan sebagai Allah untuk mencabut nyawa manusia. Orang-orang yang melakukannya bukan saja membunuh hidup melainkan menentukan siapa harus hidup.
Dalam Keluaran 21:22-24 dipersoalkan tentang kasus pengguguran (Aborsi), khususnya mengenai kasus kecelakaan seorang wanita yang sedang mengandung, yang terlibat dalam perkelahian antara dua orang laki-laki, apabila si ibu hidup dan kandungannya gugur, maka orang tersebut harus ganti rugi, tapi kalau ibu itu mati dan kandungannya juga gugur, maka hukumnya adalah nyawa ganti nyawa. Dalam hal ini ternyata orang Yahudi sangat menghargai hidup.
Memang tidak ada label harga pada hidup manusia. Akan tetapi Allah menilai manusia yang diciptakan-Nya itu segambar dengan-Nya. Sebelum Allah menciptakan manusia, Ia berkata, “Marilah kita menciptakan manusia menurut peta teladan Kita” (FAYH Kejadian 1:26). Maka diciptakan-Nya laki-laki dan perempuan seturut peta gambar-Nya. Tidak ada dan tidak mungkin ada agama yang mengajarkan seperti ini. Dari sini kita melihat bahwa Manusia memiliki nilai yang sangat berharga di mata Allah dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lain. Manusia memancarkan dan merefleksikan kemuliaan dan kehormatan Allah. Sejak sebelum hukum keenam diberikan, Tuhan sudah mengizinkan manusia untuk makan daging binatang. Allah tidak mengizinkan manusia membunuh manusia, tetapi mengizinkan membunuh binatang. Manusia yang membunuh sesamanya jauh lebih kejam dari binatang. Tuhan Yesus dalam pelayanan-Nya pernah berkata, “Apa gunanya seorang memperolah seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36). Disini mau ditegaskan bahwa nyawa manusia lebih berharga daripada apapun di dunia ini (Matius 6:26). Oleh karena itu, Tuhan mengajarkan kepada manusia untuk menghargai sesamanya, mulai dari menghargai orang tua, lalu menghargai semua orang lain.
Akhirnya tidak ada alasan bagi kita untuk melegalkan tindakan aborsi. Aborsi adalah pelanggaran terhadap hukum Allah, dan Allah sangat membenci tindakan seperti itu. Aborsi hanya dapat dilakukan dengan syarat, membahayakan nyawa ibunya karena janin di dalamnya tidak bertumbuh, dan bayi di dalam kandungan dinyatakan sudah mati, selain itu tidak boleh diaborsi. Jika akibat dari pemerkosaan, maka tugas gereja adalah melakukan pelayanan pastoral pendampingan bagi ibunya. Calon bayi yang ada di dalam kandungan sudah ada nyawanya sejak proses pembuahan, maka membunuh calon bayi sama dengan membunuh manusia lainnya.
Kasus Pembunuhan Mental. Pembunuhan juga bukan hanya secara fisik, tetapi juga dapat dilakukan dalam bentuk mematikan mental, karakter, masa depan, kepribadian seseorang. Itulah fitnah! Minggu yang lalu Ev. Ozy sudah menjelaskan point ini. Namun saya ingin menambahkan sedikit.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Fitnah adalah tuduhan yang tidak mendasar. Tindakan ini sama dengan bersaksi dusta terhadap sesama. Pembunuhan yang tidak langsung kepada fisik tetapi bisa mengarah kepada mematikan karakter seseorang, nampak dalam perkataan atau sikap: menghina, memfitnah, membenci, bersaksi dusta, menghakimi, iri hati. Begitu juga dengan menahan hak atau fasilitas, jabatan serta menempatkan orang pada garis depan untuk mengalami kehancuran. Kita mungkin sering mendengar sebuah frasa yang berkata: “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” Di satu sisi ada benarnya. Sebab penganiayaan melalui tekanan terhadap jiwa seseorang, bisa membuat orang menjadi kecewa sampai akhirnya bunuh diri. Ada yang dibunuh karena keteledoran orang lain atau karena orang lain tidak mau direpotkan. Sungguh suatu tindakan kebodohan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, ketika kita menilai orang lain lebih rendah dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, Alkitab memerintahkan kita untuk jangan membunuh. Perintah keenam menyerukan kepada kita untuk memperhatikan sesama, bukan hanya kehidupan Kristen dan sahabat-sahabat Kristen kita sendiri. Perintah ini menyerukan kepada kita agar memiliki kepedulian yang cukup kepada sesama sehingga kita akan melakukan sesuatu mengenainya. Kiranya dengan mengenal nilai manusia terlebih dahulu, lalu kita mengetahui batasan hak yang kita miliki, kita bisa meminta kepada Tuhan untuk memberikan kita kasih, menjauhkan kita dari rasa benci, iri hati, dengki, dan dendam – api yang menghancurkan baik diri kita maupun orang lain. Kita dituntut untuk tidak merendahkan derajat manusia dan merampas darinya kehidupan yang penuh dan kata sebagaimana yang dikehendaki Allah untuk dinikmati olehnya. Kiranya Tuhan memimpin dan menolong hidup kita. Amin.

Sabtu, 02 Juli 2016

HORMATILAH AYAHMU DAN IBUMU

HORMATILAH AYAHMU DAN IBUMU
Keluaran 20:12
(Ulangan 5:16)


Sidang jemaat yang saya kasihi dalam Tuhan
Pada minggu pertama bulan Juli ini kita akan membahas bagian kedua dari sepuluh Hukum Allah. Dimana bagian pertama berisikan Hukum ke 1-4 yang menjelaskan bagaimana relasi manusia dengan Allah. Saudara, hukum ini mengatur bagaimana manusia harus mengasihi Tuhan Allahnya. Allah menghendaki semua manusia memiliki rasa gentar kepadaNya, sebab Dialah Allah Pencipta dan Raja atas segala sesuatu. Karenanya kita harus memberi hormat dan taat secara penuh kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi.
Pada bagian kedua saudara, yaitu Hukum ke 5-10 berbicara tetang relasi manusia dengan sesamanya. Dan relasi itu harus dimulai dari keluarga. Jadi saudara, Hukum ke 5 ini khusus berhubungan antara orang tua dengan anak. Mengapa saudara? Karena keluarga adalah masyarakat paling kecil yang dibentuk oleh Allah. Di dalam keluarga Allah menanamkan nilai-nilai bagaimana manusia harus berbuat. Ketika Allah menciptakan manusia, keluarga merupakan satu-satunya lembaga ilahi untuk kehidupan bersama. Namun, setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, dua lembaga penting lainnya diberikan Tuhan, yakni Gereja dan negara.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Perintah kelima ini mengajarkan kepada kita kewajiban untuk menghormati dan menaati otoritas yang diberikan oleh Tuhan. Dari sini pahami bahwa Allah telah menentukan otoritas yang harus dihormati. Semua otoritas berasal dari Tuhan. Baik itu otoritas yang dimiliki orang tua, majikan, pejabat gereja dan penguasa sipil semuanya berasal dari Tuhan (Keluaran 20:12; Efesus 6:5; Kisah 20:18; Roma 13). Karenanya Allah memberikan kepada orang-orang tertentu suatu tugas untuk memelihara dan melindungi orang lain. Dan perintah ini juga mengajarkan kepada mereka yang menjalankan otoritas ini sehingga mereka harus mendapatkan semua ketaatan yang selayaknya. Para orangtua memelihara dan melindungi anak-anak mereka. Para suami memelihara dan melindungi isteri mereka. Para raja atau penguasa lainnya memelihara dan melindungi rakyatnya dan juga para pendeta beserta penatuanya memelihara dan melindungi gereja mereka.
Dalam Ulangan 6 diungkapkan tentang syema Israel yang menekankan bagaimana orang tua memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengajar anak-anak tentang Tuhan. Allah memerintahkan orang tua untuk mendidik anak-anak mereka di dalam Tuhan, sebab Tuhanlah pemilik otoritas tertinggi. Dikatakan “Apa yang Kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6:6-7).
Dari sini kita pahami bahwa orang tua diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk menyatakan siapa Tuhan kepada anak. Sehingga pengertian tentang perjanjian dan siapa Allah, ini boleh dibagikan oleh orang tua kepada anak. Ini adalah hal yang penting. Saudara membagikan kebenaran tidak bisa hanya membagikannya dalam ranah pengertian. Mengajar tentang Allah tidak cukup hanya dengan kata-kata. Mengajar tentang Allah harus dengan keberadaan diri yang mencerminkan siapa Tuhan. Itu sebabnya anak mendapatkan pelajaran dari orang tua tentang siapa Tuhan, baik dalam pengertian, dalam pengenalan siapa Tuhan, juga sekaligus dalam contoh kehidupannya.
Sidang jemaat yang kekasih,
Allah kita adalah Allah Tritunggal, artinya lebih dari 1 Pribadi: Bapa, Anak dan Roh Kudus. Tetapi semuanya ada dalam 1 Allah bukan 3 Allah. Dengan kata lain Allah kita adalah 3 Pribadi dalam 1 Allah. Bagaimana kita bisa mengerti konsep ini dengan sederhana? Lebih dari 1 tetapi adalah 1. Inilah yang dicerminkan dalam sebuah pernikahan, dimana 2 pribadi disatukan menjadi 1. Itulah keluarga, dan pembentukan keluarga dimulai dari orang tua. Itu sebabnya mengapa anak harus dididik oleh orang tua, karena orang tua adalah yang disatukan menjadi satu. Inilah prinsip yang Tuhan mau di bangun dalam masyarakat sosial. Tuhan memanggil manusia untuk hidup bersama, dan ketika hidup bersama. Artinya Tuhan mau manusia dapat mengajarkannya berulang-ulang terhadap setiap generasi ke generasi berikutnya.
Saudara,
Disatu pihak orang tua memang diberikan kuasa atas anak-anak mereka. Orang tua harus menyediakan semua yang diperlukan anak-anak mereka untuk bertumbuh dengan tubuh, pikiran dan jiwa yang sehat. Mereka harus melindungi anak-anak dan melatih anak-anaknya. Terkait dengan hukum ini maka tugas orang tua adalah mengasihi anak-anak mereka dan membuat mereka untuk takut akan Allah dan mengajar jalan-jalanNya yang telah ditunjukkanNya (Ulangan 4:9; 6:6-7; Efesus 6:4).
Namun hari ini, kesempatan ini sepertinya telah disalahgunakan oleh beberapa orang tua, dengan mengalihkan tanggung jawabnya melalui berbagai perangkat teknologi. Sehingga peran orangtua dalam mendidik dan mengajar anak sangat kurang. Yang terjadi adalah orang tua lebih banyak menyuguhkan anak-anaknya dengan gadget-gadget yang berisikan permainan, buku-buku dongeng, film-film yang berisikan filsafat-silsafat dunia, sehingga tidak heran saudara jika hari ini ada begitu banyak anak-anak bertumbuh dalam filsafat-filsafat dunia, mereka belajar melalui apa yang mereka lihat dan dengar didalam gadget-gadget yang disediakan orang tua. Akibatnya peran orang tua semakin terabaikan. Mereka sibuk dalam dunia pekerjaannya dengan alasan mencari uang demi anaknya, padahal anak-anaknya terabaikan. Ketika mereka diperhadapkan dengan kondisi anak-anak yang lebih agresif, orang tua-orang tua modern sekarang bertanya, mengapa anak-anak sekarang lebih susah diajar dibandingkan dulu ketika mereka diajar?
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Kegagalan orang tua mendapatkan ketaatan dari anak-anaknya, sebenarnya merupakan tindakan yang tidak menguduskan otoritas Ilahi. Dan sudah pasti ini akan berakibat buruk pada anak-anak mereka. Padahal kalau kita mau kembali pada apa yang diajarkan firman Tuhan, kegagalan anak bisa jadi merupakan kegagalan orang tua dalam membawa anak-anak bertumbuh. Saudara, Amsal 29:15 berkata: “Tongkat dan teguran mendatangkan hikmat, tetapi anak yang dibiarkan mempermalukan ibunya.” Dari sini kita mengerti bahwa sebenarnya Tuhan menghendaki agar peran orang tua dapat dilakukan dengan serius demi masa depan anak-anaknya.
Disisi yang lain, hukum ke-5 juga berbicara soal tanggung jawab anak terhadap orang tua. Dikatakan: “Hormatilah ayahmu dan ibumu,” Dalam Ulangan 5:16 dijelaskan secara lebih panjang lebar “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh Tuhan, Alahmu.” Jadi saudara, hukum menghormati ayah dan ibu adalah perintah Tuhan. Yang walaupun hukum ini dapat dikembangkan lebih luas, yaitu kepada orang yang lebih tua, kepada siapapun yang memegang otoritas. Namun pada prinsipnya, setiap anak harus menghormati semua orang karena mereka diciptakan menurut gambar Allah dan rupaNya. Dalam Keluaran 21:15, 17 Allah menuntut hukuman mati bagi setiap orang yang memukul atau mengutuk orang tuanya. Ini berarti Allah sangat mementingkan penghormatan kepada orang tua, karena demikianlah Allah menetapkannya (Band. Efesus 6:1-3). Karena itu saudara, Allah memperingatkan kepada semua orang tua, secara khusus kepada setiap ayah untuk tidak membangkitkan amarah anak-anaknya, sebaliknya hendaklah mereka mendidik anak-anak di dalam ajaran dan nasihat Tuhan (Efesus 6:4).
Semua otoritas yang dianugerahkan Tuhan adalah terbatas. Artinya kita wajib menghormatinya sejauh itu dilaksanakan di dalam lingkup batasan yang telah Allah tetapkan. Tuhan mengatakan “Hormatilah orang tua, seperti yang diperintahkan Tuhan” (Ulangan 5:16). Di bagian lain dikatakan “Semua orang harus takluk kepada pemerintah, …. Sebab tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah” (Roma 13:1). Jadi kerjakan bukan demi orang tua, tapi demi Tuhan. Begitupun berlaku bagi setiap warga negara yang didalamnya kita mengabdi.
Jadi kewajiban yang harus dipenuhi anak-anak adalah memperhatikan apa yang diajarkan orangtua mereka. Anak-anak dilahirkan tanpa mengetahui apapun. Mereka bergantung sepenuhnya kepada orangtua mereka untuk mengajar mereka yang perlu mereka ketahui. Kewajiban lain yang harus dipenuhi anak-anak adalah menaati orangtua mereka. Menaati perkataan mereka. Saudara, hormati orang tua berarti saat kita menjadi anak, waktu kita kecil, kita tunduk kepada mereka dan teladani mereka kalau mereka pantas diteladani. Sebab tidak hormat terhadap orang tua, adalah cerminan atas tidak hormatnya kita kepada Allah.
Dipihak yang lain, ini merupakan tanggung jawab yang besar bagi setiap anak-anak dimana mereka harus menghormati otoritas orangtua dan mematuhi mereka dengan segera. Perintah ini memanggil setiap-anak-anak untuk menghormati semua otoritas di atasnya, termasuk memperlakukan orang-orang yang berada dibawah kita sebagaimana yang dikehendaki Allah. Mereka yang sejajar dengan kita, yang sebaya dengan kita.
Namun pertanyaannya, “bagaimaan kalau orang tua kita tidak layak dihormati? Apa yang harus dilakukan sebagai anak-anak? Saudara, nampaknya tidak ada dasar bagi setiap anak untuk tidak hormat kepada orang tuanya. Tidak ada alasan lain, untuk seorang anak dapat mengabaikan perintah ini.
Sebagaimana dikatakan bahwa yang harus dihormati bukan hanya sebatas orangtua kita sendiri, tetapi juga termasuk orang-orang yang lebih tua dari kita. Kewajiban yang diarahkan disini adalah bagaimana menjaga keharmonisan hubungan dengan sesama, bahkan kalau kita bandingkan dengan etika Perjanjian Baru, justru dikatakan supaya saling menghormati. Sebab saling menghormati merupakan dasar tata tertib sosial dan damai sejahtera. Bukan itu saja, menghormati juga berarti mengasihi. Hormat bukan berarti takut tanpa alasan, justru hormat adalah didorong oleh rasa kasih dan ucapan terima kasih yang mendalam, dan sebagi wujud dari rasa rendah hati.
Jadi Tuhan memerintahkan kita untuk menghormati orang tua kita tanpa satu syarat tertentu. Mungkin orang tua kita tidak sekaya, sepintar, secantik atau setampan orang tua teman kita, namun hormat tidak dipandang dari sisi yang seperti itu. Lagi pula keberadaan kita di dalam keluarga bukanlah sebuah pilihan. Kita tidak bisa memilih di dalam keluarga seperti apa kita dilahirkan. Semuanya diatur oleh Tuhan di dalam kekekalan. Sebab itu sikap hormat merupakan perintah Tuhan dan kewajiban kita, jadi kita harus melakukannya dengan tulus dan dengan rasa takut akan Tuhan.
Kita melihat saudara, banyak orang Kristen yang begitu kelihatan pelayanannya bagus, tapi waktu ditanya “orang tuamu bagaimana?” mereka tidak peduli. Mereka pikir dengan melayani Tuhan secara penuh waktu tetapi mengabaikan orang tuanya, pelayanan mereka diterima Tuhan? Kita harus ingat, bahwa menghormati dan mengasihi Allah adalah perwujud-nyataan dari hormat dan kasih kita terhadap orangtua. Dalam 1 Yohanes 4:20 dijelaskan demikian, “Jikalau seorang berkata: “aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah yang tidak dilihatnya.” Memang benar bahwa menghormati dan mengasihi Allah adalah yang utama dari segalanya. Namun bagaimana mungkin kita benar menghormati dan mengasihi Allah yang tidak kelihatan itu, sedangkan orangtua yang disekitar kita sendiri tidak kita hormati dan kasihi, itu namanya pendusta! Karena itu kita harus berhati-hati dengan ajaran-ajaran atau pun dogma-dogma yang memakai nama gereja atau kekristenan yang mengajarkan pentingnya “persekutuan gereja” diatas segala-galanya. Tidak perlu menuruti orangtua, yang penting teman satu persekutuan; orang tua dianggap sebagai orang berdosa yang belum hidup baru sehingga tidak perlu didengar nasehatnya; perpuluhan lebih penting daripada menolong orang tua yang kekurangan (band. Markus 7:10 -13).
Lagi pula Yohanes Calvin mengatakan “sejelek-jeleknya orang tua, tetap Tuhan pakai dia untuk menghadirkan kamu di dunia ini. Dan itu merupakan suatu anugerah besar.” Karena itu saudara, jangan pernah sekali-kali kita memandang rendah orang tua, yang telah membesarkan dan mendidik kita dengan segenap hati mereka. Sebab kita tahu, dasar atas ketaatan anak terhadap orang tua semata-mata didasarkan atas firman Tuhan. Artinya sebatas apa yang disampaikan orang tua tidak melanggar firman Allah, seorang anak wajib untuk bersikap taat dalam segala hal (Band Kolose 3:20).
Saya teringat dengan ucapan Papa saya ketika beliau masih hidup. Secara pendidikan ayah saya hanya sampai tamatan SMA. Tetapi kerinduannya dan cita-citanya adalah agar anak-anaknya mendapatkan pendidikan setinggi-tingginya. Terlebih lagi, dari empat anak-anaknya, tiga anak laki-lakinya diserahkan untuk menjadi seorang hamba Tuhan. Karena itu ia berusaha mendidik anak-anaknya dengan pola yang dia pahami. Sekarang ketika saya sampai sejauh ini, saya akhirnya memahami, bahwa usahanya tidak pernah gagal. Karena Tuhan yang menyertai perjalanan hidup anak-anaknya.
Bapak/ ibu yang kekasihi,
Anak-anak yang sudah besar juga memiliki tanggung jawab terhadap orang tua mereka. Anak-anak tidak pernah menjadi terlalu tua sehingga boleh berhenti mennghormati orang tua mereka. Mereka harus menunjukkan rasa hormat kepada orang tua mereka seumur hidup mereka. Hormat kepada orang tua mencakup pemeliharaan terhadap mereka pada saat mereka sudah tua/ tidak bisa bekerja. Ketika orang tua memasuki masa tua, perkataan hormati orang tua termasuk di dalam persiapan merawat mereka.
Jadi saudara, hukum kelima mengatakan hormati orang tua bukan saja ketika mereka kuat, Saudara tunduk, tapi ketika mereka lemah pun, Saudara sekarang ganti menjadi pelindung mereka. Inilah keindahan hidup yang Tuhan mau. Waktu kita sudah lemah, kekuatan sudah tidak ada, sudah mulai capek, sudah mulai putih rambutnya, sudah mulai tidak kuat berdiri, ada anak yang berbakti mengatakan “saya topang kamu, saya akan berada di samping kamu” ini yang Tuhan mau di dalam menghormati. Biarlah kita menaati Firman Tuhan dengan melepaskan semua kepahitan yang pernah ada dan mengingat keindahan berkat Tuhan untuk kita salurkan.
Sidang jemaat yang kekasih,
Anak yang tidak memperhatikan orang tua, Tuhan Yesus mengatakan lebih jahat dari pada orang kafir. Saudara mau taat kepada Tuhan, punya jabatan tinggi di gereja, dipakai Tuhan luar biasa, tapi waktu Saudara mengabaikan orang tua, Saudara lebih parah dari orang kafir. Itu sebabnya kata hormat berarti ketika orang tua sudah makin tua, anak harus menjadi orang yang mendampingi yang bersyukur karena dulu dipelihara dan terus support orang tuanya. Anak akan ada waktu di mana dia menjadi kuat, dia harus support orang tuanya, inilah pengertian hormat. Maka otoritas-otoritas orang tua kepada anak berhenti waktu anak itu punya otoritas kepada keluarganya sendiri. Tetapi kebertundukkan anak untuk hormat kepada orang tua tidak pernah dicabut sampai orang tua dipanggil oleh Tuhan.
Yang berikutnya saudara, dalam pengertian bangsa Yahudi siapa yang menghormati orangtuanya pasti akan memelihara mereka pada umur tuanya. Tapi sering tanpa sadar, orang justru menghormati orang tua justru pada saat mereka sudah mati. Sebagai contoh, ada seorang anak yang merantau dan dia berhasil di perantauan, katakanlah dia menjadi orang yang terkenal dan kaya raya. Tapi semasa perantauannya, dia tidak pernah ingat kepada orangtuanya dan saudara-saudaranya yang ditinggalkannya di tanah kelahirannya. Mengirim surat ataupun menelpon pun sudah tidak pernah, apalagi pulang ke kampungnya. Suatu saat dia mendapat kabar bahwa ayahnya telah meninggal dunia, dia pun pulang ke kampungnya. Karena dia termasuk orang yang terpandang dan kaya raya, dia membuat pesta besar-besaran pada acara kematian ayahnya tersebut, bahkan dia membuat kuburan untuk orang tuanya dengan biaya ratusan juta. Ini bukanlah bentuk penghormatan yang benar yang diajarkan Tuhan. Semasa orangtuanya sehat, sebiji kue pun tidak pernah diberikan, giliran sudah tua dan sakit-sakitan ditawarkan "Coto yang paling enak”, coba kita bayangkan bagaimana orangtua tersebut bisa memakannya, ketika kolesterol dan asam uratnya tinggi? Jadi, baiklah kita mengingat orangtua kita setiap saat, terlebih pada masa hidupnya, bukan soal banyak ataupun besarnya yang kita berikan, tapi perhatian itulah yang diharapkan orangtua kita.
Saya sedih sekali kalau banyak anak-anak takut menjadi Kristen dikarenakan ketakutan orangtua mereka kalau-kalau anak-anaknya tidak lagi menghormati mereka. Ini konsep yang salah kaprah. Siapa bilang orang Kristen tidak mengajarkan untuk tidak hormat kepada orangtua? Justru di dalam kekristenanlah Allah mengajarkan bagaimana seorang anak harus tahu bagaimana menghormati orangtua mereka dengan cara benar. Tetapi itu berlaku ketika mereka masih hidup. Jadi bukan tugu atau kuburan yang mahal sebagai tanda penghormatan kita kepada orangtua.
Sungguh sangat disayangkan, jika masih banyak konsep-konsep yang salah masih diterapkan didalam kehidupan anak-anak Kristen. Mereka masih memegang tradisi yang sebenarnya itu bertentangan dengan firman Tuhan. Terlebih lagi, filsafat-filsafat dunia yang menekankan kita harus menghormati arwah leluhur kita, dengan memberikan mereka sesaji setiap minggunya. Untuk apa? Kalau antara orang yang masih hidup sudah tidak ada lagi hubungannya dengan yang sudah meninggal, lalu untuk apa segala yang disajikan? Selain semua adalah kesia-siaan!
Jadi bagaimana kita menyikapinya? Jawabannya adalah berilah yang patut untuk diberikan! Menghormati orang tua memang adalah perintah yang patut dilakukan setiap anak-anak, penghormatan itu diberikan bukanlah pada saat kematiannya, tetapi semasa hidupnya. Inilah hukum kasih yang diperintahkan Allah kepada kita, bagaimana kita mengasihi sesama kita (orang tua kita). Menghormati dan mengasihi orangtua akan mendatangkan berkat berkelimpahan dari Tuhan Allah.
Pemeliharaan kelangsungan hidup umat Allah sebagai komunitas akan bergantung pada kesetiaan mereka terhadap perintah ini. Dengan kata lain, bila kita hidup di bawah suatu kesadaran yang kuat akan otoritas pemberian Allah dalam keluarga, gereja dan negara, kita akan dipelihara oleh Tuhan.
Alasan yang Allah berikan kepada mereka yang melaksanakan perintah menghormati orang tua mereka adalah “supaya lanjut umurmu di tanah yang Allah berikan kepadamu.” Dalam konteksnya Allah telah berjanji kepada bangsa Israel bahwa mereka akan hidup damai di tanah yang Dia berikan kepada mereka selama mereka menaatiNya. Jika mereka berhenti menaatiNya dan berhenti mengikuti perintah-perintahNya, Allah akan memunculkan musuh bagi mereka, yang akan menghalau mereka keluar ke negeri lain.
Pertanyaan kita apakah konteks ini masih berlaku dalam kehidupan kita saat ini? Jawabannya adalah masih, dan tetap berlaku sampai saat ini! Allah memerintahkan kita untuk menaati perintah ini sehingga itu berdampak baik bagi kita dan kita akan menikmati umur panjang di bumi. Karena itu bagian penting dari hidup sebagai umat Allah adalah menaati perintah bagi anak-anak untuk menghormati orang tua.
Dalam Amsal 1:8-9 dijelaskan, “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jagan menyia-nyiakan ajaran ibumu. Sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalau, dan suatu kalung bagi lehermu.” Saudara ayat ini mau menggambarkan pentingnya seorang anak untuk memberi perhatian serius pada ajaran orang tua, karena itulah harta berharga dalam hidupnya. Ajaran orang tua yang saleh bagaikan cahaya lampu. Cahaya yang memampukan kita untuk melihat dengan jelas sehingga kita dapat melihat dengan benar dan supaya kita tahu apa yang harus diperbuat. Disisi yang lain, bagi orang tua juga adalah hal patut menjadi perhatian serius dimana mereka harus menyediakan waktu untuk berbagi hidup degan anak-anaknya. Amin.

Minggu, 12 Juni 2016

JANGAN MENYEBUT NAMA TUHAN ALLAHMU DENGAN SEMBARANGAN

JANGAN MENYEBUT NAMA TUHAN ALLAHMU DENGAN SEMBARANGAN
Ulangan 5:11; Imamat 19:12

Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan,
Pada kesempatan hari ini kita akan membahas tema ketiga dari kesepuluh Hukum yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel. Mari kita membaca nats Alkitab kita dalam Ulangan 5:11 & Imamat 19:12.
Tentu bapak/ ibu masih mengingat setelah dua bulan lamanya, minggu demi minggu setiap hamba Tuhan telah menjabarkan bagaimana hukum pertama dan kedua ini diberikan Tuhan kepada bangsa Israel. Dalam hukum pertama mengajar kita tentang subyek penyembahan manusia satu-satunya adalah Allah dan hanya Allah. Tidak ada yang lain yang dapat menggantikan posisi Allah, sebagai pusat penyembahan yang sesungguhnya dari manusia.
Perintah kedua memberi tahu kita mengenai apa yang harus dilakukan dan apa yang harus kita gunakan ketika kita menyembah Dia. Saudara, Tuhan telah memerintahkan umatNya untuk menyembahNya dan Dia telah memberi tahu mereka hal-hal yang harus mereka lakukan dalam penyembahan. Tuhan Allah juga melarang umat Allah untuk meniru penyembahan yang dilakukan orang-orang yang bukan umatNya. Dari sini kita memahami bahwa segala bentuk usaha manusia untuk mewujud-nyatakan Allah ke dalam suatu media baik itu yang kasat mata ataupun yang tidak kasat mata adalah sebuah penyembahan berhala.
Pada bagian yang ketiga ini saudara, lebih memfokuskan perhatian kita kepada sikap penyembahan kepada Allah, bahwa bangsa Israel dapat menyatakan sikap penyembahan yang benar hanya kepada Allah. Yohanes Calvin mengatakan bahwa “Allah ingin apa pun yang kita pikirkan dan katakan tentang Dia harus menyatakan kemuliaanNya, sesuai dengan keagunganNya yang suci dan meninggikan kebesaranNya. Semua yang Allah perbuat membawa pujian dan hormat bagi namaNya.” 
Saudara tidak ada gunanya jika kita menyembah Allah yang benar dengan cara yang benar, namun tanpa adanya sikap hati yang tulus dalam menyembah. Dalam hal inilah Firman Tuhan dalam Yosua 24:14 berkata: “Oleh sebab itu, takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepadaNya dengan tulus iklas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada Tuhan.” Dengan demikian, hukum yang ketiga ini lebih merupakan sebuah peraturan dan penuntun bagi umat Tuhan dalam beribadah dengan tepat kepada Allah.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Kalau kita melihat kembali kebelakang bagaimana bangsa Israel mengenal jati diri Allah, sejak dahulu dan selamanya nama Allah itu kudus. Sejak zaman dahulu, bangsa Yahudi menganggap nama Yahweh dikenal sebagai sebuah nama yang sakral, karena itu bangsa Yahudi tidak berani menyebut namaNya secara langsung. Orang Yahudi begitu menghormati nama Tuhan, itu sebabnya sampai hari ini pun mereka tidak berani menyebut nama Tuhan dengan sembarangan.
Mengapa saudara? Karena di dalam nama Allah terkandung natur, keberadaan, totalitas dan pribadi Allah. Bahkan melalui nama Tuhan kita dapat mengenal Allah dan seluruh atribut-atribut yang Ia miliki. Karena itu, kita tidak boleh menyebut namaNya dengan sembarangan. Bagi bangsa Yahudi, nama Tuhan terlalu suci untuk diucapkan oleh bibir manusia yang penuh dosa. Sehingga kapan saja mereka perlu mengucapkan nama Tuhan (Yahweh), mereka akan menggantinya dengan kata Adonai yang berarti Tuhan. Jika nama tersebut perlu untuk dituliskan, mereka akan mandi terlebih dulu sebelum menulisnya dan menghancurkan pena tersebut setelah dipakai untuk menuliskan kata Yahweh. 
Secara umum nama mengacu pada pribadi, kedudukannya, keadaan yang mempengaruhi dirinya, dan lain sebagainya. Sehingga nama seringkali digunakan untuk mewakili pribadi (Kisah 1:15; Wahyu 3:4). Dalam dunia timur, nama bukanlah sekedar sebutan saja, tetapi merupakan suatu ekspresi dari natur yang memiliki nama tersebut, atau sesuatu yang ditunjuk oleh nama tersebut. Sehingga ketika suatu nama disebutkan, nama tersebut akan mewakili keberadaan dari pemiliknya, atau sesuatu yang ditunjuk oleh nama itu.
Saudara, nama adalah sesuatu yang sifatnya personal dan tidak sama dengan angka, Alkitab bahkan seringkali memakai nama untuk menyatakan lebih dari sekedar identitas. Alkitab mencatat beberapa peristiwa yang menunjukkan bahwa sebuah “nama” berhubungan sekali dengan natur pemilik nama tersebut, misal: Adam saat ia memberi nama kepada seluruh binatang sesuai dengan natur mereka (Kejadian 2:19-20). Alkitab juga memberikan alasan mengapa seseorang memiliki nama tertentu; misalnya: Hawa – ibu semua yang hidup (Kejadian 3:20), Kain – anak laki-laki dari Tuhan (Kejadian 4:1), Set – Anak pengganti (kejadian 4:25), Nuh – Anak penghiburan (Kejadian 5:29), Babel – Tuhan mengacau balaukan (Kejadian 11:9), Ismael – Tuhan mendengar jeritanmu (Kejadian 16:11), Ishak – Tertawa (Kejadian 21:6), Esau – Berbulu dan Yakub – Memegang tumit (Kejadian 25:25-26), Musa – Ditarik dari air (Keluaran 2:10), Yesus – Juruselamat (Matius 1:21), dan lain sebagainya. Bahkan Alkitab juga mencatat beberapa orang yang namanya, diganti oleh karena alasan tertentu, seperti Abram menjadi Abraham (Kejadian 17:5), Yakub menjadi Israel (Kejadian 32:28), Simon menjadi Petrus (Matius 4:18) dan Saulus menjadi Paulus (Kisah 13:9), dll.
Begitu pula dengan nama Tuhan, nama Tuhan bukanlah sekedar suatu kata. Bukan pula sekedar gelar kosong. Nama Tuhan memiliki suatu arti. Dan nama itu mempunyai arti karena Tuhan telah menyatakan namaNya diseluruh bumi. Seluruh dunia adalah sebuah penyataan dari arti nama Tuhan. Dalam hal ini nama Tuhan tidak berdiri independen, lepas dari apa yang dirujuk. Kita menyebut nama Tuhan untuk menunjuk Pribadi Allah. Nama Tuhan mencakup segala sesuatu yang menyatakan Allah sebagaimana Dia adanya. Dengan cara demikian kita dapat mengenal Allah dan seluruh atribut-atribut yang Ia miliki. Nama Allah sama dengan natur dan eksistensi Allah (Mazmur. 20:1; 135:3; Yohanes 1:12). Bahkan nama Allah terkadang digunakan untuk menyatakan keseluruh sistem kebenaran Allah (“…kita akan berjalan demi nama TUHAN Allah,” Mikha 4:5).
Sekarang kita melihat nama-nama yang paling sering dianggap sebagai nama pribadi dari Allah sendiri yaitu nama TUHAN. Alkitab TB membedakan kata Tuhan Adonai dengan TUHAN yang merujuk kepada Yahweh. Kata ini dalam bahasa Ibrani di tulis dalam 4 huruf konsonan, dimana didalamnya tidak ada huruf vocalnya, sehingga kata ini dituliskan menjadi YHWH. Pemakaian huruf vocal dalam kata YHWH ditambahkan setelahnya sehingga didapatkan kata Yahweh yang sekarang kita ucapkan.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Allah adalah YHWH. Allah adalah yang menyatakan diri sebagai penyebab dari segala yang ada. Pada saat para sarjana Perjanjian Lama mencari tahu apa maksud dari arti kata YHWH, mereka mencoba mencari akar katanya, mereka berusaha mencari padanannya, apa pengertiannya, maka mereka hanya bisa mendapatkan kata yang paling dekat yang mungkin menggambarkan pengertian tentang nama Tuhan, itu adalah kata “Hayah” yang artinya “menjadi”. Dengan demikian, saat ahli-ahli Perjanjian Lama menafsirkan nama Tuhan, atau Yehova atau Yahweh, mereka menafsirkan bahwa kata itu berarti “Aku adalah yang menjadikan segala sesuatu”. Dia adalah yang membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Dia adalah sumber keberadaan yang lain.
Inilah yang dipahami ketika orang Yunani, ketika orang Israel berbahasa Yunani, pada zaman kira-kira abad ke-2 sM mau menerjemahkan Perjanjian Lama, mereka bergumul dengan serius, dan akhirnya mereka memutuskan untuk menerjemahkan kata Tuhan, Yahweh dengan memakai kata Kurios, yang berarti Dia adalah Tuan yang berkuasa atas segala sesuatu, ini adalah Tuan yang paling tinggi otoritasNya dibandingkan segala sesuatu.
Saudara, dalam Perjanjian Baru kita menemukan, penggunaan kata Kurios juga ternyata dipakai para penulis kitab untuk menyebut Yesus, sebagai Tuhan Yesus. Sedikitnya ada 56 kali kata Kurios ini dipakai di dalam Perjanjian Baru berdampingan dengan kata Yesus. Pastinya ini bukanlah sesuatu yang tidak disengaja, ketika mereka menuliskan nama Yesus sebagai Tuhan Yesus. Tetapi dalam pemahaman mereka, keberadaan YHWH memiliki kedudukan yang sejajar dengan Tuhan Yesus.
Memang saudara, di dalam bahasa Yunani kata Kurios bisa juga dipakai untuk menyebut raja, kaisar, tuan tanah. Tetapi kita tidak menganggap penulis Perjanjian Baru memakai kata Tuhan untuk menggambarkan tuan, tuan tanah, raja, atau kaisar. Karena pada faktanya kata Kurios dipakai untuk menerjemahkan Yahweh. Dan ini adalah nama yang dianggap sangat kudus, nama yang menjadi nama pribadi Allah. Dari sini kita melihat bahwa nama Allah mencakup segala sesuatu yang menyatakan Allah sebagaimana Dia adanya, sekaligus sebagai bentuk pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Allah memiliki banyak nama dan gelar dalam Kitab Suci. Ini karena tidak ada satu kata pun yang dapat menjelaskan dengan seutuhnya siapa Allah itu, selain daripada yang sudah dijelaskan Allah kepada umatNya. Tetapi paling tidak, baik nama ataupun gelarNya menolong kita untuk melihat siapa Dia. Dia telah memberitahukan beberapa kualitas yang dimilikiNya kepada kita, seperti kekudusan, kebaikan, keadilan dan kuasa. Allah telah memberi kita peraturan-peraturan atau tuntunan-tuntunan untuk menghampiriNya dan untuk bertumbuh di dalam keserupaan dengan Kristus. Peraturan-peraturan ini menolong kita untuk mengenalNya dengan lebih baik ketika kita menggunakannya.
Lagi pula, saat Tuhan Yesus berdoa kepada Bapa, dalam doaNya Tuhan Yesus mengatakan “Aku telah menyatakan namaMu kepada semua orang” (Yohanes 17:6). Nama yang dimaksudkan di sini adalah kebenaran atau pengajaran yang harus Yesus sampaikan tentang Bapa (Yohanes 1:18). Sehingga secara umum dan spesifik, nama Allah digunakan untuk memanggilNya dan membuat Ia dikenal. Allah memberitahukan namaNya kepada manusia dalam suatu konteks pewahyuan atau pengungkapan DiriNya. Maka dengan menyebut namaNya berarti kita mengakui Dia sebagai Subjek dan Objek dalam perkataan kita.
Sidang jemaat yang kekasih,
Hukum ketiga ini memberikan pemahaman kepada kita bahwa umat yang telah telah mengenalNya tidak menyebut nama Tuhan Allah dengan sembarangan menyangkut seluruh aspek kehidupan kita dihadapan Tuhan. Perintah ketiga ini berkenaan dengan aspek penyembahan yang tidak dapat diketahui oleh siapa pun kecuali oleh Allah, dan (dengan pertolongan Allah) oleh orang percaya tersebut. Perlu diingat bahwa sikap/ cara kita menggunakan nama Tuhan, menunjukkan sikap kita terhadap Tuhan sendiri. Dengan demikiam, perintah “Jangan menyebut namaNya dengan sembarangan”, secara positif adalah mengakui Dia dengan penuh hormat dan sepenuhnya dalam pikiran dan perbuatan.
Jika kita ingin menghormati nama Allah, pastinya kita akan menghormati firmanNya yang telah dinyatakanNya kepada kita. Sikap kita dalam menyembah akan menghormati Allah ketika kita menggunakan namaNya dengan hormat. Kita percaya, Alkitab adalah harta yang indah – kitab yang penuh dengan apa yang Allah nyatakan tentang diriNya, apa yang Dia lakukan bagi kita, dan apa yang Dia kehendaki dari kita! Alkitab menyatakan Allah sebagaimana Dia adanya karena Alkitab tanpa salah mencatat bagi kita pernyataan yang telah Allah berikan tentang diriNya. Sangat bodoh jika kita memiliki Alkitab dan hampir tidak pernah menggunakannya! Jadi, kita harus mempelajari firman Allah setiap hari, agar kita dapat mengerti tentang jati diri Allah dalam kehidupan kita. Di dalamnya juga menuntut sikap hati yang tepat di dalam pernyembahan kita terhadap Allah. Umat Tuhan wajib menyebut nama Tuhan dengan hormat dan di dalam kegentaran. 
Saudara, betapa kita perlu memastikan bahwa kita tulus di dalam menyembah Allah yang benar. Untuk alasan inilah Alkitab memperingatkan kita terhadap bentuk-bentuk kehidupan rohani yang dapat dijadikan tempat persembunyian bagi ketidaktulusan. Misalnya sikap-sikap formalitas dalam doa. Dalam kehadiran beribadah, dalam memuji Tuhan. yang pastinya bukan sesuatu yang keluar dari hati yang terdalam.
Arti kata “menyebut nama Allah” adalah “meninggikan Dia”. Jadi maksud dari perintah ini juga dapat berarti “jangan meninggikan nama Tuhan dengan sembarangan”. Maksudnya adalah kita tidak boleh berdoa tanpa rasa hormat yang mendalam. Kalau kita berdoa tidak konsentrasi, maka kita telah menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. Ini juga berarti kita tidak boleh asal menyanyi atau memuji nama Tuhan. Pikiran kita tidak boleh melayang-layang ketika berdoa atau pun menyanyi. Dengan kata lain saudara, saat kita berdoa, menyanyi, memuji nama Tuhan tanpa disertai perhatian dan sikap hati yang tulus, sama artinya dengan menyebut nama Tuhan dengan sembarangan. 
Maka dari itu, marilah kita sebut nama Tuhan dengan perasaan hormat, kita menyatakan bahwa kita adalah orang yang mengenal sifat-sifat Tuhan yang dinyatakan dalam namaNya, dan kita berhati-hati ketika menggunakan nama ini. Berbicara kepada Tuhan atau berbicara atas nama Tuhan selalu harus dengan hati-hati diucapkan.
Demikianlah firman Tuhan mengajarkan dalam Pengkhotbah 5:1, “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit”. Inilah yang harus kita ingat senantiasa dalam sikap kita menyembah Allah.
Yang berikutnya, Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Secara verbal, hukum ini juga mengharuskan kita untuk menyebutkan nama Tuhan Allah dengan penuh rasa hormat akan keagunganNya. Mengapa? Karena Dia telah memberi kita anugerah yang begitu besar yakni pewahyuan mengenai diriNya sehingga manusia boleh mengenal Dia. Pengenalan akan Allah adalah harta terbesar manusia, “penemuan” teragung manusia melampaui semua pengenalan dan penemuan manusia yang lain. Sebab Dia, Sang Pencipta, memberikan diriNya untuk dikenal. Mereka yang tidak mempunyai komitemen di dalam iman dan keinginan untuk diajar dan mengenal kemuliaan Allah sesungguhnya bersalah menghina Yang Maha Tinggi. Seolah-olah ada yang lebih berharga dari pada kemuliaan Allah.
Dengan demikian saudara, pada waktu kita datang mendekat kepada Allah dalam doa, kita harus mengagungkan KesempurnaanNya dengan kerendahan hati kita seperti yang diteladankan oleh tokoh-tokoh iman seperi Abraham (Kejadian 18:27), Yakub (Kejadian 32:10), Musa (Keluaran 15:11), Salomo (1 Raja 8:33), Hizkia (2 Raja 19:15), Daniel (Daniel 9:4) dan makhluk-makhluk Surga lakukan (Wahyu 4:10, 11).
Dengan kata lain, yang dimaksud dengan sembarangan adalah semua pikiran yang tidak menghormati Allah, sia-sia, kurang ajar, tidak senonoh, atau penghujatan kepadaNya, menggunakan FirmanNya dengan tidak sopan, sungut-sungut terhadap pemeliharaanNya, penyalah-gunaan apa pun yang telah membuat diriNya dikenal.
Misalnya: menggunakan nama Tuhan dalam hal-hal negatif seperti mengutuk, mengumpat, atau dengan kata-kata kotor lainnya seperti dalam kasus anak Selomit binti Dibri dari suku Dan yang menghujat Tuhan (Imamat 24:10-16,23).
Atau menyebut nama Tuhan dengan motivasi yang salah misalnya menggunakan nama Tuhan untuk sebuah lelucon/ percakapan yang tidak ada gunanya. Atau menyebut nama Tuhan dengan tujuan yang sia-sia, ketika kita menyebutNya tanpa pertimbangan dan hormat. Seperti latah/ refleks;
Masalahnya saudara, hari ini ada begitu banyak orang telah “mendiskon” nama Tuhan, sehingga nilainya amat rendah. Mereka dengan mudahnya mengumbar nama Tuhan disegala aspek kehidupan, yang walaupun tidak tepat dalam pemakaiannya. Nama Tuhan dijadikannya sebuah lelucon murahan. Atau orang-orang yang kaget yang kadang-kadang menyebut nama Tuhan, dengan maksud yang tidak jelas.
Padahal saudara, nama Tuhan bukanlah untuk bahan baku membuat humor yang mengundang tawa yang akhirnya malah mencibirkan kedaulatan Allah. Nama Tuhan jauh lebih besar daripada nama siapa pun juga. Nama Tuhan menyatakan jati diriNya. EksistensiNya diantara umat pilihanNya. Allah melakukan segala hal yang menakjubkan untuk memperoleh kemuliaan dan pujian bagi namaNya. Karena itu Dia menghendaki kita menghormati namaNya dan memperlakukanNya dengan hormat. Allah kita adalah Allah yang serius dan namaNya bukan untuk kita tertawai. Barangsiapa menyebut nama Allah di dalam kegentaran, maka kita akan merasakan nama itu memberikan kekuatan dalam hidup kita.
Bagaimana mungkin seseorang bisa berpikir dan berbicara tentang Allah yang besar namun dengan sembarangan menggunakan namaNya tanpa rasa hormat dan penuh dengan kesombongan? Nama Tuhan bukanlah untuk ucapan-ucapan kosong tanpa makna seolah-olah nama itu tidak ada artinya. Nama itu bukan untuk umpatan, bukan pula sebagai ekspresi terkejut, menggunakan nama Tuhan itu hal-hal itu adalah kebiasaan yang menghinaNya. Karena itu langkah yang perlu diambil setelah mengerti betapa agungNya Allah yang ditunjuk oleh nama Tuhan, maka hendaklah setiap orang percaya membentuk kebiasaan yang baik dalam menggunakan namaNya sepatutnya dengan penuh hormat. Selain itu Ia adalah Allah yang cemburu akan kemuliaanNya dan Ia akan membalas setiap kesalahan orang-orang yang menghina kemuliaanNya.
Apabila kita ingin menggunakan nama Allah, kita harus melakukannya dengan cara yang benar, mengerti arti tindakan tersebut dan implikasi-implikasi penggunaan namaNya. Supaya Tuhan tidak berkata: “Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?” (Lukas 6:46). Sehingga kita harus lebih berhati-hati supaya tidak jatuh pada dosa yang mengerikan, yakni pada saat kita melakukan pekerjaan Tuhan yang kudus namun dengan sikap sembarangan dan tidak mempunyai gairah kudus dalam melakukannya. Arthur Pink mengatakan dengan tegas dan keras bahwa “berdoa tanpa bertindak adalah sebuah penghujatan dan berbicara kepada Allah dengan mulut sementara hati kita jauh dariNya sama dengan tindakan mengejek Allah.” 
Nama Allah digunakan sia-sia ketika nama itu digunakan secara munafik, artinya ketika orang-orang menggunakan namaNya dan mengakui umatNya padahal tidak demikian. Allah berfirman kepada Israel melalui Yesaya demikian: “Dengarlah firman ini, hai kaum keturunan Yakub, yang menyebutkan dirinya dengan nama Israel dan yang adalah keturunan Yehuda, yang bersumpah demi nama TUHAN dan mengakui Allah Israel tetapi bukan dengan sungguh-sungguh dan dengan tulus hati” (Yesaya 48:1). Kita melihat saudara, bangsa Israel menggunakan nama Allah tapi tidak mematuhi pengajaran yang dikandung oleh nama itu sehingga tindakan Israel tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum ketiga (bdk. Matius 7:22, 23).
Nama Allah digunakan dengan sia-sia pada waktu namaNya digunakan untuk sumpah-sumpah “rendahan” dan menggunakan nama Allah dengan kurang hormat serta bersumpah palsu demi namaNya. Pada waktu kita bersumpah terhadap sesuatu yang kita tidak tahu benar atau salah, namun kita berani bersumpah demi namaNya sehingga kita membuat Ia sebagai jaminan dan pendukung kebohongan, seolah-olah Dia adalah bapa kebohongan. 
Saudara, Yesaya mengatakan “orang yang hendak bersumpah di bumi akan bersumpah demi Allah yang setia” (Yesaya 65:16). Dari sini kita pahami, bahwa sumpah hanya diucapakan untuk sesuatu yang sungguh-sungguh benar di mana nama Allah layak disebutkan sebab Ia adalah Sang Kebenaran. Juga dalam Imamat 19:12 dijelaskan, “Janganlah kamu bersumpah dusta demi namaKu, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN”.
Dalam khotbah di bukit Tuhan Yesus mengingatkan untuk tidak bersumpah demi apapun juga sebab kita tidak berkuasa atas apa yang ada dilangit ataupun di bumi (Matius 5:33-36). Jadi lebih baik, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” Matius 5:37.
Dari sini kita mengerti bahwa Tuhan menghendaki supaya kita tidak berdosa kepada Tuhan.
Dengan demikian bapak/ ibu yang kekasih,
Selain hal-hal yang telah disebutkan diatas, penyebutan nama Tuhan tidak dilarang, justru malah sangat dianjurkan. Misalnya, ketika kita sedang berdoa dan memuji Tuhan dengan kesungguhan hati, kita menyampaikan kesaksian tentang Tuhan dengan tujuan memuliakan namaNya, atau bahkan mengusir setan demi nama Tuhan, dengan tujuan memuliakan Tuhan. Setiap kali kita menyebutkan namaNya, gunakanlah dengan suatu pemahaman dan hormat akan Dia, Sang Penguasa Surga di mana para serafim menutupi wajah mereka dan mengucapkan kudus, kudus, kudus. Sehingga pada waktu kita menyebut namaNya, biarlah kita menyebutnya dengan serius sambil menyadari keagungan dan kemuliaanNya yang tak terbatas kemudian merendahkan serta sujud kepada Nama itu. 
Pertanyaannya bagaimana kita dapat yakin bahwa kita tidak sedang menyebut nama Allah (mengakui iman kita di dalam Yesus Kristus) dengan sembarangan. Jawabannya diung-kapkan dengan jelas oleh Yakobus, “Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya. Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” (Yakobus 1:22-26). Artinya kita membaca Alkitab untuk memandang kemuliaan Tuhan Yesus dan untuk menjadi serupa denganNya.
Dengan demikian saudara, menyebut nama Tuhan Allah atau meninggikanNya di dalam perkataan atau pengakuan, merupakan hal yang amat sangat penting kita lakukan. Kita seharusnya tidak pernah melakukannya tanpa menyadari tanggung jawab yang serius di dalamnya. Oleh karena itu, biarlah kita senantiasa mempunyai kerinduan yang terus menerus untuk menumbuhkan sikap hormat yang tinggi bagi Allah dan namaNya di dalam seluruh bidang kehidupan. Kiranya Roh Kudus menolong kita agar kita dapat lebih berhati-hati dalam menyebut nama Tuhan. Amin.

Jumat, 24 Juli 2015

JANJI BERKAT KEPADA MEREKA YANG TAAT

JANJI BERKAT KEPADA MEREKA YANG TAAT
Ulangan 11:22-25


Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Berbicara soal janji berkat, tidak bisa dipungkiri bahwa ada begitu banyak orang menginginkan berkat, tetapi tidak semua mau taat. Mungkin kita bertanya, mengapa berkat harus dikaitkan dengan ketaatan? Sebab, berkat yang sesungguhnya adalah datang dari ketaatan pada perintah Tuhan. Sedangkan kutuk datangnya dari ketidaktaatan.
Ketaatan adalah sebuah kualitas karakter yang menentukan masa depan seseorang. Sejauh mana Anda diberkati adalah tergantung sejauh mana Anda taat pada Tuhan. Namun lebih dari sekedar berkat, yang lebih penting adalah apakah Tuhan masih menyertai kita atau tidak dalam segala yang hal yang kita lakukan.
Saudara,
Pertanyaannya bagi kita saudara: Ketika Anda mendengar kata “taat”, apa yang muncul di pikiran Anda? Gambaran yang “positif” atau “negatif”? Kira-kira, apakah Anda menyukai “ketaatan”?
Bapak/ ibu yang kekasih,
Ada orang yang tidak suka “taat” karena dia merasa kebebasannya dibatasi. Anak-anak umumnya tidak suka mentaati perintah orang tuanya, oleh karena merasa hak mereka dibatasi. Coba kita perhatikan bagaimana reaksi anak-anak saat orang tua meminta mereka belajar sebelum diperbolehkan untuk main? Atau selama seminggu ini tidak boleh menonton televisi karena sedang menghadapi ujian semester? Apakah mereka taat kepada perintah orang tua? Kebanyakan tidak bukan!
Yang terjadi justru anak-anak mau taat pada sesuatu yang mereka sukai. Sebaliknya, mereka tidak suka taat pada perintah yang mereka tidak sukai. Inilah realita keberadaan manusia yang telah jatuh dalam dosa. Bahwa kecenderungan manusia adalah mengikuti keinginannya sendiri, mereka cenderung memuaskan keinginan daging.
Bapak/ ibu yang kekasih daam Tuhan,
Tuhan Yesus adalah Pribadi yang memberi contoh kepada kita bagaimana Ia menunjukkan ketaatanNya pada Bapa dalam hidupNya selama 33 ½ tahun di bumi. “Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat melalui apa yang telah dideritaNya” (Ibrani 5:8). “Itulah sebabnya, Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepadaNya nama di atas segala nama” (Filipi 2:9). Dengan kata lain bapak/ Ibu, Allah sangat berkenan kepada orang yang taat kepadaNya dalam situasi sulit sekalipun.
Bapak/ Ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Kembali kepada Kitab Ulangan yang kita baca kali ini, ini merupakan nasehat Musa yang mengulang kembali kisah perjalanan umat selama 40 tahun di padang gurun dan mengingatkan mereka segala ketetapan –peraturan – hukum Tuhan, Allah Israel supaya mereka tidak melupakan Firman dan kisah perjalanan mereka bersama Tuhan saat akan memasuki Tanah Kanaan, negeri yang dijanjikan Tuhan.
Peringatan yang disampaikan Musa kepada umat adalah suatu janji masa depan. Musa mengingatkan umat, bahwa apabila mereka sungguh-sungguh berpegang pada segala perintah Tuhan, mengasihi-Nya, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan berpaut kepada-Nya (ayat 22). Inilah kesuksesan yang menanti umat yang taat, mengasihi, dan bergantung sepenuhnya pada Tuhan.
Tentu saja yang dimaksudkan disini bukan kesuksesan duniawi, suatu kesuksesan yang diingingkan orang secara pribadi. Faktanya saudara, banyak dari umat Allah yang walaupun tetap miskin secara materail, tetapi mereka sukses dalam kehidupan mereka. Ketika mereka memperoleh rahmat Tuhan untuk menunjukkan jiwa yang puas di tengah keterbatasan sumber daya, mereka berhasil menunjukkan bahwa Tuhan itu cukup, mengatasi segalanya. Itulah kesaksian hidup beriman mereka di tengah bangsa-bangsa yang menyembah ilah-ilah kesuburan dan kemakmuran.
Dalam hal inilah bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan. Saya mengajak kita untuk belajar bagaimana menjadi anak Tuhan yang taat agar janji berkat Tuhan dapat turun atas kita:

1.  Berpegang pada perintah Tuhan (Ayat 22).
Bapak/ ibu yang kekasih,
Apa yang dilakukan seseorang jika hampir terjatuh? Sudah pasti ia akan mencari sesuatu yang dapat dipegangnya agar ia dapat terbebas dari kejatuhan.
Begitu pula dengan kerohanian bangsa Israel. Perintah Musa kepada bangsa Israel adalah mereka harus “Berpegang pada perintah Tuhan.” Perintah Tuhan adalah pedoman untuk kelangsungan hidup dan keselamatan mereka di tanah Kanaan. Tanpa itu, tidak ada seorang pun dapat berhasil meraihnya. Namun, untuk dapat berpegang pada Perintah Tuhan, perlu bagi mereka untuk mendengar dengan sungguh-sungguh akan isi dari perintah itu.
Saudara, mengapa hal mendengar penting bagi mereka? Sebab kenyataannya, bangsa Israel tidak sungguh-sungguh mendengarkan apa yang diperintahkan Tuhan atas mereka. Perintah Tuhan bagi mereka seperti sesuatu yang lewat begitu saja. Apa yang di sampaikan oleh Tuhan, dengan mudahnya mereka lupakan. Itulah sebabnya, untuk dapat berpegang pada perintah Tuhan, maka terlebih dahulu mereka harus dengan sungguh-sungguh mendengarkan.
Dalam hal ini saudara, sungguh-sungguh mendengar memberi arti bahwa bangsa Israel bukan hanya mendengar sambil lalu, tapi Tuhan menuntut perhatian khusus mereka pada apa yang mereka dengar. Artinya mereka bukan hanya sekedar mendengar lalu melupakan, namun mendengar dan kemudian tetap mengingatnya.
Dampak dari ketaatan mendengar ini adalah menjadikan perintah Tuhan sebagai pegangan dalam hidup. Apapun yang terjadi, perintah dan ketetapan dari Tuhan harus menjadi pegangan dan tolok ukur kehidupan mereka.
Tuhan adalah Bapa yang baik, yang ingin selalu memberkati kita. Karena itu saudara, jangan pernah mencurigai Allah. Iman berarti mempercayai bahwa Allah mau dan ingin memberi yang terbaik untuk kita.
Iman yang benar adalah iman yang lahir dari Allah. Dan iman yang lahir dari Allah pastinya membawa kita untuk mengenal Allah. Jadi semakin kita mengenal Allah, seharusnya membawa kita semakin mentaati Allah. Dalam hal inilah saudaraku, ketaatan yang lahir dari iman, akan menolong kita untuk taat dengan hati yang bersukacita.
Masalahnya, ada begitu banyak orang mau taat sama Tuhan, tetapi mengeluh dalam menjalankannya. Tidak ada sukacita yang membuatnya semakin bersemangat dalam melakukan ketaatan, sebab dijalaninya dengan mengeluh. Taat tanpa sukacita hanyalah mendatangkan kuk atau beban terhadap jiwa kita. Apakah Anda taat kepada orang tua dengan bersungut-sungut? Apakah Anda taat kepada suami dengan mengeluh? Ingatlah bapak/ ibu yang kekasih, ketika kita taat kepada pemimpin kita, sejatinya kita sedang taat kepada Tuhan, karena pemimpin adalah wakil Allah (Roma 13:1).
Allah berkenan kepada ketaatan. Allah menaruh nilai tinggi kepada ketaatan. Karena itu jalan pertama bagi kita untuk dapat menaati Tuhan adalah hanya dengan berpegang teguh pada perintah Tuhan. Sebaliknya, ketidaktaatan kita adalah sebuah pelanggaran yang serius bagi Allah.

2. Mengasihi Tuhan Melalui Hidup menurut jalan yang ditunjukkanNya (ayat 22).
Bapak/ ibu yang kekasih,
Umumnya, saat orang melakukan suatu perintah dari atasanya karena motif “rasa takut” dan “segan”. Efeknya adalah, mereka hanya taat karena takut dan enggan dan tidak dilakukan dengan ketulusan. Sebaliknya, jika mengerjakan sesuatu karena alasan cinta atau kasih, maka siapapun akan melakukannya dengan sepenuh hati kepada mereka yang dikasihi.
Hal inilah yang dimaksudkan oleh Musa. Bagian ini bicara soal ketaatan tanpa pamrih untuk mengikuti jalan atau cara hidup sesuai kehendak Tuhan dan bukan sesuai jalan hidup dan kehendak sendiri. Hal itu dilakukan dengan tulus karena mengasihi Allah dan bukan hanya karena takut dihukum.
Taat yang benar harus lahir dari pemahaman akan firman kebenaran, terutama akan prinsip hubungan antara “ketaatan dan otoritas”. Taat dibangun atas dasar pemahaman tentang pentingnya ketaatan.
Allah memberkati orang yang taat kepada otoritas. Anda mau diberkati? Taatilah dan hormatilah otoritasmu. Berkat Allah melimpah terhadap orang yang menghormati otoritasnya.
Tidak dapat diragukan lagi bahwa bangsa Israel ini adalah bangsa yang bebal. Mereka cenderung melakukan apa yang dianggap baik dan menyenangkan mereka. Israel diminta mengikuti. Istilah “Menurut jalan yang ditunjukkanNya” ini setara artinya dengan mematuhi. Bukankah Israel terkenal sebagai umat bermental “persungutan”? Banyak hal yang mereka responi dengan bersungut dan membantah. Poin kedua ini mengandung makna penting bahwa mereka bukan hanya mendengar perintah, tapi harus mengingatnya; bukan hanya mengingat perintah, tapi juga harus mengerjakannya; bukan hanya sekedar mengerjakannya, tapi juga harus mengerjakan dengan benar; dan bukan hanya mengerjakan dengan benar, tetapi juga mereka harus melakukannya dengan kasih yang tulus kepada Allah, sehingga dengan kasih itu, mereka dapat melakukan segala sesuatu tanpa lagi bersungut-sungut dan berbantah-bantah dan bukan karena alasan terpaksa.
Jadi bapak/ ibu yang kekasih,
Jika selama ini kita berlaku tidak taat, jangan-jangan sebenarnya kita tidak mengasihi Tuhan. Tidak taat artinya kita lebih mengasihi diri kita, lebih mengasihi daging kita, mengasihi kenikmatan dosa, sekalipun kita menyanyi ”aku cinta Yesus” berulang-ulang di ibadah.
Kasih yang sejati seharusnya dapat diekspresikan dengan sikap menghormati Tuhan. Menghormati Tuhan diekspresikan dengan menuruti perintah-perintahNya. Taat tidak bisa dipaksa. Ketaatan yang lahir karena terpaksa atau takut, hanya akan bertahan sementara. Sebaliknya, taat pada Tuhan perlu dibangun di atas hati yang mengasihi dan menghormati Tuhan. Ketika kita mengasihi Tuhan, maka seharusnya tidak akan menyulitkan kita untuk melakukan perintah-perintahNya.
Bagaimana dengan kita bapak ibu yang kekasih,
Jika kita menginginkan berkat Tuhan hadir dalam kehidupan kita, kunci yang kedua adalah belajar untuk mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh sesuai dengan apa yang telah ditetapkanNya bagi kita.

3.  Apa gunanya hidup dalam ketaatan?
Pada ayat 23-25 Musa menyampaikan bahwa jika mereka sungguh-sungguh melakukan perintah dan ketetapan Allah sebagaimana yang diperintahkan ayat 22, maka negeri perjanjian yakni Tanah Kanaan akan menjadi milik mereka. Bangsa Israel tidak perlu lagi kuatir apakah mereka dapat merebut tanah Kanaan atau tidak. Sebab tanah Kanaan tidak akan direbut dengan susah payah oleh bangsa Israel, sebaliknya justru diberikan Tuhan bagi mereka.
Hal ini ingin menekankan bahwa hanya lewat ketaatan dan kepatuhan kepada Allah sajalah bangsa Israel akan memperoleh berkat. Pertanyaannya, berkat apakah yang akan mereka terima itu?
Ada banyak jenis berkat yang akan Tuhan berikan, jika umat Israel sungguh-sungguh taat kepada Allah. Silakan bandingkan jenis berkat dalam Ulangan 28:1-10 dst. Bahkan jika kita perhatikan dalam Ulangan 28:15, kita akan menemukan bahwa: hingga urusan dapur, pekerjaan, kandungan dll akan diberkati Tuhan. Terlebih lagi, saat mereka masuk atau keluar, Tuhan pu akan memberkati mereka.

RELEVANSI DAN APLIKASI
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Kita tidak mungkin berharap bahwa Allah akan memberkati dan menyertai kita, jika hidup yang kita lakukan tak berkenan kepadaNya. Hidup berkenan kepada Allah hanya dapat terlihat melalui gaya hidup dalam ketaatan melakukan segala yang Tuhan kehendaki bagi kita.
Tanpa ketaatan, mustahil kita dapat menerima berkat penyertaan dan perlindungan Tuhan. Banyak orang hanya melakukan segala perintah dan Firman Tuhan dengan kemunafikan. Atau berusaha taat melakukan perintah Tuhan tetapi yang sesuai yang ia inginkan.
Tidak demikian yang seharusnya kita lakukan saudara. Semua yang difirman Tuhan harus kita lakukan dengan ketulusan yang sungguh. Orang percaya diajak untuk mengerjakan perintah Tuhan dengan segenap hati dan jiwa. Itu semua hanya bisa dikerjakan jika kita mengasihi Allah.
Pribadi yang mengasihi Allah, adalah mereka yang rindu menyenangkan Tuhan yang dikasihinya, lewat melakukan segala yang Tuhan kehendaki. Karena itu lakukan dengan setia segala perintah dan FirmanNya sebagai wujud kita mengasihi Tuhan, yang telah lebih dulu mengasihi dan menyelamatkan kita. Tatatilah Tuhan!! Karena di sanalah janji bekat itu diberikan. Ketaatan kepada Tuhan bukanlah sesuatu yang memberatkan kita jika kita mengingat bahwa hidup kita sudah ditebus dari kesia-siaan dan dosa. Amin.