Tampilkan postingan dengan label PL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PL. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Januari 2017

PERAN KRISTUS SEBAGAI RAJA

PERAN KRISTUS SEBAGAI RAJA
Yesaya 9:5-6; Matius 1:20-23


Sidang jemaat yang kekasih di dalam Tuhan,
Mengakui Yesus Kristus sebagai Raja tentunya bukanlah sebuah hal yang mudah untuk diterima dalam hidup dan pikiran setiap manusia. Mengapa? Karena Yesus menampilkan diri bukan sebagai sosok raja yang ideal, sebagaimana yang diidam-idamkan manusia pada zamanya. Ia tidak bisa menaklukkan kaisar Romawi sebagaimana yang diharapkan para pengikut-nya. Dia tidak seperti Titus Domitianus yang menguasai Kekaisaran Romawi selama 15 tahun atau seperti adolf Hitler yang menjadi ketua partai Nazi telah mengakibatkan kematian sekitar 50 juta orang selama Perang Dunia II, termasuk 6 juta kaum Yahudi. Sebaliknya saudara, Yesus tampil dengan teramat sederhana. Kehidupan-Nya jauh dari hitungan sebagai seorang penguasa.
Lagi pula, pengakuan-Nya sebagai Raja tidak secara terang-terangan disampaikan Yesus kepada murid-murid-Nya. Pernyataan-Nya muncul saat ia berada di ruang interogasi, ketika Ia digelandang oleh serdadu Romawi yang berkolusi dengan petinggi Yahudi. Saat itu Ia dituduh telah bertindak makar terhadap otoritas kekaisaran Romawi (Yohanes 18:33-37). Tetapi justru di tempat inilah dengan gamlang Tuhan Yesus berkata: “Engkau mengatakan bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran, Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku” (Yohanes 18:37).
Saudara, rupanya konsep raja dalam pemahaman Pilatus, yang mewakili manusia pada umumnya sangat berbeda dari apa yang Yesus perankan. Bukan hanya berbeda melainkan bertolak belakang. Sangat paradox. Konsep raja yang ada dalam benak Pilatus adalah seorang penakluk. Sedangkan Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah raja yang memberi kesaksian tentang kebenaran. Inilah bagian yang sangat hakiki dari misi Yesus di dalam dunia, yaitu memberikan kesaksian tentang kebenaran serta mengarahkan orang kepada-Nya.
Kesaksian itu dilakukannya melalui segala aspek kehidupannya. Raja yang rela menderita, yang mengajarkan bagaimana melayani, memperlakukan orang lain lebih utama. Dia adalah raja yang meneladankan pengampunan. Hidup-Nya menggambarkan cinta kasih Bapa yang sejati. Kerajaan-Nya adalah kerajaan kebenaran dan Dia benar-benar layak dinobatkan sebagai Raja seluruh ciptaan Allah. Yesus berperan sebagai Raja rohani yang memerintah kerajaan-Nya dan mengatur atas gereja dan umat-Nya. Yesus mengatur segalanya agar umat-Nya mendapatkan keselamatan dan mendapat tempat di mata Tuhan. Karena itu Yesus adalah Raja yang menaklukkan hati manusia.
Sekarang yang menjadi pertanyaan bagi kita adalah bagaimana Yesus menjalankan fungsinya sebagai raja bagi kita?
Dalam Yesaya 9:5-6 telah dijelaskan bagaimana nubuatan tentang akan datangnya Mesias dinyatakan. Pengharapan Mesianis di Israel ini merupakan lanjutan dan sekaligus klimaks dari berita “Imanuel” yang dijelaskan dalam pasal 7:14. Pada bagian ini dikatakan: “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya.”
Apa maksud dari kalimat ini?
Ayat ini ingin menjelaskan kepada kita bahwa pesan ini mengandung sebuah kepastian. Bahwa datangnya Mesias secara sempurna akan segera digenapi. Dan melalui kelahiran Yesus Kristus di kota Betlehem menjadi sebuah bukti bahwa Juruselamat itu telah lahir (Lukas 2:11). Saudara, coba perhatikan, Kristus yang dilahirkan dan diberikan untuk kita merupakan dasar yang kuat bagi segala pengharapan kita, dan sumber dari segala sukacita kita, dimasa-masa yang teramat menyedihkan dan menakutkan.
Ia tidak hanya akan memakai lencana pemerintahan itu di atas bahu-Nya, tetapi juga akan menanggung bebannya. Bapa akan menyerahkan tanggung jawab itu kepada-Nya, sehingga Ia akan memiliki hak yang tidak dapat disangkal untuk memerintah. Dan Ia akan menjalankannya, sehingga tidak ada keraguan lagi bahwa Ia akan memerintah dengan baik, sebab Ia akan memberikan bahu-Nya untuk itu, dan tidak akan mengeluh karena beban yang terlalu banyak.
Penyataan Allah di dalam Alkitab ini begitu jelas tentang siapakah Yesus Kristus. Ia lahir bukan tanpa nubuatan yang jelas. Siapakah manusia di dunia ini yang lahirnya telah dinubuatkan ratusan tahun sebelumnya, selain daripada Yesus Kristus. Yang kelahirannya setidaknya menggenapi lebih dari 8 nubuatan: Bahwa Ia Dilahirkan dari seorang perawan (Yesaya 7:14 digenapi dalam Matius 1:18, 24-25; Lukas 1:26-35), Dilahirkan dari keturunan Abraham (Kejadian 12;2-3 digenapi dalam Matius 1:1; Galatia 3:16), Dilahirkan dari Suku Yehuda (Kejadian 49:10; Mikha 5:1 digenapi dalam Lukas 3:23, 33; Matius 1:2),  Dari garis keturunan Isai (Yesaya 11:1, 10 digenapi dalam Lukas 3:23, 32; Matius 1:2, 5-6), Dilahirkan di Betlehem (Mikha 5:1 digenapi dalam Matius 2:1; Yohanes 7:42), Diberi persembahan (Mazmur 72:10; Yesaya 60:6 digenapi dalam Matius 2:1, 11), Dia disebut Tuhan (Mazmur 110:1; Yeremia 23:6 digenapi dalam Lukas 2:11), Ia dinamakan Imanuel (Yesaya 7:14 digenapi dalam Lukas 7:16), Dia adalah raja (Mazmur 2:6; Yeremia 23:5 digenapi dalam Matius 21:5).
Namun demikian saudara, dalam keadaanya sebagai manusia, kelahiran Yesus tidak ditandai oleh bunyi sangkakala sebagaimana lazimnya dilakukan di setiap istana sang Kaisar, Tetapi kelahiran-Nya adalah kelahiran yang paling agung yang tercatat di dalam sejarah umat manusia.
Bahkan Herodes, sang raja, yang kepadanya telah disampaikan berita kelahiran raja baru, Ia tidak mau bersusah-susah pergi untuk melihat keajaiban tersebut yang hanya berjarak sekitar lima mil saja. Begitu juga dengan kaum Farisi, tidak juga dengan para juru tulis, tidak juga dengan kaum Saduki, tidak juga dengan para pemuka agama dari bangsa itu. Inilah bukti dari kesederhanaan-Nya.
Kesederhanaan-Nya berlanjut ketika Ia harus bekerja diperbengkelan tukang kayu, dimana tiap-tiap hari Ia menghabiskan waktunya membantu Yusuf ayah-Nya, karena itulah mereka menyebut-Nya sebagai anak tukang kayu.
Kemudian di dalam sisi kemanusiaan-Nya kita melihat, bagaimana Ia diperkenalkan dengan ujian rasa lapar, godaan di taman Getsemani hingga menjalani penderitaan yang begitu rupa hingga di bukit Kalvari di mana mereka memakukan-Nya ke kayu itu dan kemudian Dia wafat.
Saudara, Yesus yang telah dijanjikan Tuhan kepada kita memiliki kemampuan yang melakukan banyak kebaikan bagi kita. Sebab Ia dikaruniakan dengan kehormatan dan kekuasaan tertinggi sehingga kita yang menerimanya, tidak bisa tidak bersukacita. Inilah kabar gembira bagi kita.
Seluruh kejelasan ini bertujuan agar kita dapat dengan yakin percaya bahwa Ialah Mesias yang dijanjikan Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita. Dia diberikan dengan cuma-cuma, untuk menjadi segala sesuatu bagi kita, seperti yang dituntut oleh keadaan kita yang sudah jatuh. Begitu besarnya kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia memberikan Anak-Nya yang tunggal, bukan untuk para malaikat yang telah berdosa, melainkan untuk kita, umat manusia yang sudah jatuh.
Berbicara tentang tujuan kelahiran-Nya adalah agar kita yang hidup di dalam kegelapan dosa menerima terang keselamatan. Allah menjanjikan Mesias yang akan membawa pengharapan bagi umat-Nya. Kedatangan-Nya membuka babak baru dalam hidup umat-Nya. Manusia yang dikuasai kegelapan dosa, kini melihat terang yang besar yang mengenyahkan kegelapan. Kedatangan-Nya mengubah kedukaan yang mencekam menjadi sukacita besar. Ia membuat manusia lepas dari belenggu dosa dan memberikan damai sejahtera yang mampu mengeyahkan perang dan perseteruan.
Melalui Yesaya 9:5 ini setidaknya ada empat nama yang sangat penting yang menandakan Yesus Kristus sebagai Raja, dikatakan: “…dan namanya disebutkan orang: Penasehat Ajaib, Allah Yang Perkasa, Bapa Yang Kekal, Raja Damai.”
Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan,
Pertama, Ia disebut dengan Penasihat Ajaib, sudah sewajarnya Ia disebut ajaib, karena Ia adalah Allah sekaligus manusia. Kasih-Nya yang ajaib dan membuat takjub paa malaikat dan orang-orang kudus yang sudah dimuliakan. Mesias sendiri akan menjadi keajaiban adikodrati dimana Ia dipenuhi Roh hikmat ilahi yang melebihi segala kebijaksanaan dunia atau manusia, karena Roh Tuhan ada pada-Nya (Band. Yesaya 11:2). Dalam rencana-rencana-Nya dan nasihat-nasihat-Nya yang tiada taranya di antara manusia, Dia mengajar dengan penuh kuasa. Dia adalah hikmat itu sendiri yang diutus oleh Allah Bapa untuk melaksanakan tugas keselamatan Allah. Hanya di dalam Kristus kita bisa memperoleh bijaksana. Sekarang Bijaksana itu datang melalui bayi yang lemah lembut.
Kedua, Ia disebut Allah yang Perkasa, Di dalam Mesias, seluruh kepenuhan ke-Allahan akan berdiam secara jasmaniah. Aspek pribadinya ini tidak dapat dipisahkan dari gambaran yang mendahuluinya. Jadi ada korelasi antara hikmat, keperkasaan dan kuasa. Dia menghadap tugas yang sangat berat dan besar untuk keselamatan manusia. Karena itu tepatlah jika Yesus disebut pahlawan Ilahi (Keluaran 15:3).
Ia disebut sebagai Bapa yang Kekal, Ia bukan hanya datang untuk memperkenalkan Bapa sorgawi, tetapi Ia sendiri adalah Allah, satu dengan Bapa, yang berasal dari kekal sampai kekal. Dia adalah pencipta kehidupan dan kebahagiaan kekal bagi mereka, akan bertindak terhadap umat-Nya secara kekal bagaikan seorang Bapa yang penuh belas kasihan. Karena itu saudara pemerintahan-Nya bukan berdasarkan pada kekerasan dan pedang, tetapi berdasarkan kasih seorang Bapa terhadap anak-anak-Nya (Band. Yesaya 22:21), maka Dia akan memerintah dan memelihara bangsa itu dengan kasih setia-Nya yang kekal. Dia adalah pribadi kedua dari Allah tritunggal. Dia adalah Bapa yang kekal, sumber kekekalan yang mampu memberi hidup kekal kepada manusia.
Dan yang terakhir Ia disebut sebagai Raja Damai. Kata “damai” dalam bahasa Ibrani adalah “syalom”, yang memiliki arti yang luas dan mencakup seluruh bidang atau aspek kehidupan. Ini berarti keadaan hidup yang penuh damai sejahtera, yang utuh dan serasi (harmonis) dan lengkap. Ini merupakan klimaks yang ideal di bawah pemerintahan Raja Syalom, baik secara nasional maupun internasional. Bahwa Raja Damai akan membawa damai dengan Allah, seluruh umat yang percaya kepada-Nya melalui pembebasan dari dosa dan kematian.
Selanjutnya dikatakan bahwa Raja Damai itu memerintah di atas tahta Daud. Hal ini berarti bahwa Ia adalah Raja yang sah dan legal, yang diharapkan dan diciptakan. Berbeda dengan Ahas, Raja itu akan memerintah dengan hikmat ihali dalam kebenaran dan keadilan”, sesuai dengan hukum-hukum Allah. Allah sendiri telah bekerja untuk mewujudkan semua ini: Tuhan semesta alam, yang memiliki segala kuasa ditangan-Nya dan semua makhluk siap sedia melayani-Nya, akan melakukan hal ini, akan menjaga tahta Daud sampai Raja Damai ini diam di dalamnya. Yesus datang sebagai Raja yang memperbaharui kerajaan Daud – bukan sebagai raja di dunia ini, namun sebagai Raja di setiap hati umat manusia dan juga menjadi raja di dalam Kerajaan Sorga.
Besar kekuasaanya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas tahta Daud dan di dalam kerajaan-Nya, karena Ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Kecemburuan Tuhan semesta alam akan melakukan hal ini.
Dengan demikian, Natal bukanlah perayaan ulang tahun Yesus Kristus, melainkan sebuah bukti sejarah tentang kedatangan Yesus ke dunia yang memberikan pengharapan kepada manusia yang berdosa. Perhatikanlah, mereka yang diselamatkan Yesus diselamatkan dari dosa mereka, dari kesalahan karena dosa melalui karya kematian-Nya, dari kuasa dosa melalui Roh kasih karunia-Nya. Dengan menyelamatkan mereka dari dosa, Ia menyelamatkan mereka dari murka dan kutuk, serta dari semua kesengsaraan di dunia ini maupun di alam baka. Kristus datang untuk menyelamatkan umat-Nya bukan di dalam dosa mereka, melainkan dari dosa mereka, untuk membayar lunas bagi mereka, suatu kebebasan bukan untuk berbuat dosa, melainkan kebebasan dari dosa, untuk membebaskan mereka dari segala kejahatan (Titus 2:14).
Dengan demikian, Ia menebus mereka dari antara manusia (wahyu 14:4) bagi diri-Nya, yang terpisah dari orang-orang berdosa. Keselamatan umat adalah anugerah Allah semata-mata. Keselamatan membalikkan situasi gelap yang meliputi umat Tuhan, menjadi terang besar. Keselamatan ang dikerjakan-Nya mempertemukan Allah dan manusia. Inilah yang telah dirancang-Nya untuk membawa Allah menyertai kita, yang merupakan sukacita besar bagi kita dan untuk membawa kita agar berada bersama Allah, yang merupakan kewajiban besar kita. Inilah berita Natal yang sesungguhnya, yaitu karya Allah di tengah-tengah hidup manusia, bagi dunia. Karena itu jika Yesus sudah lahir 2000 tahun yang lalu merupakan fakta sejarah yang menyatakan kebenaran Allah, mengapa kita masih ragu dengan keselamatan yang ditawarkan-Nya?
Peran Yesus yang berikutnya adalah Ia datang untuk memerintah dan untuk berkuasa atas segala sesuatu. Allah menyatakan diri dan sifat-Nya dengan cara yang berbeda dari semua agama lain, Ia telah menyatakan bahwa kuasa terbesar adalah menjadi manusia. Yang Mahakuasa telah menyatakan diri di dalam diri seorang bayi yang seolah-olah tidak mempunyai kuasa apapun.
Alkitab menyatakan bahwa Yesus tenang selama 12 tahun. Alkitab menjelaskan bahwa kalimat pertama yang keluar dari mulut Yesus, adalah kalimat yang terindah dan teragung dari seorang anak, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Lukas 2:49). Setelah itu Dia tenang kembali selama 18 tahun. Pada usia 30 tahun Dia keluar menyatakan kuasa Allah melalui penyembuhan, pembangkitan orang mati, penyataan mujizat yang tidak pernah dilakukan pendiri agama-agama lain, karena Dia adalah Allah yang Mahakuasa. Demikian pula hal ini dinyatakan kembali oleh-Nya saat Ia akan naik ke sorga, Ia berkata kepada para murid-Nya, "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi" (Matitus 28:18).
Bagi Kristus yang telah bangkit dari antara orang mati dan menetapkan baptisan dan memberi kuasa kepadanya, sesudah menundukkan semua malaikat, pemerintah dan penguasa dengan kenaikan-Nya, yang sekarang duduk di sebelah kanan Allah. Sebagai pengantara Kristus juga memiliki kuasa atas musuh-Nya. dan Ia tidak akan berhenti sampai ia telah meletakkan semua musuh-nya di bawah kaki-Nya.
Pada akhirnya, ketika Kristus telah menundukkan gereja-Nya dan semua musuh-Nya, Ia akan memper-sembahkan kedudukan sebagai Raja, jabatan rajawi, kepada Bapa. Dan karya-Nya sebagai pengantara pun selesai. Karya yang diperintahkan Bapa untuk Ia lakukan akan telah digenapi. Allah sendiri kemudian akan menjadi Raja selama-lamanya.
Tidak ada kuasa dunia yang bisa berada selama-lamanya, Tidak ada kerajaan yang berdiri selama-lamanya. Hanya kerajaan Kristus dan kuasa-Nya yang selama-lamanya. Orang Kristen harus mengetahui bahwa ia mempunyai Allah yang kerajaan dan kuasa-Nya untuk selama-lamanya. Pengertian yang demikian membuat orang Kristen bisa berdiri tegak. Maka ketika orang Israel merasa bahwa mereka bisa menegakkan seorang raja, menggeser dari teokrasi kepada demokrasi, mereka salah. Karena itu Allah kembali menegakkan rencana-Nya dengan mendirikan kerajaan Kristus. Kerajaan yang didirikan oleh Kristus sendiri. Oleh sebab itu barangsiapa yang percaya kepada-Nya akan diselamatkan. Barangsiapa menyebut Dia Tuhan, akan diselamatkan. Ia adalah Tuhan, karena Ia adalah Allah.
Yesus Kristus adalah Allah. Mungkinkah seorang bayi disebut Allah dan berkuasa seperti Allah? Meskipun manusia tidak dapat mengerti, tetapi inilah kebenarannya. Allah menyatakan diri melalui cara yang sama sekali berbeda dari pemikiran manusia, Manusia menginginkan Juruselamat yang memiliki kuasa militer, kuasa politik yang besar. Tetapi Juruselamat itu datang melalui bayi yang lemah lembut.
Fakta telah membuktikan kepada kita bahwa Yesus Kristus menerima penyembahan dari manusia, Yesus Kristus tidak berdosa, Yesus Kristus hidup penuh dengan mujizat-mujizat, dan Yesus Kristus mati di kayu salih sebagai tanda kasih-Nya, dan bangkit dari kematian membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah benar-benar Allah yang menjelma menjadi manusia.
Allah adalah Allah yang tertinggi, yang mencipta, yang memelihara dan menguasai. Ia juga adalah Allah yang menguasai dan memberi penghakiman. Allah dengan Kerajaan-Nya menegakkan kerajaan rohani di dalam dunia ini dengan Kristus sebagai Raja di atas segala raja. Kedatangan-Nya yang kedua kali merupakan pengharapan semua orang yang percaya di dalam Tuhan yang berkuasa di atas segala sesuatu dan setia kepada janji-janji dan nubuatan-nubuatan dalam Firman-Nya.
Ketika kita menerima Tuhan Yesus sebagai juru selamat kita, maka kita menjadi satu tubuh dengan Kristus, artinya, kita memiliki Penasihat yang luar biasa, kita juga punya Raja Damai, di mana kita memiliki kedamaian dalam hidup kita. Kita punya Bapa yang baik.
Keseluruhan hidup kita adalah persembahan hidup bagi Allah. Terlebih lagi, dengan meneladani Allah yang memerintah dengan adil, kita juga sudah selayaknya mengerjakan tanggung jawab kita dengan sungguh-sungguh di hadapan Tuhan.
Saudara, kita juga harus menyadari bahwa pemilihan Allah bagi setiap kita merupakan suatu anugerah/ kasih karunia dan Allah berkehendak supaya kita menyerahkan diri kita walaupun akan banyak tantangan yang akan kita hadapi di depan, namun dalam anugerah-Nya Ia selalu berjanji akan menyertai kita sampai kepada akhir zaman. Kiranya kebenaran firman Tuhan ini, memberikan kepada kita kekuatan untuk bergantung sepenuhnya kepada Raja alam semesta yang kita kenal di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. 
Sehingga di setiap langkah hidup kita, kita dapat melihat rahmat Tuhan yang besar yang memelihara dan mencukupi. Selamat Natal, Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Selasa, 06 September 2016

JANGAN MENGUCAPKAN SAKSI DUSTA TENTANG SESAMAMU

JANGAN MENGUCAPKAN SAKSI DUSTA TENTANG SESAMAMU
 (Keluaran 20:16)


Bapak, ibu, sdr.i yang terkasih
Hari ini kita kembali membahas 10 hukum. Dan pada hari ini kita masuk dalam pembahasan hukum ke-9 yaitu yang berbicara tentang “Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu”. Saudara, berbicara tentang dusta, Kamus Besar Bahasa Indonesia menjelaskan bahwa kata “dusta” berarti “perkataan yang tidak benar”, sedangkan “berdusta” berarti  “mengatakan  hal yang tidak benar, berbohong”. Kedua-duanya memiliki pengertian yang hampir mirip.
Bapak/ ibu/ sdr yang kekasih,
Dalam kehidupan sehari-hari kita, sadar atau tidak sadar, seringkali kita pun sering melakukannya. Kita sering tergoda untuk mengatakan hal-hal yang tidak jujur dalam kehidupan kita dengan berbagai macam motif dan alasan. Baik kepada diri sendiri, kepada keluarga, pasangan kita atau pun rekan kerja. Jika kita merujuk pada hasil penelitian sebuah lembaga survei beberapa tahun yang lalu, tampaknya berdusta sudah menjadi cara hidup yang lazim yang dianut oleh kebanyakan orang. Beberapa tahun yang lalu sebuah penelitian membuktikan bahwa 91% orang telah biasa berdusta berkaitan dengan hal-hal yang dianggap sepele; 36% orang berdusta mengenai hal-hal yang penting; 86% mengaku sering berdusta kepada orangtua; 75% berdusta kepada teman-teman; 73% kepada saudara kandung; dan 69% kepada pasangannya.
Bapak, ibu, sdr.i yang terkasih
Firman Tuhan hari ini memerintahkan kita untuk senantiasa mengatakan kebenaran tanpa disertai embel-embel berbohong dengan alasan apapun juga dan dengan resiko apapun. Dalam hal inilah firman Tuhan dalam Amsal 13:5 pun berkata, “Orang benar membenci dusta, tetapi orang fasik memalukan dan memburukkan diri”. Serta dalam Kolose 3:9 dijelaskan bahwa, “Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya”. Dari sini kita melihat saudara, bahwa perintah larangan berbohong atau berdusta ini adalah sebuah perintah yang mutlak, tidak bisa ditawar. Itu sebabnya dalam hukum ke-9 mengatakan “Janganlah sekali-kali engkau mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.” Hal ini sama artinya bahwa orang yang mengaku beriman mesti belajar tahu apa yang menjadi kebenarannya, bahwa ia harus senantiasa menjaga hidupnya benar.
Jadi saudara, mengatakan kebenaran sudah seharusnya menjadi salah satu ciri utama dari seorang pengikut Kristus.
Dalam Kolose 3:9 tadi diungkapkan bahwa orang-orang percaya tidak boleh berdusta, karena ia telah "menanggalkan manusia lama serta kelakuannya." Artinya perbuatan dusta bukanlah ciri khas kehidupa anak Tuhan. Sebaliknya saat seseorang berdusta, itu berarti dia sedang mengikuti jejak Setan. Karena Setan adalah “bapa segala dusta" (Yohanes 8:44).
Bapak, ibu, sdr.i yang terkasih
Sesungguhnya dusta lebih berkenaan dengan pemikiran-pemikiran yang salah, yang menyangkal sebuah fakta sehingga seseorang mengira dengan sikapnya ia dapat menyembunyikan kesalahan dan melindungi diri dari kebenaran.
Padahal kenyataannya tidaklah demikian! Orang yang kehidupannya selalu penuh dengan dusta justru hanya akan memperberat masalah. Di sisi yang lain, pengakuan yang jujur adalah cara tercepat untuk mendapatkan pengampunan dan membuat kita kembali pada pimpinan dan pemeliharaan Allah. Sekarang mari kita perhatikan apa yang diungkapkan firman Tuhan dalam 1 Yohanes 1:9, “Jika kita mengaku dosa kita maka Ia adalah setia dan adil sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan”. Firman Tuhan sangat jelas mengungkapkan bahwa kejujuran kita mengenai dosa yang telah kita lakukan, memberikan peluang akan pengampunan Allah berlaku atasnya.
Sebaliknya, jika seseorang berkelit dan pura-pura tidak berdosa, maka sesungguhnya ia membuat Allah menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalamnya. (1 Yohanes 1:10).
Dr. Joseph Stowell seorang pimpinan Moody Bible Institute berpendapat: “Berterus terang mengatakan kebenaran adalah hal yang tidak mudah dilakukan. Budaya kita sekarang ini telah beralih kepada etika kepuasan diri sendiri, yang mana banyak kesalahan-kesalahan yang tidak hanya ditoleransi tetapi juga dianjurkan sebagai hal yang benar. Sebagai akibatnya, banyak dari kita yang merasa nyaman jika kita berbohong atau tidak berterus terang kepada orang lain.”
Bapak, ibu, sdr.i yang terkasih
Kebenaran memiliki banyak nilai-nilai penting. Kebenaran adalah dasar untuk sebuah kepercayaan, integritas, iman, keamanan dan stabilitas. Pada waktu kebenaran diganti dengan kebohongan, maka nilai-nilai tersebut akan menjadi hancur dan menghilang dari kehidupan orang tersebut. Di sisi lain, kebohongan adalah teman baik dari ketidak-percayaan, kecurigaan, keraguan, kekacauan, pertikaian, dendam, kebencian dan kemarahan.
Jadi kapanpun kebohongan menggantikan kebenaran, maka kebohongan akan menyingkirkan kebenaran. Dari sini sebenarnya kita mesti mengetahui kebenarannya bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang adil. Tuhan kita mau setiap kesaksian diberikan untuk pengadilan memberikan keputusan yang tepat untuk orang yang bersalah.
Itu sebabnya saksi menempati posisi yang sangat penting bagi hakim dalam menimbang suatu perkara dalam pengadilan. Seorang saksi harus memberitakan apa yang dia lihat, apa yang dia tahu, apa yang dia amati, supaya pengadilan dapat memutuskan perkara dengan tepat.
Saudara, di dalam Alkitab banyak sekali contoh-contoh dapat kita temukan tentang bagaimana dosa bersaksi dusta, seringkali membawa dampak buruk baik terhadap diri sendiri ataupun terhadap orang lain. Salah satu contoh dapat kita lihat dari Perjanjian Lama yaitu tentang peristiwa kematian Nabot sebagai dampak dari niat jahat isteri Ahab yang menyuruh seseorang untuk mengemukakan kesaksian palsu tentang Nabot (1 Raja 21:1-29).
Saat itu, ketika Raja Ahab tergiur dengan kebun anggur milik Nabot orang Yizreel, Raja Ahab berniat untuk membelinya, padahal dia sendiri memiliki kebun anggur yang sangat subur. Ahab berkata: “Berikanlah kepadaku kebun anggurmu dengan bayaran uang atau jika engkau lebih suka, aku akan memberikan kebun anggur kepadamu sebagai gantinya” (1 Raja 21:6). Namun saat niatnya untuk membeli kebun anggur Nabot, Nabot malah mengatakan “bahwa ini adalah tanah warisan, sebagaimana yang diperintahkan Tuhan. Dan tanah warisan tidak boleh diperjualbelikan kepada siapa pun.” Mendengar pernyataan dari Nabot, akhirnya Ahab menjadi marah, dia pulang ke istananya, ia masuk ke dalam kamar, mengunci diri dan tidak mau makan.
Melihat kejadian ini, Izebel isteri dari Ahab, bertindak untuk membela suaminya dengan satu rencana jahat di mata Tuhan. Serta menjanjikan bahwa keinginan suami pasti akan terkabul. Sehingga dengan diam-diam dia mengumpulkan orang-orang jahat dan dan merencanakan sebuah pembunuhan dengan alibi tuduhan palsu. Ia menulis sebuah surat atas nama Ahab. Dalam surat itu ditulisnya demikian: “Maklumkanlah puasa dan suruhlah Nabot duduk paling depan di antara rakyat. Suruh jugalah dua orang dursila duduk menghadapinya, dan mereka harus naik saksi terhadap dia dengan mengatakan: Engkau telah mengutuk Allah dan raja. Sesudah itu bawalah dia keluar dan lemparilah dia dengan batu sampai mati” (1 Raja 21:9-10).
Setelah didengarnya bahwa Nabot telah mati terbunuh, maka datanglah Izebel menghampiri Ahab sambil berkata: “Bangunlah ambillah kebun anggur Nabot, orang Yizreel itu, menjadi milikmu, karena Nabot yang menolak memberikannya kepadamu dengan bayaran uang, sudah tidak hidup lagi, ia sudah mati” (1 Raja 21:15).
Kita melihat saudara bagaimana kekuatan dusta, mengakibatkan hilangnya nyawa seorang yang baik. Dosa yang ditimbulkan dalam hati, ketika sudah meracuni pikiran pada akhirnya hanya akan menghasilkan sebuah tindakan dosa. Sehingga dosa selalunya membuahkan dosa yang baru, jika hal itu tidak diselesaikan di hadapan Tuhan.
Begitu pula respon Tuhan saat melihat dosa yang ditimbulkan oleh Izebel, Tuhan marah sekali dengan tindakan Ahab yang tidak berprikemanusiaan, sehingga Ia memerintahkan Nabi Elia untuk pergi menghadap Ahab sambil menyampaikan nubuat tentang penghukuman baginya. Elia berkata: “Beginilah firman Tuhan: Di tempat anjing menjilat darah Nabot, disitu jugalah anjing akan menjilat darahmu” (1 Raja 21: 19). Semua ini saudara, dibuat Tuhan karena sakit hati-Nya atas dosa yang ditimbulkan Ahab di tengah-tengah orang Israel. Tuhan juga menulahi Izebel dengan sebuah kutukan bahwa “anjing akan memakan izebel di luar tembok Yizreel” (1 Raja 21:23). Dari sini kita melihat bapak/ ibu, bahwa dosa karena dusta bukanlah sebuah perkara sepele di hadapan Tuhan.
Terlebih jika dusta itu berkenaan dengan penghinaan nama Tuhan. Inilah yang dimaksudkan dengan bersaksi dusta dan karena itu Tuhan sangat membenci akan dosa ini.
Bapak/ ibu/ sdr yang kekasih,
Jika kita percaya bahwa Tuhan berdaulat atas kehidupan kita serta memercayai tindakan-Nya untuk mengasihi dan memelihara kita dalam segala hal, maka seharusnya kita tidak boleh berbohong untuk mencoba memanipulasi keadaan hidup kita. Kebohongan tentang keadaan hidup kita di hadapan sesama, sama artinya sebuah penyangkalan bahwa Tuhan berdaulat atas kehidupan kita. Karena itu marilah kita belajar mengendalikan diri kita dan belajar untuk bersikap jujur dengan segala keadaan yang kita rasakan.
Saudara, hukum ke-9 ini juga dapat berhubungan dengan lidah sebagaimana yang disebutkan oleh Yakobus 3:1-12. Prasangka buruk dan manipulasi yang timbul dalam pikiran kemudian dilanjutkan dengan sebuah kata-kata juga akan melahirkan dusta. Ketika seseorang berdusta dalam hatinya, maka dosa itu hanya dapat diketahui oleh Tuhan, karena Tuhan mengenal hati manusia. Akan tetapi dusta yang timbul dari sebuah perkataan baru dimengerti oleh sesamanya. Masalahnya saudara, seringkali orang berpikir bahwa berdusta adalah dosa yang kecil jika dibandingkan dengan berjinah, mencuri atau membunuh. Mengapa saudara, karena manusia berdosa sudah kehilangan standar moral sehingga tidak bisa lagi dapat menilai esensi sebuah dosa. 
Akibatnya timbul pertimbangan dosa kecil dan dosa besar. Dan dosa dusta dipahami sebagai dosa kecil. Faktanya tidaklah demikian! Semua bentuk dosa di mata Tuhan esensinya sama. Tidak ada dosa kecil dan dosa besar, tidak ada dusta demi kebaikan. Semua yang namanya dosa adalah kekejian di mata Tuhan. Dan upah dosa adalah maut.
Dalam hal ini, maka sebagai orang Kristen biarlah kita selalu berkata yang benar, penuh hikmat dan pertimbangan sehingga kita mampu menguasai lidah kita.
Bapak, ibu, sdr yang kekasih
Mengatakan yang benar mengenai orang lain dan mengatakan kebenaran setiap saat adalah sikap yang berarti bagi Allah. Allah menyukai kebenaran, sebagaimana diri-Nya adalah Kebenaran. Karena itu Dia hanya mengatakan apa yang benar. Tuhan Yesus, Anak Allah, juga menyebut diri-Nya sebagai “Jalan, kebenaran dan Hidup”. Hal inilah yang memper-lihatkan kepada kita bahwa sesungguhnya Tuhan tidak suka dengan yang namanya dusta atau bohong. Karena Dia adalah kebenaran yang sejati. Oleh karena itu Dia pun menghendaki dan merindukan agar kita sebagai anak-anak-Nya dapat hidup di dalam kebenaran itu. Dengan demikian, ketika hukum Allah melarang suatu hal, hukum itu juga memerintahkan yang sebaliknya. Kita tidak boleh memiliki keinginan untuk mendengarkan apa yang dikatakan orang lain mengenai keburukan orang lain.
Kita mungkin tidak akan pernah berkata bahwa kita menginginkan orang berbuat jahat, tetapi dengan bersemangat mendengarkan kabar yang jahat mengenai orang lain pun sudah membuat kita terlihat bersukacita di dalam kejahatan. Kita harus bergemar di dalam mendengarkan hal-hal yang baik mengenai orang lain, bukannya cerita mengenai perbuatan jahat. Jika kita selalu berhati-hati untuk melakukan yang benar dan menghindari berbuat salah, kita akan memiliki hati nurani yang bersih.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Manusia suka memikirkan kasih Allah. Tetapi kita tidak pernah memikirkan apa yang dibenci Allah, oleh karena itu kita juga harus mempertimbangkan hal ini agar kita dapat menghindari apa yang dilarang-Nya.
Oleh karena itu apa yang kita katakan mengenai orang lain sangatlah serius. Allah menghendaki agar kita berhati-hati dalam membicarakan orang lain.
Kata-kata kita yang diucapkan secara sembrono dapat sangat melukai orang lain. Kita perlu untuk berhati-hati terutama untuk tidak mengatakan hal-hal yang tidak benar mengenai orang lain. Karena ini menyangkut reputasi kita. Kadang kala reputasi dibuat berdasarkan fakta. Kadang reputasi di buat berdasarkan apa yang dikatakan orang yang mungkin tidak benar. Reputasi atau penilaian diri itu sangat penting. Jika kita memiliki reputasi yang baik, orang lain akan menghormati kita dan akan memuliakan Allah, karena kita berkata bahwa kita adalah milik-Nya. Perintah ini memanggil kita untuk berbuat semampu kita untuk melindungi reputasi kita sendiri dan reputasi orang lain. Kita merusak reputasi orang lain ketika kita menyebarkan hal-hal yang buruk yang kita dengar mengenai orang itu.
Bapak,ibu,sdr yang terkasih
Oleh karena itu kesaksian yang jujur dan benar sangat di butuhkan, terutama karena si tertuduh bertanggung jawab membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Orang yang mengucapkan saksi dusta akan merugikan dia dan menyebabkan dia menderita hukuman yang tidak patut. Pastilah dia merugikan orang banyak karena masyarakat menjadi tidak aman dan damai. Orang yang berdusta untuk keuntungan sendiri biasanya merugikan orang lain dan sudah jelas melanggar firman Tuhan. Karena itulah, biarlah melalui kebenaran firman Tuhan ini, kita dapat belajar untuk senantiasa berkata jujur terhadap diri sendiri, jujur terhadap orang lain terlebih lagi jujur terhadap Allah. Dengan demikian, kehidupan kita akan senantiasa dipelihara oleh Tuhan. Amin.

Minggu, 31 Juli 2016

MENERAPKAN HUKUM KEENAM DALAM KEHIDUPAN PRAKTIS

MENERAPKAN HUKUM KEENAM DALAM KEHIDUPAN PRAKTIS
Keluaran 20:13; Ulangan 5:17


Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan,
Pada minggu ini kita masih membahas tentang hukum keenam, yaitu mengenai hukum “Jangan Membunuh”. Kalimat tentang Hukum ini sangat singat, hanya dua kata. Namun Hukum ini memiliki makna yang sangat luas dalam penerapannya. Pada minggu lalu Ev. Ozi sudah menjelaskan begitu panjang lebar mengenai hakekat dari hukum keenam ini. Bukan hanya sebuah tindakan nyata tentang menghilangkan nyawa seseorang, tetapi hal lain yang sama hakekatnya dengan membunuh diantaranya: kemarahan, mengatai orang lain kafir, dan tindakan jahil (Matius 5:21-22). Karena itu Hukum keenam ini bukan hanya berbicara soal tindakan fisik mengenai larangan pembunuhan. Tetapi juga berkaitan dengan niatan, perkataan, yang mematikan mental dan spiritual seseorang.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Perintah Allah “Jangan membunuh” ini menyadarkan kita, betapa berharganya hidup atau nyawa manusia di hadapan Tuhan. Saudara, Hidup itu kudus, itu adalah anugerah Allah. Pada saat Allah menciptakan manusia, Allah menciptakannya menurut peta gambar-Nya (Kejadian 1:27). Saat permukaan bumi diselimuti kabut, Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan Ia menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kejadian 2:7). Dengan demikian, Allah adalah sumber dan pemberi hidup manusia. Maka hak atas hidup manusia adalah milik Allah sendiri. Hanya Allahlah yang berhak mengizinkan, menunjuk, atau menetapkan untuk mengakhiri hidup seseorang. Mengapa? Apa yang membuat Allah berhak melakukan itu? Karena Dialah sang Pencipta dan Pemberi kehidupan. Tanpa pribadi Allah sudah tentu tidak ada yang namanya kehidupan. Oleh sebab itu, hanya Dialah yang memiliki hak atau otoritas untuk mengambil nyawa dan melakukan apa pun sesuai dengan kehedak-Nya. Jadi saudara, hak untuk menentukan hidup dan mati seseorang bukan berada di tangan manusia, tetapi berada di tangan Tuhan. Tuhan sendirilah yang berdaulat atas kehidupan dan kematian manusia. Oleh karena itu manusia, tidak memiliki hak untuk menentukan hidup atau mati baik bagi dirinya sendiri maupun bagi sesamanya.
Namun kalau kita melihat dalam kehidupan sehari-hari, mengapa banyak sekali terjadi kasus pembunuhan. Baik itu pembunuhan yang tidak terencana sampai pembunuhan terencana. Mulai dari yang biasa, sampai pada tingkat yang paling sadis. Bukan hanya melibatkan anak-anak akan tetapi lebih kepada orang dewasa. Bukan hanya diperkotaan besar, tetapi juga di pedesaan terpencil pun kasus ini ada. Mengapa saudara? Jawabannya adalah, karena kejatuhan manusia dalam dosalah sehingga manusia pada akhirnya salah dalam menilai soal kehidupannya. Dipikirnya dia berhak menentukan kehidupannya sendiri dan orang lain. Padahal hakekatnya tidaklah demikian.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Secara umum kita melihat, bahwa semua kasus pembunuhan terjadi karena merasa dirinya lebih pantas hidup di dunia sementara orang lain tidak pantas hidup di dunia; atau kehadiran orang lain telah mengganggu keberadaan dirinya sehingga ia meniadakan orang itu. Pembunuhan biasanya dipicu oleh pikiran yang dipenuhi amarah. Kemarahan bertumbuh menjadi sikap benci yang berakhir dengan tindakan membunuh. Itulah dosa! Yakobus 1:15 berkata: “Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.” Jadi saudara, perbuatan dosa yang dipupuk terus-menerus, bukan saja melahirkan maut bagi dirinya, tetapi juga bisa berakibat kematian bagi orang lain. Itulah pembunuhan. Lagi pula “setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia. Dan kamu tahu bahwa tidak ada seorang pembunuh yang tetap memiliki hidup yang kekal di dalam dirinya” (1 Yohanes 3:15).
Itu sebabnya, setelah Allah memberikan perintah untuk menghormati orang tua, segera disusul dengan perintah jangan membunuh. Dimana manusia tidak boleh membunuh sesamanya karena yang menetapkan nilai setiap manusia bukanlah manusia, melainkan Allah sendiri. Hidup seharusnya patut dipelihara dan jangan dihancurkan. Sebab hidup itu berasal dari Allah, dan apa yang telah dikaruniakan Allah pada manusia haruslah dipeliharanya dengan baik. Jadi pada prinsipnya, melalui perintah jangan membunuh ini, Allah memerintahkan kita supaya kita menghargai kehidupan yang Allah berikan.
Bapak ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Pembunuhan banyak dimengerti adalah sebuah tindakan meniadakan nyawa dan kehidupan seseorang. Di dunia ini, bagi pembunuh akan ada hukum yang menghakiminya. Sebab inilah buah dari dosa! Kita melihat efek dari kejatuhan manusia ke dalam dosa secara langsung adalah tindakan pembunuhan, yaitu saat Kain membunuh Habel (Kejadian 4:8).  Dosa bukan hanya merusak kehidupan Adam dan Hawa, tetapi dosa juga merusak keluarga dan seluruh keturunannya. Inilah yang disadari Kain, dimana saat ia sadar telah jatuh dalam dosa, ia diliputi suatu ketakutan besar. Bayang-bayang dosa terus-menerus mengejar dan menuntutnya sehingga menghilangkan damai sejahtera hatinya. Hal ini menyebabkan Kain hidup dalam ketakutan, kalau-kalau orang lain pun akan membunuhnya ketika mereka bertemu dengannya. Karena itu saat ia dihukum oleh Allah, ia memohon belas kasihan Tuhan agar Tuhan melindungi nyawanya (Kejadian 4:14-15). Dengan demikian saudara, bukan kitalah pencipta hidup kita, pencipta kita adalah Tuhan Allah. Jadi hidup kita bukanlah milik kita tetapi milik Allah (Kisah Para Rasul 17:24-25). Lagi pula Ayub mengatakan, ”Tuhan memberi, Tuhan yang mengambil” (Ayub. 1:21), Dia sajalah yang berhak mengambilnya dan kemudian menghakiminya (Ibrani 9:27).
Alkitab melalui Hukum Taurat mengajarkan bahwa Tuhan dapat memakai manusia sebagai alat untuk menghukum ciptaan-Nya, termasuk menghukum mati sesamanya. Hukum Taurat mengatur hukuman mati bagi para pezinah, pembunuh sesamanya dan pembunuhan dalam peperangan. Semua peraturan ini jelas sehingga tidak bisa ditafsirkan dengan sembarangan.
Allah memberikan hak otoritas terhadap pemerintah untuk mengatur sebuah negara. Izin untuk menghukum diberikan kepada para pemimpin umat berdasarkan keterangan para saksi yang dapat dipercayai. Karena itu Perjanjian Baru menegaskan bahwa tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada di tetapkan oleh Allah. Dalam Roma 13:1-7 dijelaskan jika ada bangsa lain yang mencoba untuk memasuki wilayah kekuasan negara kita untuk mencelakakan dan menghancurkan, maka tugas dari para pemimpin bangsa kita adalah mengambil tindakan militer untuk melawan mereka. Jadi membunuh berbeda esensinya dengan memberikan hukuman mati.
Terkadang orang Kristen berpikir, bahwa membunuh untuk membela negara merupakan perbuatan yang salah. Karena itu, sangat jarang dalam keluarga Kristen, khususnya di Indonesia, yang menganjurkan anak-anaknya masuk dalam sekolah Militer. Terlebih lagi, negara kita sendiri tidak mengharuskan setiap warga negaranya untuk wajib militer. Tetapi ketika seorang Kristen dipanggil untuk melayani negaranya dalam angkatan darat atau laut atau udara, untuk sebuah alasan yang benar, dan negara menugaskannya untuk membela dari ketidak-benaran hingga harus membunuh, maka hal itu sama sekali tidak melanggar perintah keenam. Sebab ia sedang mengemban tugas negara yang menjadi wakil Allah. Dengan demikian, Tuhan memberikan izin untuk membunuh para penjahat bukan sebagai bentuk tindakan pembunuhan, melainkan sebuah penghukuman.
Hal yang lain saudara dalam kehidupan keseharian kita, kita menemukan ada banyak kasus-kasus yang berkaitan dengan hukum keenam ini. Yang walaupun ada banyak pro kontra di dalamnya mengenai penggunaan etika Kristen. Tetapi bagi kita yang tunduk terhadap firman Allah, kita harus kembali kepada apa yang dikatakan oleh Alkitab. Sebab Alkitablah dasar pijakan kita untuk beretika. Sehingga masalahnya bukan lagi boleh atau tidak, masalahnya harus dilihat apakah tindakan itu benar atau tidak menurut firman Tuhan.
Kasus Selfi. Rasa-rasanya di zaman ini, tidak ada orang yang tidak pernah selfi. Terlebih lagi sekarang marak HP Smartphone yang canggih dengan resolusi kamera yang bagus, membuat orang tergila-gila dengan selfi. Berfoto selfi memang baru ngetrend tahun 2014 yang lalu. Bukan hanya dengan menggunakan tangan lalu memotret diri, sekarang ini juga marak penggunaan “Tongsis” = tongkat narsis. Bagi ibu-ibu yang sudah lanjut, mungkin berkata: “Itu kan hanya dilakukan anak-anak muda, kita tidak mengerti menggunakan HP.” Pertayaannya betulkah mereka tidak pernah selfi? Saya rasa tidak! Saat mereka berdandan, mereka menata diri mereka di depan cermin, pasti satu atau dua kali, mereka senyum-senyum sendiri dan mengambil gaya untuk memastikan apakah dandanan mereka sudah rapi atau belum. Itu juga selfi. Terlebih lagi, kalau kita kaitkan dengan kehidupan kita saat ini, rasanya hampir semua orang pernah narsis. Mengambil gambar diri dengan pose atau gaya tertentu lalu kita upload ke media social melalui gadget kita, itulah narsis. Nampang gaya walaupun duit lagi krisis, itu juga “Narsis”. Tapi masalahnya, apakah tindakan yang demikian dibenarkan?
Dalam 2 Timotius 3:1-2 dijelaskan, “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama….” Apa yang saya mau katakan, inilah kondisi zaman sekarang. Dan kondisi zaman sekarang sudah dinubuatkan akan terjadi demikian. Termasuk juga selfi, dimana orang yang hidup di zaman akhir akan lebih mencintai dirinya sendiri. Orang yang selfi biasanya ia lebih menyukai penampilan diri sendiri. Egosentris sangat nampak dari tindakan selfi atau narsis. Terlebih ketika ia mengunggahnya di media social. Secara umum mereka mau berkata: “Ini aku, aku lebih cantik…, lebih ganteng…, lebih keren…, lebih berani...” Sehingga tidak jarang orang bukan saja selfi dalam kadar yang biasa-biasa saja. Tetapi terkadang mereka berani menantang maut, dengan harapan ia bisa menjadi orang paling berani. Makanya tidak heran, jika ada orang yang berselfi di Menara-menara tinggi, bibir-bibir tebing dengan memperlihatkan pemandangan belakang sebuah jurang. Untuk apa? Selain dalam hati kecilnya berkata bahwa saya ini sedang sombong.
Bapak/ ibu yang kekasih, kapan pun orang Kristen berpikir tentang “bermain-main dengan kematian” atau tentang tindakan-tindakan “berani mati” untuk sesuatu yang konyol jelas merupakan pelanggaran terhadap hukum ini. Terlebih lagi jika motivasinya untuk menunjukkan “keakuannya” lebih hebat. Sebab secara tidak langsung ia bermain-main dengan kehidupan yang dianugerahkan Tuhan kepadanya.
Jadi, haruskah kita takjub dengan berselfie ria yang populer di zaman sekarang? Saya rasa tidak perlu! Hal ini justru seharusnya semakin mengingatkan kita kembali bahwa kita sudah-sungguh-sungguh berada di zaman akhir. Bukan hanya photo selfie yang populer, tetapi juga tindakan acuh tak acuh untuk hal-hal rohani (agama), membual, menyombongkan diri, berontak terhadap orang tua dan sebagainya. Maka dari itu, pertanyaannya bukanlah “apakah selfi diperbolehkan atau tidak?” Tetapi pertanyaannya adalah: Berfoto selfi untuk apa? Orang yang sudah lahir baru, yaitu yang sudah sungguh-sungguh bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya tentunya tidak akan mengundang bahaya terhadap dirinya.
Kasus bunuh diri. Kita tidak hanya dilarang membunuh orang lain, perintah ini juga melarang kita untuk bunuh diri. Bunuh diri sama salahnya dengan membunuh orang lain. Biasanya seseorang berencana untuk bunuh diri karena kehidupan yang dijalaninya seakan sangat berat baginya. Sesuatu yang sangat menyedihkan telah menimpanya atau ia harus hidup tanpa seseorang atau sesuatu yang rasanya harus ia miliki.  Sehingga ia lebih memilih untuk berhenti hidup daripada hidup didalam keadaan yang sedang ia jalani. Saudara, dimedia massa kita banyak melihat kasus-kasus seperti ini, karena keinginannya tidak dipenuhi orangtua, seorang anak menggantung dirinya. Karena diputuskan oleh pacarnya, seorang pemuda nekad terjun dari Tower BTS. Karena suaminya tidak peduli dengan kehidupan keluarga, seorang isteri mengakhiri hidupnya dan anak-anaknya dengan menenggak racun. Dan masih banyak kasus-kasus yang lain. Mengapa ini terjadi? Karena hakekatnya mereka tidak mengerti esensi sebuah kehidupan yang dianugerahkan Tuhan.
Ketahuilah saudara, ketika seseorang memilih untuk bunuh diri, berarti ia memilih untuk tidak menerima apa yang Allah tetapkan bagi dirinya.  Jadi membunuh, baik membunuh diri maupun membunuh orang lain, terjadi karena salah menilai hidup.
Paulus berkata: “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan Hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20). Dari sini kita mengerti bahwa kehidupan kekristenan yang kita jalani bukan lagi soal ini hidupku. Tetapi soal pemahaman bahwa hidup yang kita jalani bukanlah milikku sendiri, sebab Tuhan Yesus telah mati bagi diriku, untuk menyelamatkanku. Itu sebabnya, bagaimanapun susahnya hidupmu, begitu banyak hal yang tidak dapat engkau capai, begitu banyak kesulitan yang engkau hadapi, engkau tetap harus hidup. Jangan pernah mempunyai pikiran untuk bunuh diri. Niat bunuh diri itu datang dari Iblis yang selalu mau melecehkan manusia, ciptaan Tuhan yang diciptakan menurut peta gambar-Nya. Di sini kita melihat bahwa konsep dan pengertian orang Kristen sangat berbeda dari semua ajaran agama dan pikiran orang sekuler yang belum mengenal firman Tuhan. Karena itu jika kita sungguh-sungguh mengerti bahwa kita adalah anak-anak Allah, jauhkanlah segala pikiran konyol yang berniat untuk mengakhiri hidup.
Kasus Aborsi. Kasus aborsi merupakan dilema besar yang tentunya tidak mudah untuk dipecahkan. Karena mencakup bermacam-macam aspek: legal, teologis, etis, sosial dan personal. Di dalamnya ada yang pro dan kontra dalam penilaian etis terhadap kasus aborsi ini. Membunuh bayi belum lahir sama saja dengan Child Abuse. Membunuh bayi cacat atau kaum dewasa yang menderita bukan menghindarkan dari kesengsaraan manusia, melainkan menyebabkan penderitaan kematian. Karena itu Alkitab dengan tegas melarang umat-Nya melakukan pembunuhan sebab hal yang demikian adalah kejahatan di mata Tuhan (Keluaran 20:13).
Aborsi yang dilakukan biasanya atas pertimbangan tidak mau menerima anak karena aib, tidak siap menerima anak, atau karena hanya cacat, jika hal ini dilakukan maka bertentangan dengan kebenaran. Karena baik Alkitab maupun gereja memberikan nilai sama antara bayi yang masih ada di dalam kandungan dengan manusia yang sudah dewasa atau manusia yang sudah hidup di dunia. Alkitab memberitahukan kepada kita bahwa kehidupan sudah dimulai pada saat konsepsi (pembuahan benih dalam kandungan), dalam Matius 1:20 dituliskan bahwa Yesus dikandung oleh Roh Kudus, dengan demikian Yesus sungguh-sungguh menjadi manusia yang seutuhnya pada saat konsepsi. Aborsi merupakan dosa yang mengerikan. Bahwa merupakan suatu keberanian kita sebagai manusia yang fana ingin berperan sebagai Allah untuk mencabut nyawa manusia. Orang-orang yang melakukannya bukan saja membunuh hidup melainkan menentukan siapa harus hidup.
Dalam Keluaran 21:22-24 dipersoalkan tentang kasus pengguguran (Aborsi), khususnya mengenai kasus kecelakaan seorang wanita yang sedang mengandung, yang terlibat dalam perkelahian antara dua orang laki-laki, apabila si ibu hidup dan kandungannya gugur, maka orang tersebut harus ganti rugi, tapi kalau ibu itu mati dan kandungannya juga gugur, maka hukumnya adalah nyawa ganti nyawa. Dalam hal ini ternyata orang Yahudi sangat menghargai hidup.
Memang tidak ada label harga pada hidup manusia. Akan tetapi Allah menilai manusia yang diciptakan-Nya itu segambar dengan-Nya. Sebelum Allah menciptakan manusia, Ia berkata, “Marilah kita menciptakan manusia menurut peta teladan Kita” (FAYH Kejadian 1:26). Maka diciptakan-Nya laki-laki dan perempuan seturut peta gambar-Nya. Tidak ada dan tidak mungkin ada agama yang mengajarkan seperti ini. Dari sini kita melihat bahwa Manusia memiliki nilai yang sangat berharga di mata Allah dibandingkan dengan ciptaan Allah yang lain. Manusia memancarkan dan merefleksikan kemuliaan dan kehormatan Allah. Sejak sebelum hukum keenam diberikan, Tuhan sudah mengizinkan manusia untuk makan daging binatang. Allah tidak mengizinkan manusia membunuh manusia, tetapi mengizinkan membunuh binatang. Manusia yang membunuh sesamanya jauh lebih kejam dari binatang. Tuhan Yesus dalam pelayanan-Nya pernah berkata, “Apa gunanya seorang memperolah seluruh dunia, tetapi kehilangan nyawanya?” (Markus 8:36). Disini mau ditegaskan bahwa nyawa manusia lebih berharga daripada apapun di dunia ini (Matius 6:26). Oleh karena itu, Tuhan mengajarkan kepada manusia untuk menghargai sesamanya, mulai dari menghargai orang tua, lalu menghargai semua orang lain.
Akhirnya tidak ada alasan bagi kita untuk melegalkan tindakan aborsi. Aborsi adalah pelanggaran terhadap hukum Allah, dan Allah sangat membenci tindakan seperti itu. Aborsi hanya dapat dilakukan dengan syarat, membahayakan nyawa ibunya karena janin di dalamnya tidak bertumbuh, dan bayi di dalam kandungan dinyatakan sudah mati, selain itu tidak boleh diaborsi. Jika akibat dari pemerkosaan, maka tugas gereja adalah melakukan pelayanan pastoral pendampingan bagi ibunya. Calon bayi yang ada di dalam kandungan sudah ada nyawanya sejak proses pembuahan, maka membunuh calon bayi sama dengan membunuh manusia lainnya.
Kasus Pembunuhan Mental. Pembunuhan juga bukan hanya secara fisik, tetapi juga dapat dilakukan dalam bentuk mematikan mental, karakter, masa depan, kepribadian seseorang. Itulah fitnah! Minggu yang lalu Ev. Ozy sudah menjelaskan point ini. Namun saya ingin menambahkan sedikit.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Fitnah adalah tuduhan yang tidak mendasar. Tindakan ini sama dengan bersaksi dusta terhadap sesama. Pembunuhan yang tidak langsung kepada fisik tetapi bisa mengarah kepada mematikan karakter seseorang, nampak dalam perkataan atau sikap: menghina, memfitnah, membenci, bersaksi dusta, menghakimi, iri hati. Begitu juga dengan menahan hak atau fasilitas, jabatan serta menempatkan orang pada garis depan untuk mengalami kehancuran. Kita mungkin sering mendengar sebuah frasa yang berkata: “Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.” Di satu sisi ada benarnya. Sebab penganiayaan melalui tekanan terhadap jiwa seseorang, bisa membuat orang menjadi kecewa sampai akhirnya bunuh diri. Ada yang dibunuh karena keteledoran orang lain atau karena orang lain tidak mau direpotkan. Sungguh suatu tindakan kebodohan yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya, ketika kita menilai orang lain lebih rendah dari dirinya sendiri. Oleh karena itu, Alkitab memerintahkan kita untuk jangan membunuh. Perintah keenam menyerukan kepada kita untuk memperhatikan sesama, bukan hanya kehidupan Kristen dan sahabat-sahabat Kristen kita sendiri. Perintah ini menyerukan kepada kita agar memiliki kepedulian yang cukup kepada sesama sehingga kita akan melakukan sesuatu mengenainya. Kiranya dengan mengenal nilai manusia terlebih dahulu, lalu kita mengetahui batasan hak yang kita miliki, kita bisa meminta kepada Tuhan untuk memberikan kita kasih, menjauhkan kita dari rasa benci, iri hati, dengki, dan dendam – api yang menghancurkan baik diri kita maupun orang lain. Kita dituntut untuk tidak merendahkan derajat manusia dan merampas darinya kehidupan yang penuh dan kata sebagaimana yang dikehendaki Allah untuk dinikmati olehnya. Kiranya Tuhan memimpin dan menolong hidup kita. Amin.

Jumat, 22 Juli 2016

IMAN DI TENGAH KRISIS

IMAN DI TENGAH KRISIS
Habakuk 3:1-19


Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Keberadaan manusia sepanjang hidupnya tidak pernah lepas dari yang namanya pergumulan. Pergumulan menjadi sebuah sisi lain, selain sukacita yang mewarnai kehidupan manusia. Apakah pergumulan itu sebenarnya? Secara realita, ketika kita berkata bahwa kita sedang bergumul, itu berarti kita sedang berada dalam sebuah masalah. Sebagai orang Kristen, kita cenderung lebih memilih kata “bergumul” daripada kata “masalah”. Hal ini dilakukan bukan hanya sebagai bentuk penghalusan istilah, tetapi juga untuk menjaga identitas kekristenan kita.
Akan tetapi, pergumulan Kristen yang sebenarnya adalah ketika dalam menghadapi suatu persoalan, ia berusaha mencari kehendak Tuhan dalam persoalan tersebut. Jikalau ia tidak menyertakan Tuhan dalam persoalan yang sedang dihadapinya, maka hal itu bukanlah pergumulan.
Persoalannya muncul, ketika orang Kristen diperhadapkan antara kehendak pribadi dengan kehendak Tuhan. Bagaimana menghubungkan kehendak Tuhan dengan kehendak pribadi. Inilah yang seringkali menjadi konflik dalam diri anak-anak Tuhan. Seolah-olah anak-anak Tuhan diperhadapkan dengan benturan kehendak. Kesulitan terbesar anak-anak Tuhan, bukan karena ia tidak melihat jalan Tuhan. Tetapi ia tidak peduli dengan jalan Tuhan.
Saudara,
Seringkali, dalam kehidupan kita, kita tidak ingin kehendak kita dikesampingkan, tetapi di sisi yang lain hati kecil kita berkata “saya mau taat pada kehendak Tuhan”. Sehingga persoalan selalu muncul ketika kehendak Tuhan tidak sejalan dengan apa yang kita pikirkan, kita selalu menjerit dan bertanya, Tuhan mengapa harus yang itu? Melihat jalan Tuhan tidak sejalan dengan pikiran kita, mulai hati kita tidak tenang, kita bergumul dengan benturan kehendak, dan ketika kita memilih untuk tidak taat biasanya kita pergi meninggalkan Tuhan. Kalau kita mau taat kepada Tuhan saudara, bukankah seharusnya kita berkata: “Biarlah kehendakMu yang terjadi Tuhan, bukan kehendakku?” Dari sinilah maka kita akan memperoleh hati yang tenang dan tanpa kesulitan untuk menjalani hidup sesuai kehendak Tuhan.
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan,
Dalam pembacaan kita kali ini, kita melihat sebuah pergumulan yang di hadapi nabi Habakuk dalam pelayanannya di Yehuda. Pada pasal-pasal sebelumnya dijelaskan, bagaimana nabi Habakuk seakan-akan memprotes kejahatan yang terjadi di lingkungannya, tetapi di sisi yang lain ia juga menjadi heran, mengapa Tuhan Mahakudus seolah-olah tidak bertindak tegas terhadap semua kekacuan yang terjadi (Habakuk 1:2-4).
Kemudian Allah mengilhami Habakuk dan memperlihatkan apa yang bakal terjadi. Tuhan berfirman: “Lihatlah di antara bangsa-bangsa dan perhatikanlah, jadilah heran dan tercengang-cengang, sebab Aku melakukan suatu pekerjaan dalam zamanmu yang tidak akan kamu percayai jika diceriterakan” (Habakuk 1:5). Selanjutnya Tuhan menyingkapkan kepada nabi itu ciri-ciri kedahsyatan dari kerajaan Babel, yaitu orang-orang Kasdim, yang segera akan dikirimNya untuk menghukum Yehuda (Habakuk 1:6-11).
Saudara, rupanya pemberitahuan tentang hukuman Tuhan itu sama sekali di luar dugaan Habakuk. Nabi Habakuk sama sekali tidak percaya kalau Tuhan akan menggunakan bangsa kafir untuk memberi pelajaran kepada umatNya, apalagi itu adalah tentara Babilon yang sangat tersohor kekejamannya. Itulah sebabnya sang nabi berkata kepada Tuhan, “Bukankah Engkau, ya TUHAN, dari dahulu Allahku, Yang Mahakudus? Tidak akan mati kami. Ya TUHAN, telah Kau tetapkan dia untuk menghukumkan; ya Gunung Batu, telah Kau tentukan dia untuk menyiksa” (Habakuk 1:12).
Di pasal 2:1-5 Tuhan menegaskan bahwa sesungguhnya Tuhan tidak berdiam diri melihat kekejaman dan kekerasan manusia. Tuhan bukan berdiam diri atau membiarkan kejahatan Yehuda, tetapi Dia sedang merancang suatu penghakiman yang akan membuat sang nabi tercengang-cengang.
Tampaknya salah satu pola penghakiman Allah adalah menggunakan bangsa kafir yang lebih kuat dan lebih jahat untuk menghukum Israel. Tindakan hukuman seperti itu sudah sering dilakukan Tuhan atas mereka, di samping dengan cara mendatangkan bencana berupa hama yang memusnahkan hasil panen mereka. Kenyataan ini mendatangkan suatu pemikiran pada kita yang hidup di zaman sekarang ini, bahwa Tuhan akan menghukum semua bangsa secara adil, termasuk bangsa Israel, apabila mereka tidak segera bertobat; sebaliknya Tuhan akan memberikan jaminan pemeliharaan kepada orang benar. Karenanya Tuhan menjawab pergumulan Habakuk dengan berkata: "Orang yang jahat tidak akan selamat, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah akan hidup karena kesetiaannya kepada Allah" (Habakuk 2:4).
Dengan demikian bapak/ ibu yang kekasih,
Orang percaya yang sungguh-sungguh sejatinya tidak akan dihukum oleh Tuhan. Karena itu masuk dalam pasal 3 ini, Habakuk berdoa agar Tuhan menggenapi rencanaNya di tengah-tengah bangsa yang tertindas. Dengan demikian, jika kita perhatikan Kitab Habakuk ini, maka kitab ini sangat sarat dengan doa seorang nabi Habakuk yang dipanjatkan kepada Tuhan, sekaligus juga sebuah bentuk nyanyian (3:1). Pasal ini lebih merupakan sebuah tanggapan Habakuk atas jawaban Allah dalam pasal 2. Bahwa di tengah-tengah dosa dunia dan hukuman Tuhan, dia telah belajar untuk hidup dengan iman kepada Allah dan mengandalkan kebijaksanaan jalan-jalan Tuhan.
Dalam keseluruhan perikop ini kita melihat bahwa Ia berdoa agar dalam masa kesesakan itu, Tuhan tetap menyatakan kasih sayangNya, sehingga mereka dapat bertahan dalam berbagai pencobaan. Di ayat ke-2 ia berkata: “Tuhan telah kudengar kabar tentang Engkau, dan pekerjaanMu, ya Tuhan kutakuti! Hidupkanlah itu dalam lintasan tahun, nyatakanlah itu dalam lintasan tahun; dalam murka ingatlah akan kasih sayang!” Dari sini kita melihat, sebagai seorang nabi Habakuk sadar bahwa yang diperlukan oleh dirinya dan bagi segenap umat Yehuda ialah suatu kebangunan rohani. Dan itu harus dimulai dengan kesadaran akan menjalin relasi yang intim bersama dengan Tuhan. Tanpa hal itu semuanya adalah kesia-siaan. Demikian juga dengan kehidupan kita. Tuhan menginginkan anak-anakNya berhasil dalam perjuangan membangun iman. Akan tetapi iman itu harus dibangun dalam persekutuan yang erat denganNya. Karena dengan berbuat demikian, maka iman kita dapat menghasilkan buah.
Janji keselamatan Tuhan diteguhkanNya dalam ayat 3-4, "Allah datang dari negeri Teman dan Yang Mahakudus dari pegunungan Paran. KeagunganNya menutupi segenap langit, dan bumi pun penuh dengan pujian kepadaNya. Ada kilauan seperti cahaya, sinar cahaya dari sisiNya dan di situlah terselubung kekuatanNya.” (Habakuk 3:3-4).
Penglihatan-penglihatan yang dilihatnya itu menimbulkan perasaan gentar bercampur keyakinan dalam hati Habakuk. Ia berkata, "Ketika aku mendengarnya, gemetarlah hatiku, mendengar bunyinya, mengigillah bibirku; tulang-tulangku seakan-akan kemasukan sengal, dan aku gemetar di tempat aku berdiri; namun dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami,” (Habakuk 3:16).
Dari sinilah timbul suatu iman yang luar biasa dari Habakuk. Iman yang demikian bukan sekedar percaya, tapi mengandung unsur kesetiaan dan ketaatan yang teguh. Dari sini kita pahami bahwa iman bukan sekedar doktrin yang dipercayai, tapi adalah cara hidup seutuhnya. Iman adalah keter-gantungan sepenuhnya kepada Tuhan setiap saat.
Dalam Ibrani 11:1 dijabarkan mengenai definisi iman. Dikatakan bahwa, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
Dari nas firman ini, kita memahami bahwa Iman berarti kita bersandar pada keselamatan yang telah digenapkan oleh Tuhan Yesus. Maka iman adalah dasar yang paling penting dalam kekristenan. Iman jugalah yang membedakan kekristenan dari agama-agama lain. "Tanpa iman tak seorang pun bisa diperkenan Tuhan" melalui iman kita menang atas dunia ini.
Pengharapan berasal dari iman kita kepada kesetiaan Tuhan. Dengan kata lain, kesetiaan Tuhan adalah dasar dari pengharapan kita, dan janji Allah yang didasarkan atas kesetiaanNya adalah jaminan bagi pengharapan kita. Karena iman, kita menang atas dunia ini, karena pengharapan kita dimampukan untuk mengarahkan pandangan kita pada dunia yang lain. Maka setelah kita beriman, kita segera masuk pada tahap pengharapan. Dengan kata lain, iman menghasilkan pengharapan dan pengharapan membawa kita mengarah pada hal-hal kekekalan. Dengan demikian, iman memampukan kita menang atas dunia ini dan pengharapan memampukan kita melintasi dunia ini dan melihat akan dunia yang ada di sana. Itulah yang membuat kita tidak terlalu mengutamakan dunia yang nampak ini.
Dalam 1 Korintus 13:13 berkata: “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya ialah kasih.” Dari sini kita pahami, bahwa dengan Iman dan pengharapan memampukan kita melalui hidup rohani yang melampaui hidup di dunia ini. Baru setelah itu timbul hal yang ketiga yaitu kasih. Jadi setelah kita mempunyai iman, kita mampu menang atas dunia ini. Setelah kita memperoleh pengharapan, kita mampu melihat dunia yang ada di atas dunia ini dengan jelas. Setelah kita memiliki kasih, kita mampu menoleh ke belakang untuk memulihkan dunia ini. Kita patut bersyukur kepada Tuhan yang memberikan hikmat seperti ini. Tidak ada satu agama pun yang sanggup mengungkapkan unsur rohani yang lebih jelas daripada apa yang diungkapkan oleh Alkitab. Belum pernah ada satu filsafat yang mengajarkan kepada kita tentang intisari hidup rohani yang begitu limpah. Siapakah orang Kristen? Orang Kristen adalah orang yang beriman kepada Allah. Siapakah orang Kristen? Orang Kristen adalah orang yang memandang kehendak Allah dari tempat yang jauh.
Sebab itu, bagi orang Kristen, baik hidup atau mati, baik hidup yang sekarang ataupun hidup yang akan datang, baik yang nampak ataupun yang tidak nampak, kita sudah menang bahkan menang dengan gemilang atas semua itu. Karena tak seorang pun sanggup memisahkan kita dari kasih Allah, kasih yang berada di dalam keselamatan Yesus Kristus. Dengan demikian, orang Kristen adalah orang yang berpengharapan.
Bapak/ ibu yang kekasih,
Ayat 17-19 lebih merupakan kesaksian Habakuk tentang konsep syukur. Ia bersyukur bukan karena telah diberi berkat, tetapi karena ia tahu siapa Allah yang ia layani itu. Untuk itu walaupun ia berada ditengah-tengah hukuman Allah atas Yehuda, Habakuk tetap memilih untuk bersukacita di dalam Tuhan. Allah akan menjadi Juruselamatnya dan sumber kekuatan yang tak putus-putus. Keyakinannya yang teguh membawa ia kepada suatu pengharapan yang pasti, bahwa kemenangan terakhir akan datang bagi semua orang yang hidup oleh iman kepada Allah (Habakuk 2:4)
Dikatakan dalam ayat 17-19: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi)” (Habakuk 3:17-19).
Kita melihat sebuah iman yang lahir ditengah-tengah krisis, dimana saat semua harapan dari hasil pertanian mengecewakan. Harapan atas hasil peternakan pun mengecewakan. Tetapi harapan satu-satunya yang tidak mengecewakan adalah kasih penyertaan Tuhan. Karena itu tekad Habakuk sangat jelas bahwa ia akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, (Habakuk 3:18a), ia mau tetap bersorak-sorak walaupun sedang terpuruk dan sangat kecewa, Ia tetap mengimani dan selalu percaya bahwa rancangan Allah bukanlah rancangan buruk melainkan rancangan yang terbaik. Inilah yang seharusnya terjadi dalam kehidupan anak-anak Tuhan, dimana kita harus senantiasa mengucap syukur dalam segala waktu. Sebab itulah yang dikehendaki Allah (1 Tesalonika 5:18).
Saudara, “Allah akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pengkhotbah 3:11). Nabi Habakuk meyakini Allah memiliki rencana indah dibalik pencobaan ini, Beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. (Habakuk 3:18b).
Inilah yang dimaksud dengan sukacita karena Iman, melihat segala sesuatu dalam perspektif iman, segala sesuatu yang buruk itu belum final tapi proses dan dibalik semua pergumulan yang tengah kita hadapi ada sesuatu yang indah dan lebih besar di dalam rencana Allah. Mengimani bahwa hidup kita senantiasa dalam skenario Tuhan, karena Tuhan adalah sutradaranya, dan Tuhan merencanakan semuanya baik
Teks ini juga mengajarkan kepada kita agar bersukaria dalam Allah walaupun ketika setiap insting dalam tubuh kita menjerit penuh duka. Sekalipun diingatkan sepenuhnya tentang kekejaman yang akan terjadi, Habakuk mengalami suatu sukacita kudus, yaitu kemampuan ilahi untuk bersukacita di dalam Tuhan. Sasaran dari sukacitanya adalah Allah Juruselamatnya.
Ada hal-hal yang lebih abadi dan lebih penting dari pada dunia sementara ini. Kita harus pahami bahwa sejarah berada di luar kendali dan tak seorang pun yang tahu semua ini akan berakhir di mana. Karena sesungguhnya Allah-lah yang berada di balik jalannya sejarah, Ia yang mengendalikan-Nya dan Ia tahu ke mana sejarah ini akan berakhir.
Dasar dari sukacita sejati ini adalah Tuhan sendiri yang adalah penyedia keselamatan orang beriman.  Sumber sukacita sejati datangnya tidak lain hanyalah dari Tuhan sendiri yang bekerja dalam hati yang penuh syukur dan penyerahan total kepada kedaulatan Tuhan.
Nabi Habakuk memberikan kesaksian hidup bahwa ia melayani Tuhan bukan karena diberi berkat, tetapi karena Tuhan adalah segalanya bagi dirinya yang harus disembah dan ditaati.   Di tengah penghukuman Allah atas Yehuda, Habakuk masih tetap dapat bersukacita dan berharap sepenuhnya kepada Tuhan. Dari sini kita dapat belajar:
Kita patut menyadari bahwa Tuhan berdaulat atas kehidupan kita. Kehidupan yang sedang kita jalani adalah sebuah kehidupan yang didalamnya Tuhan merancangkan sesuatu yang baik bagi umat-Nya. Tinggal bagaimana kita meresponi rancangan Tuhan itu dengan cara yang benar.
Keraguan Habakuk tentang sikap Allah terhadap dosa Yehuda terjawab setelah Allah menyatakan niat-Nya untuk menghukum umat itu. Di sini nabi itu belajar bahwa Tuhan tidak pernah bertindak terlambat ataupun terlalu cepat dalam berurusan dengan manusia. Demikian pun dengan kita. Pertolongan Tuhan tidak pernah kurang panjang untuk menolong umat yang dikasihi-Nya.
Di saat-saat hidup mengikuti Tuhan penuh dengan kesulitan dan tantangan, pandanglah pada Tuhan Yesus. Dia telah mengurbankan diriNya di kayu salib untuk mengalahkan musuh-musuhnya dan memberi kemenangan bagi kita, umatNya. Jangan pernah putus harap dan menyerah pada keadaan sebab, pada saatNya Dia akan mengubah ratapan kita menjadi sukacita. Jangan gentar karena situasi yang meresahkan di sekitar kita, tetapi takjublah karena Dia selalu hadir dan berkarya dalam peristiwa segelap apapun.
Melalui nabi Habakuk, Allah mengajarkan kepada kita tentang doktrin keselamatan yang berlaku secara universil dan abadi, yaitu bahwa setiap orang akan “hidup oleh percaya” atau “diselamatkan oleh iman.” Sebaliknya, Tuhan tidak berkenan pada orang yang menyombongkan kebenarannya sendiri. Kesombongan adalah salah satu kebencian di mata Tuhan (Amsal 6:16-17), tetapi orang yang rendah hati dimahkotai Allah dengan keselamatan (Mazmur 149:4). Sebab orang-orang yang rendah hati itu mudah diajar (Mazmur 25:9), dan mereka mengandalkan perlindungan dalam nama Tuhan (Zefanya 3:12). Dengan demikian, kita belajar untuk mengerti kehendak Tuhan bukan menuntut-Nya. Kiranya Tuhan Yesus memberkati.