Jumat, 04 Desember 2015

HATI ADALAH PANCARAN HIDUP

HATI ADALAH PANCARAN HIDUP
Amsal 4:23


“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Bapak/ Ibu yang kekasih di dalam Tuhan
Berbicara soal hati manusia, ini adalah satu hal yang tidak mudah. Sebab di dalamnya dibutuhkan satu kerendahan hati untuk mau di pimpin dan diubah oleh Tuhan. Faktanya saudara tidak ada seorang pun yang mampu mengubah karakternya, menjadi lebih baik, menjadi lebih anggung, dan sesuai dengan kehendak Tuhan, jika bukan karena pertolongan Tuhan yang telah mengubahkan hidupnya terlebih dahulu.
Sebuah pepatah mengatakan: “dalamnya laut dapat diukur, tetapi dalamnya hati siapa yang dapat mengetahuinya?”
Dengan kata lain saudara, manusia bisa dibilang yang paling susah untuk dimengerti. Masalahnya adalah, terkadang manusia suka dengan hal yang kontradiksi, sehingga terkadang apa yang dikatakan di dalam mulutnya, adalah hal yang sangat berlawanan dengan apa yang ada di dalam hatinya.
Memang ada banyak alasan mengapa manusia bersikap seperti itu. Yang jelas, alasannya adalah karena manusia tidak mau membuka diri secara jujur. Manusia lebih memilih menutupi hal yang sebenarnya. Manusia ingin membohongi dirinya dan orang lain. Karena itu di dalam manusia ada bibit-bibit pembohong yang melekat sejak ia lahir di dalam dunia. Itulah dosa, saudara.
Karena itu bagi orang-orang yang takut akan Allah, Allah telah memberikan satu peringatan keras bagi mereka untuk dapat menjaga hatinya seperti nyata dalam firman Tuhan kita kali ini, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari situlah terpancar kehidupan” (Amsal 4:23).
Bapak/ ibu yang kekasih di dalam Tuhan.
Hati adalah pusat dari setiap hal yang kita rasakan. Kehidupan itu dikatakan terpancar dari hati. Dari hati lah seseorang bisa merasakan yang namanya suka dan duka, serta dari hati pula bisa timbul segala niat jahat.
Dengan kata lain saudra, Apapun yang ada dalam hati kita akan terlihat secara jelas dari cara, gaya dan sikap hidup kita. Dan itu akan sangat menentukan kemana kita akan pergi kelak. Itulah sebabnya kita diingatkan untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Sebab hati yang tidak terjaga bisa sangat berbahaya. Kita bisa bandingkan dalam Matius 15:19-20, yang mengatakan "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang."
Karena itu Saudara, jika kita menyimak baik-baik apa yang dituliskan dalam amsal ini, sebenarnya amsal ini hendak mengajarkan dua hal yang sangat penting: yang mana satu sisi “memuji” orang-orang yang mengucapkan hal-hal surgawi dan disisi yang lain ia “menghukum” orang-orang yang hanya berbicara tentang hal duniawi.
Secara tidak langsung, ayat ini pun mengajarkan kita untuk memikirkan hal-hal yang benar sehingga hidup kita boleh dibentuk oleh kebenaran.
Melalui hati, maka manusia dapat membentuk dan mengusahakan segala pikirannya, perasaannya dan kehendaknya sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Tuhan.
Saudara, perhatikan apa yang dapat diperbuat Allah di dalam hati manusia melalui tiga hal di atas:
Hati adalah pusat pikiran
-        Orang insyaf akan sesuatu di dalam hati mereka (Ulangan 8:5)
-        Berdoa di dalam hati (I Samuel 1:12-13)
-        Merenungkan firman dalam hati (Mazmur 19:15) merencanakan sesuatu dalam hati (Mazmur 140:3)
-        Percaya dalam hati (Roma 10:9)
Semua kegiatan hati ini saudara, adalah berkaitan dengan hal-hal yang menyangkut pikiran manusia.

Hati juga adalah pusat perasaan.
-        Hati yang gembira (Keluaran 4:14)
-        Hati yang mengasihi (Ulangan 6:5)
-        Hati yang khawatir (Amsal 12:25)
-        Hati yang marah (Amsal 19:3)
Semua kegiatan hati ini terutama menyangkut hal-hal yang bersifat emosional

Hati adalah pusat kehendak manusia
-        Hati yang keras menolak kehendak Allah (Keluaran 4:21)
-        Hati yang taat kepada Tuhan (Yosua 24:23)
-        Hati yang rindu menerima dari Tuhan (Mazmur 21:2-3)
-        Hati yang ingin melakukan sesuatu (Roma 10:1)
Semua kegiatan ini terjadi di dalam kehendak manusia
Dengan demikian bapak/ ibu yang kekasih,
Ketika kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa, hati manusia senantiasa dipenuhi dengan kejahatan. Sebab yang menajiskan seseorang di hadapan Allah bukanlah kelalaiannya dalam mematuhi hukum ibadah tertentu, melainkan kecenderungan manusia untuk berbuat jahat dalam hatinya.
Dalam hal ini saudara, orang yang terus menerus menolak untuk mendengarkan firman Allah dan menaati perintah-Nya, pada akhirnya hati mereka akan terus dikeraskan Allah sehingga mereka kehilangan segala kepekaan kepaa firman-Nya dan keinginan Roh Kudus.
Beberapa kasus dalam Alkitab pernah dijelaskan kepada kita. Misalnya saat Allah mengeraskan hati Firaun sehingga mereka menolak firman Tuhan (Keluaran 9:12).
Bapak/ ibu yang kekasih dalam Tuhan
Ketahuilah bahwa tidak ada yang bisa mengubah karakter manusia selain daripada Tuhan sendiri serta dorongan dari diri kita sendiri untuk mau dibentuk sesuai kehendak Tuhan.  Hanya dengan pimpinan Roh Kuduslah, maka seseorang dimampukan untuk tetap berdiri di atas kebenaran.
Jawaban Allah terhadap dosa di dalam hati manusia ialah pembaharuan yang dialami oleh semua orang yang bertobat dari dosa mereka. Artinya melalui pertobatan dari segala dosa dan mengakui Yesus dalam hati kita, maka kita akan mengalami pembaharuan hati dari Alah
Di dalam hati orang yang mengalami kelahiran rohani, Allah menciptakan keinginan untuk mengasihi dan menaati diri-Nya.
Hati yang telah dibaharui akan memancarkan sifat kasih yang tulus dan sempurna oleh karena mereka telah lebih dahulu mendapatkan kasih dari Allah.
Orang yang telah dibaharui tidak akan hidup secara biasa-biasa saja, tetapi akan lebih lagi mencintai pelayanan.
-        Memuji Allah dengan segenap hati (Mazmur 9:2)
-        Mencari Allah dengan segenap hati (Mazmur 119:2)
-        Menyimpan firman Allah dalam hati (Mazmur 119:11)
-        Mengandalkan Tuhan dengan segenap hati
-        Melayani Tuhan dengan segenap hati

Kita harus menilai kembali prioritas kita, dengan jujur mengakui kesuaman kita, dan dengan sungguh-sungguh berdoa memohon kerinduan baru akan Allah dan perkenan-Nya. Lalai dalam menjaga hati kita akan mengakibatkan kita menyimpang dari jalan yang aman dan terjebak dalam jerat pembinasaan (bd. Ams 7:24-27); menjaga hati kita melebihi segala sesuatu menghasilkan hidup yang mantap pada jalan yang rata karena perkenan dan kasih karunia-Nya 
Mulailah perbaharui hati kita di hadapan Allah dan janganlah hati kita senantiasa untuk tetap teguh di dalam Tuhan supaya hidup kita menjadi lebih baik. Amin

BELAJAR PADA YESUS

BELAJAR PADA YESUS
Matius 11:25-30


Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan,
Rasanya kita pasti setuju bahwa tujuan hidup kekristenan kita tidak lain adalah untuk “mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya” (Filipi 3:10).
Inilah inti kekristenan yang sesungguhnya. Dan untuk mencapai kehidupan yang serupa denganNya, pastinya diperlukan suatu proses pengenalan yang mendalam di dalam kehidupan kita, baik tentang pribadi Yesus itu sendiri ataupun tentang pengajaranNya bagi kita.
Karena itu saudara, kalau kita dimampukan Allah untuk mengenal suatu kebenaran di dalam pribadi Tuhan Yesus itu adalah suatu anugerah yang besar yang kita dapatkan. Sebab faktanya tidak kepada semua orang, Allah menyatakan kehendakNya. Terlebih kepada mereka yang memiliki kesombongan intelektual. Justru kepada merekalah Allah menyembunyikan suatu rahasia besar ini, sebaliknya Allah menyatakannya kepada orang-orang yang dengan rendah hati menyambutNya.
Dalam hal ini bapak/ ibu yang kekasih
Saat Tuhan Yesus bersukacita dan berdoa dalam kuasa Roh Kudus (Lukas 10:21). Ia bersyukur jika Allah menyingkapkan rahasia besar ini kepada mereka yang membutuhkanNya. Karena itu Tuhan Yesus berkata: “Aku bersyukur kepadaMu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepadaMu” (Matius 11:25-26).
Dari sini dapat kita pahami bahwa bukan berarti Tuhan Yesus anti dengan kemampuan intelektual seseorang. Sebab Dialah pemilik segala pengetahuan baik di bumi maupun di sorga. Dialah sumber segala hikmat.
Tetapi sangat nyata bahwa Tuhan Yesus sama sekali tidak berkenan kepada siapa saja merasa diri sombong/ angkuh karena kemampuan intelektualnya. Sebaliknya Ia lebih berkenan kepada siapa saja yang datang dalam kerendahan hati.
Dalam hal inilah Tuhan Yesus mengucap syukur karena Allah membuka jalan bagi orang untuk menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamatnya.
Disisi lain, ayat 25 ini ingin menegaskan kepada kita tentang doktrin pilihan, dimana orang bisa bertobat itu bukan karena pilihannya sendiri tetapi anugerah dari Tuhan. Dalam ayat ini ada kebenaran yang disembunyikan bagi orang bijak dan pandai tetapi dinyatakan kepada orang kecil dan lemah.
Pertanyaan bagi kita suadara, siapa orang-orang ini? orang bijak dan terhormat adalah mereka yang sudah pandai, sudah penuh kebijakan sehingga ia tidak memerlukan bimbingan, teguran, atau penginsafan Tuhan karena merasa diri sudah cukup. Inilah kondisi banyak orang Yahudi yang merasa diri sudah benar, dipilih Tuhan, sudah bijak. Sehingga waktu berdiskusi dengan Tuhan Yesus mereka mengatakan bahwa bapa mereka adalah Abraham, Allah mereka adalah Bapa di surga. Padahal yang sesungguhnya mereka tidak mengenal kebenarannya.
Karenanya kalau kita perhatikan perikop sebelumnya, disana kita dapatkan Tuhan Yesus sangat mengecam kota-kota yang tidak mau bertobat (Matius 11:20-24). Tetapi Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan kepada mereka bahwa bapa mereka adalah Iblis! Kepada orang yang merasa diri pandai itulah Allah menyembunyikan kebenaran itu dari mereka.
Sebaliknya bapak/ ibu yang kekasih,
Kepada orang yang kecil Allah menyingkapkan satu rahasia besar itu, sehingga mereka memperoleh janji Tuhan. Saudara, orang yang kecil bukan orang yang berbadan kecil atau masyarakat kelas sosial yang rendah. Tetapi terjemahan harafiahnya merujuk kepada anak-anak.
Dengan kata lain saudara, Tuhan Yesus sangat menghargai setiap orang yang merasa diri seperti anak kecil yang memerlukan bimbingan, tuntutan, belum dewasa, belum merasa cukup. Secara umum mereka penuh dengan ketulusan, kepolosan, dan keterbukaan untuk mau diajar. Maka kepada orang-orang yang rendah hatilah rahasia Allah itu dinyatakan.
Orang-orang yang merendahkan diri dan menerima Tuhan Yesus dengan hati terbuka dan bersih kepadanya diberikan iman, keselamatan, kedamaian, pengharapan dan kekuatan untuk hidup secara rohani.
Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan,
Menjadi rendah hati berarti memiliki suatu pemahaman yang benar tentang diri sendiri, khususnya sehubungan dengan seseorang atau sesuatu lainnya. Kerendahan hati bukanlah suatu hal yang sifatnya alamiah seperti kemampuan intelektual atau bakat artistik.
Sebagai manusia, kerendahan hati sebenarnya bukan merupakan pembawaan sejak lahir. Saudara, kita memang dilahirkan dalam keadaan yang sangat sederhana – Kita telanjang dan tak berdaya, namun secara alamiah kita cenderung untuk berbangga sambil melihat ke atas daripada merendahkan diri. Karena itu musuh terbesar setiap orang bukanlah siapa-siapa, tetapi dirinya sendiri.
Artinya, diri kita sendirilah musuh terbesar yang harus dikalahkan pertama kali. Mengapa saudara? Karena di dalam diri kita ada sesuatu yang buruk, ada satu kuasa yang bersifat destruktif yang berusaha kuat untuk merusak kehidupan kita.
Faktanya saudara, manusia begitu mengasihi dirinya sendiri dan melakukan segala sesuatu untuk mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya.
Tetapi dengan kemampuan yang dimilikinya, tidak ada seorang pun yang mampu mengusahakan sesuatu yang berkenan kepada Allah. Sebaliknya yang ia lakukan adalah hal-hal yang melawan dan menghalangi tujuan dan sasaran yang hendak ia capai itu.
Banyak orang ingin kehidupannya bahagia, tetapi yang dilakukan justru hal-hal yang menjauhkan dia dari kebahagiaan yang ia dambakan. Banyak orang ingin dicintai dan dihormati, tetapi yang ia lakukan justru hal-hal yang membuat dirinya dihina. Bukankah ini suatu hal yang ironis saudara, dorongan yang positif yang semula menjadi penggerak itu kini telah berubah menjadi sesuatu yang negatif.
Mengapa bisa terjadi? Itu semua karena dosa telah menguasai hidup manusia. Dalam hal inilah firman Tuhan berkata dalam Roma 7:17-18: “Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik.”
Dalam hal inilah saudara, seseorang yang telah dikuasai oleh dosa tidak akan menyadari bahwa kesenangan instan yang ia kejar itu justru harus dibayar lebih mahal, yaitu kehancuran dirinya. Inilah yang banyak dilakukan orang, ketika mereka dalam kesulitan, mereka tidak berusaha mengatasinya dan menunaikan tugas hidup mereka dengan penuh tanggung jawab kepada Tuhan, sebaliknya mereka lebih cenderung mencari pemuas palsu kepada hal-hal lahiriah yang dianggapnya sanggup memberikan jalan keluar.
Pada titik inilah saudara, kita harus menyadari bahwa pertobatan dan kerendahan hati adalah suatu anugerah yang diberikan Allah kepada mereka yang dipilihNya. Ini adalah suatu karya Allah dalam diri kita masing-masing. Artinya saudara, hanya Allah-lah yang menganugerahkan pertobatan dan kerendahan hati kepada manusia sebagai satu rahmat yang sangat berharga. Sebab Allah dapat memberikan kepada kita pertobatan dan kerendahan hati, dengan terlebih dahulu Ia harus mengalahkan keangkuhan kita.
Karenanya Tuhan Yesus mengatakan satu hal yang sungguh indah dalam ayat 27, yaitu: “Semua telah diserahkan kepadaKu oleh BapaKu dan tidak seorang pun mengenal Anak selan Bapa, dan tidak seorang pun mengenak Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”
Konteks dari ayat ini adalah orang-orang yang sudah ditentukan untuk diselamatkan itulah yang diserahkan kepada Tuhan Yesus. Kita tahu, bahwa Tuhan Yesus adalah Gembala Agung yang mencari domba-domba-Nya dan kepada orang-orang yang sudah dipilih itu Anak akan menyatakan diri-Nya. Maka tidak ada seorang pun mampu mengenal Allah kecuali Allah menyatakannya melalui Yesus Kristus. Dalam hal inilah Tuhan Yesus berkata dalam Yohanes 14:9, “Barangsiapa telah melihat Aku, Ia telah melihat Bapa.”
Dengan kata lain saudara, bila kamu ingin melihat seperti apakah Allah itu, bila kamu ingin melihat bagaimanakah pikiran Allah, hati Allah, dan sifat Allah, bila kamu ingin melihat seluruh sikap Allah terhadap manusia – Yesus berkata Pandanglah Aku!.
Dari sini jelaslah bahwa Tuhan Yesus adalah satu-satunya Perantara dan tanpa pilihan Allah tidak mungkin ada orang dapat datang kepada Kristus (Yohanes 6:44).
Saudara inilah keyakinan Kristen, bahwa hanya dalam Yesus Kristuslah kita dapat melihat bagaimana Allah itu; sekaligus merupakan keyakinan Kristen bahwa Yesus dapat memberikan pengetahuan itu kepada siapa pun juga yang rendah hati dan percaya untuk menerimanya.
Karena itu, saat masuk dalam ayat 28, Tuhan Yesus memberikan satu tawaran yang tidak pernah diberikan oleh siapa pun juga. Ia berkata, “Marilah kepadaKu, semua orang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Pertanyaannya bagi kita saudara, siapakah yang letih lesu dan berbeban berat? Dalam terjemahaan bahasa Inggris, kata “letih lesu” dikaitkan dengan pekerja. Maksudnya “seseorang yang bekerja dengan keras, dalam perjuangan yang begitu berat.” Ini menggambarkan orang yang belum bersama dengan Kristus, mereka berjuang tapi tetap dalam keadaan berbeban berat.
Saudara, Tuhan Yesus bukan memanggil mereka yang menganggur, tetapi yang bekerja dan berbeban berat atas dosanya. Di bagian lain Tuhan Yesus juga mengatakan bukan orang sehat yang memerlukan tabib tapi orang sakit. Ia datang bukan memanggil orang benar tetapi orang berdosa. Orang yang merasa dirinya seorang yang benar, seorang yang pantas, dan baik, sejatinya tidak pernah memerlukan Tuhan Yesus, ia tidak perlu Juruselamat. Sebaliknya, Tuhan Yesus justru memanggil mereka yang menyadari dosa-dosanya, memanggil mereka yang sudah tidak memiliki harapan lagi.
Hari ini saudara, banyak orang yang datang kepada Kristus tanpa merasa berdosa. Banyak yang datang kepada-Nya bukan karena dosa yang mengikat kehidupannya, tetapi karena ingin kehidupannya diberkati Tuhan. Hal ini tentunya adalah motivasi yang salah dalam mengikut Tuhan Yesus. Sebab baginya Tuhan Yesus hanya akan dijadikan obyek penderita si pengikutnya. Makanya tidak heran jika orang-orang yang demikian, nilai hidupnya tidak pernah berubah, karena motivasinya selalu salah.
Tetapi yang benar adalah mereka yang sadar dirinya seorang berdosa, seorang yang tidak pantas dikasihi, seorang yang tidak mungkin mengatasi dosa-dosanya sendiri, dan yang membutuhkan Juruselamat.
Karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi dosanya, tidak mampu menjalani hidup suci, dan merasa bersalah yang begitu besar, karena dosa yang mengikat mereka. Kepada orang-orang seperti inilah maksud undangan Tuhan Yesus ditujukan.
Dan undangan Tuhan Yesus ini begitu manis sebab ditujukan kepada semua orang yang “letih lesu dan berbeban berat” oleh persoalan hidup serta beban dosa mereka sendiri.
Kepada merekalah Tuhan Yesus menjanjikan suatu keadaan yang mampu melegakan. Dengan demikian barulah orang itu akan merasa lega dan ada damai di dalam hati mereka.
Yang menarik dalam hal ini saudara, saat Tuhan Yesus menjanjikan kelegaan kepada kita, Ia melanjutkan dengan berkata, “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu” (ayat 29). Saudara sebenarnya Allah tahu kebutuhan kita yang paling mendasar, bahwa sebelum dapat menerima anugerahNya hati kita harus terlebih dahulu diperbaharui. Karena selama hati kita masih liar tak terkendali tidak ada suatu berkat Tuhan yang akan membuat kita berbahagia, hanya setelah hati kita dibentuk oleh Tuhan baru kita akan mengalami berkat sejati. Karena itulah Tuhan Yesus sengaja menempatkan sebuah perintah ini setelah janjiNya diikrarkan.
Sidang jemaat yang kekasih dalam Tuhan,
Pada 15 Maret 1986 seluruh gedung Hotel New World di Singapura tiba-tiba runtuh ke tanah dalam waktu 1 menit dan menelan korban 33 jiwa. Setelah diselidiki ternyata perancang gedung hanya menghitung “beban hidup” seperti kendaraan, manusia, perabotan, angin, tekanan tanah, dan sebagainya. Sedang “beban mati” seperti rangka, dinding, lantai, atap, pipa, saluran air, peralatan listrik, dan sebagainya tidak diperhitungkan. Kesalahan perancang gedung dalam menghitung beban ini pada akhirnya menyebabkan nyawa pengunjung melayang.
Bagaimana dengan Tuhan Yesus yang malahan mengundang setiap orang untuk memikul kuk dan beban-Nya? Kita tidak perlu kuatir dengan undangan Tuhan Yesus. Sebab Dialah penguasa langit dan bumi. Rasanya terlalu rendah jika kita mengkhawatirkan sesuatu yang telah dijanjikanNya kepada kita. Terlebih lagi Tuhan Yesus memberikan jaminan yang melegakan: bahwa kuk dan bebanNya itu ringan (Matitus 11:28-30).
Saudara,
“BebanKu” artinya segenap perintah-Nya. Adapun “kuk yang Kupasang” menunjuk pada ketundukan dan ketaatan kita.
Kuk adalah beban bagi sapi yang menarik kereta tetapi tidak sendirian karena ada sapi yang lain. Kuk Kristus tidak berat karena tidak dipikul sendirian, tetapi beban itu juga dipikul oleh Tuhan Yesus. Yang memikul juga bukan hanya kita tetapi juga semua orang percaya, saudara seiman di seluruh dunia dan seluruh jaman memikul penderitaan yang sama. Maka orang Kristen yang menderita tidak perlu merasa sendirian.
Dengan demikian, memikul kukNya berarti tunduk dan taat pada segenap perintah-Nya. BebanNya ringan karena kita tidak memikulnya seorang diri; Roh Kudus akan menyertai, menolong, dan memberi kita kekuatan untuk melakukannya (Yohanes 14:16). 
Beban-Nya ringan karena hal itu tidak akan melebihi kekuatan dan kemampuan kita (1 Korintus 10:13). BebanNya ringan karena tidak akan melukai dan melumpuhkan kita, tetapi justru mendatangkan kelegaan dan ketenangan jiwa. Jadi, sebenarnya tidak ada sesuatu yang sulit untuk dijalani jika Tuhan yang selalu berjalan mengiringi kita. Yang harus kita miliki hanyalah kemauan untuk menjalani hari-hari dengan ketundukan dan ketaatan pada pimpinan-Nya karena kita jugalah yang akan menikmati hasilnya.
Kebahagiaan paling sejati bagi pengikut Kristus adalah bila ia dibebaskan dari dosa. Selain itu juga bila ia bisa bersama dengan Kristus seumur hidupnya.
Karena itu orang yang sudah ada damai dalam hatinya, akan memikul kuk yang Tuhan Yesus tanggungkan dengan tidak bersungut-sungut, sebaliknya ia akan dengan gembira dan bersyukur bahwa ia dapat mengerjakan pekerjaan Tuhan.
Orang yang sudah ada damai dalam hatinya juga akan rajin belajar, sehingga ia dapat mengenal baik tentang Dia yang mengasihinya dan mau berkorban untuknya. Akibatnya ia tahu kepada siapa ia percaya dan untuk apa ia berkorban.
Melalui khotbah ini saya ingin menyampaikan bahwa Allah itu ada dan apakah kita dapat merasakan hal itu? Tuhan Yesus mengajak kita untuk datang kepadaNya dan Dia akan memberikan kita kelegaan dan ketenangan jiwa. Yang terpenting adalah kita mau belajar kepada Tuhan Yesus dengan satu sikap yang rendah hati.
Jadi jika demikian, mengapa Saudara masih merasa memikul beban itu sendirian? Datanglah kepada Yesus dan belajarlah kepadaNya. Bukankah Rasul Petrus juga pernah menasihati kita untuk, "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). 
Terlebih lagi Tuhan Yesus sendiri berjanji,  "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."  (Ibrani 13:5b).  Karena itu kuatkan diri dan tetaplah percaya kepada Tuhan Yesus!  Keadaan dunia ini boleh saja berubah, tetapi kita punya Tuhan yang tidak pernah berubah:  kuasa, kasih, kemurahan dan kebaikan-Nya  "...tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8). Tuhan Yesus tetaplah sebagai jalan dan kebenaran dan hidup bagi orang percaya.
Bapak ibu yang kekasih,
Transformasi menyeluruh harus terjadi dalam diri kita. Ada banyak hal yang tidak benar dalam diri kita, karena itu, kita tidak bisa tetap seperti semula. Betapa banyak orang yang hancur karena kesalahan mereka sendiri, dan betapa sering kita, menjadi pelacur rohani. Sedikit kesenangan, kenikmatan atau ancaman telah membuat kita mengkhianati Tuhan. Banyak hal dalam diri kita yang harus diperbaiki: pikiran, paradigma, nilai-nilai hidup, sikap batin, dan kelakuan setiap hari. Kita demikian lemah dan mudah tertipu dan menjual diri kepada Iblis. Kita perlu mengalami tranformasi setiap hari, yaitu dengan belajar dari Yesus dan mengikuti teladanNya.
Allah tahu kebutuhan kita yang paling mendasar, bahwa sebelum dapat menerima anugerahNya hati kita harus terlebih dahulu diperbaharui. Karena selama hati kita masih liar tak terkendali tidak ada suatu berkat Tuhan yang akan membuat kita berbahagia, hanya setelah hati kita dibentuk oleh Tuhan baru kita akan mengalami berkat sejati.
Orang Kristen adalah umatNya yang ditebus dengan harga yang sangat mahal yaitu darah Yesus Kristus, tujuannya bukan untuk menghasilkan manusia yang remeh dan hina. Tujuan Allah ialah membawa anak-anakNya kembali ke dalam kemuliaan. 
Inilah paradoks yang harus kita mengerti,  bahwa kemerdekaan sejati diperoleh justru ketika kita terikat sepenuhnya oleh Tuhan; kedamaian dan kebahagiaan diperoleh ketika kita menyerahkan segala keinginan kita kepada Tuhan, dan hidup kebangkitan Kristus baru dapat kita miliki jika kita mati bersama Dia. Tinggal apakah kita mau menundukkan diri dan belajar kepadaNya atau tidak. Amin.

Sabtu, 07 November 2015

KEKUATIRAN MEMBUAT ORANG LEBIH CEPAT TUA

KEKUATIRAN MEMBUAT ORANG LEBIH CEPAT TUA
Amsal 12:25

Kaum muda yang saya kasihi,
Hal apa yang biasanya membuat kalian merasa kuatir dalam hidup? Penyebabnya bisa macam-macam bukan? Bisa karena hal-hal yang sepele yang terjadi dalam kehidupan kita. Bisa juga karena sesuatu yang tidak terduga dan membuat kita menjadi panik dan gelisah.
Kenyataannya seseorang yang kuatir biasanya ketia ia berada dalam keadaan takut, cemas, gelisah dan tidak tenang, yang ditimbulkan oleh situasi yang bermasalah, baik itu yang dibayangkan, diangan-angankan maupun yang tampak secara nyata.
Saudara,
Ada dua orang pelancong asal Swiss yang melakukan pendakian di sebuah gunung. Saat pulang, mereka terpaksa menumpang sebuah mobil usang. Namanya juga mobil tua, tidak heran jika mobil itu berjalan tersendat-sendat karena mesin tuanya.
Melihat kondisi ini, sepanjang jalan pelancong pertama nampak sangat cemas dengan kondisi mobil yang ditumpanginya. Ia kuatir kalau-kalau mobil itu mogok di tengah jalan.
Ia juga kuatir bagaimana kalau ditengah jalan bensinnya habis & tidak menemukan pom bensin di sana.
Namun tidak demikian yang terjadi dengan pelancong kedua. Ia tampak santai-santai saja. Bahkan ia begitu menikmati pemandangan indah yang menghiasi bukit-bukit di negeri cokelat itu. Bukit-bukit yang pucuknya dihiasi salju putih. Beberapa kali tampak ia mengabadikan keindahan itu dengan kamera sakunya.
Setelah satu jam berlalu, akhirnya mobil tua itupun tiba di kota yang dituju. Maka pelancong pertama itu bertanya kepada rekannya: “mengapa kamu masih sempat, mengabadikan gambar pemandangan itu? Apa kamu tidak cemas?,” tanya pelancong pertama.
“Apa yang perlu dicemaskan. Seandainya ada masalah, pasti ada jalan keluarnya. Nyatanya aku suka dengan perjalanan tadi,” kata pelancong kedua.
Saudara,
Kisah di atas menolong kita untuk memahami bagaimana kekuatiran seringkali menjadikan kita kehilangan banyak hal yang berharga. Banyak orang hidup dalam kekuatiran & kecemasan akan hal-hal yang belum terjadi. Yang pada akhirnya menjadikan mereka tidak bisa menikmati kehidupan dengan lebih baik.
Rekan-rekan muda yang kekasih,
Kalau kita melihat arti kata “kuatir” secara terminologi, maka itu berarti “rasa takut tentang sesuatu hal yang belum pasti terjadi; merasa cemas; atau merasa gelisah”.
Kata “kuatir” atau “cemas” di ayat 25 ini adalah sebuah kata yang tidak umum dan hanya dipakai tiga kali dalam bentuk kata benda dan enam kali sebagai kata kerja dalam Perjanjian Lama. Kata ini mengandung arti “susah” dan “takut” yang dapat merugikan rasa damai dan kesehatan fisik seseorang. “Susah” dalam arti bahwa ia merasa tidak mungkin sanggup untuk melewati persoalan hidup. Dan “Takut” dalam pengertian tidak ada keberanian untuk bisa melangkah ke masa depan.
Saudara,
Pertanyaannya mengapa manusia seringkali diliputi perasaan kuatir? Bukankah kuatir adalah hal yang manusiawi dialami seseorang?
Kekuatiran hadir pertama kali dalam kehidupan manusia sebagai akibat dari dosa. Kekuatiran merupakan dampak dari kejatuhan manusia pertama (Adam dan Hawa) dalam dosa. Sejak manusia pertama jatuh dalam dosa, mereka kehilangan damai sejahtera. Mereka kini menjadi curiga dengan semua kenyataan. Hal yang semula dijalani dengan sangat optimis karena Allah telah memberikan tugas mulia untuk memelihara ciptaan Allah yang lain, kini karena dosa mereka menjadi pesimis dengan keadaan.
Dan akibat dari kejatuhan itu, dosa telah menjalar kepada semua manusia dan menjangkau setiap aspek natur dan kemampuan manusia: termasuk rasio, hati nurani, kehendak, hati, emosinya dan keberadaannya secara menyeluruh (2 Korintus 4:4, 1 Timotius 4:2; Roma 1:28; Efesus 4:18; Titus 1:15).
Sebagaimana dosa bersifat universal, maka kekuatiran juga bersifat universal. Artinya, tidak ada seorang pun manusia yang tidak pernah mengalami kekuatiran. Setiap orang pernah merasa kuatir tentang sesuatu hal. Mulai dari orang dewasa hingga kepada anak-anak. Bukan saja mereka yang hidup diperkotaan besar, tetapi juga mereka yang hidup diperkampungan. Penyebabnya bisa macam-macam, bisa karena faktor ekonomi keluarga, studi, karena masalah pasangan hidup atau karena masa depannya.
Kenyataannya, manusia selalu diserang oleh kekuatiran dan tekanan-tekanan hidup yang dapat memperburuk keadaannya. Masa kini para dokter mulai menganalisa pengaruh buruk ketegangan pada tubuh manusia. Dan faktanya kekuatiran yang dialami seseorang akan memicu terjadinya berbagai penyakit, diantaranya darah tinggi, jantung, rematik, pilek, kelenjar gondok, migran, maag, dan buta. Terakhir, yang paling berbahaya kekuatiran berlebihan dan tidak mau dilepaskan ialah cepatnya manusia dipanggil oleh Tuhan atau kematian. Demikianlah pendapat DR. Edward Podolsky seorang dosen dan penulis buku: “Stop worrying and Get Well”
Selain itu saudara, banyak orang yang kuatir menderita kesulitan-kesulitan jasmani seperti: gugup, tidak bisa tidur, gelisah, sakit kepala, sulit bernafas, keringat berlebihan, dan sebagainya.
Masalahnya adalah karena ketidakmampuannya melepaskan diri dari kekuatiran dapat membawa seseorang kepada keadaan yang lebih serius seperti stres, depresi dan gangguan mental lainnya, bahkan bunuh diri. Itu sebabnya, Kitab Amsal mengungkapkan kebenaran yang sama mengenai kekuatiran. Bahwa “Kekhawatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia” (Amsal 12:25).
Artinya saudara, kekuatiran tidak saja mampu membungkukkan orang, sehingga ia terlihat lemas dengan dahinya yang mengerut, tetapi juga kekuatiran dapat membunuh orang. DR. Alexix Caroll mengatakan begini: "Bussinesmen who don’t know to fight worry die young". Maksudnya: "Para pengusaha yang tidak tahu mengalahkan kekuatiran, akan mati muda".
Menyadari bahwa kekuatiran bukan saja membuat kita cepat tua, tetapi juga dapat membunuh kita. Maka hal yang penting untuk kita lakukan adalah menjaga hati dan pikiran kita dengan baik. Sebab demikianlah firman Tuhan berkata dalam Amsal 17:22 bahwa: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang"
Hal itu berarti saudara, bahwa apa yang ada dalam hati kita sejatinya sangat menentukan kesehatan kita dan bahkan hidup kita.
Apalagi banyak informasi dari berbagai media tentang keadaan yang semakin memprihatinkan seperti konflik antar negara yang tidak kunjung usai, bencana alam, wabah penyakit dan juga krisis global yang sedang dialami oleh bangsa kita. Maka sangatlah manusiawi jika semua orang semakin kuatir dalam menjalani hidup ini.
Sebenarnya perasan kuatir itu muncul bukan akibat besar kecilnya masalah atau tantangan yang dihadapi, melainkan ketika orang cenderung mengandalkan kekuatan diri sendiri.
Kekuatiran itu sendiri merupakan kegagalan seseorang dalam menghadapi tantangan sebelum melakukan peperangan. Masalahnya rasa kuatir itu tidak hanya dialami orang dunia saja, orang-orang Kristen pun mengalami hal yang sama, yang seolah-olah tidak ada lagi pengharapan dalam hidupnya.
Padahal dengan jelas Firman Tuhan menyatakan kepada kita bahwa Tuhan menjamin masa depan anak-anakNya yang senantiasa bersandar dan berharap kepada Dia, Dia berkata: “Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.” (Amsal 23:18).
Benar saudara, masa depan kita akan dipelihara oleh Tuhan jika kita belajar bergantung kepadaNya. Allah justru menghendaki anak-anakNya untuk memiliki sikap optimismis dalam hidupnya. Tentunya bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi karena tangan Tuhan yang besar yang siap menolong hidupnya.
Jika Allah tahu segala sesuatu yang diciptakanNya, pastinya Allah tahu apa yang ada di dalam setiap hati dan pergumulan hidup kita. Jika demikian, perlukah kita masih kuatir akan dunia ini? Pastinya tidak bukan!
Justru yang harus kita pahami adalah, kekuatiran merupakan celah dalam kehidupan kita yang memberikan kesempatan kepada Iblis untuk menggagalkan dan menghancurkan kita.
Di tengah dunia yang makin sulit dan penuh tantangan ini kita harus makin sungguh-sungguh melekat pada Tuhan dan tekun tinggal dalam Dia. Jadi, “Serahkanlah segala kekuatir-anmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7).
Kristus memerintahkan agar kita tidak perlu kuatir tentang hidup kita, tentang apa yang kita makan minum dan pakai, serta tidak perlu kuatir tentang masa depan kita.
Ringkasnya, kekuatiran tidak membantu kesulitan esok hari, tetapi benar-benar merusak kebahagiaan hari ini. Hal ini senada dengan ungkapan Leo Buscaglia, seorang motivator terkenal dari Amerika, ia berkata,  "Kekuatiran tak akan melenyapkan kesedihan esok, tetapi akan menghilangkan kegembiraan hari ini."
Maksudnya adalah semakin kita kuatir semakin sulit dan berat kehidupan yang kita jalani. Karena itu jangan biarkan kekuatiran mengarahkan hidup kita semakin menjauh dari Tuhan. Faktanya, sehari penuh kekuatiran lebih melelahkan ketimbang sehari penuh bekerja. Kekuatiran akan hidup dan masa depan adalah pemborosan masa sekarang. Jika kita tidak dapat menghindar dari rasa kuatir, ingatlah kuatir juga tidak akan pernah membantu kita untuk lepas dari masalah terlebih mengarahkan kita ke masa depan.
Dengan demikian, yang perlu kita ketahui adalah kita harus kembali kepada apa yang Tuhan ingin nyatakan dalam kehidupan kita. Dan kehendak Tuhan bagi kita adalah kita mampu menikmati segala anugerah Tuhan dalam kehidupan kita itu dengan penuh ucapan syukur.
Ingatlah saudara, bahwa jam kehidupan kita hanya berputar sekali. Di dalamnya pastinya ada menit-menit yang harus kita lalui dengan MANIS, ada pula menit yang harus di lalui dengan PAHIT. Namun yang terpenting bagi kita adalah jalanilah setiap detik dengan penuh kesadaran bahwa Tuhan selalu beserta dengan kita. Kiranya Tuhan menolong kita melewati setiap persoalan yang kita hadapi dalam hidup ini. Amin.