Tampilkan postingan dengan label Markus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Markus. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 November 2016

JANGANLAH KHAWATIR AKAN ANCAMAN MANUSIA

JANGANLAH KHAWATIR AKAN ANCAMAN MANUSIA
Matius 10:16-33
(Markus 13:9-13; Lukas 12:2-9, 21:12-19)


Sidang jemaat yang kekasih,
Beberapa minggu sebelumnya kita sudah belajar bagaimana kehidupan manusia selalunya diliputi oleh perasaan takut atau pun kuatir, takut akan kebutuhan pangan yang tidak tercukupi, takut akan kebutuhan sandang yang kurang layak, atau takut akan kebutuhan papan kita tidak memadai, dan kita diingatkan saudara, untuk tidak kuatir dan takut terhadap semuanya itu. Karena Allah yang kita sembah adalah Allah pemelihara kehidupan kita. Dan jika Allah adalah pemelihara hidup kita, maka Ia pun akan mencukupkan segala kebutuhan hidup kita.
Saudara, hal yang seringkali juga menjadi sumber kekuatiran manusia, adalah kita sering menjadi takut dengan ancaman manusia. Kita perlu tahu bahwa menjadi menjadi orang Kristen bukan berarti kita akan terhindar dari yang namanya penderitaan. Sebab Tuhan sudah memberikan syarat, bahwa setiap orang yang mau mengikut Yesus, ia harus terlebih dahulu menyangkal diri, memikul salib lalu mengikut Yesus (Matius 16:24; Markus 8:34, Lukas 9:23). Dalam hal ini, saya tidak akan kembali mengulas pembahasan tentang hal mengikut Yesus, akan tetapi hari ini saya ingin lebih memfokuskan pembahasan kita mengenai konsekuensi yang bakal kita terima sebagai pengikut Yesus, yaitu bahwa setiap orang percaya pastinya akan diperhadapkan dengan yang namanya penderitaan, penganiayaan bahkan pembunuhan.
Dalam hal ini, Tuhan menggambarkan keadaan kita seperti “seekor domba yang berada di tengah-tengah srigala, dan Tuhan menghendaki kita untuk dapat bersikap cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Band. ayat 16). Kondisi ini memang sulit untuk kita pikirkan, bagaimana seekor domba harus berada di tengah-tengah srigala. Mungkin dunia akan berpikir bahwa analogi ini sama artinya dengan bunuh diri. Sehingga pikiran dunia pada akhirnya sudah meracuni sebagian dari orang Kristen.
Karenanya tidak heran saudara, kalau banyak orang percaya berusaha untuk menghindari kenyataan pahit ini. Daripada harus menelan pil pahit, bukankah lebih baik minum suplemen. Suplemen itu lebih enak, suplemen itu menyehatkan. Nah, kalau pil pahit, jangankan meminumnya, mencium baunya saja semua orang menghindar. Akhirnya mereka punya konsep, daripada mati konyol bukankah lebih baik hidup happy ya ya ya, happy ye ye ye. Sehingga tidak heran saudara, jika pada akhirnya banyak anak Tuhan yang lebih menyenangi nasihat-nasihat yang menjanjikan penghiburan, khotbah-khotbah yang ringan dan menghiburkan. Sebab konsep berpikir mereka adalah karena mereka sudah penat dengan kesibukan pekerjaan mereka, kalau pun mereka datang ke gereja adalah bukan untuk diajak untuk berpikir, bukan mau diajar untuk memahami kehendak Tuhan, tetapi lebih untuk mencari kepuasan batin. Mereka mencari pengkhotbah-pengkhotbah yang bisa menyenangkan hati mereka, daripada harus menjalani kenyataan hidup yang pahit. Nah, kalau hanya mau mencari kepuasan hati, untuk apa panggil pengkhotbah, panggil saja komika-komika ternama yang bisa “standup komedy” sehingga gereja bisa menghadirkan lelucon yang menyenangkan hati. Sebab pengkhotbah sejati tidak pernah berusaha menyenangkan hati jemaat, tetapi selalunya menyenangkan hati Tuhan.
Di sinilah letak permasalahannya, saudara! Mengapa banyak jemaat ogahogahan datang beribadah? karena mereka tidak mau belajar dari Tuhan! Mengapa banyak orang asal mencari Tuhan? karena sebenarnya mereka tidak mau di atur Tuhan! Sebab kalau kita kembali membaca baik-baik apa yang disampaikan Tuhan Yesus, sebenarnya di sana jelas dikatakan bahwa Tuhanlah yang menghendaki kita masuk ke dalam dunia. Perhatikan frase “Lihat, Aku mengutus kamu…” Saudara, kalimat ini jelas menyatakan bahwa atas kehendak Tuhanlah kita masuk ke dalam dunia dan tinggal di dalam dunia. Tuhan mengutus kita ke tengah-tengah dunia bukan untuk berleha-leha, untuk bersantai-santai, tidak! Tetapi Tuhan mengutus kita untuk belajar menelan pil pahit. Karena itulah Ia menggambarkan “seperti seekor domba di tengah-tengah srigala.”
Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan,
Apa yang bisa diharapkan dari kawanan domba yang lemah, tidak berdaya, dan yang tidak bisa melindungi diri di tengah-tengah kawanan srigala yang buas? Selain mereka akan hidup dalam kegelisahan, mereka akan terus mengembik karena ketaktan dan akhirnya ia menjadi mangsa srigala hingga mati tercabik-cabik? Tetapi kondisi ini tidak sama artinya dengan mati konyol. Karena kita tidak sendirian, Ia akan selalunya berada di dekat kita. Dalam hal ini, sebenarnya Tuhan ingin mengingatkan kepada kita, inilah kondisi dunia yang harus dihadapi anak-anak Tuhan.
Saudara, dunia tidak lagi memandang kita sebagai bagiannya, sebab dunia tidak lagi melihat bagian diri kita yang lama, karena itu mereka membenci kita (ayat 22). Namun ketika kita sadar bahwa Tuhan Yesuslah yang mengutus kita, seharusnya ini menjadi penghiburan bagi kita. Sebab jika Tuhan Yesus mengutus murid-murid-Nya pasti juga Ia akan melindungi dan meneguhkan mereka.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Saat kita menerima Yesus menjadi Tuhan dan Juruselamat, bukankah kita tidak membayar harga apapun. Persembahan dan perpuluhan yang kita berikan kepada gereja, bukan sebagai pengganti bahwa kita telah membayar jasa Tuhan. Terlalu picik jika kita memikirkannya demikian. Alkitab dengan tegas mengatakan kepada kita bahwa kita ditebus bukan dengan perak atau emas, melainkan  dengan darah Kristus yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat (1 Petrus 1:18-19). Karena itu tidak ada seorangpun yang berjasa menggantikan pengorbanan Kristus. Namun ketika kita mulai mengikut Yesus ada harga yang harus dibayar. Dan ketika kita mulai melayani Yesus, kita harus membayar segala-galanya. Tetapi itu tidaklah seberapa, jika dibandingkan dengan kehormatan yang dipikul para hamba-Nya kini dan kemuliaan yang kelak diberikan pada kita (Roma 8:18).
Dan tujuan peringatan yang diberikan Tuhan Yesus ini adalah bukan supaya kita menjadi mundur dari panggilan kita. Justru sebaliknya, Tuhan menghendaki kita agar memiliki satu keberanian untuk mengatakan kebenaran dengan jelas dan terbuka. Kita dituntut Tuhan untuk menyadari konsekuensi yang bakal kita hadapi sebagai anak Tuhan dan bersiap-siap untuk menghadapinya.
Karena itu saudara, setiap kita dipanggil untuk bersikap cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Apa maksudnya saudara? Maksud dari “cerdik seperti ular” berarti kita dituntut untuk waspada dan tidak lengah. Waspada betapa jahatnya orang-orang yang belum kenal Tuhan. Namun demikian, Tuhan Yesus mempunyai kasih yang sempurna. Sehingga sekali pun Dia tahu betapa jahatnya manusia, Dia tetap rela datang ke dalam dunia dan melayani manusia.
Jadi saudara, setiap pengikut Kristus harus tahu betapa jahatnya manusia. Jika mereka tidak menyadarinya, bayangkan betapa mudahnya mereka kecewa dan putus asa ketika akhirnya mereka tersadar bahwa dunia memang sangat kejam.
Kita memang tidak dipanggil untuk memakai kekuatan fisik ataupun senjata militer untuk menghadapi penolakan dan serangan dari penguasa-penguasa dunia. Sebaliknya kita dipanggil untuk memakai senjata Ilahi, yaitu pimpinan Roh Kudus (ayat 19-20). Sampai di sini, kita melihat ternyata mengikut Tuhan itu sangat mengerikan. Di dalamnya penuh aniaya dan penuh bahaya. Apakah ini berarti lebih baik kita tidak usah mengikut Dia? Tidak saudara!
Sekarang mari kita lihat, siapakah manusia yang ada di dunia ini yang bebas dari aniaya dan bahaya? Apakah presiden bebas dari aniaya? Begitu ada revolusi para pemberontak itu akan menganiaya, bahkan membunuh presiden yang terguling. Ada banyak sejarah membuktikan kepala-kepala negara yang harus mengakhiri masa jabatannya karena tuntutan ini. Salah satunya kasus yang baru-baru ini terjadi dimana Senat Brasil pada Rabu (31/8/2016) melengserkan Presiden Dilma Rousseff dari posisinya karena dinilai melanggar undang-undang anggaran negara. Dengan demikian, berakhir sudah kekuasaan partai bergaris kiri, Partai Buruh, yang selama 13 tahun terakhir berhasil menempatkan kadernya di posisi tertinggi di negara dengan perekonomian terbesar kawasan Amerika Latin tersebut.
Apakah tentara bebas aniaya? Mereka justru menjadi target senjata tentara lawan. Para tentara diutus negara menjadi garda terdepan, yang siap melindungi negaranya dari serangan musuh. Jadi pastinya mereka sudah bersumpah untuk rela mati bagi negaranya. Siapakah manusia di dunia ini yang bebas dari bahaya dan aniaya? Saya rasa tidak ada! Itu sebabnya bodoh sekali kalau orang Kristen menjadi takut mengikut Tuhan karena takut acaman bahaya. Terlalu banyak orang penakut di dunia ini, karena itu jangan lagi kita menambah-nambah jumlahnya dengan menjadi salah satu orang penakut.
Sebaliknya, biarlah kita “tulus seperti merpati” maksudnya adalah dalam memberitakan Injil, kita tidak boleh bertujuan yang salah apalagi mengkompromikan isi beritanya. Kita adalah marketing-marketing Allah yang dipanggil untuk menjadi saksi-Nya. Kita dipanggil untuk menyaksikan bagaimana Allah berkarya di dalam kehidupan kita, bagaimana Allah memelihara kita, bagaimana Allah memilih dan menyelamatkan kita. Dengan berani kita mengakui Yesus adalah Raja kerajaan surga di hadapan semua manusia (32). Maka Tuhan Yesus pun akan mengakui kita di hadapan Allah Bapa. Justru dengan ketulusan seperti merpati ini, akan mencegah mereka dari cara yang berdosa untuk meloloskan diri dari bahaya tersebut.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Tuhan Yesus sudah mengingatkan bahwa orang-orang yang tidak takut Tuhan akan membenci, memfitnah, menghukum, menyiksa, dan mempermalukan utusan-utusan Tuhan. Bukan saja orang-orang fasik itu memiliki rencana jahat, mereka juga mempunyai akses kepada pemerintah dan pemimpin-pemimpin sehingga mereka pun melawan para murid. Sebagian akan dibenci tanpa alasan, sebagian difitnah dan dianggap penjahat. Sebagian dianiaya, sebagian bahkan dibunuh. Sebagian lagi akan dikejar-kejar dan harus hidup di dalam pelarian. Mereka begitu membenci anak-anak Tuhan yang selalunya memberitakan kabar pentingnya pertobatan dari dosa-dosa mereka.
Tetapi, dikatakan di dalam ayat 23, “Sesungguhnya sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.” Maksudnya adalah sebelum kehabisan tempat berlindung, Tuhan sudah datang memberikan pertolongan-Nya. Saudara, Tuhan memang tidak menjanjikan akan meloloskan mereka dari bahaya, sebaliknya Tuhan menghendaki kita untuk bersikap waspada terhadap rencana jahat, yang sekalipun pada akhirnya kita harus tertangkap dan diadili, tetapi Tuhan mengatakan bahwa Roh Kudus akan memberikan kekuatan kepada kita untuk terus bersaksi. Roh Kudus akan secara aktif senantiasa menyertai mereka. Faktanya saudara, sejarah membuktikan, sejak para Rasul itu tersebar, sejak anak-anak Tuhan semakin menderita, sejak Injil makin ditekan, tetapi kasih karunia Tuhan tidak pernah berkurang. Bahkan kalau kita mau hitung-hitungan sampai hari ini, pekerjaan Tuhan semakin banyak tersiar ke belahan bumi.
Dalam hal inilah Tuhan ingin mengingatkan murid-murid-Nya bagaimana mereka menghadapi sistem dunia ini. Ini adalah tugas yang sangat berat, tetapi Tuhan terus menjanjikan penyertaan-Nya. Kesadaran akan penyertaan Tuhan yang melampaui hidup dan mati, menjadi kunci kemenangan bagi kita yang percaya.
Karena itu saudara, tiga kali Tuhan menegaskan kepada setiap murid-murid-Nya agar mereka tidak takut terhadap semua itu, yakni dalam ayat 26-27, 28 dan 31.
Mari kita perhatikan perintah pertama Tuhan Yesus dalam ayat 26-27, ini merupakan perintah ganda kepada para murid-Nya agar mereka tidak perlu takut. Dikatakan “Jadi janganklah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas atap rumah.” Maksudnya adalah Tuhan Yesus ingin menyatakan dengan secara gamblang bahwa para pelayan Tuhan, para pemberita Injil tidak perlu takut. Kebenaran pasti akan menang. Karena itu mereka harus tetap setia kepada Firman Allah, berkhotbah secara terang-terangan, tegas dan dengan berani. Kalau ada orang Kristen yang mengalami aniaya, sengsara dan bahkan sampai harus mati syahid karena imannya, maka ia harus ingat bahwa harinya akan tiba ketika semuanya akan tampak jelas bagaimana adanya. Dan pada hari itu juga kepalsuan kekuatan di penganiaya akan nyata, dan kepahlawanan saksi kristiani akan nyata dan masing-masing akan mendapatkan ganjaran.
Saudara inilah yang dirasakan oleh Paulus, bagi Paulus menderita bagi Kristus bukanlah sebuah kerugian. Justru “ia menghendaki agar setiap pembaca tahu, bahwa apa yang terjadi atasnya justru telah menyebabkan kemajuan Injil. Sehingga telah jelas bagi seluruh istana dan semua orang lain, bahwa ia dipenjarakan tidak lain oleh karena Kristus” (Band. Filipi 1:12-13). Dari sini kita melihat saudara, karena perjumpaannya dengan Kristuslah, saat ia melihat kembali ke belakang, semua yang ia lakukan dianggapnya sebagai sampah. Ia tidak pernah menyesal untuk menerima Yesus sebagai Juruselamat pribadinya, terlebih harus menderita bagi Kristus. Dari sinilah Paulus mengambil satu kesimpulan yang sangat tepat ketika ia mengatakan “Karena bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan” (Filipi 1:21).
Perintah kedua dalam ayat 28, “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” Ayat ini secara sederhana ingin menjelaskan bahwa tidak ada hukuman yang dikenakan oleh manusia kepada manusia lain, yang dapat dibandingkan dengan nasib akhir dari manusia yang bersalah karena tidak taat dan tidak setia kepada Tuhan. Dengan kata lain, memang benar manusia bisa membunuh jasmani manusia yang lain, tetapi kutukan dan hukuman Tuhan atas manusia akan mematikan baik jasmani maupun jiwa manusia.
Karena itu saudara, maut bukan saja berbicara soal kematian jasmani, tetapi maut yang sesungguhnya yang dimaksudkan Alkitab adalah keterpisahan manusia dari hadapan Allah. Keterpisahan ini begitu mengerikan sehingga Anak Manusia pun menjerit mewakili manusia yang berdosa, “Eloi, Eloi, lama Sabaktani?” yang berarti “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46; Markus 15:34). Saudara, dalam konteks ini, Allah sebagai Bapa memang tidak meninggalkan diri-Nya (Lukas 23:46); tetapi Allah Sebagai Hakim harus memisahkan diri dari Dia apabila Dia akan mengalami kematian rohani menggantikan manusia berdosa. Karenanya saudara, kita yang telah mengenal kebenaran, seharusnya kita tidak takut terhadap ancaman manusia yang ingin mengambil nyawa kita, karena Tuhan telah terlebih dahulu berjanji akan menjamin kita. Sebaliknya, takutlah kepada Allah sebagai Hakim yang akan menghakimi semua manusia, baik yang telah mati ataupun yang masih hidup. Ia akan menghukum setiap manusia yang berdosa dengan hukuman kekal-Nya. Karenanya tidak ada alasan untuk kita tidak setia kepada Tuhan. Seharusnya kenyataan ini semakin menambah kecintaan kita kepada Tuhan.
Perintah ketiga dalam ayat 31, “Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.” Perintah ini didasarkan pada kepastian akan penyertaan dan perhatian Tuhan. Kalau burung pipit saja yang harganya sangat murah dipelihara dan diperhatikan oleh Tuhan, apalagi hidup manusia. Tuhan Yesus mengingatkan bahwa Allah Bapa sanggup memelihara hidup dan Dia juga yang menentukan hidup matinya seseorang. Hidup kita dianggap begitu berharga sehingga rambut di kepala kita pun terhitung semua (ayat 30). Tuhan tidak akan meninggalkan kita dalam keadaan apa pun. Jika demikian, mari kita berjanji untuk tidak meninggalkan Dia dalam keadaan apa pun.
Di dalam ayat 32 Tuhan Yesus memperingatkan bahwa takut kepada manusia hingga menyangkal nama Yesus adalah dosa yang sangat besar. “Setiap orang yang mengakui AKu di depan manusia, Aku pun akan mengakuinya di depan Bapa-ku yang di sorga.” Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk dapat mengelak dari kenyataan, dengan alasan takut mati sehingga kita, menyangkal nama Tuhan Yesus?
Karena itu saudara, bahwa keberanian dan keteguhan hati para utusan Sang Raja itu bukanlah suatu hal yang tanpa dasar. Keberanian dan keteguhan mereka itu didasarkan pada keyakinan, bahwa apa pun yang terjadi mereka tidak akan dapat terlepas atau hanyut keluar dari perlindungan kasih Allah. Mereka tahu bahwa segenap waktu hidup dan matinya ada pada tangan Tuhan. Mereka tahu bahwa Allah tidak akan meninggalkan atau mengkhianati mereka. Mereka tahu bahwa mereka selalunya disertai dan dilindungi oleh pemeliharaan Tuhan. Kalau demikian keadaanya, masihkah kita harus takut? Dan kalaupun memang masih takut, kepada siapakah kita harus takut?
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan, 
Tuntutan Yesus ini berlaku bagi siapa saja, dari generasi ke generasi. Faktanya ada begitu banyak alasan untuk kita tetap menaati Tuhan dengan penuh sukacita dan keberanian. Mari layani Tuhan dengan mengabarkan firman-Nya. Mari layani Tuhan dengan tulus dan tidak ada motivasi egois apa pun. Mari layani Tuhan dengan kesadaran betapa bahayanya dunia tempat kita berada ini. Mari layani Tuhan dengan kesadaran bahwa Tuhan akan memimpin, menyediakan jalan, menyertai, dan menjaga hidup kita. Sebab Tuhan Yesus sudah berkata: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang (Matius 10:34). Maksudnya adalah pedang kebenaran yang akan memberi hidup kepada semua orang yang percaya kepada-Nya. Karena itu jangan pernah kita takut terhadap ancaman dunia, sebaliknya “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat” (Ibrani 10:25). Kiranya Firman Tuhan ini menguatkan kita sekalian. Amin.

Senin, 07 November 2016

PEMBAPTISAN KRISTUS

PEMBAPTISAN KRISTUS
Matius 3:16-17
(Markus 1:9-11; Lukas 3:21-22; Yohanes 1:32-34)


Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan,
Hari ini kita akan membahas satu topik tentang pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Peristiwa pembaptisan Yesus oleh Yohanes dicatat oleh ketiga Injil Sinoptik, yaitu dalam Matius 3:1-17; Markus 1:9-11 dan Lukas 3:21-22. Sementara dalam Injil Yohanes sendiri, rasul Yohanes memasukkan kesaksian Yohanes Pembaptis secara pribadi dan tentang pengakuannya bahwa Yesus adalah Anak Allah (Yohanes 1:29-34). Lagi pula kedatangan Yesus untuk dibaptis oleh Yohanes disajikan secara cukup kontras dengan kedatangan yang orang-orang yang munafik dari golongan Farisi dan Saduki. Kedatangannya bukan disertai pujian karena pertobatan yang mereka alami, sebaliknya  Yohanes menyebut mereka sebagai keturunan ular beludak (Matius 3:7).
Saudara, terkait dengan baptisan Yohanes yang diterima oleh Yesus, banyak menimbulkan pertanyaan: Apakah maksud dari baptisan yang diterima oleh Tuhan Yesus sama dengan baptisan yang diterima manusia pada umumnya? Apakah Yesus berdosa sehingga perlu di baptis? Jika Yesus adalah manusia yang tanpa dosa mengapa Tuhan Yesus masih perlu menerima pembaptisan Yohanes? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, ada baiknya kita terlebih dahulu melihat latar belakang tentang tugas Yohanes pembaptis.
Semenjak peristiwa kelahiran Yohanes dan Yesus diceritakan dalam pasal-pasal terdepan. Tidak ada kisah yang dapat kita temukan selain dari kisah saat Yesus berumur 12 tahun. Karenanya kemunculan Yesus dalam peristiwa pembaptisan-Nya adalah awal dari pelayanan-Nya sebagai Mesias. Selama tiga puluh tahun lamanya baik Yohanes maupun Yesus belum melaksanakan rencana Allah. Yohanes berada di Yudea membantu imam Zakharia ayahnya. Sedangkan Yesus Kristus berada di Galilea membantu Yusuf sebagai tukang kayu. Sebagai anak dari seorang tukang kayu, dengan setia Yesus telah melakukan pekerjaan-nya sehari-hari dan menunaikan kewajiban-Nya terhadap keluarga-Nya. Namun setelah sekian lama, Yesus pastinya menyadari bahwa waktunya sudah tiba bagi-Nya untuk keluar.
Karenanya sesudah melewati masa tenang itu, “Pada waktu Hanas dan Kayafas menjadi Imam Besar, datanglah firman Allah kepada Yohanes, anak Zakharia di padang Gurun” (Lukas 3:2). Di sana Allah memberinya perintah tentang apa yang harus dikerjakannya. Sebab waktunya untuk mengerjakan perintah Allah sudah tiba. Saudara, Yohanes tampil menjadi pembuka jalan untuk memberitakan pertobatan bagi orang-orang di Yudea. Inilah ungkapan yang sama seperti yang digunakan untuk nabi-nabi Perjanjian Lama. Dikatakan: “Maka datanglah Yohanes ke seluruh daerah Yordan dan menyerukan: ‘Bertobatlah dan berilah dirimu di baptis dan Allah akan mengampuni dosamu,’” (Lukas 3:3). Tindakan ini sekaligus menjadi penggenapan akan nubuat nabi Yesaya, tentang orang yang berseru di padang gurun untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan (Matius 3:3 band. Yesaya 40:3).
Dalam hal ini terjadi kebangkitan rohani yang besar-besaran di daerah Yudea. Dimana kebangunan rohani ini terjadi secara terus menerus dan tiap-tiap hari Yohanes berkhotbah dan setiap hari pula banyak orang yang bertobat dan menyerahkan diri untuk dibaptis. Dengan cara inilah mereka diberi kepastian akan pengampunan dosa, sebagai hasil dari pertobatan mereka. Baptisan dilakukan Yohanes Pembaptis melepaskan mereka dari kuasa dosa, dan memeteraikan mereka dengan anugerah kebebasan atas kesalaan karena dosa (Band. Yehezkiel 18:30).
Pada suatu hari Yesus berada di Yudea. Ia menyaksikan kebangkitan Rohani umat Allah yang begitu luar biasa. Dan Yesus tahu bahwa Yohanes sudah menyiapkan umat Allah untuk menyambut Mesias. Jalan sudah diluruskan. Jalan itu adalah hati umat Allah yang diubahkan dalam pertobatan.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Setelah menyaksikan semua yang terjadi di Yudea, Yesus memutuskan untuk memulai mengerjakan misi yang dipertanggungjawabkan Bapa kepada-Nya. Dan langkah pertama yang dibuat-Nya adalah meminta Yohanes untuk membaptis-Nya.
Perhatikan saudara, dikatakan bahwa Yesus menempuh jarak yang lumayan jauh, yakni dari kota Nazaret, Galiliea ke daerah Sungai Yordan untuk dibaptis. Karena itu kepergian Yesus secara khusus ke sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes menunjukkan tekad dan kesungguhan-Nya menuruti kehendak Allah sejak semula, yaitu menjadi sama dengan manusia tanpa keculi. Sebab ketika Yohanes mengatakan bahwa dialah yang membutuhkan baptisan, Yesus menjawabnya bahwa pembaptisan atas diri-Nya bukan masalah kebutuhan tetapi masalah ketaatan-Nya untuk menggenapi kehendak-Nya.
Pembaptisan Yesus merupakan tanda awal Allah akan bekerja kembali dan masa anugerah telah dimulai. Sebab sudah lebih dari 400 tahun Allah berdiam sejak akhir dari masa Perjanjian Lama. Dalam masa itu, Allah  “berhenti berfirman,” tidak ada nabi yang berbicara atau menulis atas nama Tuhan. Kehidupan manusia dijalankan berdasarkan kesukaan hatinya. Karenanya dengan tampilnya Yohanes pembaptis menjadikan dia sebagai nabi Perjanjian Lama yang hidup di masa Perjanjian Baru.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Sekalipun umumnya baptisan Yohanes merupakan tanda sebuah pertobatan (Matius 3:11). Namun fakta menjelaskan kepada kita bahwa Yesuslah yang datang menemui Yohanes untuk dibaptis (Matius 3:13). Kalau kita membaca secara sepintas ayat ini, pastilah menimbulkan pertanyaan besar mengenai apakah Yesus berdosa sehingga Dia minta untuk dibaptis? Kalau Yesus tidak berdosa, bukankah Ia tidak memerlukan pertobatan? Kalau tadi dijelaskan bahwa baptisan Yohanes adalah baptisan untuk pertobatan!  Jadi untuk apa Yesus harus memberi diri untuk dibaptis oleh Yohanes?
Bapak/ ibu yang kekasih,
Sebenarnya jawabannya ada dalam ayat selanjutnya. Dikatakan: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Matius 3:15). Saudara perhatikan kalimat ini, tadi Yohanes pembaptis menjalankan tugasnya sebagai penggenapan dari nubuatan, itu artinya sama dengan menggenapi kehendak Allah. Sekarang dalam Yesus sendiri juga menyatakan bahwa keinginan-Nya untuk dibaptis juga untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah. Jadi dalam hal ini, baik Yohanes maupun Yesus sebenarnya tidak ada yang bertolak belakang satu sama yang lain. Sebab dua-duanya sama-sama menggenapkan kehendak Allah. Kedatangan Yesus kepada Yohanes dan memberi diri untuk dibaptis adalah sebagai tanda bahwa Dia tunduk pada kehendak Allah. Dia dibaptis adalah untuk menggenapkan seluruh kehendak Allah (Matius 3:15).
Sekarang yang menjadi pertanyaan kita bapak/ ibu yang kekasih,
Baptisan yang seperti apa yang diterima Yesus? Saudara, baptisan Yesus bukanlah baptisan tentang pertobatan, sekalipun saat itu Yohanes pembaptis melakukan baptisan untuk pertobatan. Baptisan Yesus berbeda dengan baptisan yang diterima manusia pada Perjanjian Baru, karena kedatangan-Nya adalah untuk menggenapkan kehendak Allah.
Di sini kita melihat, Yesus yang adalah Anak Allah, Ia tidak lahir dari dosa sehingga tidak ada satu dosa pun yang darinya menuntut Yesus harus bertobat. Dia jelas tidak berdosa, tetapi mengambil bagian dalam hal yang seharusnya dijalani dan dilakukan orang-orang berdosa. Jadi kedatangan Yesus kepada Yohanes bukan sebagai orang berdosa yang perlu bertobat. Akan tetapi pembaptisan-Nya lebih merupakan permulaan resmi dari pelayanan-Nya (Kisah 1:21-22; 10:37-38). Lagi pula ketaatan Yesus untuk menerima baptisan Yohanes  adalah suatu tindakan yang dikehendaki Allah.
Dalam Lukas 7:29-30, dijelaskan: “Seluruh orang banyak yang mendengar perkataan-Nya, termasuk para pemungut cukai, mengakui kebenaran Allah, karena mereka telah memberi diri dibaptis oleh Yohanes. Tetapi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat menolak maksud Allah terhadap diri mereka, karena mereka tidak mau dibaptis oleh Yohanes.” Kita melihat saudara, orang yang dibaptis Yohanes adalah orang yang mengerti kebenaran Allah, dalam hal ini Yesus juga dibaptis Yohanes, karena itu Dia pasti mengenal kebenaran Allah.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Dalam bagian lain, Lukas juga mencatat bahwa pembaptisan Tuhan Yesus dilakukan-Nya saat Ia berumur “tiga puluh tahun” (Lukas 3:23). Hal ini mengingatkan kita pada kaum Lewi Yahudi yang selalu memulai tugasnya pada usia tiga puluh tahun (Bilangan 4:3, 35).
Dengan demikian bapak/ ibu yang kekasih, baptisan yang dijelaskan dalam Perjanjian Baru selalunya dilakukan sebagai bentuk penggambaran dari kematian, penguburan dan kebangkitan dengan Yesus. Sedangkan Pembaptisan Tuhan Yesus dalam air adalah sebuah gambaran dari karya penebusan-Nya di atas kayu salib (Lukas 12:50; Matius 20:22). Justru melalui baptisan, penderitaan-Nya di kayu salib, Allah telah “memenuhi semua kebenaran.”
Dengan demikian, tindakan-Nya ini konsisten dan serasi dengan inkarnasi Yesus yang menjadi manusia. Dia menjadi serupa dengan manusia dalam segala hal, walaupun Dia tetap adalah pribadi Yang Suci tanpa dosa. Yesus tidak berdosa tetapi Ia datang untuk menjadi Juruselamat orang berdosa. Untuk itu Ia perlu menempatkan diri-Nya di posisi orang berdosa. Demikian pula Yesus dibaptis sebagai symbol dimulainya pelayanan pengabaran Kerajaan Surga yang dilakukannya dalam periode selama sekitar tiga setengah tahun hingga Yesus mati disalibkan.
Alkitab menuliskan bahwa sebelum Yesus dibaptis, Yohanes sudah merasa tidak pantas untuk membaptis Yesus, karena pikirnya seharusnya Yesuslah yang membaptis dirinya. Yohanes menyadari bahwa dirinya tidak layak membaptis Yesus, sebab ia tahu baptisan yang sejati adalah baptisan Roh Kudus yang dicurahkan hanya oleh Yesus Kristus ke dalam hati orang-orang yang dipilih-Nya. Karena itu ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia, Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku” (Yohanes 1:29-30). Kita melihat saudara, bahwa Yohanes Pembaptis memperkenalkan Yesus kepada orang banyak sebagai Anak domba Allah yang menghapus dosa dunia. Yang kalau kita kaitkan dengan konteks Perjanjian Lama, Yesus digambarkan sebagai anak domba yang akan dikurbankan maka darahnya menjadi kurban penghapus dosa. Demikianlah Yesus berperan bagi penebusan manusia, bahwa Ia menjadi Anak domba Allah. Meskipun Yesus akan datang setelah Yohanes, namun keberadaan-Nya adalah kekal. Kesadaran Yohanes inilah yang pada akhirnya tidak menuntut hormat karena dia muncul sebelum Yesus Kristus. Justru kerendahan hati Yohanes mengisyaratkan kepada kita dua hal penting. Pertama, Yesus, Putera Allah lebih berkuasa bagi manusia. Ia berkuasa untuk menyelamatkan manusia, Yohanes hanya menyiapkan orang supaya bertobat dan layak menerima keselamatan dari Yesus Kristus. Yesus membaptis dengan Roh Kudus, sedangkan Yohanes membaptis dengan air sebagai tanda pertobatan. Kedua, Yohanes adalah pribadi yang rendah hati. Ia mengerti tugasnya yaitu mengantar orang kepada Yesus. Orang yang rendah hati bisa mengenal kelebihan dan kekurangannya di hadirat Tuhan.
Pembaptisan Yesus oleh Yohanes kemudian mengundang penyataan Allah Bapa dari langit yang terbuka. Dituturkan, pada waktu Yesus sudah dibaptis dan keluar dari air, langit terbuka dan dia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atasnya, lalu terdengar suara dari langit yang mengatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Matius 3:17 band. Markus 1:11; Lukas 3:22). Dalam Injil Yohanes dijelaskan bahwa Yohanes sendiri menjadi saksi hidup yang menyaksikan bahwa Roh Tuhan turun ke atas Yesus seperti burung merpati (Yohanes 1:32). Itulah tanda bahwa Yesuslah Anak Allah yang akan membaptis manusia dengan Roh Kudus.
Saudara, ini adalah hal yang pertama dari ketiga peristiwa yang tercatat ketika Bapa berbicara dari surga. Peristiwa yang kedua ialah ketika Yesus dimuliakan di atas Gunung (Lukas 9:28-36) dan peristiwa yang ketiga ialah pada minggu terakhir sebelum penyaliban-Nya (Yohanes 12:28).
Ketika Allah berkata kepada-Nya “Engkau Anak-Ku yang Kukasihi; kepada-Mulah Aku berkenan” (Lukas 3:22). Ucapan ini disusun dari dua teks. “Engkau Anak yang Kukasihi” berasal dari teks Mazmur 2:7 dan biasanya diterima sebagai gambaran Raja Mesias. “Kepada-Mulah Aku berkenan” adalah bagian dari teks Yesaya 42:1, yaitu dari gambaran mengenai hamba Allah yang menderita sebagaimana dijelaskan dalam Yesaya 53.
Di sini nampak bahwa Allah Bapa ingin menyatakan secara terbuka kepada semua orang bahwa pembaptisan Yesus tidaklah sama dengan pembaptisan manusia lain. Apa kehendak Allah bagi Yesus di dunia ini? Yaitu tidak lain adalah untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang (Matius 18:11; Lukas 19:10). Dengan memberi diri dibaptis, Tuhan Yesus menempatkan diri-Nya pada posisi orang berdosa. Di sisi lain, tampilnya Yesus pertama kali di depan public pada saat itu menandai awal dari masa pelayanan-Nya.
Hanya Lukas yang menyebutkan bahwa Yesus sedang berdoa ketika diri-Nya menerima baptisan (Lukas 3:21). Hal ini menunjukkan sebagai Anak Manusia yang sempurna, Yesus bergantung pada Bapa-Nya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan-Nya dan itulah sebabnya Ia berdoa.
Saudara ini menjadi perenungan yang baik bagi kita, Yesus yang adalah Anak Allah, Ia selalu mengisi kehidupan-Nya dengan doa. Kita banyak menemukan bukti-bukti dalam kehidupan Yesus, bahwa Ia senantiasa menjalin relasinya dengan Bapa. Masakah kita yang katanya adalah murid-murid Yesus, tetapi kehidupan kita tidak meneladani apa yang telah diperbuat-Nya bagi kita. Justru seharusnya, doa menjadi sebuah kebutuhan rohani bagi kita dalam menjalankan roda kehidupan kita, baik dalam rumah tangga, dalam pekerjaan ataupun dalam kehidupan pelayanan.
Yang berikut bapak/ ibu yang kekasih,
Turunnya Roh Allah menggenapi tanda yang dinubuatkan bagi Yohanes bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (Yohanes 1:33-34 band. Yesaya 11:2; 42:1; 59:21; 61:1). Sebagaimana Roh turun atas para nabi Perjanjian Lama pada awal pelayanan mereka untuk menuntun mereka, demikianlah Roh turun atas Yesus secara luar biasa. Tentu saja ini berkaitan dengan kemanusiaan Kristus.
Lagi pula turunnya Roh Kudus ke atas Yesus bukan saja menandakan bahwa dia diurapi oleh Roh Allah, menjadi sang Mesias, tetapi juga suatu peristiwa pelantikan Yesus sebagai Anak Allah, sebagai sang Mesias pilihan Allah yang Allah kasihi dan yang kepadanya Allah berkenan, yang ditugaskan untuk “menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa” (Yesaya 42:1; bdk. Mazmur 2:1), yakni Taurat yang baru, yaitu seluruh ajaran dan amanat Yesus yang ditulis dalam Injil Matius, dan disarikan sebagai Hukum Kasih (Matius 22:37-39).
Dengan demikian, pembaptisan Yesus bukan merupakan sebuah tanda pertobatan, melainkan sebuah tindakan identifikasi diri dengan para pendosa, yang didorong oleh kasih dan keinginan untuk menyenangkan hati Bapa. Maka ketika Allah Bapa berbicara dari surga, setiap orang akan tahu bahwa Yesus berbeda dengan manusia lain, karena Dia adalah Anak yang diperkenan Bapa!
Hal yang tidak kalah penting untuk kita pahami adalah, Baptisan Yesus merupakan perwujudan yang sangat baik untuk menunjukkan kebenaran tentang Trinitas. 1) Yesus Kristus, yang dinyatakan setara denan Allah (Yohanes 10:30), dibaptis di sungai Yordan. 2) Roh Kudus, yang juga setara dengan Bapa (Kisah 5:3-4) turun ke atas Yesus sebagai burung merpati. 3) Bapa menyatakan bahwa Ia sangat berkenan kepada Yesus. Jadi kita mempunyai tiga oknum Ilahi yang setara. Karenanya adalah hal yang sangat bertentangan dengan seluruh Alkitab bila kita menafsirkan peristiwa ini dengan cara yang lain.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Pembaptisan Kristus oleh Yohanes sejatinya tidak sama hakekatnya dengan pembaptisan manusia pada Perjanjian Baru. Baptisan Yesus lebih menunjukkan ketaatan-Nya kepada Bapa dan demi menjalankan kehendak Allah. Melalui baptisan yang diterima Yesus, kita beroleh jaminan sekaligus teladan. Jaminan bahwa Yesus sungguh-sungguh datang dari Allah dan telah menyetarakan diri dengan manusia agar dapat menjadi Juruselamat yang sejati. Teladan bahwa kita memiliki Tuhan yang taat kepada kehendak Bapa dan karena itu kita pun harus taat kepada-Nya.
Ketaatan kepada Tuhan akan memampukan kita untuk mengerti dan melihat rencana Tuhan dalam hidup. Kita kembali mengingat bagaimana respon Yohanes saat ia bertemu dengan Yesus di sungai Yordan. Mula-mula Yohanes menolak membaptis Yesus, karena ia merasa bahwa Yesus jauh lebih besar darinya. Tetapi setelah Yesus menjelaskan apa yang harus diperbuat Yohanes, Yohanes pun tunduk dan melakukannya.
Dalam kehidupan kita, terkadang kita pun menunjukkan keberatan-keberatan atau bersikeras untuk tidak mentaati Tuhan karena kekurang pengertian kita kepada rencana Allah. Kita lebih memakai pikiran kita yang terbatas, sehingga kita tidak mengerti maksud Allah dalam kehidupan kita. Padahal banyak sekali perbuatan-Nya yang ajaib. Namun saudara, ketika kita belajar untuk taat, Allah akan membukakan rencana-Nya yang indah sehingga setiap orang yang yang mau belajar rendah hati dan taat kepadanyalah Allah selalu menjanjikan berkat yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Ketaatan membutuhkan pengorbanan, Ketika Yesus menganggap baptisan itu penting untuk persiapan-Nya menerima pelayanan yang lebih besar, Ia rela berjalan jauh dari Galilea ke Yordan untuk dibabtis oleh Yohanes. Dengan demikian, Yesus menaati Bapa-Nya dalam segala hal. Penyerahan diri-Nya membawa-Nya dari puncak popularitas menuju keadaan dimana Dia akan ditinggalkan, dari keadaan di elu-elukan orang banyak menuju pada penderitaan dan kesendirian.
Oleh karena itu marilah dengan kerelaan hati kita taat kepada Tuhan dalam segala hal, karena kita tahu bahwa terlalu besar jumlah berkat-Nya kepada kita untuk untuk dihitung (Mazmur 40:6). Percayalah kepada Tuhan, sebab Dialah yang memegang kendali. Dengan demikian kita bisa berserah, tidak khawatir atau menjadi stress. Jangan pernah merasa kecewa, marah, atau kecil hati ketika rencana kita tidak seperti yang kita harapkan. Sebaliknya percayalah kepada Tuhan maka Ia akan menyediakan yang lebih baik bagi kita.
Kiranya melalui peristiwa pembaptisan Kristus ini, meneguhkan keyakinan kita akan Ke-ilahian Yesus sehingga setiap aspek kehidupan kita hanya berpusat kepada Dia. sekaligus menyadarkan kita bahwa Kristus benar-benar Anak Allah yang menguasai hidup kita sepenuhnya. Melalui pembaptisan-Nya kiranya juga menyadarkan kita bahwa Dialah Mesias, Raja yang diurapi Allah dan bahwa dalam hal ini bukan hanya mencakup kuasa dan kemuliaan-Nya, melainkan penderitaan dan penyalibannya. Sebab salib yang menimpa Yesus bukannya tanpa disadari sebelumnya; sejak semula Ia telah menyadarinya, dan untuk itulah Ia memenuhi seluruh tuntutan Allah. Baptisan memperlihatkan kepada kita bagaimana Yesus meminta pengesahan Allah dan menerima salib yang ditentukan bagi-Nya.  Dan terbukanya surga merupakan pengakuan Ilahi terhadap kedudukan Yesus sebagai Anak Allah. Dialah Mesias yang sejati.
Bapak/ ibu, saudara yang kekasih, 
Bagi kita yang hadir dan belum menyerahkan diri untuk dibaptis, kiranya firman ini juga semakin meyakinkan kita akan kasih Allah yang telah dinyatakan-Nya dalam Kristus Yesus. Sehingga dengan iman yang teguh kita dapat menyatakan diri untuk menerima baptisan. Amin.

Kamis, 03 November 2016

PIKULLAH SALIBMU DAN IKUTLAH AKU

PIKULLAH SALIBMU DAN IKUTLAH AKU
Markus 8:34-38;9:1
(Matius 16:24-28; Lukas 9:22-27)


Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan
Malam hari ini kita akan membahas satu topik yang sangat penting untuk kita pahami, yaitu tentang bagaimana syarat-syarat mengikut Yesus. Saudara, mengapa syarat mengikut Yesus begitu penting untuk kita pelajari? Karena bagi saya, syarat yang diajukan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya ini, sekarang sudah banyak dipelintir oleh sebagian orang, oleh hamba-hamba Tuhan yang tidak bertanggung jawab. Oleh pelayan-pelayan gereja sendiri. Setuju atau tidak, sering kita temui fakta yang sangat menyedihkan, dimana gereja mengumbar promo-promo yang menggiurkan banyak orang untuk datang dan mengikuti kebaktian. Dalam kebaktian, mereka mengajarkan bahwa “jika orang mengikut Yesus maka semua masalah akan beres, jika orang yakin bahwa dirinya adalah anak raja maka minta apa saja kepada-Nya maka Allah akan memenuhinya.”
Kita melihat saudara, teologi kesuksesan dan teologi  kemakmuran rasa-rasanya sudah banyak mencekoki gereja-gereja saat ini, sehingga dengan iming-iming bahwa “dengan mengikut Tuhan Yesus, maka hidup kita akan menjadi sukses, hidup kita akan makmur. Jika hidup kita tidak sukses-sukses juga itu artinya saudara belum memprak-tekkan iman, saudara masih menyimpan dosa yang mengganjal untuk meraih kesuksesan.” Ini sebuah kengerian saudara. Bagaimana kebenaran Alkitab diputar balik sedemikian rupa seakan-akan menjadi sebuah doktrin kebenaran bagi mereka yang haus akan kebenaran. Ini kejahatan rohani yang banyak dimunculkan gereja-gereja saat ini.
Kalau kita kembali kepada Alkitab, rasa-rasanya tidak pernah Allah menjanjikan sesuatu dapat diraih dengan mudah. Kalau kita melihat kembali ke masa PL, tidak pernah kita temui orang-orang Israel dengan mudahnya memasuki tanah Kanaan. Justru kenyataannya sebaliknya, yang walaupun secara jarak perjalanan bangsa Israel dari tanah Gosyen di Mesir menuju tanah Kanaan tidak terlalu jauh, tetapi mengapa Allah membuatnya berputar-putar hingga 40 tahun lamanya. Mengapa Allah mengijinkan kesulitan datang dalam kehidupan mereka. Jawabanya tidak lain adalah untuk mengajar bangsa Israel memahami dengan benar siapa Allah yang memimpin mereka, bagaimana karakter Allah dalam membentuk bangsa Israel yang tegar tengkuk menjadi sebuah bangsa yang sesuai dengan rencana Allah.
Begitu pula, dengan apa yang ditawarkan oleh Tuhan Yesus. Tawaran untuk mengikut Tuhan Yesus juga bukan jalan yang mudah untuk di tempuh. Tuhan Yesus tidak pernah menjanjikan suatu jalan mulus bagi para pengikutnya. Jalan-Nya selalunya disertai dengan tantangan dan hambatan, sebab pada kenyataan yang demikianlah Tuhan Yesus diutus, yakni “Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?” (Lukas 24:26). Maka Tuhan Yesus menegaskan kepada kita: “Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Matius 10:38). Sehingga seruan kepada setiap orang yang mau mengikut Kristus, mau tidak mau mereka harus melintasi jalan yang telah dilalui-Nya, yaitu jalan penyangkalan diri dan memikul salib.
Salib adalah lambang penderitaan (1 Petrus 2:21; 4:13), kematian (Kisah 10:39), kehinaan (Ibrani 12:2), cemoohan (Matius 27:39), penolakkan (1 Petrus 2:4) dan penyangkalan diri melambangkan kesediaan untuk menderita bagi orang lain. Kita melihat saudara bahwa Kristus telah memberikan teladan bagi kita dan sebagai murid-murid-Nya, kita harus meneladani apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Demikian pula pada konteks bacaan kita kali ini. Pada teks ini dijelaskan bahwa ketika Tuhan Yesus berada di sekitar Kaisarea Filipi (Markus 8:27). Tuhan Yesus mulai mengajar mereka tentang penderitaan-Nya. Ini adalah pemberitahuan pertama tentang penderitaan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya dan dilanjutkan dengan penjelasan mengenai syarat-syarat mengikut Yesus. Saudara, rupanya untuk dapat menjadi pengikut Yesus, ada syarat-syarat yang harus dipenuhi setiap pengikut-Nya. Dan syarat ini sangatlah irasional bagi manusia lama kita, sangat tidak masuk di akal sebab bagi manusia lama hal mengikut Yesus seperti ini sangatlah tidak menguntungkan. Manusia lama tidak mungkin mau untuk diajak menyangkal diri, karena mereka diajar untuk menonjolkan keakuannya, keegoisannya, hawa nafsunya apalagi untuk memikul salib. Bagi dunia salib adalah suatu kebodohan.
Kita melihat dari gambaran Petrus yang menarik Yesus ke samping dan menegur Dia, seolah-olah berusaha untuk menghentikan dan menghalangi Yesus. Saudara Petrus mendekap Gurunya karena tidak tahan mendengar bahwa Yesus yang dikasihinya harus menanggung banyak penderitaan. Sebab bagi Petrus kematian yang mengerikan yang akan dialami oleh Tuhan Yesus sangat tidak cocok dengan martabat seorang Mesias.
Tetapi saudara, jalan pikiran Petruslah yang sebenarnya tidak cocok dengan maksud-maksud Allah. Usaha Petrus agar Tuhan tidak pergi ke salib sama dengan pencobaan di padang Gurun. Dalam hal ini iblis dengan sangat licik memakai salah satu murid terdekat Kristus (Band. Lukas 4:13). Karena itu Tuhan Yesus menegurnya dengan keras.
“Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Markus 8:33). Dari sini kita melihat bagaimana Petrus menjadi gambaran sebagai seorang yang tidak mengerti dengan baik dan tidak mempertimbangkan dengan semestinya maksud dan nasihat Allah.
Bapak ibu saudara yang kekasih,
Yesus tahu “bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat lalu di bunuh dan bangkit sesudah hari yang ketiga” (Markus 8:31). Karena itu salib merupakan aspek yang diperlukan dalam karya Mesias. Dalam hal ini Dia sadar bahwa Dia harus menanggung banyak penderitaan. Dan fakta tentang kematian dan kebangkitan Yesus akan menjadi bukti yang paling menyakinkan mengenai keberadaannya sebagai Mesias dari Allah. Karena itu kewajiban Kristus adalah memenuhi maksud Allah sebagaimana terungkap dalam  di dalam kitab suci. Kematian Yesus merupakan suatu tragedy, tetapi bukan suatu kebetulan; sebab Dia sedang menggenapi rencana penebusan Allah.
Sekarang dalam arah memper-siapkan iman para murid-Nya, Tuhan Yesus mengajukan sebuah syarat yang harus dipenuhi setiap pengikut-Nya untuk mereka boleh siap dalam mengikut Yesus.
Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Saudara, kalimat ini adalah sebuah ajakan yang terbuka bagi siapa saja yang mendengar-Nya, bahwa mereka yang hendak mengikut Dia akan di berikan sebuah syarat, yaitu “penyangkalan diri dan memikul salib.”
Para murid mengikuti sang Guru ketika Dia memanggil mereka (Matius 5:11), tetapi pada waktu itu mereka tidak mengetahui bahwa karier-Nya akan berakhir di salib. Mereka masih berpikir tentang penaklukan dan kuasa (Lukas 22:24). Karena itu pernyataan ini merupakan peringatan penting bagi para murid untuk mengevaluasi ulang harga untuk menjadi murid-Nya.
Sekarang kita melihat satu demi satu aspek-aspek dari syarat mengikut Yesus.

1.  Menyangkal diri
Menyangkal diri adalah tidak mengakui hak atas diri sendiri, atau sama artinya dengan menyalibkan ke-ego-an hidup kita. Kita harus menyerahkan segala yang ada pada diri kita kepada Tuhan. Pada saat kita percaya Tuhan, saat itu juga kita menjadi orang yang lahir baru. Kita tidak lagi berhak untuk memutuskan kehidupan kita. Sebaliknya kita harus menolak dosa dan kehidupan yang lama dan mulai menjalani kehidupan yang baru di dalam Tuhan (2 Korintus 5:17).
Tuhan Yesus harus di atas segala-galanya. Kita harus memiliki hubungan yang baik dengan-Nya. Menyangkal diri bukan sekedar tidak mau memakan makanan yang kita sukai tetapi kita harus menyangkal ke-ego-an dan sifat-sfat yang buruk yang pada diri kita. Menjadi murid berarti mau untuk mempertaruhkan seluruh dirinya, maka harus bersedia untuk menanggalkan haknya untuk mengorbankan diri dan mempersembahkan hidup hanya untuk Tuhan Yesus. Menyangkal diri adalah pengendalian diri, mau jujur menilai diri sebagai respon iman kepada Tuhan, bahwa kita dipanggil bukan untuk keinginan duniawi tetapi untuk keinginan Tuhan.
Dengan demikian, Tuhan Yesus tidak berusaha untuk memikat orang dengan menawarkan jalan yang mudah; sebaliknya Ia berusaha menantang mereka dengan membangkitkan semangat yang sedang tidur, dengan menawarkan jalan yang lebih tinggi dan lebih sulit. Ia datang bukan untuk membuat hidup menjadi mudah, melainkan untuk membentuk manusia yang mulia.
Sekarang pilihannya ada pada kita, mau hidup menyangkal diri atau hidup untuk keinginan kita yang mementingkan diri sendiri. Yang jelas kedua pilihan itu akan menentukan nasib akhir kita kemudian. Saat kita sadar bahwa kita mau menjadi murid Tuhan Yesus itu artinya kita siap untuk menyangkal diri kita. Kita harus memilih keselamatan dan kebahagiaan jiwa kita melebihi urusan dunia apa pun.

2. Memikul salib
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Menurut para ahli, Yesus memikul salib yang berukuran 3 meter dengan berat 15 kg sampai ke tempat yang ditentukan yaitu Bukit Tengkorak. Di dalam Perjanjian Baru salib adalah lambang yang memalukan dan hina. Orang-orang Roma menggunakan salib bukan hanya untuk menyiksa seseorang tetapi juga untuk mempermalukan orang di tempat umum. Salib adalah lambang kehinaan bagi orang yang disalibkan karena orang yang disalibkan dianggap sebagai orang keji. Bagi orang Yahudi, salib adalah lambang kutukan.
Namun salib sebenarnya adalah lambang hubungan antara manusia dengan Allah. Melalui salib manusia diperdamaikan dengan Allah karena setelah manusia jatuh ke dalam dosa manusia telah terpisah dengan Allah. Manusia yang sudah diperdamaikan dengan Allah tidak hidup menurut daging lagi. Karena itu memikul salib sama artinya dengan merendahkan diri, rela menanggung beban yang berat namun kita tidak sendirian dan salib bagi kita bukanlah pencobaan atau kesulitan. Yesus membuat beban kita menjadi ringan (Matius 11:28-30).
Memikul salib juga sama artinya dengan siap menerima konsekuensi untuk kehilangan nyawa untuk mengikut Yesus. Ketika salib itu diletakkan dibahu kita untuk dipikul, apakah kita akan tetap setia menjadi murid Yesus?
Salib adalah penderitaan yang harus ditanggung sebagaimana Kristus juga telah mengalami-Nya. Saudara, Kelihatannya memikul salib adalah beban yang begitu berat sehingga banyak orang Kristen tidak mau memikul salibnya, padahal dalam kita memikul salib, kita tidak memikulnya sendirian. Sebab tuntutan ini berlaku bagi semua yang mau mengikut Yesus. Justru dengan salib yang kita pikul, mengajar kepada kita untuk tetap fokus pada tujuan hidup kita.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Kekristenan tak dapat dipisahkan dari penyangkalan diri dan memikul salib. Apa maksudnya? Penyangkalan diri berarti harus menyalibkan segala keinginan daging kita, rela meninggalkan dosa dan berkomitmen untuk hidup seturut dengan kehendak Tuhan. Dalam memikul salib kita itu artinya kita menderita dalam perjuangan seumur hidup melawan dosa (Roma 6:1-23; 1 Petrus 4:1-2) dengan menyalibkan semua keinginan yang berdosa (Roma 6:1-23; 8:13; Galatia 2:20; 6:14; Titus 2:12; 1 Petrus 2:11, 22-24).
Dengan memikul salib berarti juga kita menderita dalam peperangan terhadap Iblis dan kuasa-kuasa kegelapan sewaktu ita memajukan Kerajaan Allah (2 Korintus 10:4-5; 6:7; Efesus 6:12; 1 Timotius 6:12). Kita mengalami baik perseteruan dari Iblis dengan pasukan setannya (2 Korintus 6:3-7; 11:23-29; 1 Petrus 5:8-10) maupun penganiayaan yang datang dari perlawanan kita terhadap para guru palsu yang memutarbalikkan Injil yang benar (Matius 23:1-36; Galatia 1:9; Filipi 1:15-17).
Memikul salib berarti harus rela dibenci dan dimusuhi oleh dunia ini karena nama Yesus. Dikatakan, "...siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya" (Markus 8:35). Kita menanggung kebencian dan ejekkan dari dunia (Yohanes 15:18-25; Ibrani 11:25-26) ketika bersaksi dengan kasih bahwa perbuatan itu jahat (Yohanes 7:7), dengan memisahkan diri kita dari dunia secara moral dan rohani dan menolak semua norma dan falsafahnya.
Bahkan dengan memikul salib mungkin kita juga akan menerima ejekan dan penganiayaan dari dunia (Markus 8:31). Memikul salib juga berarti mengalami penderitaan karena nama-Nya. Dengan demikian, mengikut Kristus dibutuhkan komitmen yang tinggi, yang tidak bisa dibuat setengah-setengah. Tuhan Yesus tidak sedang menjebak kita dengan sebuah umpan yang mencelakakan kita dengan iming-iming mengikut Dia.

3. Mengikut Tuhan
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Yang terakhir aspek dari syarat mengikut Yesus adalah kita mengikut Tuhan. Mengikut Tuhan artinya kita mentaati dan melaksanakan segala yang diperintahkan Tuhan. Segala perintah Tuhan ada di dalam Alkitab. Untuk dapat mengikut Tuhan dengan baik maka kita harus setia dan taat kepada apa yang ditulis oleh Firman Tuhan. Mengikut yang dimaksud adalah tetap secara terus-menerus. Sehingga kerelaan untuk mengikut Yesus berarti taat mengikuti dan melakukan perintah Tuhan Yesus. Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat tidak hanya menuntut percaya akan kebenaran Injil, tetapi juga menyerahkan diri kita untuk mengikuti Dia dengan pengorbanan.
Jadi yang harus kita mengerti adalah, tuntutan Tuhan Yesus supaya kita dapat mengikuti Dia adalah tuntutan yang relevan bukan hanya pada masa Ia hidup secara fisik di dunia, tetapi juga sepanjang waktu. Ia dengan jelas menyatakan ini di akhir pelayanan-Nya di bumi. Bahwa sekarang Ia telah menyatakan kebenarannya bahwa Ia mengalami kematian, dan setelah hari yang ketiga Ia bangkit dari kubur dan kembali kepada Bapa-Nya.
Implikasinya bagi kita saudara, bahwa mengikut Yesus berlaku pada saat kita mengikrarkan iman kita, sampai Tuhan Yesus datang kembali, dan Ia berharap murid-murid-Nya di dunia dapat mengikuti Dia. Jadi mengikut Yesus tidak dibatasi dengan berjalan secara fisik di sekitar Palestina di belakang Yesus. Sebaliknya, Tuhan Yesus menuntutnya untuk setiap orang di tiap negara di tiap zaman dapat mengikuti Dia sepanjang umurnya. Dengan demikian, mengikut Yesus berarti melanjutkan pekerjaan-Nya yang telah dimulai-Nya untuk kemuliaan Bapa di sorga.
Mengikut Yesus berarti bahwa kita turut dalam penderitaan-Nya. Dari zaman ke zaman merupakan fakta bahwa konsekuensi mengikut Yesus sering berbentuk aniaya dari dunia ini. Meski sekarang konsekuensi itu belum tentu harus kita pikul dalam bentuk fisik, tapi banyak bentuk penderitaan memang harus kita tanggung.
Namun demikian, ketiga hal di atas bukanlah persyaratan keagamaan karena keselamatan kita. Kita disela-matkan bukan karena perbuatan tetapi semata-mata karena Anugerah Allah. Ini adalah sifat kehidupan Kristen yang bukan hanya terjadi pada saat kita menjadi orang Kristen tetapi adalah seumur hidup. Sepanjang hidup kita harus melakukan yaitu jalan salib kita. Karena itu pikullah salibmu dan ikutlah Aku, itulah yang Tuhan Yesus tuntut dari setiap kita yang percaya kepada-Nya.

Senin, 27 Juni 2016

KONSEP SEBUAH PELAYANAN

KONSEP SEBUAH PELAYANAN
Matius 20:20-28
(Markus 10:35-45)

Kaum muda yang kekasih dalam Tuhan,
Ketika kita melihat perilaku anak-anak yang masih kecil, seringkali membuat kita merasa gemas terhadap mereka. Walaupun terkadang tindakan-tindakan mereka yang menurut pandangan umum adalah tindakan yang keliru, namun kita memaklumi tingkah mereka sebab kita berpikir, mereka masih kecil, dan mereka tengah dalam tahap pertumbuhan. Sepertinya kita sepakat bahwa mereka belum sepenuhnya mengerti dengan apa yang dilakukannya.
Akan tetapi, masalahnya menjadi berbeda, ketika kita melihat sikap kekanak-kanakan seseorang terus terbawa sampai orang itu menjadi dewasa. Sikap yang tadinya menurut kita lucu dan menggemaskan, bisa membuat kita menjadi muak melihatnya. Mengapa saudara? Karena secara umum, perubahan fisik yang dialami oleh seseorang seharusnya dibarengi dengan pertumbuhan mental dan spiritualnya. Rasanya semua orang menyenangi masa anak-anak, tetapi sikap kekanak-kanakan adalah sesuatu yang berbeda.
Saudaraku,
Di dalam perikop yang kita baca ini, kita perhadapkan dengan satu kondisi dimana murid-murid bertengkar tentang sebuah kedudukan dalam pelayanan. Sikap kekanak-kanakan itulah yang diperlihatkan oleh para murid ketika mempertengkarkan siapa yang lebih besar, siapa yang paling pantas untuk memimpin, di antara mereka. Yang sepertinya masing-masing haus akan sebuah kepemimpinan, mereka ingin berada di posisi yang tertinggi. Sebab mereka berpikir kepemimpinan yang mereka dapatkan, akan membawa mereka untuk lebih disegani banyak orang, jabatan yang mereka dapatkan akan lebih dihormati banyak orang. Inilah konsep-konsep yang dunia tawarkan, dimana dunia menekankan “aku” sebagai pusat perhatian. “Aku” harus ditinggikan. Jika kamu menghargai “aku” maka “aku” pun akan menghargai kamu. Sehingga kepemimpinan merupakan wahana untuk memuaskan kepentingan dan ambisi pribadi.
Dijelaskan di awal perikop, saat Tuhan Yesus sedang mengajar murid-muridNya tentang pemberitahuan ketiga tentang penderitaan Yesus, datanglah ibu anak-anak Zebedeus mendekati Yesus dan bersujud kepadaNya. Nama ibu anak-anak Zebedeus ini adalah Salome. Saudara, kedatangan ibu anak-anak Zebedeus ini sebenarnya adalah sesuatu yang wajar. Sebab ia memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan Yesus. Ia adalah saudara perempuan Maria, ibu Yesus. Jadi, Yakobus dan Yohanes adalah saudara sepupu Yesus. Itulah sebabnya mereka merasa bahwa dengan hubungan yang begitu dekat itu, mereka berhak mendapatkan tempat khusus dalam KerajaanNya. Rasanya baik di Palestina maupun di Indonesia, hubungan darah sangat berarti. Kolusi dan Nepotisme untuk mendapatkan sebuah jabatan rasanya juga sangat kental kita dengar dalam kehidupan kita. Ada banyak kasus kita melihat betapa mudahnya mendapatkan pekerjaan jika ada “orang dalam” dalam perusahaan itu. Terlebih lagi, untuk posisi yang menggiurkan.
Saudara, Ibu anak-anak Zebedeus ini berkata kepada Tuhan: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam KerajaanMu, yang seorang disebelah kanakMu dan yang seorang disebelah kiriMu” (Ayat 21). Kita melihat, Yohanes dan Yakobus sepertinya juga memiliki ambisi pribadi dalam mengikut Yesus, sekalipun hal itu diungkapkan oleh ibunya. Mereka masih berpikir tentang upah pribadi dan kepentingan pribadi yang bakal mereka dapatkan. Mereka masih berpikir tentang kesuksesan pribadi tidak harus disertai dengan pengorbanan pribadi. Lagi pula, mereka berpikir kedekatan hubungan dengan Tuhan Yesus sebagai pemimpin dan Guru mereka, pastinya akan memudahkan mereka untuk menerima kuasa kepemimpinnan yang dimiliki Yesus. Paling tidak pamor yang dimiliki Tuhan Yesus setidaknya dapat menaikkan rating mereka dimata dunia.
Kaum muda yang kekasih,
Setiap kita harus tahu bahwa kebesaran yang sejati bukanlah soal kepemimpinan, kekuasaan, atau prestasi perorangan yang tinggi, melainkan sikap hati yang dengan sungguh-sungguh ingin hidup bagi Allah dan bagi sesama manusia. Keagungan sejati tidak terletak dalam kekuasaan, melainkan dalam pelayanan; bahwa dalam setiap bidang keagungan itu ada harga yang harus dibayar.
Dengan demikian, hal yang terpenting dalam Kerajaan Allah adalah melayani dan menjadi berkat, bukan dilayani dan mendapatkan keuntungan pribadi. Padahal saudara, Tuhan Yesus telah memperlihatkan banyak teladan melalui kehidupanNya, namun murid-muridNya masih belum memahami bahwa kebesaran dalam Kerajaan Allah itu diukur melalui pelayanan yang dilakukan. Murid-murid belum mengerti bahwa orang yang lebih dihargai dalam pandangan Allah adalah orang yang menempatkan diri sebagai hamba.
Namun kalau kita melihat kenyataan yang ada, kepemimpinan sebagai hamba yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus melalui seluruh kehidupan-Nya di bumi itu belum bisa diteladani oleh para pemimpin gereja pada masa kini. Karena itu sungguh menyedihkan saudara, kalau hari ini ada banyak orang mau melayani namun masih mempertimbangkan apa keuntungan yang bakal diperolehnya? Masih banyak orang Kristen yang mau melayani bila mendapat jabatan sebagai majelis gereja atau sebagai pengurus komisi dan tidak lagi melayani bila masa jabatannya berakhir? Bukankah masih banyak orang Kristen yang memakai siasat dan cara-cara yang kurang terpuji untuk menjatuhkan "saingan" agar dirinya bisa mendapat suatu kedudukan tertentu? Bukankah masih banyak orang Kristen yang lebih suka "tampil" di depan umum daripada melayani secara diam-diam?
Karena itu Tuhan Yesus berkata: “Kamu tidak tahu, apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” (Ayat 22). Secara tidak langsung Tuhan Yesus hendak memberikan satu pemahaman yang benar kepada keduanya tentang proses yang harus dilalui, yakni harga yang harus dibayar untuk mencapai posisi tersebut. Sebab selama ini, mereka hanya berorientasi pada “hasil” dan mengabaikan “proses” yang harus dilewati.
Tindakan Yohanes dan Yakobus dengan ibu mereka yang meminta agar kelak Yohanes dan Yakobus bisa duduk di sebelah kanan dan kiri Tuhan Yesus menunjukkan bahwa mereka belum memahami tentang pemimpin yang sesungguhnya dalam Kerajaan Allah, sebab itu mereka rakus akan kekuasaan.
Lagi pula dibalik permintaan kedua murid itu tersembunyi kesombongan, suatu kecongkakan demi kepentingan diri sendiri, sikap memandang rendah saudara mereka, dan keinginan sombong akan kehormatan dan kedudukan yang lebih tinggi. Semua keinginan tersebut di dorong oleh karena adanya rasa takut, sikap manja dan kepribadian yang belum matang dalam diri mereka.
Kaum muda yang kekasih,
Jangan kita berfokus kepada apa yang akan kita peroleh, namun mari kita kerjakan apa yang menjadi bagian kita, dan menerima konsekuensi dari apa yang akan kita kerjakan dalam pelayanan ini. Sebab jika kita melihat lebih seksama, Tuhan Yesus bukannya tidak memberi upah disurga, sebaliknya Ia berkata: “tetapi hal duduk disebelah kanakKu atau di sebelah kiriKu, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang bagi siapa BapaKu telah menyediakannya" (ayat 23). Dengan kata lain, bagian kita adalah mengerjakan panggilan kita, dan bagian Tuhan adalah menyediakan upah bagi mereka yang diperkenan Bapa. Jadi mari lebih dahulu kita kerjakan panggilan pelayanan ini, karena upah yang di surga memang sudah disediakan Bapa bagi mereka yang setia kepadaNya.
Jadi pelayanan bukan pertama-tama berbicara tentang apa yang akan kita dapat, tapi pelayanan berbicara apa yang harus kita tanggung dalam pelayanan yang kita kerjakan. Pertanyaannya, "Beranikah kita membayar harga untuk pelayanan yang kita lakukan?"
Tuhan Yesus menyadari ketegangan yang timbul diantara murid-muridNya. Oleh sebab itu Ia mengumpulkan murid-muridNya dan memberikan penjelasan yang benar mengenai konsep sebuah pelayanan. Jawab Yesus Kristus atas permintaan ini yang ditujukan bukan kepada sang ibu, tetapi kepada kedua putranya yang mendorongnya untuk mengajukan permintaan itu. Jawab Yesus sangat halus. Kedua murid dikuasai oleh keinginan kuat yang keliru akan tetapi Tuhan Yesus memimpin mereka ke jalan yang benar dengan roh lemah lembut.
Permintaan Yakobus dan Yohanes dengan sendirinya mengusik para murid yang lain. Dari sini kita mendapatkan satu kenyataan bahwa Yohanes dan Yakobus bukanlah orang-orang kudus yang super. Sebaliknya mereka hanya dipanggil, diperlengkapi dan digunakan oleh Allah.
Kesepuluh murid lain yang sejak tadi mendengarkan dialog itu menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Kemarahan kesepuluh murid juga bukan karena sudah paham akan maksud Yesus. Sebab mereka tidak mengerti mengapa kedua kakak beradik ini harus mencuri langkah, walaupun mereka saudara sepupu Tuhan Yesus. Mereka juga tidak mengerti mengapa kedua orang itu harus dibiarkan menuntut kedudukan istimewa. Kemarahan mereka juga adalah dalam rangka memperebutkan jabatan tersebut, hanya saja dengan cara yang lain yaitu “cari muka”. Karena sejujurnya, kesepuluh murid itu juga tidak rela tanpa mendapat posisi empuk. Sungguh, mereka semua hanya berpikir tentang jabatan dunia, padahal Yesus tidak pernah menjanjikan jabatan dunia kepada para murid untuk itu.
Kita melihat saudara, bahwa Tuhan Yesus tahu apa yang terkandung dalam benak mereka. Karenanya Ia tidak menyurutkan ambisi untuk memperoleh kebesaran, tetapi Ia mendefinisikan keagungan yang sejati sebagai pelayanan dan kemurahan hati. Ia berbicara kepada mereka dalam kalimat yang merupakan dasar utama dalam kehidupan kristiani.
Tuhan Yesus mengoreksi pandangan tersebut. Dia mengajukan cara pandang yang menjungkirbalikkan perspektif para murid. Kepemimpinan sejati tidak berfokus pada diri sendiri, tetapi pada kesejahteraan orang lain. Bekal utamanya ialah kerendahan hati dan kesediaan untuk melayani sesama. Seorang pemimpin akan rela menyingkirkan kepentingan pribadinya demi memberikan sumbangsih yang bermakna bagi orang banyak. Kepemimpinan, dalam pandangan Yesus, bukan terutama mengacu pada kedudukan, melainkan pada sikap dan motivasi hati.
Di dunia, Yesus mengatakan bahwa memang benar, orang yang besar adalah orang yang berkuasa atas orang lain; orang yang perintahnya harus dipatuhi oleh yang lain; orang yang mampu menggerakkan orang lain hanya dengan gerakan tangannya.
Agar para murid mengerti akan visi Yesus, maka Yesus menggambarkan pemerintahan yang terjadi di tengah-tengah bangsa-bangsa. Yesus berkata: “Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka” (Ayat 25). Hal ini memang terjadi di sepanjang zaman. Di dunia ini, orang yang “memerintah” dan “menjalankan kuasa” dipandang sebagai orang yang besar. Karenanya tidak heran jika manusia dunia suka memerintah dan menguasai orang lain. Keinginan tersebut dapat dicapai dengan jabatan yang melekat pada dirinya, sehingga ia dapat memerintah demi kepentingan membesarkan diri. Untuk hal itu, para pemimpin tidak segan-segan menggunakan segala cara, sehingga menambah penderitaan masyarakat. Itulah realita dunia.
Tetapi cara pandang dunia berbeda dengan cara pandang dalam Kerajaan Allah. Yesus tidak menghendaki kerajaan dan pemerintahan dunia, dimana manusia mengalami tekanan dan penderitaan. Berbeda dengan pola kepemimpinan pemerintah bangsa-bangsa yang mengedepankan tangan besi dan kekerasan, maka pola kepemimpian kristiani adalah pola kepemimpinan melayani/ menghamba.
Saudara, Tuhan Yesus menunjukkan teladan dari diriNya sendiri. Dengan kuasa-kuasa seperti yang ada padaNya. Ia bisa saja mengatur keseluruhan hidupNya sesuai dengan keinginan diriNya. Namun, Ia telah menyerahkan diriNya dan mempergunakan semua kuasaNya untuk melayani orang lain. Ia mengatakan bahwa “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawaNya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Ayat 28). Ini adalah salah satu ungkapan yang agung dalam Injil. Inilah arti dari kebesaran yang ingin dijelaskan Tuhan Yesus, dengan satu maksud setiap orang yang percaya kepadaNya dapat meneladani sikapNya.
Yesus menghendaki kerajaan yang menghadirkan damai sejahtera. Yesus telah mengajarkan dan praktekkan kerajaan seperti itu selama pelayananNya. Yesus telah memberi teladan, dimana ia hadir sebagai seorang hamba. Kepemimpinan yang demikian itulah yang Yesus kehendaki berlangsung di dalam kerajaanNya. Di dalam Kerajaan Tuhan kebesaran seseorang diukur dari seberapa besar kesediaannya melayani terhadap sesama mereka dan semua orang. Dunia memang memandang mereka yang punya kuasa sebagai seseorang yang penting dan terhormat. Tetapi di dalam Tuhan Yesus, hanya pelayanan yang merupakan lambang kebesaran. Kebesaran tidak terletak pada memerintah orang lain untuk melakukan sesuatu bagi kita; melainkan terletak pada melakukan sesuatu bagi orang lain.
Gereja adalah persekutuan milik Tuhan yang dipakai untuk menghadirkan kerajaanNya, dimana orang-orang yang bersekutu di dalamnya mesti saling melayani. Pelayanan yang diperbuat adalah untuk kehendak Tuhan. Setiap anggota harus legowo apabila kehendaknya tidak tercapai. Kehendak Tuhan itu terlihat di dalam kehidupan berjemaat apabila setiap orang merasakan sukacita.
Kita telah dipanggil Tuhan dalam persekutuan jemaatNya, baik sebagai jemaat maupun sebagai pengurus komisi. Tuhan berkenan memanggil kita menjadi hambaNya sebagai pelayan, untuk melakukan kehendakNya, bukan kehendak kita sendiri. Jika kita memaksakan kehendak kita, maka kita bukan lagi hamba tetapi telah menjadi tuan. Umat Tuhan dalam suatu persekutuan harusnyalah melaksanakan pelayanan dengan segala ketulusan dan tidak perlu ada kecewa. Juga, seorang hamba tidak perlu mengatakan kepada tuannya bahwa satu hari itu ia telah bekerja keras, supaya ia mendapat pujian. Itu sudah bagian dari tugasnya sebagai seorang hamba.
Makin besar pelayanan, makin besar pula kehormatan. Yesus menggunakan semacam gradasi, sebuah kekontrasan. Karena itu Ia berkata: “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka diantara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu” (Ayat 26). Inilah revolusi kristiani yang menjungkirbalikkan paradigma dunia tentang sebuah kebesaran.
Jadi dalam hal ini saudara, orang percaya hendaknya tidak berusaha untuk meraih kedudukan yang tertinggi dengan maksud untuk menguasai atau memerintah orang lain. sebaliknya mereka harus memberikan diri untuk menolong orang lain, dan khususnya bekerja demi kesejahteraan rohani semua orang. Pelayanan dapat kita lakukan menolong orang-orang kecil, yang mungkin tak bisa membalas karena keterbatasannya. Kita perlu memberi penghormatan dan pelayanan pada setiap orang sekalipun tampilan lahiriah atau kedudukan sosialnya rendah.
Sebab hasrat menjadi yang terbesar dapat mengancam keefektifan kita sebagai murid Tuhan. Hasrat untuk memperoleh kemuliaan diri, seharusnya tidak dimiliki seorang pengikut Yesus. Sebaliknya, milikilah hati seorang hamba, yang berusaha mengutamakan orang lain lebih tinggi daripada kepentingan diri sendiri dan merendahkan diri sendiri, atas dasar kasih kepada Tuhan maka kerajaan Allah sungguh-sungguh hadir dalam kehidupan kita. 
Bagaimana dengan kita saudara? Apakah selama ini, kita berusaha mengejar posisi dan mencari pujian dalam setiap pelayanan yang kita buat, sehingga kita mengincar keuntungan pribadi? Ataukah kita sungguh-sungguh rindu untuk memberkati orang lain, melakukannya yang terbaik seperti untuk Tuhan? Bersediakah kita merendahkan diri sebagai pelayan yang kita buat? Kiranya perenungan ini dapat menjadi berkat. Amin.